Lyla merasa uring-uringan keesokan harinya. Setiap
orang yang mengajaknya bicara, entah itu orangtuanya atau kakaknya, semua
terkena imbasnya. Terutama Glenn. Sampai-sampai cowok itu heran sendiri akan
perubahan sikap Lyla padanya. Padahal kemarin mereka sudah jauh lebih akur,
tapi sekarang sikap Lyla malah kembali ke awal lagi. Saat Glenn bertanya ada
apa, Lyla langsung menatapnya dengan tatapan setajam pedang.
“Kamu
nggak usah ngomong sama aku deh!!” kata Lyla. Lalu meninggalkan Glenn dengan
angkuh.
Glenn
langsung merasa kesal bukan main. Ia pikir usahanya selama ini sudah membuahkan
hasil, tapi ternyata semuanya kembali lagi ke titik nol tanpa ia ketahui
sebabnya! Karena alasan itulah ia mengubah rencana awalnya dan terpaksa
menjalankan rencana emergencynya. Waktunya tinggal sedikit dan ia sudah bosan
dengan tarik ulur yang dilakukan Lyla. Sekarang waktunya bertindak.
Glenn
mengetuk pintu kamar Lyla. Menunggu beberapa detik sebelum mendengar suara Lyla
meneriakkan “Siapa???”. Tentu saja Glenn tidak menjawab, melainkan mengetuk
pintu itu sekali lagi. Akhirnya setelah penantian yang terasa seabad lamanya,
padahal tidak sampai 30 detik, pintu di depan Glenn terbuka dan menampakkan
wajah jengkel Lyla.
“Ngapain...”
Glenn
tidak membiarkan Lyla menyelesaikan kalimatnya, melainkan langsung menarik
gadis itu bersamanya. “Kita ke pantai,” hanya itu yang Glenn katakan.
“Apa?!
Nggak mau!! Lepasin aku, Glenn!!” Lyla mulai meronta dan menarik-narik
tangannya.
“Masa
kamu takut sih? Yang benar aja, Lyla, cuma ke pantai buat refreshing!” sahut
Glenn santai.
“Aku
nggak mau, bukan takut!! Lepas!!” protes Lyla.
Mereka
melewati ruang tamu, di mana Mama Lyla sedang duduk menonton televisi sambil
merajut. Lyla langsung melihatnya sebagai kesempatan untuk membebaskan dirinya
dari Glenn.
“Mama!!
Glenn maksa Lyla buat ikut sama dia!! Tolongin Lyla, Ma!!” seru Lyla.
Mama
Lyla mendongak dari rajutannya, dan malah melemparkan sebuah senyum ke arah
Glenn dan Lyla. “Hati-hati di jalan ya, Glenn. Jangan ngebut-ngebut,” kata
Mama, sukses membuat Lyla melongo tak percaya.
“Siip,
Tante!” sahut Glenn tanpa menghentikan langkahnya.
“Mama!!”
jerit Lyla tak percaya. Masa seorang ibu tega sih melihat anak gadisnya diseret
pergi?!
“Jangan
merepotkan Glenn, ya! Hati-hati!” balas Mama Lyla.
Lyla
tak sempat membalas karena dia sudah ditarik keluar melewati pintu oleh Glenn.
Sekarang cowok itu dengan seenaknya memasukkan Lyla ke dalam mobilnya, mirip
penculikan deh, dan langsung mengunci pintu mobilnya begitu dia duduk di
belakang kemudi.
“Glenn!!!”
teriak Lyla kesal bukan main. “Harus ya? Main kasar kayak gini?!”
Glenn
menjawab tanpa melihat Lyla, sembari menyalakan mesin mobilnya. “Kalau nggak
gini, memangnya kamu mau jalan sama aku?”
“Nggak
akan mau!” sahut Lyla serta merta.
“Ya
udah, jangan protes kalau aku pakai cara begini. Sekarang diam dan nikmati aja
perjalanannya,” kata Glenn tandas.
Lyla
bersedekap. “Aku nggak bawa dompet dan ponsel!” ketusnya.
“Nggak
masalah karena kamu nggak akan membutuhkannya,” sahut Glenn.
Lyla
makin kesal. “Aku nggak mau kulitku terbakar matahari!! Kamu nggak lihat
pakaianku?!”
“Di
jok belakang udah ada baju ganti yang disiapkan sama Kak Lili,” sahut Glenn.
Lalu, seolah tak melihat mulut Lyla menganga tak percaya, ia melanjutkan dengan
gaya sama santainya sementara mobilnya memecah lalu lintas pagi itu. “Ada juga
sandwich, minuman, dan cemilan lainnya. Ada sandal pantai, topi, jaket,
sunblock, kaca mata hitam, hampir semua keperluan orang piknik ke pantai ada di
keranjang di belakang,” tambahnya.
“Ini
konspirasi! Iya kan?! Kamu udah merencanakannya kan?!” seru Lyla tak percaya.
Ia melempari wajah Glenn dengan boneka anjing kecil yang aja di atas dashboar
mobilnya. Dan boneka itu sukses mengenai pelipis kiri Glenn.
“Hei,
kita bisa nabrak nih!” omel Glenn.
“Bodo!
Aku mau pulang! Aku nggak mau jalan sama orang menyebalkan, egois, seenaknya
macam kamu!!” sahut Lyla.
“Udah
kejadian tuh,” sahut Glenn menyebalkan.
Lyla
menatap Glenn dengan sebal, dan ia mencari-cari benda lain untuk dilemparkan
pada Glenn, sayangnya, hanya boneka anjing tadi saja yang tidak berbahaya.
Sekarang Lyla hanya bisa memasang wajah paling cemberut yang ia bisa dan
menatap keluar jendela mobil, ke arah lalu lintas yang padat namun normal itu.
Perjalanan
yang memakan waktu beberapa jam itu diselimuti kesunyian. Lyla jelas-jelas diam
karena ingin mempertahankan kekesalannya. Sementara Glenn sendiri sibuk dengan
pikirannya. Akhirnya mereka sampai di pantai dan Glenn memarkirkan mobilnya di
tempat teduh yang bisa ia dapatkan.
“Ayo,
turun,” kata Glenn seraya mematikan mesin mobil.
“Ogah!”
ketus Lyla dan masih duduk bersedekap.
“Ya
udah,” sahut Glenn enteng. Ia keluar dari mobil dan mengeluarkan keranjang dan selimut
dari jok belakang mobil. Cowok itu lantas berjalan ke pantai dan meninggalkan
Lyla di mobil, ia tak melihat kalau Lyla mendelik ke arahnya.
Lyla
melihat Glenn menggelar selimut di bawah sebuah pohon lalu menyusun keranjang
di atasnya. Cowok itu juga mengeluarkan makanan dan minuman yang dibawanya dan
menatanya di atas selimut. Suara perutnya yang berbunyi membuat Lyla tersadar
kalau ia hanya sarapan roti dan susu tadi pagi. Akan tetapi karena gengsi, Lyla
tidak mau menyerah dan tetap bertahan di dalam mobil. Tapi, suhu di dalam mobil
mulai bertambah dan Lyla jadi tidak tahan.
Ia
melirik ke jok belakang dan melihat sebuah tas, yang sepertinya berisi
keperluan Lyla. Dengan setengah hati Lyla mengambilnya dan memeriksa isinya.
Ada sebuah kain pantai, kacamata hitam, dan beberapa benda lainnya. Lyla
mendesal kesal. Apa boleh buat, di dalam mobil mulai pengap dan dia juga pegal
duduk terus. Dikeluarkannya kain pantai dari dalam tas dan menyampirkannya di
bahunya untuk menutupi bahunya yang terbuka. Lalu diraihnya topi jerami dan
keluar dari dalam mobil. Lyla terdiam sejenak di luar mobil, lalu mendesah.
Perlahan, dengan langkah diseret-seret, Lyla berjalan ke arah Glenn. Wajahnya cemberut.
Sesampainya di dekat Glenn, Lyla berhenti. Ditatapnya cowok itu dengan jengkel,
tapi Glenn hanya meliriknya sekilas sebelum mengambil sebotol minuman.
Lyla
menahan geramnya. “Sekarang, setelah di sini, apa yang mau kamu lakukan?!”
tanya Lyla, menekan kekesalannya.
Glenn
meliriknya. Lyla membalas lirikan itu dengan tatapan jengkel, tapi sadar diri
sudah kalah. Sejenak keduanya terlibat dalam adu tatap yang tak berkesudahan.
Seolah ada kesepakatan yang dibuat dalam moment bisu tersebut.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar