Minggu, 03 Februari 2013

YOUR PRISONER 6


Lyla merasa uring-uringan keesokan harinya. Setiap orang yang mengajaknya bicara, entah itu orangtuanya atau kakaknya, semua terkena imbasnya. Terutama Glenn. Sampai-sampai cowok itu heran sendiri akan perubahan sikap Lyla padanya. Padahal kemarin mereka sudah jauh lebih akur, tapi sekarang sikap Lyla malah kembali ke awal lagi. Saat Glenn bertanya ada apa, Lyla langsung menatapnya dengan tatapan setajam pedang.
            “Kamu nggak usah ngomong sama aku deh!!” kata Lyla. Lalu meninggalkan Glenn dengan angkuh.
            Glenn langsung merasa kesal bukan main. Ia pikir usahanya selama ini sudah membuahkan hasil, tapi ternyata semuanya kembali lagi ke titik nol tanpa ia ketahui sebabnya! Karena alasan itulah ia mengubah rencana awalnya dan terpaksa menjalankan rencana emergencynya. Waktunya tinggal sedikit dan ia sudah bosan dengan tarik ulur yang dilakukan Lyla. Sekarang waktunya bertindak.
            Glenn mengetuk pintu kamar Lyla. Menunggu beberapa detik sebelum mendengar suara Lyla meneriakkan “Siapa???”. Tentu saja Glenn tidak menjawab, melainkan mengetuk pintu itu sekali lagi. Akhirnya setelah penantian yang terasa seabad lamanya, padahal tidak sampai 30 detik, pintu di depan Glenn terbuka dan menampakkan wajah jengkel Lyla.
            “Ngapain...”
            Glenn tidak membiarkan Lyla menyelesaikan kalimatnya, melainkan langsung menarik gadis itu bersamanya. “Kita ke pantai,” hanya itu yang Glenn katakan.
            “Apa?! Nggak mau!! Lepasin aku, Glenn!!” Lyla mulai meronta dan menarik-narik tangannya.
            “Masa kamu takut sih? Yang benar aja, Lyla, cuma ke pantai buat refreshing!” sahut Glenn santai.
            “Aku nggak mau, bukan takut!! Lepas!!” protes Lyla.
            Mereka melewati ruang tamu, di mana Mama Lyla sedang duduk menonton televisi sambil merajut. Lyla langsung melihatnya sebagai kesempatan untuk membebaskan dirinya dari Glenn.
            “Mama!! Glenn maksa Lyla buat ikut sama dia!! Tolongin Lyla, Ma!!” seru Lyla.
            Mama Lyla mendongak dari rajutannya, dan malah melemparkan sebuah senyum ke arah Glenn dan Lyla. “Hati-hati di jalan ya, Glenn. Jangan ngebut-ngebut,” kata Mama, sukses membuat Lyla melongo tak percaya.
            “Siip, Tante!” sahut Glenn tanpa menghentikan langkahnya.
            “Mama!!” jerit Lyla tak percaya. Masa seorang ibu tega sih melihat anak gadisnya diseret pergi?!
            “Jangan merepotkan Glenn, ya! Hati-hati!” balas Mama Lyla.
            Lyla tak sempat membalas karena dia sudah ditarik keluar melewati pintu oleh Glenn. Sekarang cowok itu dengan seenaknya memasukkan Lyla ke dalam mobilnya, mirip penculikan deh, dan langsung mengunci pintu mobilnya begitu dia duduk di belakang kemudi.
            “Glenn!!!” teriak Lyla kesal bukan main. “Harus ya? Main kasar kayak gini?!”
            Glenn menjawab tanpa melihat Lyla, sembari menyalakan mesin mobilnya. “Kalau nggak gini, memangnya kamu mau jalan sama aku?”
            “Nggak akan mau!” sahut Lyla serta merta.
            “Ya udah, jangan protes kalau aku pakai cara begini. Sekarang diam dan nikmati aja perjalanannya,” kata Glenn tandas.
            Lyla bersedekap. “Aku nggak bawa dompet dan ponsel!” ketusnya.
            “Nggak masalah karena kamu nggak akan membutuhkannya,” sahut Glenn.
            Lyla makin kesal. “Aku nggak mau kulitku terbakar matahari!! Kamu nggak lihat pakaianku?!”
            “Di jok belakang udah ada baju ganti yang disiapkan sama Kak Lili,” sahut Glenn. Lalu, seolah tak melihat mulut Lyla menganga tak percaya, ia melanjutkan dengan gaya sama santainya sementara mobilnya memecah lalu lintas pagi itu. “Ada juga sandwich, minuman, dan cemilan lainnya. Ada sandal pantai, topi, jaket, sunblock, kaca mata hitam, hampir semua keperluan orang piknik ke pantai ada di keranjang di belakang,” tambahnya.
            “Ini konspirasi! Iya kan?! Kamu udah merencanakannya kan?!” seru Lyla tak percaya. Ia melempari wajah Glenn dengan boneka anjing kecil yang aja di atas dashboar mobilnya. Dan boneka itu sukses mengenai pelipis kiri Glenn.
            “Hei, kita bisa nabrak nih!” omel Glenn.
            “Bodo! Aku mau pulang! Aku nggak mau jalan sama orang menyebalkan, egois, seenaknya macam kamu!!” sahut Lyla.
            “Udah kejadian tuh,” sahut Glenn menyebalkan.
            Lyla menatap Glenn dengan sebal, dan ia mencari-cari benda lain untuk dilemparkan pada Glenn, sayangnya, hanya boneka anjing tadi saja yang tidak berbahaya. Sekarang Lyla hanya bisa memasang wajah paling cemberut yang ia bisa dan menatap keluar jendela mobil, ke arah lalu lintas yang padat namun normal itu.
            Perjalanan yang memakan waktu beberapa jam itu diselimuti kesunyian. Lyla jelas-jelas diam karena ingin mempertahankan kekesalannya. Sementara Glenn sendiri sibuk dengan pikirannya. Akhirnya mereka sampai di pantai dan Glenn memarkirkan mobilnya di tempat teduh yang bisa ia dapatkan.
            “Ayo, turun,” kata Glenn seraya mematikan mesin mobil.
            “Ogah!” ketus Lyla dan masih duduk bersedekap.
            “Ya udah,” sahut Glenn enteng. Ia keluar dari mobil dan mengeluarkan keranjang dan selimut dari jok belakang mobil. Cowok itu lantas berjalan ke pantai dan meninggalkan Lyla di mobil, ia tak melihat kalau Lyla mendelik ke arahnya.
            Lyla melihat Glenn menggelar selimut di bawah sebuah pohon lalu menyusun keranjang di atasnya. Cowok itu juga mengeluarkan makanan dan minuman yang dibawanya dan menatanya di atas selimut. Suara perutnya yang berbunyi membuat Lyla tersadar kalau ia hanya sarapan roti dan susu tadi pagi. Akan tetapi karena gengsi, Lyla tidak mau menyerah dan tetap bertahan di dalam mobil. Tapi, suhu di dalam mobil mulai bertambah dan Lyla jadi tidak tahan.
            Ia melirik ke jok belakang dan melihat sebuah tas, yang sepertinya berisi keperluan Lyla. Dengan setengah hati Lyla mengambilnya dan memeriksa isinya. Ada sebuah kain pantai, kacamata hitam, dan beberapa benda lainnya. Lyla mendesal kesal. Apa boleh buat, di dalam mobil mulai pengap dan dia juga pegal duduk terus. Dikeluarkannya kain pantai dari dalam tas dan menyampirkannya di bahunya untuk menutupi bahunya yang terbuka. Lalu diraihnya topi jerami dan keluar dari dalam mobil. Lyla terdiam sejenak di luar mobil, lalu mendesah. Perlahan, dengan langkah diseret-seret, Lyla berjalan ke arah Glenn. Wajahnya cemberut. Sesampainya di dekat Glenn, Lyla berhenti. Ditatapnya cowok itu dengan jengkel, tapi Glenn hanya meliriknya sekilas sebelum mengambil sebotol minuman.
            Lyla menahan geramnya. “Sekarang, setelah di sini, apa yang mau kamu lakukan?!” tanya Lyla, menekan kekesalannya.
            Glenn meliriknya. Lyla membalas lirikan itu dengan tatapan jengkel, tapi sadar diri sudah kalah. Sejenak keduanya terlibat dalam adu tatap yang tak berkesudahan. Seolah ada kesepakatan yang dibuat dalam moment bisu tersebut.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar