Minggu, 03 Februari 2013

SEAL WITH A KISS 6


Sepuluh menit kemudian, Rey menyentil puntung rokoknya dan menginjaknya hingga mati. Kemudian ia mengetuk kaca jendela mobil.
            “Hei, gue ngantuk nih,” kata Rey.
            Resha terkejut dan langsung mendorong Max, yang saat itu tengah menelusuri lehernya. Tak peduli bahwa kepala Max nyaris terantuk atap mobil. Resha lalu merapikan rambut, dan juga pakaiannya yang entah bagaimana caranya berhasil dikuak Max hingga dua kancing teratas kemejanya terbuka. Ditatapnya Max dengan wajah merah dan dongkol.
            Max pura-pura masih mabuk dan kembali menyuruk ke leher Resha.
            “Max!!” protes Resha.
            Pintu di belakang Max terbuka dan Rey langsung merenggut kerah pakaian Max. “Ayo, Max, udah waktunya lo tidur,” kata Rey.
            Max menggerutu saat Rey menariknya dengan paksa, ia menyebut Rey sebagai perusak suasana dan sejenisnya. Rey menjitaknya agar diam, lalu menyeret Max masuk ke dalam rumah. Resha menyusul di belakangnya.
            “Rey, pergi lo!” kata Max setelah ia dilemparkan ke atas tempat tidurnya.
            “Oke. Ayo, Sha, waktunya kita pulang,” kata Rey jahil.
            Max mendelik ke arah Rey. “Gue mau ngomong sama dia! Lo aja yang pergi!!”
            “Sorry, Max, gue udah janji buat nganter Resha pulang,” sahut Rey santai.
            “Rey...” geram Max.
            “Sebentar aja, Rey. Nanti gue menyusul lo,” kata Resha buru-buru sebelum Max membuat onar.
            Rey tertawa, tapi tetap keluar dari kamar Max.
            Sepeningga Rey, Max duduk di tepi ranjangnya dengan kepala tertunduk untuk mengurangi pusingnya. Bohong kalau ia bilang pengaruh alkohol di tubuhnya sudah hilang, buktinya saja sekarang kepalanya mulai berdenyut sakit. Akan tetapi pikirannya sudah jauh lebih jernih sejak meninggalkan Beast tadi. Dan keberadaan Resha membuat Max berusaha keras menghalau mabuknya.
            “Gue nggak suka ngomong jauh-jauhan,” kata Max.
            “Gue harus pulang,” kata Resha, tapi ia mendekat juga hingga berdiri sejauh rentangan tangan dari Max. Ia ragu-ragu dan meremas-remas tangannya.
            “Nggak bisa. Gue mau semuanya jelas malam ini juga,” kata Max. “Gue nggak suka setengah-setengah.”
            Resha menghela napas. “Gue belum siap. Apa nggak bisa ditunda sampai... seminggu lagi?” pinta Resha.
            Max mendongak dan mendelik. “Seminggu?!? Nggak bisa!!!” serunya. “Gue nggak mau insomnia satu minggu lantaran harus nunggu kepastian!!”
            Resha meringis. Ia yakin Rey pasti bisa mendengar teriakan Max itu, dan mungkin saja cowok itu tengah menahan tawanya di balik pintu.
            “Tapi...”
            “Nggak! Gue mau semuanya jelas sekarang!” kata Max. Ditatapnya Resha, mengabaikan pukulan-pukulan di kepalanya. “Meski gue kesal, gue nggak bisa menyangkal kalau lo udah membuat gue nggak bisa jalan sama cewek lain lagi. Bayangan lo menginvasi otak gue dan terus bercokol di sana sampai gue frustasi!”
            Max menatap Resha, kali ini dengan tatapan yang membuat napas Resha tersentak. Jantungnya mulai berdebar penuh harap, tapi sekaligus takut akan apa yang mungkin akan didengarnya.
            “Gue jatuh cinta sama elo,” kata Max.
          Napas Resha tercekat dan dia menatap Max terbelalak, tak percaya. Tatapannya mengabur oleh sesuatu. Apa? Apa barusan Max memang mengatakan bahwa cowok itu mencintainya? Tubuh Resha serasa tak bertulang dan ia jatuh berlutut. Max mencintainya? Mungkinkah?
            Max berlutut di depan Resha. Diraihnya dagu Resha dan ditengadahkannya wajah cewek itu. Resha tampak terkesima dan matanya berkilau oleh air mata. Hal itu membuat hati Max menghangat. Kenapa lama sekali dia baru menyadarinya? Selama ini Reshalah yang dicarinya di dalam sosok cewek-cewek yang dikencaninya. Resha adalah cewek yang diciptakan untuknya. Resha melengkapinya, menetralisir sifat egoisnya, dan menenangkan sisi gelapnya. Max membingkai wajah Resha dan menatap Resha dengan lembut.
            “Gue jatuh cinta sama elo sejak pertama kali kita ketemu. Dan semakin terikat sama elo sejak gue mencium lo di perpustakaan waktu itu,” kata Max.
            “Tapi... Nggak mungkin...” Resha berhasil menggelengkan kepalanya.
            “Apa yang nggak mungkin, Sha?” tanya Max.
            “Gue bukan cewek yang sempurna, apalagi populer. Gue nggak bisa menyamai elo...” bisiknya.
           “Sstt, gue nggak butuh cewek yang sempurna. Yang gue butuhkan adalah elo, apa adanya diri elo,” kata Max. “Sekarang gue tanya, apa lo merasakan hal yang sama kayak gue?”
            Resha terdiam, menatap mata kelam Max yang menatap balik ke arahnya dengan kelembutan yang menggugah setiap sel di tubuhnya. Resha mengerjap, dan sebutir air mata bergulir di pipinya. Air mata itu langsung dihapus Max dengan ujung jarinya, disusul dengan kecupan lembut di kedua kelopak matanya. Dengan mengejutkan Resha menyadari kalau ia merasakan hal yang sama dengan Max. Ia mencintai Max dengan setiap keyakinannya. Dan sekarang perasaan yang disangkalnya itu seolah menekan dadanya, menuntut untuk diungkapkan. Disuarakan dengan kata-kata. Resha menarik napas gemetar dan menatap Max.
            “Ya...” bisik Resha.
            “Ya apa?” tanya Max lembut.
            “...Gue cinta sama elo,” kata Resha.
            Max tersenyum. “Bisa gue artikan kalau itu artinya kita resmi jadian?” tanya Max jahil.
            Mata Resha berkilau oleh air mata. “Selama elo nggak memaksa gue... dan membiarkan semuanya berlalu apa adanya,” kata Resha, tersenyum kecil.
            Max mendesah dramatis. “Kesabaran? Gue lemah dalam hal itu,” katanya.
            “Lo harus belajar mulai sekarang,” balas Resha.
            “Oke,” kata Max, lalu mengecup sekilas bibir Resha. “Selama gue mendapatkan imbalan yang setimpal,” katanya jahil.
            Wajah Resha memerah. Ia mengangguk pelan. “Selama elo bersikap manis,” kata Resha.
            “Bagus,” kata Max. Kali ini dia mencium Resha dengan lembut dan lebih lama. Saat ia memisahkan diri dari Resha, ia melirik pintu dengan jengkel. “Lo nggak bisa tinggal?” tanyanya jengkel.
            “Max...”
            “Ya, ya, gue akan jadi anak manis,” kata Max. “Kalau gitu, kasih gue ciuman sebelum tidur,” kata Max dan tanpa menunggu, ia kembali meminta hadiahnya.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar