Sepuluh menit kemudian,
Rey menyentil puntung rokoknya dan menginjaknya hingga mati. Kemudian ia
mengetuk kaca jendela mobil.
“Hei, gue ngantuk nih,” kata Rey.
Resha terkejut dan langsung mendorong Max, yang saat itu
tengah menelusuri lehernya. Tak peduli bahwa kepala Max nyaris terantuk atap
mobil. Resha lalu merapikan rambut, dan juga pakaiannya yang entah bagaimana
caranya berhasil dikuak Max hingga dua kancing teratas kemejanya terbuka.
Ditatapnya Max dengan wajah merah dan dongkol.
Max pura-pura masih mabuk dan kembali menyuruk ke leher
Resha.
“Max!!” protes Resha.
Pintu di belakang Max terbuka dan Rey langsung merenggut
kerah pakaian Max. “Ayo, Max, udah waktunya lo tidur,” kata Rey.
Max menggerutu saat Rey menariknya dengan paksa, ia
menyebut Rey sebagai perusak suasana dan sejenisnya. Rey menjitaknya agar diam,
lalu menyeret Max masuk ke dalam rumah. Resha menyusul di belakangnya.
“Rey, pergi lo!” kata Max setelah ia dilemparkan ke atas
tempat tidurnya.
“Oke. Ayo, Sha, waktunya kita pulang,” kata Rey jahil.
Max mendelik ke arah Rey. “Gue mau ngomong sama dia! Lo
aja yang pergi!!”
“Sorry, Max, gue udah janji buat nganter Resha pulang,”
sahut Rey santai.
“Rey...” geram Max.
“Sebentar aja, Rey. Nanti gue menyusul lo,” kata Resha
buru-buru sebelum Max membuat onar.
Rey tertawa, tapi tetap keluar dari kamar Max.
Sepeningga Rey, Max duduk di tepi ranjangnya dengan
kepala tertunduk untuk mengurangi pusingnya. Bohong kalau ia bilang pengaruh
alkohol di tubuhnya sudah hilang, buktinya saja sekarang kepalanya mulai
berdenyut sakit. Akan tetapi pikirannya sudah jauh lebih jernih sejak
meninggalkan Beast tadi. Dan keberadaan Resha membuat Max berusaha keras menghalau
mabuknya.
“Gue nggak suka ngomong jauh-jauhan,” kata Max.
“Gue harus pulang,” kata Resha, tapi ia mendekat juga
hingga berdiri sejauh rentangan tangan dari Max. Ia ragu-ragu dan meremas-remas
tangannya.
“Nggak bisa. Gue mau semuanya jelas malam ini juga,” kata
Max. “Gue nggak suka setengah-setengah.”
Resha menghela napas. “Gue belum siap. Apa nggak bisa
ditunda sampai... seminggu lagi?” pinta Resha.
Max mendongak dan mendelik. “Seminggu?!? Nggak bisa!!!”
serunya. “Gue nggak mau insomnia satu minggu lantaran harus nunggu kepastian!!”
Resha meringis. Ia yakin Rey pasti bisa mendengar
teriakan Max itu, dan mungkin saja cowok itu tengah menahan tawanya di balik
pintu.
“Tapi...”
“Nggak! Gue mau semuanya jelas sekarang!” kata Max.
Ditatapnya Resha, mengabaikan pukulan-pukulan di kepalanya. “Meski gue kesal,
gue nggak bisa menyangkal kalau lo udah membuat gue nggak bisa jalan sama cewek
lain lagi. Bayangan lo menginvasi otak gue dan terus bercokol di sana sampai
gue frustasi!”
Max menatap Resha, kali ini dengan tatapan yang membuat
napas Resha tersentak. Jantungnya mulai berdebar penuh harap, tapi sekaligus
takut akan apa yang mungkin akan didengarnya.
“Gue jatuh cinta sama elo,” kata Max.
Napas Resha tercekat dan dia menatap Max terbelalak, tak
percaya. Tatapannya mengabur oleh sesuatu. Apa? Apa barusan Max memang
mengatakan bahwa cowok itu mencintainya? Tubuh Resha serasa tak bertulang dan
ia jatuh berlutut. Max mencintainya? Mungkinkah?
Max berlutut di depan Resha. Diraihnya dagu Resha dan
ditengadahkannya wajah cewek itu. Resha tampak terkesima dan matanya berkilau
oleh air mata. Hal itu membuat hati Max menghangat. Kenapa lama sekali dia baru
menyadarinya? Selama ini Reshalah yang dicarinya di dalam sosok cewek-cewek yang
dikencaninya. Resha adalah cewek yang diciptakan untuknya. Resha melengkapinya,
menetralisir sifat egoisnya, dan menenangkan sisi gelapnya. Max membingkai
wajah Resha dan menatap Resha dengan lembut.
“Gue jatuh cinta sama elo sejak pertama kali kita ketemu.
Dan semakin terikat sama elo sejak gue mencium lo di perpustakaan waktu itu,”
kata Max.
“Tapi... Nggak mungkin...” Resha berhasil menggelengkan
kepalanya.
“Apa yang nggak mungkin, Sha?” tanya Max.
“Gue bukan cewek yang sempurna, apalagi populer. Gue nggak
bisa menyamai elo...” bisiknya.
“Sstt, gue nggak butuh cewek yang sempurna. Yang gue
butuhkan adalah elo, apa adanya diri elo,” kata Max. “Sekarang gue tanya, apa
lo merasakan hal yang sama kayak gue?”
Resha terdiam, menatap mata kelam Max yang menatap balik
ke arahnya dengan kelembutan yang menggugah setiap sel di tubuhnya. Resha
mengerjap, dan sebutir air mata bergulir di pipinya. Air mata itu langsung
dihapus Max dengan ujung jarinya, disusul dengan kecupan lembut di kedua
kelopak matanya. Dengan mengejutkan Resha menyadari kalau ia merasakan hal yang
sama dengan Max. Ia mencintai Max dengan setiap keyakinannya. Dan sekarang
perasaan yang disangkalnya itu seolah menekan dadanya, menuntut untuk
diungkapkan. Disuarakan dengan kata-kata. Resha menarik napas gemetar dan
menatap Max.
“Ya...” bisik Resha.
“Ya apa?” tanya Max lembut.
“...Gue cinta sama elo,” kata Resha.
Max tersenyum. “Bisa gue artikan kalau itu artinya kita
resmi jadian?” tanya Max jahil.
Mata Resha berkilau oleh air mata. “Selama elo nggak
memaksa gue... dan membiarkan semuanya berlalu apa adanya,” kata Resha,
tersenyum kecil.
Max mendesah dramatis. “Kesabaran? Gue lemah dalam hal
itu,” katanya.
“Lo harus belajar mulai sekarang,” balas Resha.
“Oke,” kata Max, lalu mengecup sekilas bibir Resha. “Selama
gue mendapatkan imbalan yang setimpal,” katanya jahil.
Wajah Resha memerah. Ia mengangguk pelan. “Selama elo
bersikap manis,” kata Resha.
“Bagus,” kata Max. Kali ini dia mencium Resha dengan
lembut dan lebih lama. Saat ia memisahkan diri dari Resha, ia melirik pintu
dengan jengkel. “Lo nggak bisa tinggal?” tanyanya jengkel.
“Max...”
“Ya, ya, gue akan jadi anak manis,” kata Max. “Kalau
gitu, kasih gue ciuman sebelum tidur,” kata Max dan tanpa menunggu, ia kembali
meminta hadiahnya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar