Lyla berlari keluar dari kamarnya seperti orang
dikejar setan. Ia tak memedulikan penampilannya yang acak-acakan ataupun
keheranan keluarganya. Begitu sampai di pintu depan, Lyla langsung menghambur
keluar dan berlari ke jalanan. Lyla tak menoleh ke kanan atau ke kiri, ia
langsung saja berbelok ke kanan dan berlari. Akan tetapi langkahnya perlahan
terhenti s...aat melihat siapa yang berdiri bersandar di dinding rumahnya.
Napas Lyla terputus-putus dan air mata membanjiri pipinya. Tatapannya nanar
saat menatap siluet kabur Glenn yang tengah bersandar sambil memasukkan kedua
tangannya ke dalam saku celananya. Dan cowok itu mendongak saat merasakan
kehadiran Lyla.
“Akhirnya
kamu muncul juga,” ujar Glenn perlahan. Ia kemudian menegakkan tubuhnya hingga
berdiri mengahadp ke arah Lyla.
“Kamu
cowok paling jahat yang aku kenal...” kata Lyla dengan suara bergetar.
Ditatapnya Glenn dengan marah.
“Ya,
aku memang jahat,” aku Glenn.
Lyla
perlahan melangkah, lama-kelamaan langkahnya menjadi cepat hingga ia berada di hadapan
Glenn. Lyla memukuli Glenn dengan kepalan tangannya sambil memaki-maki cowok
itu.
“Cowok
jahat! Cowok brengsek!! Kenapa kamu harus bilang hal seperti itu di saat
terakhir?! Kenapa kamu harus merusak ketenangan hidup aku?! Kenapa kamu harus
kembali!!” seru Lyla penuh amarah. Dia memukuli dada Glenn tanpa ampun dengan
segenap perasaan marahnya.
Glenn
menangkap tangan Lyla dan menghentikan pukulan cewek itu. “Sorry, Ly, aku nggak
bermaksud buat menyakiti kamu,” kata Glenn lembut.
“Aku
nggak peduli!! Aku udah benci sama kamu!! Dan sekarang aku akan makin membenci
kamu!! Pergi aja! Aku nggak peduli kalau kamu mau pergi ke manapun yang kamu
mau!! Aku nggak peduli! Kamu dengar!!” bantak Lyla.
Glenn
menarik Lyla ke dalam pelukannya, tak peduli dengan rontaan Lyla. Akhirnya
setelah merasakan perlawanan diri Lyla yang berangsur melemah, barulah Glenn
bicara.
“Aku
tau aku salah karena nggak bilang apapun sama kamu. Tapi kalau kamu ingat, kamu
selama ini kan benci sama aku. Kalau aku tiba-tiba bilang sayang sama kamu, apa
kamu akan percaya?” tanya Glenn.
Lyla
terdiam.
“Nggak
kan? Makanya aku menggunakan cara ini supaya kamu mau memaafkan aku. Aku ingin
supaya kamu bisa menerima perasaan sayangku tanpa prasangka apapun, Ly,” kata
Glenn. “Tapi sampai akhir, kamu nggak menunjukkan perasaan apapun sama aku. Aku
jadi merasa putus asa,” lanjutnya.
“Kalau
gitu kenapa kamu nggak bilang aja langsung?! Kenapa malah bilang saat kamu mau
pulang?!” sahut Lyla.
“Aku
nggak punya kesempatan buat ngomong. Saat aku pikir kamu udah maafin aku,
tiba-tiba kamu menjauh lagi. Terus begitu sampai aku kehabisan waktu dan
terpaksa pakai cara ini,” kata Lyla.
“Tapi
kamu udah sadar kan sama perasaanku?! Kenapa kamu masih aja mempermainkan aku?!”
tuduh Lyla.
Glenn
menjauhkan dirinya dan menatap Lyla. “Aku nggak pernah mempermainkan kamu,”
kata Glenn.
“Lalu
itu apa?! Kamu buat aku suka sama kamu, lalu kamu pergi! Apa itu nggak
mempermainkan aku?! Kamu juga bilang sayang sama aku, tapi kamu malah pergi
ninggalin aku tanpa sepatah kata perpisahan!!”
“Kamu
yang nggak mau ketemu sama aku kan?” tanya Glenn lembut.
Lyla
gelagapan. “Aku cuma... cuma... nggak tau kalau kamu mau pulang! Kamu nggak
bilang kan sama aku?!” tukasnya.
Glenn
menggeleng sambil menghela napas. Sampai kapan mereka akan memainkan permainan
ini?
“Lyla,
aku minta maaf untuk semua kesalahan yang aku lakukan ke kamu. Dari dulu sampai
sekarang. Aku sayang sama kamu. Saking sayangnya, sampai-sampai aku bela-belain
ke sini dan berbohong soal liburan itu ke orangtua kamu!” kata Glenn.
“Apa?”
tanya Lyla.
“Ya,
aku bohong. Sebenarnya aku nggak lagi liburan. Harusnya saat ini aku ada di
kamp pelatihan fotografer. Tapi aku datang ke sini supaya bisa ketemu sama kamu
dan memperbaiki hubungan kita yang renggang,” kata Glenn.
“T...
tapi gimana mungkin kamu bisa bohong seperti itu?! Lalu gimana dengan kamp
pelatihan itu?!” tanya Lyla.
“Aku
bilang kalau aku ada urusan darurat yang membuatku nggak bisa ikut ke sana,”
sahut Glenn santai.
Lyla
tercenung. Dia sama sekali tidak percaya akan kata-kata Glenn. Cowok itu bolos
kegiatan kampus hanya demi menemuinya? Ini sama sekali nggak bisa dipercaya.
Kenapa cowok itu melakukan hal seperti itu? Bagaimana kalau kampus memberinya
peringatan?
Glenn
menyentuh kerutan di antara dua alis Lyla dan tersenyum. “Tenang aja. Nggak ada
hal yang perlu dikhawatirkan,” kata Glenn.
Lyla
mendongak. “Gimana kalau kamu sampai ketahuan?! Gimana kalau kamu dihukum??”
tanya Lyla takut.
“Tenang
ajalah, Ly, ini bukan pertama kalinya aku bolos kok,” kata Glenn.
“Bukan
pertama kalinya???” tanya Lyla tak percaya.
“Yep.
Beberapa kali aku bolos buat menemui kamu. Tapi batal dan aku cuma mandangin
kamu dari kejauhan aja,” kata Glenn sambil meringis. “Aku harus membuat moment
yang tepat agar pertemuan kita nggak terlalu mengejutkan kamu,” kata Glenn
lagi.
Lyla
menatapnya dengan sinis. “Jadi bangun disambut dengan ciuman penuh liur seekor
anjing bisa disebut nggak mengejutkan? Terlebih jika yang dibangunkan itu benci
sama anjing?!”
Glenn
meringis. “Itu di luar skenario. Aku nggak tau kalau Buddy bakalan masuk ke
kamar kamu,” kata Glenn. “Aku rencananya mau menghadiahkan Buddy buat kamu
sebagai permintaan maafku.”
“Tapi
kamu kan tau aku takut sama anjing!!”
“Nggak
semua anjing itu galak, Ly. Aku udah melatih Buddy supaya jinak sama kamu dan
menuruti semua perintah kamu,” kata Glenn.
Lyla
membuang muka. “Seolah dia bakal mau aja!”
“Hey,”
kata Glenn dan memalingkan wajah Lyla ke arahnya. “Aku nggak mungkin berniat
ngasih Buddy kalau dia nggak jinak! Senakal-nakalnya aku dulu, sekarang aku
udah dewasa dan nggak mungkin aku ngejahilin kamu kayak dulu lagi,” kata Glenn.
Ekspresi
Lyla perlahan mengendur dan dia menundukkan kepalanya. Dipelintir-pelintirnya
ujung pakaiannya dengan gusar. Sekarang, setelah semua kesalahpahaman di antara
dirinya dan Glenn terselesaikan, Lyla tiba-tiba tidak tau harus bersikap
bagaimana di hadapan Glenn. Semangatnya yang tadi menguap entah ke mana dan
sekarang ia mulai merasakan panas merambati pipinya. Glenn sudah
terang-terangan mengatakan kalau dirinya menyayangi Lyla, lalu apa yang Lyla
tunggu? Bukankah dia juga merasakan hal yang sama pada Glenn?
“Lyla,”
panggil Glenn.
“Hmm...?”
sahut Lyla tanpa menatap Glenn. Sebaliknya Lyla malah melirik ke sekeliling
jalanan komplek perumahannya yang masih terbilang sepi pagi itu.
“Nggak
ada yang mau kamu ucapin ke aku?” tanya Glenn. Senyum bermain-main di bibirnya,
tapi Lyla tak melihatnya karena cewek itu terus saja menundukkan kepalanya.
Lyla
merasakan wajahnya semakin memanas dan dia berdiri dengan gelisah, baru sadar
kalau dia tidak memakai alas kaki. Aduh, kenapa penampilannya begitu
memalukannya sih? Lyla mengeluh dalam hati.
“Ly,”
panggil Glenn lagi, kali ini ada nada geli dalam suaranya. “bajumu bisa sobek
kalau diplintir terus kayak gitu,” kata Glenn.
Tangan
Lyla berhenti memlintir ujung pakaiannya, gantinya ia malah meremas-remas
tangannya. Glenn menggelengkan kepalanya dan meraih kedua tangan Lyla.
Ditangkupkannya kedua tangan itu dengan lembut.
“Ly,
angkat kepala kamu,” perintah Glenn lembut.
Lyla
melakukannya dengan perlahan, tapi menghindari tatapan mata Glenn.
Glenn
melepaskan satu tangannya dan mengarahkan wajah Lyla hingga berhadapan
dengannya. “Apa kamu sayang sama aku?” tanya Glenn perlahan.
Lyla
menatap Glenn dengan mata melebar panik. Ia tidak menyangka kalau Glenn akan
menanyakan hal itu secara langsung. Dan sekarang jantung Lyla mulai berlompatan
saking groginya.
“A...
Aku... Aku...” sahut Lyla grogi.
Glenn
menunggu dengan sabar. Ia menahan geli saat melihat Lyla bergerak-gerak gelisah
dan terus-terusan menatap ke sekelilingnya. Lalu, tanpa diduga-duga sama
sekali, Lyla memandangnya dengan tatapan langsung. Dan sebelum Glenn sempat
bereaksi, Lyla berjinjit dan mencium bibir Glenn sekilas. Mereka bertatapan
sedetik sebelum Lyla menguburkan wajahnya di dada Glenn dan memeluknya dengan
erat.
“Aku
sayang kamu,” bisikan lirih itu terdengar saat Glenn berusaha memulihkan diri
dari kekagetan akibat tindakan Lyla tadi.
“Apa?
Aku nggak dengar,” kata Glenn, tidak tahan untuk menggoda Lyla. Dan dari
cengkeraman Lyla, Glenn tau kalau cewek itu mulai merasa kesal.
“Aku
bilang, aku sayang sama kamu, Idiot!!” ulang Lyla seraya mendongak dan menatap
Glenn dengan kesal. “Kamu budek ya?! Atau kamu cuma mau ngerjain aku? Iya kan?
Kamu cuma mau ngerjain...”
Kata-kata
Lyla lenyap saat Glenn membungkamnya dengan sebuah ciuman. Mata Lyla membelalak
dan ia berusaha mendorong Glenn. Ia takut akan ada yang memergoki mereka,
khususnya keluarganya.
“Glenn...
Nanti ada yang lihat!” protes Lyla lemah.
“Biar
aja mereka lihat. Kayak nggak pernah muda aja,” sahut Glenn dan kembali mencium
Lyla.
Karena
rasa takut ketahuannya menang, Lyla pun menginjak kaki Glenn agar cowok itu
menjauh.
“Aduh!
Apaan sih, Ly? Kan sakit!” protes Glenn.
Lyla
mendelik dengan wajah memerah. “Kamu yang apaan! Kamu pikir kita ada di mana?!
Gimana kalau Mama atau Papa aku lihat?!” balas Lyla.
Glenn
mencibir. “Ya biar aja... Palingan mereka malah bakal senang,” sahutnya.
“Glenn!!”
“Iya,
iya, aku salah. Puas?” kata Glenn.
Gonggongan
keras Buggy dari dalam mobil membuat Lyla terlonjak kaget. Tanpa sadar dia
langsung memeluk Glenn dan menatap ke balik bahunya.
“Dia
masih dikerangkeng kan??” tanya Lyla takut.
“Masih
kok, mau ketemu?” tanya Glenn.
“Nggak!
Nggak mau!!” tolak Lyla serta merta. Lalu ia ingat bahwa Glenn sengaja membawa
Buddy untuk dihadiahkan untuknya. “Ehm, maksudku nggak sekarang... Aku... belum
siap untuk… berinteraksi sama dia,” ralatnya.
Glenn
tersenyum dan mengusap-usap kepala Lyla. “Berarti aku harus membawa dia pulang
dulu donk,” kata Glenn.
“Kamu
beneran mau pulang?” tanya Lyla, tiba-tiba merasa nggak rela.
“Iya.
Aku harus pulang dan siap-siap,” kata Glenn.
“Siap-siap
untuk apa?” tanya Lyla.
Glenn
tersenyum lebar. “Aku mau siap-siap pindahan,” kata Glenn.
“Pindahan???”
Lyla membeo.
“Kamu
lihat nggak rumah di seberang rumah kamu itu?” tanya Glenn.
Lyla
langsung menoleh untuk melihat rumah yang dimaksud. “Iya, rumah kosong itu kan?
Memangnya kenapa?”
“Mulai
minggu depan aku dan keluargaku akan tinggal di sana,” bisik Glenn di teliga
Lyla.
“Ohh...”
sahut Lyla. Lalu dia terdiam. Matanya membulat dan dia langsung menoleh ke arah
Glenn. “Apa?!?” serunya.
“Iya,
Sayang, kita bakal tetanggaan lagi,” kata Glenn.
Lyla
mengerjapkan matanya. Lalu ia memekik dan langsung memeluk Glenn. Ia
melompat-lompat dan berteriak kegirangan, membuat Glenn tertawa karenanya.
Pada
akhirnya, Glenn dan Lyla bisa menyelesaikan kesalahpahaman mereka. Kini mereka
sudah saling mengetahui perasaan mereka masing-masing dan memulai dari awal
lagi. Sebagai ganti hari-hari yang mereka habiskan untuk membenci dan dibenci,
kini mereka mencoba untuk saling mengerti dan memahami satu sama lain. Dan
juga, mengobati fobia Lyla terhadap anjing.
** SELESAI **
Tidak ada komentar:
Posting Komentar