Minggu, 03 Februari 2013

SEAL WITH A KISS 5


Satu jam kemudian, Resha berdiri di depan Beast. Ia ragu akan tindakannya itu. Berkali-kali ia melirik jam dan hendak pulang saja, akan tetapi kakinya menolak untuk melangkah pergi.
            “Gue nggak bisa...” bisik Resha panik.
            Ia balik badan dan siap pergi, tapi langkahnya terhenti saat melihat 2 orang cowok berjalan ke arah cafe sambil tertawa-tawa. Resha berusaha bersikap kasat mata dan menyingkir dari jalan kedua cowok itu. Akan tetapi rupanya tujuan kedua cowok itu berubah ketika mereka melihat Resha. Kedua cowok itu lantas menghadang Resha.
            “Kok udah mau pulang? Gabung bareng kita yuk?” ajak si cowok pertama.
            “Nggak, makasih. Gue lagi buru-buru,” kata Resha seraya mengelak saat salah satu dari kedua cowok itu ingin mencolek pipinya.
            “Eits, jangan takut gitu donk. Kita-kita ini orang baik kok!” kata si cowok kedua.
            Resha menatap kedua cowok itu dengan desir kepanikan di dadanya. Ia menerobos kedua cowok itu sebelum mereka macam-macam, akan tetapi tangannya ditarik. Resha menjerit. Ia meronta-ronta dengan kuat dan menjerit minta tolong. Ketika mulutnya dibekap, Resha langsung menggigit tangan yang membekapnya. Ketika pergumulan itu semakin sengit, sebuah teriakan terdengar. Resha dan kedua cowok itu menoleh kaget. Kelegaan membanjiri Resha hingga lututnya lemas saat melihat Rey berdiri di depan pintu Beast dan kini tengah berjalan dengan mengancam ke arahnya. Cowok-cowok yang mengganggu Resha itu pun langsung melepaskan Resha dan kabur.
            “Lo nggak apa-apa kan?” tanya Rey, bergegas menghampiri Resha. Ia membantu cewek itu untuk berdiri. “Mereka nggak ngapa-ngapain lo kan?”
            Resha menggeleng lemah.
            “Kenapa lo nggak telepon gue sih? Kalau gue nggak nyuruh orang buat ngawasin pintu depan, saat ini mungkin aja lo udah celaka!” kata Rey.
            “Gue... Gue nggak yakin. Gue berniat pulang...” sahut Resha.
            “Setelah sampai di sini?” tanya Rey. “Lupakan aja. Ayo masuk,” kata Rey dan menarik tangan Resha dengan lembut.
            “Tapi...”
            Rey mengabaikan protes lemah Resha dan tetap menggiring Resha masuk ke dalam Beast.
            Ketika mereka semakin mendekati meja tempat Rey meninggalkan Max, kekacauan lain sudah terjadi. Hanya saja kali ini Max-lah yang membuat keributan. Cowok itu tampak sedang mencengkeram kerah pengunjung lainnya dan siap memulai perkelahian. Rey pun langsung menghampiri dan menarik Max menjauh. Diseretnya Max dengan paksa, dengan susah payah memegangi tubuhnya karena Max tidak mau diam.
            “Sialan! Gue cuma ninggalin lo lima menit tapi lo udah buat onar!!!” hardik Rey.
            “Leeeepas!” sahut Max mabuk.
            “Pulang! Kita balik sekarang!” kata Rey dan menarik Max menuju pintu keluar. Rey lalu ingat kapada Resha. Ia pun menoleh ke balik bahunya. “Kalau lo nggak keberatan, bisa lo ambilin jaketnya Max di kursi itu?” kata Rey.
            “...Oke,” sahut Resha pelan.
            “Thanks,” kata Rey.
            Meski suara hingar bingar musik membahana di tempat itu, namun Max mendengar suara Resha dan menoleh seolah ia ditampar dengan keras. Matanya yang merah memicing ke arah Resha yang tengah mengambil jaket. Dari balik kabut minuman keras, Max masih bisa mengenali Resha. Cara berpakaiannya, cara melangkahnya, bahkan biarpun rambutnya tergerai di punggungnya. Dan ketika gadis itu berbalik, jantung Max seakan diremas oleh tangan tak terlihat.
            Resha berhenti melangkah saat menyadari Max tengah menatapnya. Ia membalas tatapan itu selama beberapa detik sebelum menunduk dan berjalan mendahului ke pintu keluar.
            “Ayo, Max, gerakkan kaki lo,” kata Rey seraya memapah Max.
            “Kenapa...” kata Max, berhenti sejenak karena cegukan, “dia ada di sini?”
            “Menurut lo kenapa?” sahut Rey. “Ayo, jalan! Jangan diam aja! Gue nggak mau kalau dia digangguin lagi sementara gue ngurusin elo di sini!!”
            “Apa?!” tanya Max tajam. Langkahnya terhenti dan dia berdiri limbung.
            “Berdiri yang benar kenapa sih?!” hardik Rey dan memaksa agar Max kembali melangkah. Max terhuyung maju.
            Sesampainya di luar, Max sudah nyaris tidak bisa melangkah tanpa diseret oleh Rey. Cowok itu menggerutu tidak jelas dan menyandar pada Rey. Resha yang menunggu di parkiran mengawasi saat Rey memapah dan setengah menyeret Max menuju ke mobil jazz yang terparkir tak jauh dari pintu masuk Beast.
            “Res, bisa lo pegangin ni anak sebentar? Gue harus buka pintu mobilnya,” kata Rey.
            “Eh? Ng... Nggak bisa gue aja yang buka? Siniin aja kuncinya,” kata Resha.
            “Kuncinya ada di saku depan celana gue lho,” kata Rey, membuat wajah Resha memerah.
            Resha menunjukkan raut tersiksa yang membuat Rey ingin tertawa. Sebagai gantinya, ia terbatuk pelan untuk menyembunyikan tawanya. Ia menaikkan alis penuh tanya ke arah Resha. Akhirnya, dengan enggan, Resha pun mengangguk. Ia mengulurkan tangan ke arah Rey.
            Rey menyerahkan Max kepada Resha. Meringis saat cewek mungil itu terkesiap saat Max membuatnya kesulitan menjaga keseimbangan. Rey buru-buru mengeluarkan kunci dan membuka pintu belakang. Mereka berdua berusaha memasukkan Max ke dalam mobil, dan dalam prosesnya, Resha ikut terseret masuk ke mobil.
            “Lo ikut sekalian ya? Gue janji bakal nganterin elo pulang dengan selamat,” kata Rey saat ia duduk di belakang kemudi.
            “Apa gue kelihatan punya pilihan lain?” gerutu Resha dan berusaha mendorong kepala Max menjauh dari bahunya.
            Rey menyengir. “Mulut lo tajam juga ya? Nggak heran kalau Max tergila-gila sama elo,” kata Rey.
            “Dia nggak tergila-gila sama gue!” sergah Resha.
            Rey mengangkat bahu dan melajukan mobilnya keluar dari area parkir Beast. Perjalanan itu didominasi oleh keheningan yang diselingi oleh gumaman Max yang tak jelas. Resha juga tampak duduk gelisah dan terus-terusan menegakkan kepala Max, walau ujung-ujungnya kepala Max akan kembali terkulai ke bahunya.
            Akhirnya mobil yang dikemudikan Rey memasuki sebuah pekarangan luas sebuah rumah. Rumah itu cukup besar dengan kesan minimalis. Khas tempat tinggal cowok bujangan. Resha jadi bertanya-tanya apakah Max tinggal bersama orangtuanya atau tidak.
            “Lo tunggu sebentar, gue mau minta kunci rumah sama satpam yang tinggal di belakang,” kata Rey. “Si Bego ini nggak mungkin ingat bawa kunci rumah,” tambah Rey. Ketika ia sudah di luar, ia melongok lagi ke dalam. “Kalau dia bertingkah, lo pukul aja kepalanya pakai asbak,” pesannya, lalu meninggalkan mobil.
            Ditinggalkan berdua saja bersama Max membuat Resha makin gelisah. Resha berusaha mendudukkan Max di kursi dan beringsut-ingsut menjauh. Setelah usaha yang terasa seabad lamanya, akhirnya Resha berhasil membuat Max duduk tegak, dengan kepala terkulai di jok. Resha bergeser sedikit dan menatap Max. Membingungkan, itulah kesan yang bercokol di kepala Resha setelah ia mengenal Max, bukan berarti ia sangat mengenal cowok itu sih.
            Bergeser lagi, Resha menatap keluar jendela. Kenapa Rey lama sekali? Resha mengubah posisi duduknya. Mungkin lebih baik ia turun dan menunggu di luar. Di dalam mobil bersama Max membuatnya gelisah. Tepat ketika Resha akan membuka pintu, tangan Max menutupi tangannya. Resha terkesiap. Ia berbalik secara spontan dan langsung menyesalinya saat menyadari Max berada begitu dekat dengannya. Sekarang Resha terkurung di antara kedua tangan Max. Jarak wajah mereka hanya terpaut sejengkal jauhnya. Tanpa sadar Resha menahan napas saat tatapan kelam Max memakunya.
            “Kenapa lo di sini?” tanya Max.
Resha tak menjawab. Selain karena ia tidak tau mau menjawab apa, ia juga bingung dengan perasaannya. Apa yang membuat Resha memutuskan datang?? Apa hanya sekadar ingin membuktikan kata-kata Rey?
            “Kenapa? Apa lo mau menyiksa gue??”
            Kali ini Resha menggeleng lemah. “Gue nggak tau...” bisik Resha.
            “Gue mau jawaban,” kata Max.
            “Gue nggak tau...” sahut Resha putus asa. “Gue sendiri nggak ngerti kenapa gue...”
            “Nggak ada jalan kembali,” kata Max. Ketika Resha hanya menatapnya dengan tatapan bingung, Max menarik napas gemetar. “Gue tau lo berbahaya buat gue. Gue tau harusnya gue menjauh dari elo. Tapi gue nggak bisa. Sekeras apapun gue mencoba, gue tetap nggak bisa menjauh,” kata Max.
            “Kenapa?” tanya Resha setelah terdiam lama. “Gue cuma cewek biasa. Gue nggak sepadan sama cewek-cewek yang mendekati elo,” kata Resha lirih.
            Mata mereka bertatapan dalam keremangan. Mata tajam dan kelam Max beradu dengan tatapan sendu Resha. Lalu Max mencondongkan tubuhnya ke arah Resha, bersamaan dengan Resha yang otomatis mendongak. Max melenyapkan jarak yang tersisa dan berbisik di depan bibir Resha.
            “Lo seperti candu buat gue. Membuat gue nggak pernah puas merasakan elo,” kata Max, lalu ia mencium bibir Resha.
            Awalnya lembut dan hati-hati, seolah ia meminta ijin. Lalu ketika merasakan Resha melembut, ciuman itu berubah menjadi lebih mantap dan yakin. Napas mereka berpadu dalam simfoni ajaib. Saling mencicipi dan menelisik perasaan lewat sentuhan ringan sekalipun. Max memeluk Resha, dan Resha meletakkan tangannya di bahu Max, memejamkan mata saat Max menciumnya lagi dan lagi.
            Tanpa Max dan Resha sadari, Rey bersandar di luar pintu mobil. Ia mengisap dan mengembuskan asap rokoknya dengan santai. Dalam hati merasa geli dengan pasangan aneh di belakangnya itu. Kalau memang akhirnya seperti ini, kenapa harus repot-repot menyiksa diri dulu? Dasar, ternyata benar kata orang, cinta itu bisa membuat orang jadi bego.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar