Satu jam kemudian,
Resha berdiri di depan Beast. Ia ragu akan tindakannya itu. Berkali-kali ia
melirik jam dan hendak pulang saja, akan tetapi kakinya menolak untuk melangkah
pergi.
“Gue nggak bisa...” bisik Resha panik.
Ia balik badan dan siap pergi, tapi langkahnya terhenti
saat melihat 2 orang cowok berjalan ke arah cafe sambil tertawa-tawa. Resha
berusaha bersikap kasat mata dan menyingkir dari jalan kedua cowok itu. Akan
tetapi rupanya tujuan kedua cowok itu berubah ketika mereka melihat Resha.
Kedua cowok itu lantas menghadang Resha.
“Kok udah mau pulang? Gabung bareng kita yuk?” ajak si
cowok pertama.
“Nggak, makasih. Gue lagi buru-buru,” kata Resha seraya
mengelak saat salah satu dari kedua cowok itu ingin mencolek pipinya.
“Eits, jangan takut gitu donk. Kita-kita ini orang baik
kok!” kata si cowok kedua.
Resha menatap kedua cowok itu dengan desir kepanikan di
dadanya. Ia menerobos kedua cowok itu sebelum mereka macam-macam, akan tetapi
tangannya ditarik. Resha menjerit. Ia meronta-ronta dengan kuat dan menjerit
minta tolong. Ketika mulutnya dibekap, Resha langsung menggigit tangan yang
membekapnya. Ketika pergumulan itu semakin sengit, sebuah teriakan terdengar.
Resha dan kedua cowok itu menoleh kaget. Kelegaan membanjiri Resha hingga
lututnya lemas saat melihat Rey berdiri di depan pintu Beast dan kini tengah
berjalan dengan mengancam ke arahnya. Cowok-cowok yang mengganggu Resha itu pun
langsung melepaskan Resha dan kabur.
“Lo nggak apa-apa kan?” tanya Rey, bergegas menghampiri
Resha. Ia membantu cewek itu untuk berdiri. “Mereka nggak ngapa-ngapain lo kan?”
Resha menggeleng lemah.
“Kenapa lo nggak telepon gue sih? Kalau gue nggak nyuruh
orang buat ngawasin pintu depan, saat ini mungkin aja lo udah celaka!” kata
Rey.
“Gue... Gue nggak yakin. Gue berniat pulang...” sahut
Resha.
“Setelah sampai di sini?” tanya Rey. “Lupakan aja. Ayo
masuk,” kata Rey dan menarik tangan Resha dengan lembut.
“Tapi...”
Rey mengabaikan protes lemah Resha dan tetap menggiring
Resha masuk ke dalam Beast.
Ketika mereka semakin mendekati meja tempat Rey
meninggalkan Max, kekacauan lain sudah terjadi. Hanya saja kali ini Max-lah
yang membuat keributan. Cowok itu tampak sedang mencengkeram kerah pengunjung
lainnya dan siap memulai perkelahian. Rey pun langsung menghampiri dan menarik
Max menjauh. Diseretnya Max dengan paksa, dengan susah payah memegangi tubuhnya
karena Max tidak mau diam.
“Sialan! Gue cuma ninggalin lo lima menit tapi lo udah
buat onar!!!” hardik Rey.
“Leeeepas!” sahut Max mabuk.
“Pulang! Kita balik sekarang!” kata Rey dan menarik Max
menuju pintu keluar. Rey lalu ingat kapada Resha. Ia pun menoleh ke balik
bahunya. “Kalau lo nggak keberatan, bisa lo ambilin jaketnya Max di kursi itu?”
kata Rey.
“...Oke,” sahut Resha pelan.
“Thanks,” kata Rey.
Meski suara hingar bingar musik membahana di tempat itu,
namun Max mendengar suara Resha dan menoleh seolah ia ditampar dengan keras.
Matanya yang merah memicing ke arah Resha yang tengah mengambil jaket. Dari
balik kabut minuman keras, Max masih bisa mengenali Resha. Cara berpakaiannya,
cara melangkahnya, bahkan biarpun rambutnya tergerai di punggungnya. Dan ketika
gadis itu berbalik, jantung Max seakan diremas oleh tangan tak terlihat.
Resha berhenti melangkah saat menyadari Max tengah
menatapnya. Ia membalas tatapan itu selama beberapa detik sebelum menunduk dan
berjalan mendahului ke pintu keluar.
“Ayo, Max, gerakkan kaki lo,” kata Rey seraya memapah
Max.
“Kenapa...” kata Max, berhenti sejenak karena cegukan, “dia
ada di sini?”
“Menurut lo kenapa?” sahut Rey. “Ayo, jalan! Jangan diam
aja! Gue nggak mau kalau dia digangguin lagi sementara gue ngurusin elo di
sini!!”
“Apa?!” tanya Max tajam. Langkahnya terhenti dan dia
berdiri limbung.
“Berdiri yang benar kenapa sih?!” hardik Rey dan memaksa
agar Max kembali melangkah. Max terhuyung maju.
Sesampainya di luar, Max sudah nyaris tidak bisa
melangkah tanpa diseret oleh Rey. Cowok itu menggerutu tidak jelas dan
menyandar pada Rey. Resha yang menunggu di parkiran mengawasi saat Rey memapah
dan setengah menyeret Max menuju ke mobil jazz yang terparkir tak jauh dari
pintu masuk Beast.
“Res, bisa lo pegangin ni anak sebentar? Gue harus buka
pintu mobilnya,” kata Rey.
“Eh? Ng... Nggak bisa gue aja yang buka? Siniin aja
kuncinya,” kata Resha.
“Kuncinya ada di saku depan celana gue lho,” kata Rey,
membuat wajah Resha memerah.
Resha menunjukkan raut tersiksa yang membuat Rey ingin tertawa.
Sebagai gantinya, ia terbatuk pelan untuk menyembunyikan tawanya. Ia menaikkan
alis penuh tanya ke arah Resha. Akhirnya, dengan enggan, Resha pun mengangguk.
Ia mengulurkan tangan ke arah Rey.
Rey menyerahkan Max kepada Resha. Meringis saat cewek
mungil itu terkesiap saat Max membuatnya kesulitan menjaga keseimbangan. Rey
buru-buru mengeluarkan kunci dan membuka pintu belakang. Mereka berdua berusaha
memasukkan Max ke dalam mobil, dan dalam prosesnya, Resha ikut terseret masuk
ke mobil.
“Lo ikut sekalian ya? Gue janji bakal nganterin elo
pulang dengan selamat,” kata Rey saat ia duduk di belakang kemudi.
“Apa gue kelihatan punya pilihan lain?” gerutu Resha dan
berusaha mendorong kepala Max menjauh dari bahunya.
Rey menyengir. “Mulut lo tajam juga ya? Nggak heran kalau
Max tergila-gila sama elo,” kata Rey.
“Dia nggak tergila-gila sama gue!” sergah Resha.
Rey mengangkat bahu dan melajukan mobilnya keluar dari
area parkir Beast. Perjalanan itu didominasi oleh keheningan yang diselingi
oleh gumaman Max yang tak jelas. Resha juga tampak duduk gelisah dan
terus-terusan menegakkan kepala Max, walau ujung-ujungnya kepala Max akan
kembali terkulai ke bahunya.
Akhirnya mobil yang dikemudikan Rey memasuki sebuah
pekarangan luas sebuah rumah. Rumah itu cukup besar dengan kesan minimalis.
Khas tempat tinggal cowok bujangan. Resha jadi bertanya-tanya apakah Max
tinggal bersama orangtuanya atau tidak.
“Lo tunggu sebentar, gue mau minta kunci rumah sama
satpam yang tinggal di belakang,” kata Rey. “Si Bego ini nggak mungkin ingat
bawa kunci rumah,” tambah Rey. Ketika ia sudah di luar, ia melongok lagi ke
dalam. “Kalau dia bertingkah, lo pukul aja kepalanya pakai asbak,” pesannya,
lalu meninggalkan mobil.
Ditinggalkan berdua saja bersama Max membuat Resha makin
gelisah. Resha berusaha mendudukkan Max di kursi dan beringsut-ingsut menjauh.
Setelah usaha yang terasa seabad lamanya, akhirnya Resha berhasil membuat Max
duduk tegak, dengan kepala terkulai di jok. Resha bergeser sedikit dan menatap
Max. Membingungkan, itulah kesan yang bercokol di kepala Resha setelah ia
mengenal Max, bukan berarti ia sangat mengenal cowok itu sih.
Bergeser lagi, Resha menatap keluar jendela. Kenapa Rey
lama sekali? Resha mengubah posisi duduknya. Mungkin lebih baik ia turun dan
menunggu di luar. Di dalam mobil bersama Max membuatnya gelisah. Tepat ketika
Resha akan membuka pintu, tangan Max menutupi tangannya. Resha terkesiap. Ia
berbalik secara spontan dan langsung menyesalinya saat menyadari Max berada
begitu dekat dengannya. Sekarang Resha terkurung di antara kedua tangan Max.
Jarak wajah mereka hanya terpaut sejengkal jauhnya. Tanpa sadar Resha menahan
napas saat tatapan kelam Max memakunya.
“Kenapa lo di sini?” tanya Max.
Resha tak menjawab.
Selain karena ia tidak tau mau menjawab apa, ia juga bingung dengan
perasaannya. Apa yang membuat Resha memutuskan datang?? Apa hanya sekadar ingin
membuktikan kata-kata Rey?
“Kenapa? Apa lo mau menyiksa gue??”
Kali ini Resha menggeleng lemah. “Gue nggak tau...” bisik
Resha.
“Gue mau jawaban,” kata Max.
“Gue nggak tau...” sahut Resha putus asa. “Gue sendiri
nggak ngerti kenapa gue...”
“Nggak ada jalan kembali,” kata Max. Ketika Resha hanya
menatapnya dengan tatapan bingung, Max menarik napas gemetar. “Gue tau lo
berbahaya buat gue. Gue tau harusnya gue menjauh dari elo. Tapi gue nggak bisa.
Sekeras apapun gue mencoba, gue tetap nggak bisa menjauh,” kata Max.
“Kenapa?” tanya Resha setelah terdiam lama. “Gue cuma
cewek biasa. Gue nggak sepadan sama cewek-cewek yang mendekati elo,” kata Resha
lirih.
Mata mereka bertatapan dalam keremangan. Mata tajam dan
kelam Max beradu dengan tatapan sendu Resha. Lalu Max mencondongkan tubuhnya ke
arah Resha, bersamaan dengan Resha yang otomatis mendongak. Max melenyapkan
jarak yang tersisa dan berbisik di depan bibir Resha.
“Lo seperti candu buat gue. Membuat gue nggak pernah puas
merasakan elo,” kata Max, lalu ia mencium bibir Resha.
Awalnya lembut dan hati-hati, seolah ia meminta ijin.
Lalu ketika merasakan Resha melembut, ciuman itu berubah menjadi lebih mantap
dan yakin. Napas mereka berpadu dalam simfoni ajaib. Saling mencicipi dan
menelisik perasaan lewat sentuhan ringan sekalipun. Max memeluk Resha, dan
Resha meletakkan tangannya di bahu Max, memejamkan mata saat Max menciumnya
lagi dan lagi.
Tanpa Max dan Resha sadari, Rey bersandar di luar pintu
mobil. Ia mengisap dan mengembuskan asap rokoknya dengan santai. Dalam hati
merasa geli dengan pasangan aneh di belakangnya itu. Kalau memang akhirnya
seperti ini, kenapa harus repot-repot menyiksa diri dulu? Dasar, ternyata benar
kata orang, cinta itu bisa membuat orang jadi bego.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar