Minggu, 03 Februari 2013

SEAL WITH A KISS 2


            Resha menelusuri lorong di antara dua rak besar di perpustakaan. Ia awalnya datang ke sana hanya untuk mengecek apakah Max mengembalikan buku-buku yang ia tinggalkan saat itu. Dan syukurlah, ternyata cowok itu berbaik hati mau mengembalikannya walau ia tidak tau siapa Resha.
            Menggelengkan kepalanya, Resha meneruskan pencarian bukunya hingga ke ujung lorong buntu tersebut. Ketika tak menemukan buku yang dicarinya, Resha pun berbalik. Jeritan tersangkut di tenggorokannya saat melihat Max berdiri beberapa langkah di depannya, bersandar menyamping pada rak buku dan sedang mengamati Resha dengan mata kelamnya.
            “Lo kelihatan kaget,” komentar Max.
            Tanpa sadar Resha melangkah mundur.
            “Senangnya lo masih ingat sama gue,” kata Max santai. Ia menegakkan tubuh dan mulai berjalan ke arah Resha.
            “Stop!” bisik Resha panik. Ia melirik sekilas ke balik bahunya dan sadar ia telah terpojok, tanpa jalan untuk lari. Selain melewati Max tentunya.
            “Kalau gitu berhenti melangkah mundur,” kata Max geli.
            Resha tetap melangkah mundur hingga pinggulnya membentur ujung meja dan ia terkesiap. Ia menoleh ke belakang secara spontan dan Max menyambar kesempatan itu dengan mempersempit jarak di antara mereka. Sekali lagi Resha terkesiap dan menatap Max dengan panik.
            “Jangan ganggu gue!” bisik Resha dengan suara tercekik.
            “Gue nggak berniat mengganggu,” kata Max. Lalu ia menyentuh pipi Resha, membuat cewek itu tersentak. Tangannya menelusuri pipi Resha hingga ke rambutnya dan menarik lepas ikat rambut cewek itu. Helaian rambut yang tebal dan halus mengenai tangannya.
           Sungguh luar biasa karena Resha masih bisa membalas tatapan Max. “Gue nggak kenal sama elo,” kata Resha. “Nggak ada alasan lo menemui gue!”
            “Tentu aja gue punya alasan,” gumam Max, mengamati wajah Resha. “Setiap hal memiliki alasan. Begitu juga gue,” tambahnya.
            Resha menggeleng. “Gue tau reputasi lo,” katanya.
            Alis tebal Max terangkat penasaran. “Oh ya? Sejauh mana reputasi gue yang lo ketahui?”
            “Semuanya! Lo adalah cowok yang paling harus dihindari oleh cewek-cewek di kampus ini!”
            Max menelengkan kepalanya. Hebat juga cewek ini. Jelas-jelas kalau dia sangat ketakutan dan terintimidasi oleh keberadaan Max, akan tetapi cewek itu masih bisa bersikap melawan. Max suka tipe cewek pembangkang seperti ini. Cewek tipe ini akan jual mahal pada awalnya, tapi menyerah pada akhirnya. Pasti akan membutuhkan sedikit waktu untuk menjinakkannya. Tapi Max sudah siap.
            Resha mengumpulkan setiap ons keberaniannya yang masih tersisa dan menegakkan tubuhnya. Ia mencoba melewati Max dengan berani, akan tetapi Max bergeming dan tetap menghalangi jalannya. Resha bergeser ke kanan, Max ikut bergeser ke kanan. Reshaa bergeser ke kiri, Max juga melakukan hal yang sama. Akhirnya, Resha kehilangan kesabaran dan mendelik ke arah Max.
            “Mau lo apa sih?!” desis Resha marah.
            Max perlahan tersenyum. Jenis senyum serigala yang puas karena mangsa telah memakan umpannya. “Akhirnya pertanyaan itu keluar juga. Gue pikir lo nggak akan pernah nanya,” kata Max sambil mendekat ke arah Resha.
            Resha kontan mundur dan merapatkan punggungnya ke meja di belakangnya. “Berhenti!”
            “Tadi lo nanya gue mau apa kan? Sekarang gue kasih tau,” kata Max sambil menyentuh dagu Resha, mendongakkannya dengan halus. “Lo masih mau tau kan?”
            Mata Resha membelalak ketika menyadari maksud Max. “Nggak!!” semburnya cepat.
            Max tersenyum malas. “Terlambat,” katanya. Lalu ia menundukkan kepalanya dan memagut bibir Resha.
            Tubuh Resha seketika menegang dan diia berusaha melawan. Ia mencoba mendorong Max, tapi pegangan Max di belakang tengkuknya begitu kuat, dan cowok itu menciumnya dengan lembut dan menyelidik. Resha sebisa mungkin mengatupkan bibirnya rapat-rapat, mengabaikan ciuman-ciuman lembut membuai yang dilancarkan Max untuk menggodanya. Sayangnya, bagi Resha yang belum pernah dicium dengan cara seperti itu, ciuman Max begitu mengguncang kendali dirinya. Lututnya lemas dan ia napasnya tercekat saat merasakan sapuan ujung lidah Max di bibirnya. Hanya dengan mengandalkan kekuatan tekad semata Resha tetap bertahan agar tidak kalah oleh pesona cowok itu.
            Sekarang Resha mengerti kenapa banyak cewek yang tergila-gila pada Max. Bagaimana tidak? Cowok itu merupakan iblis penggoda paling berbakat yang mampu menghancurkan pertahanan cewek. Dan bila lengah, mungkin saja akan menghancurkan. Jika Resha belum mendengar cerira tentang Max dari Chacha, mungkin saat ini dia sudah bergabung dengan cewek-cewek yang ditaklukan oleh Max. Karena sekuat apapun Resha bertahan, Max lebih keras kepala lagi untuk mengalahkannya.
            “Max? Lo di sini kan? Mario bilang dia lihat lo ke sini,” sebuah suara terdengar dari ujung rak di belakang Max, diikuti dengan munculnya seorang cowok berambut jabrik. “Ya ampun!! Apa lo nggak bisa pilih-pilih tempat?!?” tanya cowok itu tak percaya.
            Resha terkesiap saat menyadari ada orang yang melihat dirinya dicium oleh Max. Rasa ngeri langsung melandanya dan dia kembali berusaha berontak. Sayangnya, Max telah menemukan celah dari pertahanan Resha. Cowok itu memanfaatkan momen saat Resha terkesiap untuk memperdalam ciumannya, menyusup dan mencicipi Resha. Membelai, mengecap, dan menyelidik. Lutut Resha benar-benar goyah karena rasa shock, dan ia bersandar pada Max. Ia yain, kalau Max tidak memeluknya dengan erat, ia mungkin sudah jatuh ke lantai saat itu juga. Dan ia tidak bisa menahan erangan lirih yang terlontar dari bibirnya.
            “Max!!” sela cowok yang sepertinya teman Max itu dengan tidak sabar.
            Max menghentikan ciumannya dan melirik kesal ke balik bahunya, tapi ia tidak melepaskan pelukannya sama sekali. “Gue sibuk, Rey,” geram Max.
            “Ya, ya, lo selalu sibuk. Sekarang lupakan itu dan pergi. Lo mau Monica menemukan lo di sini dan mengamuk? Tu cewek satu memang bebal, masih aja mengejar elo tau!” kata cowok yang dipanggil Rey itu jengkel.
            Alis tebal Max berkerut sedikit. “Tunggu gue di mobil. Lima menit lagi gue nyusul,” perintah Max.
            Rey memutar bola matanya. “Jangan lama-lama!” kata Rey dan mencoba mengintip siapa cewek mungil yang berada di balik tubuh Max.
            “Rey,” kata Max mengancam. “Pergi!”
            Rey terkekeh tapi pergi juga.
            Sepeninggal Rey, Max menunduk menatap cewek yang sedari tadi berdiri lemas di pelukannya. Napas cewek itu tersendat-sendat. Napas Max sendiri masih bisa dibilang tak beraturan, tapi ia bisa mengendalikan diri. Tidak seperti Resha.
            Kening Max berkerut kian dalam. Belum pernah ia lepas kendali seperti tadi ketika mencium seorang cewek. Biasanya ia menganggap ciuman hanya sekedar ciuman karena ceweklah yang bersifat agresif terhadapnya. Tapi, tadi dialah yang membujuk sepenuhnya. Membujuk, merayu agar Resha membalas ciumannya, yang tidak sepenuhnya dilakukan cewek itu dengan sukarela. Kalau bukan karena kemunculan Rey, Max mungkin akan melakukan hal yang lebih jauh, tanpa ia sadari, hanya untuk melemahkan pertahanan Resha. Dan sekarang, untuk pertama kalinya ia merasa seperti pecundang karena tidak berhasil dengan rayuannya. Bukannya Resha yang kehilangan kontrol, tapi malah dirinya. Dan hal itu membuat Max gusar.
            Max melonggarkan pelukannya di tubuh Resha, perlahan menciptakan jarak dan membiarkan Resha menghabiskan waktu sebanyak mungkin untuk menenangkan diri. Max melihat hasil kerja tangannya di rambut Resha. Rambut cewek itu tergerai, dan kacamatanya hilang, mungkin jatuh saat ia mencium cewek itu. Tatapan Max jatuh ke bibir Resha yang memerah akibat ciumannya, dan hal itu membuat Max merasakan dorongan untuk mengecap bibir itu lagi. Mengklaim cewek itu sebagai milikinya. Akan tetapi tatapan shock di mata Resha menahannya, dan Max mengumpat dalam hati.
            Ini tidak berjalan seperti yang ia rencanakan. Ia telah bermain-main dengan api. Max mundur selangkah. Cewek itu berbahaya untuk Max. Terlarang. Max harus menjauh dari Resha. Sehebat apapun reaksinya terhadap cewek itu, Max tidak boleh mendekati Resha. Resha tidak sama dengan kebanyakan cewek yang dikencaninya.
            Dengan keputusan itulah Max berbalik dan meninggalkan Resha. Tidak sekalipun dia menoleh ke belakang, sehingga dia tidak melihat setetes air mata mengalir di pipi Resha.
***
            Resha berbaring miring di atas tempat tidurnya. Ia bergelung dan memeluk bantalnya, menatap ke luar jendela kamar yang terbuka. Dalam keremangan cahaya bulan yang menyusup masuk, Resha berbaring diam. Sejak pulang kuliah sore tadi, ia sudah mengurung diri di dalam kamar kosnya. Pertemuannya dengan Max, dan apa yang terjadi selanjutnya sangat mengguncang Resha. Bukan karena apa yang Max lakukan, itu memang mengejutkan bagi Resha yang jarang memiliki hubungan serius dengan cowok, dan itu pun sudah bisa ditebak. Akan tetapi, yang membuat Resha tercengang adalah bagaimana ia bereaksi terhadap Max.
            Kenangan itu sejernih kristal dalam benak Resha. Setiap ia menutup mata, yang ia lihat hanyalah mata sekelam langit malam yang menatap balik ke arahnya. Rasa bibir cowok itu, kelembutan dibalik ketegasan. Resha memejamkan matanya dan berusaha menghalau bayangan itu.
            Nggak Resha, lupakan itu semua. Semuanya hanyalah selingan bagi Max. Tidak ada yang spesial dari tindakan cowok itu. Kalian bahkan tidak saling mengenal. Bukankah hal itu cukup membuktikan kalau Max sama sekali tidak memiliki perasaan sama kamu? Max akan melupakanmu, dan beralih kepada cewek lain yang lebih menantang. Setelah kini rasa penasarannya terpenuhi, cowok itu akan mengabaikanmu.
            Resha memejamkan matanya. Lupakan, Resha, lupakan...
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar