Minggu, 03 Februari 2013

YOUR PRISONER 9 - END


Lyla berlari keluar dari kamarnya seperti orang dikejar setan. Ia tak memedulikan penampilannya yang acak-acakan ataupun keheranan keluarganya. Begitu sampai di pintu depan, Lyla langsung menghambur keluar dan berlari ke jalanan. Lyla tak menoleh ke kanan atau ke kiri, ia langsung saja berbelok ke kanan dan berlari. Akan tetapi langkahnya perlahan terhenti s...aat melihat siapa yang berdiri bersandar di dinding rumahnya. Napas Lyla terputus-putus dan air mata membanjiri pipinya. Tatapannya nanar saat menatap siluet kabur Glenn yang tengah bersandar sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Dan cowok itu mendongak saat merasakan kehadiran Lyla.
            “Akhirnya kamu muncul juga,” ujar Glenn perlahan. Ia kemudian menegakkan tubuhnya hingga berdiri mengahadp ke arah Lyla.
            “Kamu cowok paling jahat yang aku kenal...” kata Lyla dengan suara bergetar. Ditatapnya Glenn dengan marah.
            “Ya, aku memang jahat,” aku Glenn.
            Lyla perlahan melangkah, lama-kelamaan langkahnya menjadi cepat hingga ia berada di hadapan Glenn. Lyla memukuli Glenn dengan kepalan tangannya sambil memaki-maki cowok itu.
            “Cowok jahat! Cowok brengsek!! Kenapa kamu harus bilang hal seperti itu di saat terakhir?! Kenapa kamu harus merusak ketenangan hidup aku?! Kenapa kamu harus kembali!!” seru Lyla penuh amarah. Dia memukuli dada Glenn tanpa ampun dengan segenap perasaan marahnya.
            Glenn menangkap tangan Lyla dan menghentikan pukulan cewek itu. “Sorry, Ly, aku nggak bermaksud buat menyakiti kamu,” kata Glenn lembut.
            “Aku nggak peduli!! Aku udah benci sama kamu!! Dan sekarang aku akan makin membenci kamu!! Pergi aja! Aku nggak peduli kalau kamu mau pergi ke manapun yang kamu mau!! Aku nggak peduli! Kamu dengar!!” bantak Lyla.
            Glenn menarik Lyla ke dalam pelukannya, tak peduli dengan rontaan Lyla. Akhirnya setelah merasakan perlawanan diri Lyla yang berangsur melemah, barulah Glenn bicara.
            “Aku tau aku salah karena nggak bilang apapun sama kamu. Tapi kalau kamu ingat, kamu selama ini kan benci sama aku. Kalau aku tiba-tiba bilang sayang sama kamu, apa kamu akan percaya?” tanya Glenn.
            Lyla terdiam.
            “Nggak kan? Makanya aku menggunakan cara ini supaya kamu mau memaafkan aku. Aku ingin supaya kamu bisa menerima perasaan sayangku tanpa prasangka apapun, Ly,” kata Glenn. “Tapi sampai akhir, kamu nggak menunjukkan perasaan apapun sama aku. Aku jadi merasa putus asa,” lanjutnya.
            “Kalau gitu kenapa kamu nggak bilang aja langsung?! Kenapa malah bilang saat kamu mau pulang?!” sahut Lyla.
            “Aku nggak punya kesempatan buat ngomong. Saat aku pikir kamu udah maafin aku, tiba-tiba kamu menjauh lagi. Terus begitu sampai aku kehabisan waktu dan terpaksa pakai cara ini,” kata Lyla.
            “Tapi kamu udah sadar kan sama perasaanku?! Kenapa kamu masih aja mempermainkan aku?!” tuduh Lyla.
            Glenn menjauhkan dirinya dan menatap Lyla. “Aku nggak pernah mempermainkan kamu,” kata Glenn.
            “Lalu itu apa?! Kamu buat aku suka sama kamu, lalu kamu pergi! Apa itu nggak mempermainkan aku?! Kamu juga bilang sayang sama aku, tapi kamu malah pergi ninggalin aku tanpa sepatah kata perpisahan!!”
            “Kamu yang nggak mau ketemu sama aku kan?” tanya Glenn lembut.
          Lyla gelagapan. “Aku cuma... cuma... nggak tau kalau kamu mau pulang! Kamu nggak bilang kan sama aku?!” tukasnya.
            Glenn menggeleng sambil menghela napas. Sampai kapan mereka akan memainkan permainan ini?
            “Lyla, aku minta maaf untuk semua kesalahan yang aku lakukan ke kamu. Dari dulu sampai sekarang. Aku sayang sama kamu. Saking sayangnya, sampai-sampai aku bela-belain ke sini dan berbohong soal liburan itu ke orangtua kamu!” kata Glenn.
            “Apa?” tanya Lyla.
            “Ya, aku bohong. Sebenarnya aku nggak lagi liburan. Harusnya saat ini aku ada di kamp pelatihan fotografer. Tapi aku datang ke sini supaya bisa ketemu sama kamu dan memperbaiki hubungan kita yang renggang,” kata Glenn.
            “T... tapi gimana mungkin kamu bisa bohong seperti itu?! Lalu gimana dengan kamp pelatihan itu?!” tanya Lyla.
            “Aku bilang kalau aku ada urusan darurat yang membuatku nggak bisa ikut ke sana,” sahut Glenn santai.
            Lyla tercenung. Dia sama sekali tidak percaya akan kata-kata Glenn. Cowok itu bolos kegiatan kampus hanya demi menemuinya? Ini sama sekali nggak bisa dipercaya. Kenapa cowok itu melakukan hal seperti itu? Bagaimana kalau kampus memberinya peringatan?
            Glenn menyentuh kerutan di antara dua alis Lyla dan tersenyum. “Tenang aja. Nggak ada hal yang perlu dikhawatirkan,” kata Glenn.
            Lyla mendongak. “Gimana kalau kamu sampai ketahuan?! Gimana kalau kamu dihukum??” tanya Lyla takut.
            “Tenang ajalah, Ly, ini bukan pertama kalinya aku bolos kok,” kata Glenn.
            “Bukan pertama kalinya???” tanya Lyla tak percaya.
            “Yep. Beberapa kali aku bolos buat menemui kamu. Tapi batal dan aku cuma mandangin kamu dari kejauhan aja,” kata Glenn sambil meringis. “Aku harus membuat moment yang tepat agar pertemuan kita nggak terlalu mengejutkan kamu,” kata Glenn lagi.
            Lyla menatapnya dengan sinis. “Jadi bangun disambut dengan ciuman penuh liur seekor anjing bisa disebut nggak mengejutkan? Terlebih jika yang dibangunkan itu benci sama anjing?!”
            Glenn meringis. “Itu di luar skenario. Aku nggak tau kalau Buddy bakalan masuk ke kamar kamu,” kata Glenn. “Aku rencananya mau menghadiahkan Buddy buat kamu sebagai permintaan maafku.”
            “Tapi kamu kan tau aku takut sama anjing!!”
            “Nggak semua anjing itu galak, Ly. Aku udah melatih Buddy supaya jinak sama kamu dan menuruti semua perintah kamu,” kata Glenn.
            Lyla membuang muka. “Seolah dia bakal mau aja!”
            “Hey,” kata Glenn dan memalingkan wajah Lyla ke arahnya. “Aku nggak mungkin berniat ngasih Buddy kalau dia nggak jinak! Senakal-nakalnya aku dulu, sekarang aku udah dewasa dan nggak mungkin aku ngejahilin kamu kayak dulu lagi,” kata Glenn.
            Ekspresi Lyla perlahan mengendur dan dia menundukkan kepalanya. Dipelintir-pelintirnya ujung pakaiannya dengan gusar. Sekarang, setelah semua kesalahpahaman di antara dirinya dan Glenn terselesaikan, Lyla tiba-tiba tidak tau harus bersikap bagaimana di hadapan Glenn. Semangatnya yang tadi menguap entah ke mana dan sekarang ia mulai merasakan panas merambati pipinya. Glenn sudah terang-terangan mengatakan kalau dirinya menyayangi Lyla, lalu apa yang Lyla tunggu? Bukankah dia juga merasakan hal yang sama pada Glenn?
            “Lyla,” panggil Glenn.
            “Hmm...?” sahut Lyla tanpa menatap Glenn. Sebaliknya Lyla malah melirik ke sekeliling jalanan komplek perumahannya yang masih terbilang sepi pagi itu.
            “Nggak ada yang mau kamu ucapin ke aku?” tanya Glenn. Senyum bermain-main di bibirnya, tapi Lyla tak melihatnya karena cewek itu terus saja menundukkan kepalanya.
            Lyla merasakan wajahnya semakin memanas dan dia berdiri dengan gelisah, baru sadar kalau dia tidak memakai alas kaki. Aduh, kenapa penampilannya begitu memalukannya sih? Lyla mengeluh dalam hati.
            “Ly,” panggil Glenn lagi, kali ini ada nada geli dalam suaranya. “bajumu bisa sobek kalau diplintir terus kayak gitu,” kata Glenn.
            Tangan Lyla berhenti memlintir ujung pakaiannya, gantinya ia malah meremas-remas tangannya. Glenn menggelengkan kepalanya dan meraih kedua tangan Lyla. Ditangkupkannya kedua tangan itu dengan lembut.
            “Ly, angkat kepala kamu,” perintah Glenn lembut.
            Lyla melakukannya dengan perlahan, tapi menghindari tatapan mata Glenn.
            Glenn melepaskan satu tangannya dan mengarahkan wajah Lyla hingga berhadapan dengannya. “Apa kamu sayang sama aku?” tanya Glenn perlahan.
            Lyla menatap Glenn dengan mata melebar panik. Ia tidak menyangka kalau Glenn akan menanyakan hal itu secara langsung. Dan sekarang jantung Lyla mulai berlompatan saking groginya.
            “A... Aku... Aku...” sahut Lyla grogi.
            Glenn menunggu dengan sabar. Ia menahan geli saat melihat Lyla bergerak-gerak gelisah dan terus-terusan menatap ke sekelilingnya. Lalu, tanpa diduga-duga sama sekali, Lyla memandangnya dengan tatapan langsung. Dan sebelum Glenn sempat bereaksi, Lyla berjinjit dan mencium bibir Glenn sekilas. Mereka bertatapan sedetik sebelum Lyla menguburkan wajahnya di dada Glenn dan memeluknya dengan erat.
            “Aku sayang kamu,” bisikan lirih itu terdengar saat Glenn berusaha memulihkan diri dari kekagetan akibat tindakan Lyla tadi.
            “Apa? Aku nggak dengar,” kata Glenn, tidak tahan untuk menggoda Lyla. Dan dari cengkeraman Lyla, Glenn tau kalau cewek itu mulai merasa kesal.
           “Aku bilang, aku sayang sama kamu, Idiot!!” ulang Lyla seraya mendongak dan menatap Glenn dengan kesal. “Kamu budek ya?! Atau kamu cuma mau ngerjain aku? Iya kan? Kamu cuma mau ngerjain...”
            Kata-kata Lyla lenyap saat Glenn membungkamnya dengan sebuah ciuman. Mata Lyla membelalak dan ia berusaha mendorong Glenn. Ia takut akan ada yang memergoki mereka, khususnya keluarganya.
            “Glenn... Nanti ada yang lihat!” protes Lyla lemah.
            “Biar aja mereka lihat. Kayak nggak pernah muda aja,” sahut Glenn dan kembali mencium Lyla.
            Karena rasa takut ketahuannya menang, Lyla pun menginjak kaki Glenn agar cowok itu menjauh.
            “Aduh! Apaan sih, Ly? Kan sakit!” protes Glenn.
            Lyla mendelik dengan wajah memerah. “Kamu yang apaan! Kamu pikir kita ada di mana?! Gimana kalau Mama atau Papa aku lihat?!” balas Lyla.
            Glenn mencibir. “Ya biar aja... Palingan mereka malah bakal senang,” sahutnya.
            “Glenn!!”
            “Iya, iya, aku salah. Puas?” kata Glenn.
            Gonggongan keras Buggy dari dalam mobil membuat Lyla terlonjak kaget. Tanpa sadar dia langsung memeluk Glenn dan menatap ke balik bahunya.
            “Dia masih dikerangkeng kan??” tanya Lyla takut.
            “Masih kok, mau ketemu?” tanya Glenn.
            “Nggak! Nggak mau!!” tolak Lyla serta merta. Lalu ia ingat bahwa Glenn sengaja membawa Buddy untuk dihadiahkan untuknya. “Ehm, maksudku nggak sekarang... Aku... belum siap untuk… berinteraksi sama dia,” ralatnya.
            Glenn tersenyum dan mengusap-usap kepala Lyla. “Berarti aku harus membawa dia pulang dulu donk,” kata Glenn.
            “Kamu beneran mau pulang?” tanya Lyla, tiba-tiba merasa nggak rela.
            “Iya. Aku harus pulang dan siap-siap,” kata Glenn.
            “Siap-siap untuk apa?” tanya Lyla.
            Glenn tersenyum lebar. “Aku mau siap-siap pindahan,” kata Glenn.
            “Pindahan???” Lyla membeo.
            “Kamu lihat nggak rumah di seberang rumah kamu itu?” tanya Glenn.
            Lyla langsung menoleh untuk melihat rumah yang dimaksud. “Iya, rumah kosong itu kan? Memangnya kenapa?”
            “Mulai minggu depan aku dan keluargaku akan tinggal di sana,” bisik Glenn di teliga Lyla.
          “Ohh...” sahut Lyla. Lalu dia terdiam. Matanya membulat dan dia langsung menoleh ke arah Glenn. “Apa?!?” serunya.
            “Iya, Sayang, kita bakal tetanggaan lagi,” kata Glenn.
            Lyla mengerjapkan matanya. Lalu ia memekik dan langsung memeluk Glenn. Ia melompat-lompat dan berteriak kegirangan, membuat Glenn tertawa karenanya.
            Pada akhirnya, Glenn dan Lyla bisa menyelesaikan kesalahpahaman mereka. Kini mereka sudah saling mengetahui perasaan mereka masing-masing dan memulai dari awal lagi. Sebagai ganti hari-hari yang mereka habiskan untuk membenci dan dibenci, kini mereka mencoba untuk saling mengerti dan memahami satu sama lain. Dan juga, mengobati fobia Lyla terhadap anjing.

** SELESAI **

Tidak ada komentar:

Posting Komentar