Resha menelusuri lorong di antara dua rak besar di
perpustakaan. Ia awalnya datang ke sana hanya untuk mengecek apakah Max
mengembalikan buku-buku yang ia tinggalkan saat itu. Dan syukurlah, ternyata
cowok itu berbaik hati mau mengembalikannya walau ia tidak tau siapa Resha.
Menggelengkan kepalanya, Resha meneruskan pencarian
bukunya hingga ke ujung lorong buntu tersebut. Ketika tak menemukan buku yang
dicarinya, Resha pun berbalik. Jeritan tersangkut di tenggorokannya saat
melihat Max berdiri beberapa langkah di depannya, bersandar menyamping pada rak
buku dan sedang mengamati Resha dengan mata kelamnya.
“Lo kelihatan kaget,” komentar Max.
Tanpa sadar Resha melangkah mundur.
“Senangnya lo masih ingat sama gue,” kata Max santai. Ia
menegakkan tubuh dan mulai berjalan ke arah Resha.
“Stop!” bisik Resha panik. Ia melirik sekilas ke balik
bahunya dan sadar ia telah terpojok, tanpa jalan untuk lari. Selain melewati
Max tentunya.
“Kalau gitu berhenti melangkah mundur,” kata Max geli.
Resha tetap melangkah mundur hingga pinggulnya membentur
ujung meja dan ia terkesiap. Ia menoleh ke belakang secara spontan dan Max
menyambar kesempatan itu dengan mempersempit jarak di antara mereka. Sekali
lagi Resha terkesiap dan menatap Max dengan panik.
“Jangan ganggu gue!” bisik Resha dengan suara tercekik.
“Gue nggak berniat mengganggu,” kata Max. Lalu ia
menyentuh pipi Resha, membuat cewek itu tersentak. Tangannya menelusuri pipi
Resha hingga ke rambutnya dan menarik lepas ikat rambut cewek itu. Helaian
rambut yang tebal dan halus mengenai tangannya.
Sungguh luar biasa karena Resha masih bisa membalas
tatapan Max. “Gue nggak kenal sama elo,” kata Resha. “Nggak ada alasan lo
menemui gue!”
“Tentu aja gue punya alasan,” gumam Max, mengamati wajah
Resha. “Setiap hal memiliki alasan. Begitu juga gue,” tambahnya.
Resha menggeleng. “Gue tau reputasi lo,” katanya.
Alis tebal Max terangkat penasaran. “Oh ya? Sejauh mana
reputasi gue yang lo ketahui?”
“Semuanya! Lo adalah cowok yang paling harus dihindari
oleh cewek-cewek di kampus ini!”
Max menelengkan kepalanya. Hebat juga cewek ini. Jelas-jelas
kalau dia sangat ketakutan dan terintimidasi oleh keberadaan Max, akan tetapi
cewek itu masih bisa bersikap melawan. Max suka tipe cewek pembangkang seperti
ini. Cewek tipe ini akan jual mahal pada awalnya, tapi menyerah pada akhirnya.
Pasti akan membutuhkan sedikit waktu untuk menjinakkannya. Tapi Max sudah siap.
Resha mengumpulkan setiap ons keberaniannya yang masih
tersisa dan menegakkan tubuhnya. Ia mencoba melewati Max dengan berani, akan
tetapi Max bergeming dan tetap menghalangi jalannya. Resha bergeser ke kanan,
Max ikut bergeser ke kanan. Reshaa bergeser ke kiri, Max juga melakukan hal
yang sama. Akhirnya, Resha kehilangan kesabaran dan mendelik ke arah Max.
“Mau lo apa sih?!” desis Resha marah.
Max perlahan tersenyum. Jenis senyum serigala yang puas
karena mangsa telah memakan umpannya. “Akhirnya pertanyaan itu keluar juga. Gue
pikir lo nggak akan pernah nanya,” kata Max sambil mendekat ke arah Resha.
Resha kontan mundur dan merapatkan punggungnya ke meja di
belakangnya. “Berhenti!”
“Tadi lo nanya gue mau apa kan? Sekarang gue kasih tau,”
kata Max sambil menyentuh dagu Resha, mendongakkannya dengan halus. “Lo masih
mau tau kan?”
Mata Resha membelalak ketika menyadari maksud Max. “Nggak!!”
semburnya cepat.
Max tersenyum malas. “Terlambat,” katanya. Lalu ia
menundukkan kepalanya dan memagut bibir Resha.
Tubuh Resha seketika menegang dan diia berusaha melawan.
Ia mencoba mendorong Max, tapi pegangan Max di belakang tengkuknya begitu kuat,
dan cowok itu menciumnya dengan lembut dan menyelidik. Resha sebisa mungkin
mengatupkan bibirnya rapat-rapat, mengabaikan ciuman-ciuman lembut membuai yang
dilancarkan Max untuk menggodanya. Sayangnya, bagi Resha yang belum pernah
dicium dengan cara seperti itu, ciuman Max begitu mengguncang kendali dirinya.
Lututnya lemas dan ia napasnya tercekat saat merasakan sapuan ujung lidah Max
di bibirnya. Hanya dengan mengandalkan kekuatan tekad semata Resha tetap
bertahan agar tidak kalah oleh pesona cowok itu.
Sekarang Resha mengerti kenapa banyak cewek yang tergila-gila
pada Max. Bagaimana tidak? Cowok itu merupakan iblis penggoda paling berbakat
yang mampu menghancurkan pertahanan cewek. Dan bila lengah, mungkin saja akan
menghancurkan. Jika Resha belum mendengar cerira tentang Max dari Chacha,
mungkin saat ini dia sudah bergabung dengan cewek-cewek yang ditaklukan oleh
Max. Karena sekuat apapun Resha bertahan, Max lebih keras kepala lagi untuk
mengalahkannya.
“Max? Lo di sini kan? Mario bilang dia lihat lo ke sini,”
sebuah suara terdengar dari ujung rak di belakang Max, diikuti dengan munculnya
seorang cowok berambut jabrik. “Ya ampun!! Apa lo nggak bisa pilih-pilih
tempat?!?” tanya cowok itu tak percaya.
Resha terkesiap saat menyadari ada orang yang melihat
dirinya dicium oleh Max. Rasa ngeri langsung melandanya dan dia kembali
berusaha berontak. Sayangnya, Max telah menemukan celah dari pertahanan Resha.
Cowok itu memanfaatkan momen saat Resha terkesiap untuk memperdalam ciumannya,
menyusup dan mencicipi Resha. Membelai, mengecap, dan menyelidik. Lutut Resha
benar-benar goyah karena rasa shock, dan ia bersandar pada Max. Ia yain, kalau
Max tidak memeluknya dengan erat, ia mungkin sudah jatuh ke lantai saat itu
juga. Dan ia tidak bisa menahan erangan lirih yang terlontar dari bibirnya.
“Max!!” sela cowok yang sepertinya teman Max itu dengan
tidak sabar.
Max menghentikan ciumannya dan melirik kesal ke balik
bahunya, tapi ia tidak melepaskan pelukannya sama sekali. “Gue sibuk, Rey,”
geram Max.
“Ya, ya, lo selalu sibuk. Sekarang lupakan itu dan pergi.
Lo mau Monica menemukan lo di sini dan mengamuk? Tu cewek satu memang bebal,
masih aja mengejar elo tau!” kata cowok yang dipanggil Rey itu jengkel.
Alis tebal Max berkerut sedikit. “Tunggu gue di mobil.
Lima menit lagi gue nyusul,” perintah Max.
Rey memutar bola matanya. “Jangan lama-lama!” kata Rey
dan mencoba mengintip siapa cewek mungil yang berada di balik tubuh Max.
“Rey,” kata Max mengancam. “Pergi!”
Rey terkekeh tapi pergi juga.
Sepeninggal Rey, Max menunduk menatap cewek yang sedari
tadi berdiri lemas di pelukannya. Napas cewek itu tersendat-sendat. Napas Max
sendiri masih bisa dibilang tak beraturan, tapi ia bisa mengendalikan diri.
Tidak seperti Resha.
Kening Max berkerut kian dalam. Belum pernah ia lepas
kendali seperti tadi ketika mencium seorang cewek. Biasanya ia menganggap
ciuman hanya sekedar ciuman karena ceweklah yang bersifat agresif terhadapnya.
Tapi, tadi dialah yang membujuk sepenuhnya. Membujuk, merayu agar Resha
membalas ciumannya, yang tidak sepenuhnya dilakukan cewek itu dengan sukarela.
Kalau bukan karena kemunculan Rey, Max mungkin akan melakukan hal yang lebih
jauh, tanpa ia sadari, hanya untuk melemahkan pertahanan Resha. Dan sekarang,
untuk pertama kalinya ia merasa seperti pecundang karena tidak berhasil dengan
rayuannya. Bukannya Resha yang kehilangan kontrol, tapi malah dirinya. Dan hal
itu membuat Max gusar.
Max melonggarkan pelukannya di tubuh Resha, perlahan
menciptakan jarak dan membiarkan Resha menghabiskan waktu sebanyak mungkin
untuk menenangkan diri. Max melihat hasil kerja tangannya di rambut Resha.
Rambut cewek itu tergerai, dan kacamatanya hilang, mungkin jatuh saat ia
mencium cewek itu. Tatapan Max jatuh ke bibir Resha yang memerah akibat
ciumannya, dan hal itu membuat Max merasakan dorongan untuk mengecap bibir itu
lagi. Mengklaim cewek itu sebagai milikinya. Akan tetapi tatapan shock di mata
Resha menahannya, dan Max mengumpat dalam hati.
Ini tidak berjalan seperti yang ia rencanakan. Ia telah
bermain-main dengan api. Max mundur selangkah. Cewek itu berbahaya untuk Max.
Terlarang. Max harus menjauh dari Resha. Sehebat apapun reaksinya terhadap
cewek itu, Max tidak boleh mendekati Resha. Resha tidak sama dengan kebanyakan
cewek yang dikencaninya.
Dengan keputusan itulah Max berbalik dan meninggalkan
Resha. Tidak sekalipun dia menoleh ke belakang, sehingga dia tidak melihat
setetes air mata mengalir di pipi Resha.
***
Resha berbaring miring di atas tempat tidurnya. Ia
bergelung dan memeluk bantalnya, menatap ke luar jendela kamar yang terbuka.
Dalam keremangan cahaya bulan yang menyusup masuk, Resha berbaring diam. Sejak
pulang kuliah sore tadi, ia sudah mengurung diri di dalam kamar kosnya.
Pertemuannya dengan Max, dan apa yang terjadi selanjutnya sangat mengguncang Resha.
Bukan karena apa yang Max lakukan, itu memang mengejutkan bagi Resha yang
jarang memiliki hubungan serius dengan cowok, dan itu pun sudah bisa ditebak.
Akan tetapi, yang membuat Resha tercengang adalah bagaimana ia bereaksi
terhadap Max.
Kenangan itu sejernih kristal dalam benak Resha. Setiap
ia menutup mata, yang ia lihat hanyalah mata sekelam langit malam yang menatap
balik ke arahnya. Rasa bibir cowok itu, kelembutan dibalik ketegasan. Resha
memejamkan matanya dan berusaha menghalau bayangan itu.
Nggak Resha, lupakan itu semua. Semuanya hanyalah
selingan bagi Max. Tidak ada yang spesial dari tindakan cowok itu. Kalian
bahkan tidak saling mengenal. Bukankah hal itu cukup membuktikan kalau Max sama
sekali tidak memiliki perasaan sama kamu? Max akan melupakanmu, dan beralih
kepada cewek lain yang lebih menantang. Setelah kini rasa penasarannya
terpenuhi, cowok itu akan mengabaikanmu.
Resha memejamkan matanya. Lupakan, Resha, lupakan...
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar