GOODBYE, BABY, GOODBYE...
Suara sepatu menggema di sepanjang
lorong yg dilalui Cherie. Rambut panjang sepinggangnya tergerai bebas dan
mengayun sesuai dengan irama langkah kakinya. Langkahnya begitu mantap, dengan
dagu terangkat dan tubuh tegak.
Tak ada ekspresi selain senyum sinis di wajahnya. Make-upnya sempurna. Tipis
namun tak pelak lagi membuatnya makin cantik. Siapa yg menyangka hampir dua jam
yg lalu dia menangis hebat di pelukan sahabatnya, setidaknya Cherie pikir
Fallen adalah sahabatnya, dan ia menangis di dada laki2 itu nyaris selama 30
menit.
Cherie menumpahkan tangisnya pada Fallen. Ia mengatakan dirinya sudah muak pada
Alex, pacarnya yg super playboy dengan akting sempurna yg menyaingi aktor papan
atas. Yg telah membuatnya tertipu mentah2 dan memercayai semua kata2 laki2 itu.
Fallen mendengarkan tanpa menyela dan hanya menepuk pelan tangannya. Fallen
juga memberikan advice yg membuat rasa sakit hati Cherie sedikit berkurang.
Cherie bersyukur masih memiliki Fallen disisinya. Fallen tak pernah mengeluhkan
tingkah Cherie yg terkadang terlalu sentimentil atau keras kepala. Cherie
bukannya tak menyadari betapa baiknya Fallen padanya. Selain baik hati, Fallen
juga good looking. Dengan tinggi 182cm, wajah yg oke punya, dan humor yg pas,
Fallen bisa saja mendapatkan wanita manapun yg ia inginkan. Namun padaa
kenyataannya, Fallen jarang menunjukkan rasa tertariknya pada wanita2 itu.
Cherie sempat berpikir jangan2 Fallen itu Gay, tapi ia langsung ditertawakan
ketika mengutarakan hal itu. Yg ada malah Fallen menggodanya untuk membuktikan
kalau dirinya laki2 normal. Hal itu membuat Cherie salah tingkah.
Yah, kalau dia memang normal, jelas saja Cherie merasa aneh Fallen masih
menjomblo. Kebalikan dengan Fallen, Cherie malah tidak tahan jika harus jomblo.
Itulah yg membuatnya selalu tertipu laki2 yg salah.
Dan Alex adalah salah satunya!
Alex tampan. Baik dan sangat perhatian. Dengan matanya yg coklat selalu sukses
membuat wanita terpesona. Kata2 yg ia ucapkan selalu bisa melambungkan Cherie
ke langit ketujuh.
Akan tetapi, sekarang Cherie tau kalau semua itu hanyalah tipuan. Sebuah topeng
belaka untuk menutupi semua belang yg dimiliki laki2 itu. Cherie baru menyadari
bahwa dibalik mata coklat yg indah itu tak pernah tersirat kejujuran. Sungguh
tertipu mentah2!
Amarah Cherie jauh lebih besar ketimbang rasa sakit hatinya. Kini Cherie hanya
ingin Alex merasakan akibat dari perbuatannya. Tak ada lagi rasa cinta buat
Alex. Dan Cherie akan pastikan kalau Alex akan mendapatkan balasan yg setimpal.
Alex belum tau dengan siapa ia berhadapan.
Cherie mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Alex. Cherie penasaran dengan
apa yg dilakukan oleh 'pacar tersayang'nya itu.
Telepon Cherie dijawab pada deringan kelima. Alex terdengar senang, namun
Cherie takkan tertipu lagi.
''Lagi dimana?''tanya Cherie
''Aku lagi di apartemenku, Say,''sahut Alex. ''Sebentar lagi mau balik ke
kantor,''kata Alex
Cherie berusaha agar ia tidak mendengus. Sungguh pintarnya laki2 itu berbohong.
''Ohh, aku pikir kamu lagi di Mall. Soalnya tadi aku lihat orang yg sangat
mirip sama kamu,''kata Cherie
''Pasti kamu salah lihat, say,''kata Alex, entah kenapa agak terdengar gugup.
''Aku kan lagi dirumah, mana mungkin aku bisa ada di dua tempat secara
bersamaan,''kilah Alex.
Cherie harus memuji bakat akting Alex. Harusnya ia mencoba jadi artis saja,
bukanya manager di sebuah perusahaan. Alex sangat pandai memutar balikkan
fakta. Meski begitu, Cherie tetap mendengar nada panik dalam kata2 Alex.
Sungguh hebat aktor kita yg satu ini, pikir Cherie.
Namun Cherie sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Alex yg
sebenarnya. Bagaimana ia berselingkuh dengan bawahan Cherie.
Perhatian Cherie teralih kepada Alex ketika laki2 itu menyudahi telepon dengan
alasan akan kembali ke kantor. Cherie mengiyakan. Membalas datar saat Alex
mengumbar beberapa kata cinta untuknya.
Cherie menahan rasa mualnya. Takkan lama lagi. Laki2 itu takkan bisa mengumbar
kata2 cintanya lagi!
Cherie menatap ponselnya dengan jijik. Sekarang
setelah tau semua keburukan Alex, Cherie merasa jadi orang terbodoh di dunia.
Hampir semua teman kantornya mengatakan kalau Alex itu bajingan. Tapi dengan
polosnya Cherie selalu percaya kalau Alex setia padanya. Tapi nyatanya, Alex
sudah berkali2 menipunya.
Cherie masuk ke dalam lift dan menekan tombol lift menuju lantai kamar Alex.
Sejak mengikutinya setengah jam yg lalu dari kantor cowok itu, hingga kini
Cherie masih menahan geramnya. Ia mengingatkan dirinya bahwa unsur kejutan itu
jauh lebih baik. Bahkan saat tangannya sudah gatal ingin mencekik leher Alex
ketika melihat cowok itu merangkul dan mencium mesra wanita yg menunggunya di
dekat lift tadi. Karena itulah Cherie yakin kalau cowok itu masih ada di dalam
apartemennya. Dan sebagai pacar, Cherie juga punya kunci duplikat kamar itu.
Pintu lift terbuka dan Cherie melangkah keluar. Suara sepatunya terdengar
nyaring di koridor yg sepi itu ketika Cherie berjalan menuju apartemen Alex.
Begitu ia sampai di depan pintu apartemen Alex, Cherie berhenti dan menarik
napas. Mempersiapkan diri untuk yg terburuk. Kemudian ia memasukkan kunci ke
lubang kunci dan memutarnya dengan pelan. Klik, kunci terbuka dengan mulus.
Perlahan Cherie membuka pintu hingga seluruh ruangan terlihat. Ruang depang
merangkap ruang tamu itu kosong. Cherie memandang berkeliling. Telinganya
menangkap suara2 teredam pintu. Dan Cherie yakin itu suara tawa perempuan
centil yg dibawa Alex.
Cherie mendekati kamar tidur. Suara langkahnya teredam hamparan karpet yg
melapisi seluruh lantai apartemen Alex.
Mati kau, Alex, batin Cherie geram.
Tidak seperti saat membuka pintu depan, kali ini Cherie langsung menyentak
pintu hingga terbuka. Begitu pintu tebuka, Cherie langsung disuguhkan
pemandangan Alex yg sedang berciuman dengan Marie, skretaris Cherie di kantor.
Kedua orang yg kepergok itu langsung kalang kabut. Alex melompat berdiri dan
merapikan kemejanya yg terbuka, sementara Marie merapikan rambut dan blusnya yg
berantakan. Padahal, Cherie hanya berdiri santai dan menatap datar ke arah
''pacar tersayang''nya yg sebentar lagi akan menjadi mantannya itu.
''Say, ini...''Alex hendak menjelaskan, namun Cherie memotongnya dengan sebuah
gelengan lambat2. Cherie menatap bergantian ke arah Alex dan Marie. Alex tampak
panik dan Marie tampak pucat dan salah tingkah. Wanita itu tak berani memandang
Cherie.
''Kok berhenti? Lanjutkan aja. Aku gag berniat mengganggu lama2 kok,''kata
Cherie
''Say, ini ada penjelasannya,''kata Alex. ''Semua nggak seperti yg kamu
lihat.''
Alex menghampiri Cherie dan meraih tangannya, menatap Cherie dengan mata coklat
sialannya.
''Aku gag selingkuh. Dia yg menggoda aku, Say... Aku khilaf,''aku Alex
Cherie mendengus sinis. ''Jadi maksud kamu mataku perlu dibawa ke
dokter?''sahut Cherie
''Bukan gitu, Sayang... Bukan itu maksud aku. Aku cuma..''
''Stop your acting now, Alex! Don't say anything and just disappear from my
life!!''sentak Cherie. Ia memandang dingin ke arah Alex dan Marie. Kemudian
berbalik dan keluar.
Alex mengejarnya dan terus meminta maaf. Tapi Cherie sudah menulikan telinga
dan hatinya.
Sebelum Cherie mencapai pintu, Alex meraih dan memelukknya erat. Ia meminta
maaf dengan seribu alasan dan rayuan yg selama ini mampu meluluhkan hati
Cherie, hanya saja itu sebelum Cherie tau bagaimana perangai asli Alex.
Cherie mendorong tubuh Alex, membuat laki2 itu terhuyung mundur. Cherie menatap
benci ke arah Alex.
''Don't touch me..''desis Cherie. ''Bodohnya aku karena tidak menyadari
kebusukanmu selama ini! Mulut kamu begitu manis dengan tipuan, Alex. Tapi aku
nggak akan tertipu lagi. It's time to say good bye, Alex,''kata Cherie dingin
''Cherie, kasih aku kesempatan, please, Honey...''pinta Alex.
''Sejak kapan panggilanku jadi honey?!''sentak Cherie. ''Mulai sekarang, kamu
jangan pernah lagi muncul di hadapanku! Aku gag mau lihat kamu lagi! Selamanya!!''tandas
Cherie.
Cherie membuka pintu, melangkah keluar dan membantingnya tepat di depan wajah
Alex.
Cherie bergegas menuju lift. Menekan tombol lift dan bergegas masuk. Begitu
pintu lift tertutup, Cherie tak bisa menahan dirinya. Ia tertawa miris, dan
juga menangis di saat yg sama. Ia memaki2 Alex dan menertawakan dirinya
sendiri. Betapa naifnya ia karena percaya begitu saja pada kata2 Alex. Meskipun
tidak jatuh cinta pada Alex, tapi ia merasa kesal dan sakit hati.
Seandainya ia jatuh cinta pada orang lain, orang yg selama ini dinanti2kan,
mungkin Cherie takkan perlu berpetualang mencari cinta. Orang yg tidak akan
membuatnya sedih dan sakit hati. Yang akan selalu menghiburnya di kala sedih
dan menyayanginya setulus hati.
Tiba2 ia wajah Fallen muncul dalam ingatannya. Fallen. Laki2 yg selama ini
Cherie anggap sebagai sahabatnya. Dia laki2 yg baik, lucu dan tegas. Bersama
Fallen membuat hari Cherie lebih berwarna.
Lift berdenting terbuka. Cherie memastikan riasan wajahnya tidak luntur,
kemudian melangkah keluar. Ia keluar dari gedung apartemen Alex, dan langsung
mendapati pemandangan tak terduga.
Fallen tengah berdiri bersandar di sisi mobilnya. Dan ketika menyadari
kedatangan Cherie, laki2 itu tersenyum lebar. Fallen langsung menghampiri
Cherie.
''Jalan yuk!''ajaknya
''Kemana?''tanya Cherie serak setelah menemukan suaranya yg tadi sempat hilang
saking tak percayanya.
''Kemana pun yg Princess mau,''kata Fallen dan membungkuk layaknya pengawal.
Mau tak mau Cherie tertawa pelan. Ah, andaikan ia jatuh cinta pada Fallen..
Fallen mengulurkan tangannya sembari melemparkan senyum jenaka. Tentu saja
Cherie menerima uluran tangan Fallen. Hatinya tiba2 menghangat dan rasa hangat
itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia merasa tak sendirian. Pipi Cherie merona
dengan cantik ketika Fallen membukakan pintu mobil untuknya. Memang tadi Cherie
sengaja tidak membawa mobilnya, karena ia tak mau Alex menyadari kalau ia
sedang diikuti.
Cherie terkesiap pelan ketika Fallen membuka pintu dan melihat sebuah buket
bunga mawar pink sudah nangkring di kursi depan. Seketika mata Cherie berkaca2.
Ia tidak menyangka akan diperlakukan semanis itu oleh Fallen. Padahal biasanya
sebagian besar waktu mereka habiskan dengan memperdebatkan banyak hal.
Cherie menatap Fallen. ''Fal... Ini...''Cherie terbata2.
Fallen mengambil buket itu dan menyerahkannya pada Cherie.
''Alex gag sebaik itu untuk kamu tangisi,''kata Fallen.
Air mata Cherie menetes lagi tanpa sanggup ia cegah. ''Kamu gag perlu melakukan
ini, Fal,''kata Cherie. ''Thanks...''imbuhnya.
''Bukan masalah perlu atau nggak perlunya. Tapi ini yg mau aku lakukan,''kata
Fallen lembut
''Thanks...''bisik Cherie, tak tau harus berkata apa2 lagi karena
tenggorokannya tercekat tangis. Ia memeluk buket itu didadanya. Mungkin ini yg
dia butuhkan. Seorang lelaki yg baik dan pengertian..
Sebulan telah berlalu.
Setelah kejadian Cherie memergoki Alex tengah berselingkuh, Alex masih terus
berusaha mengajaknya rujuk. Segala macam janji ia lontarkan bahkan sampai
mengajak Cherie menikah! Tentu saja semuanya ditepis langsung oleh Cherie. Ia
tak mau mendengar apapun lagi dan sudah tak mau melihat Alex lagi. Gara2 itu
dia terpaksa selalu pulang dengan Fallen, berjaga2 seandainya Alex nekad lagi
mencegatnya di tengah jalan. Sebenarnya itu usul Fallen, karena waktu itu
dialah yg menolong Cherie.
Saking bencinya Cherie pada Alex, ia menyumbangkan semua barang2 yg pernah Alex
berikan padanya ke panti asuhan. Karena jika terus melihatnya, Cherie jadi
ingin membakarnya. Dan darpada menyia2kan barang2 itu, maka dengan bijak Cherie
menyumbangkannya.
Sedangkan Marie yg merasa malu, memilih mengundurkan diri. Tindakkan pintar.
Mengingat sifat Cherie yg sangat pendendam. Ditambah lagi, gosip di kantornya
berkembang sangat pesat. Dan hampir semua teman sekantornya memihaknya.
Menghindari konfrontasi adalah cara terbaik.
Hmm, lalu soal hubungan Cherie dan Fallen. Bisa dibilang tidak banyak yg
berubah, selain semakin sering waktu yg mereka habiskan bersama. Cherie jadi
ketergantungan dengan Fallen. Apa2 dia minta pendapat dengan Fallen. Mau makan
siang, juga selalu sama2. Sampai2 timbul gosip kalau mereka berpacaran. Dan
kalau Cherie boleh ge-er, menurutnya sikap Fallen padanya jauh lebih manis.
Mungkin ini cuma feeling Cherie, tapi ia merasa Fallen sangat perhatian
padanya. Laki2 itu kadang mengajaknya dinner bila kebetulan lembur. Atau akan
memberinya sebatang coklat berhias pita. Ketika Cherie bertanya dalam rangka
apa ia mendapatkan cokelat, Fallen hanya ngeloyor pergi.
Hal itu membuat Cherie makin ge-er saja. Ia merasa dirinya dianggap istimewa.
Hatinya bertanya2, mungkinkah Fallen menyukainya? Hush, Cherie! Ingat usiamu
sudah 25tahun. Jangan berkhayal yg aneh2 seperti anak SMA deh! Cherie langsung
memarahi dirinya karena berpikir melantur.
Tapi Fallen memang selalu berhasil membuat hatinya berdebar lebih cepat setiap
Fallen memperlakukannya dengan manis. Ufh.. Cherie jadi bingung, belajar dari
pengalaman, Cherie takut akan sakit hati lagi. Tapi ini Fallen. Dia sudah
bekerja hampir 2tahun bersama laki2 itu dan sudah mengenalnya. Dan Cherie yakin
Fallen tidak sama dengan Alex.
Alex itu luarnya saja yg terpoles sempurna, padahal dalamnya busuk! Sedangkan
Fallen, meskipun kadang sangat menyebalkan, tapi sebenarnya dia baik dan sangat
care pada orang lain.
Lagi sibuk2nya Cherie memikirkan rumitnya perasaannya pada Fallen, Cherie
sampai tidak sadar Fallen masuk ke ruangannya dan duduk di ujung mejanya.
Ketika Cherie mendongak, Cherie langsung memekik kaget. Sementara Fallen masih
menatapnya dengan lugu. Tak ayal wajah Cherie memerah seperti remaja yg
ketahuan memperhatikan orang yg disukainya. Hah? Yg benar saja Cherie! Oh, ya.
Tentu benar. No, no, no, kamu memang suka sama Fallen, tapi sebagai teman, kan?
Lho kok malah jadi gag yakin? Cherie langsung menghentikan perdebatan hati
nuraninya itu dan memandang Fallen dengan wajah galak.
''Jam kerja udah selesai, masih mau lembur?''tanya Fallen.
Cherie terlalu sibuk menenangkan degup jantungnya yg menggila, sehingga tidak
mendengar perkataan Fallen. Terpaksa ia meminta Fallen mengulangi
pertanyaannya. Sialan Fallen, rutuknya.
''Belum mau pulang?''tanya Fallen
''Ini juga mau pulang kok,''sahut Cherie. Lalu ia menggerutu. ''Ketuk pintu
dulu kek, sebelum masuk. Aku nyaris jantungan tau..''
Fallen tersenyum lebar. ''I'm sorry. Dinner denganku, yuk?''kata Fallen
''Dinner? Apa makan di warung tenda bisa disebut dinner?''sindir Cherie. Tapi
memang ada alasannya lho. Kadang Fallen itu aneh. Masa bilangnya dinner tapi
ternyata makan di warung tenda dekat kantor? Dinner kan biasanya di restorant.
''Hey, it's really dinner!''tukas Fallen meyakinkan. ''Would you?''tanyanya.
Cherie menatap Fallen, mencari sinar jahil yg biasa terpancar di matanya. Namun
yg ia lihat justru ketulusan dan kebulatan tekad. Nah, ini baru aneh, pikir
Cherie.
''Hmm, sekarang?''tanya Cherie ragu
''Yap! Tapi nanti aku antar kamu pulang dulu deh. Biar kamu bisa mandi dan
dandan yg cantik,''kata Fallen
Cherie langsung tersipu. ''Aneh aja kamu!''sahutnya. ''Memang kita mau dinner
dimana sih?''tanya Cherie penasaran.
''Ada deh!''sahut Fallen. ''Tugas kamu tinggal dandan yg cantik dan pakai gaun
favoritmu. Pokoknya tampil cantik,''kata Fallen
''Apa ini dinner formal?''tanya Cherie
''Hmm, tergantung sih, kalau menurutku sih biasa aja. Tapi tergantung bagaimana
orang nanti melihatnya. Mungkin gag akan sama kayak dinner2 yg lain, tapi kita
memang dinner di restoran kok,''kata Fallen tidak jelas.
Cherie mengerutkan keningnya. Kok Fallen jadi aneh ya? Kalau laki2 itu mulai
bicara melantur, artinya dia sedang memikirkan sesuatu di otaknya. Bisa jadi
sebuah rencana, namun bisa juga hal2 kecil tak penting yg tiba2 ia ingat.
Karena Cherie masih kelihatan ragu, Fallen langsung meraih tangannya dan
menciumnya. Cherie terbelalak. Sementara Fallen tersenyum.
''Pleasee... Say 'Yes'..''kata Fallen.
Mau tak mau Cherie jadi merona. Kemudian ia mengangguk. Senyum Fallen tambah
lebar. Ia berdiri dan membantu Cherie membereskan mejanya.
Kemudian Fallen mengantarkan Cherie pulang. Sepanjang jalan laki2 itu tak
henti2nya bersiul2. Bahkan sampai bernyanyi2 mengikuti lagu yg terdengar dari
radio di mobilnya.
Cherie sampai heran. Ada apa dengan laki2 itu. Tapi tak urung ia tertawa juga
melihat tingkah konyol Fallen. Bersama Fallen memang tidak pernah membosankan..
Cherie mandi dan memilih gaun malamnya dengan
teliti. Fallen terus mengingatkannya lewat sms agar ia tampil secantik mungkin.
Meski merasa aneh, Cherie tak keberatan memenuhi permintaan Fallen. Cherie juga
memakai kalung mutiara sebagai pelengkap agar serasi dengan gaun hitam
berpunggung terbukanya.
Itu bukan gaun favoritnya, tapi ia merasa percaya diri dengan gaun itu.
Tepat pukul 8 malam, Fallen datang menjemputnya. Dan Cherie betul2 kehabisan
kata2 ketika melihat Fallen berdiri di depan pintunya dengan sebuah buket mawar
merah di tangannya. Fallen tampak tampan malam itu. Ia mengenakan jas hitam yg
serasi dengan gaun hitam Cherie.
''Wow, kamu cantik,''puji Fallen
Cherie tersipu. Wah, kenapa Cherie jadi rajin tersipu jika berurusan dengan
Fallen ya?
''Makasih. Kamu juga,''kata Cherie pelan
''Aku cantik?''tanya Fallen
''Bukan!''kata Cherie dongkol. ''Maksudku...yah, kamu juga tampil beda,''kata
Cherie pelan
Fallen terkekeh. Sialan laki2 itu, rutuk Cherie.
Kemudian Fallen mengangsurkan lengannya. Cherie menatapnya sejenak sebelum
menyelipkan tangannya di siku Fallen. Bersama mereka menuju mobil Fallen.
Sepanjang jalan Fallen tak bicara sepatah kata pun, tapi ia terus tersenyum2.
Membuat Cherie bertanya2 apa yg membuat laki2 itu begitu senang.
Kemudian mereka sampai di sebuah restoran mewah yg membuat Cherie terperangah.
Gila, restoran bintang lima nih! Batinnya takjub. Ia menatap sekilas ke
sekitarnya, melihat kalau restoran itu memiliki taman yg luas di halaman
sampingnya.
Fallen menggandeng Cherie masuk ke dalam restoran. Cherie kaget karena Fallen
sudah mereservasi ruangan pribadi untuk dinner mereka. Padahal menurut Cherie,
restoran itu sudah sangat mewah, tapi begitu melihat ruangan vip mereka.
''Fal, apa ini gag berlebihan?''kata Cherie terkesima
''Kan dinner,''sahut Fallen
Cherie menatap Fallen. ''Iya, aku tau. Tapi ini...''Cherie melihat ke seluruh
ruangan, ''...berlebihan.''
Fallen langsung menarikkan sebuah kursi sehingga Cherie bisa duduk. Kemudian
Fallen duduk di hadapannya.
Fallen memanggil pelayan dan menyuruh pelayan menyajikan makanannya.
Perlahan2 kegugupan Cherie mereda dan ia bisa menikmati makanannya. Fallen tak
henti2nya membuat lelucon yg membuat Cherie tertawa. Makanan demi makanan di
sajikan, sungguh hidangan mewah dan lezat. Cherie belum pernah makan makanan yg
lebih mewah dari itu. Cherie tidak heran Fallen pasti mengeluarkan uang banyak
untuk dinner mereka malam itu.
''Fal, harunya kamu nggak perlu mengeluarkan uang sebanyak ini untuk sebuah
makan malam,''kata Cherie tidak enak. Saat itu mereka sedang menunggu desert
untuk hidangan penutup.
Fallen garuk2 pipi, tampak bingung.
''Ini biasa aja kok. Kamu nggak suka ya?''tanya Fallen
Cherie jadi merasa tidak enak. ''Bukannya nggak suka sih...''kata Cherie.
''Tapi restoran ini kan restoran mahal,''kata Cherie pelan
Fallen mengerutkan keningnya. ''Jadi itu yg bikin kamu keberatan?''tanya Fallen
tak percaya. ''Bukannya karena gag suka makanannya?''
Cherie menggeleng. ''Makanannya enak banget kok,''kata Cherie
Fallen tertawa, membuat Cherie merengut. Begitu tawanya reda, Fallen langsung
mengatakan sesuatu yg membuat Cherie membelalak tak percaya. Fallen mengakui
kalau sebenarnya restoran itu milik Papanya.
''Bohong! Kok aku nggak tau?!''seru Cherie tak percaya. ''Lalu kenapa kamu
kerja di...''
Fallen memotong. ''Aku cuma cari pengalaman aja. Siapa sangka aku malah betah
disana,''kata Fallen sambil tersenyum simpul.
Cherie masih tak bisa percaya. Fallen sebenarnya kaya raya, tapi bersedia
bekerja di perusahaan lain dan jadi bawahan pula. Betul2 laki2 aneh.
''Fal, aku nggak akan pernah mengerti jalan pikiranmu,''gumam Cherie
Fallen tersenyum makin lebar. ''Tapi aku udah mencoba supaya kali ini maksudku
kesampaian kok,''sahut Fallen
''Maksudmu?''tanya Cherie
Fallen cuma tersenyum.
Sebelum Cherie sempat bertanya lebih lanjut, desert mereka datang.
Pelayan meletakkan dua buah es krim berbagai rasa yg ditumpuk dan dihias cantik
dengan permen tongkat kecil dan taburan coklat. Hmm, yummy deh pokoknya.
Cherie memutuskan takkan bertanya lebih lanjut karena Fallen tampaknya sudah
mulai sibuk dengan desertnya sendiri. Cherie pun akhirnya memutuskan untuk
menghabiskan desertnya. Untung dia termasuk orang yg susah gemuk. Jadi makan
sebanyak apapun, ia tidak perlu khawatir berat badannya akan naik.
Cherie mengernyit ketika ia tiba di suapan kelimanya. Tampaknya ada sesuatu di
dalam es krim'a. Cherie menggunakan sendoknya untuk mencari tau. Ia makin
mengernyit ketika matanya menangkap kilasan permata. Tunggu, permata?
Cherie makin bernafsu mencari tau apa yg ia lihat tadi, sehingga tidak
menyadari kalau sejak tadi Fallen memandanginya.
Cherie merasakan napasnya tercekat. Secara spontan Cherie membekap mulutnya. Ia
menatap Fallen.
''Fal, ini...''bisik Cherie
Fallen tersenyum. Ia mengulurkan tangannya dan mengambil cincin yg terselip
dalam coklat pink di es krim Cherie. Fallen mengelapnya dengan serbet.
''Fal..''kata Cherie lagi
''Cherie, aku udah menyiapkan ini sejak lama. Aku mau mengakui sesuatu sama
kamu,''kata Fallen dan menatap lurus ke mata Cherie. ''Aku cinta sama kamu
sejak pertama kali kita jadi rekan kerja. Aku gag tau gimana perasaanmu,
makanya aku gag ngungkapin perasaanku. Tapi melihat kamu terus2an disakiti sama
laki2 itu, aku nggak bisa nahan diri. Aku cinta sama kamu, Cherie,''kata Fallen
Cherie berkaca2. Ia menatap cincin di tangan Fallen, kemudian menatap Fallen.
Ia melihat kebulatan tekad disana. Ketulusan dan juga rasa cinta Fallen di
matanya.
Astaga, Cherie sama sekali tak menduga Fallen mencintainya. Meski ia pernah
menduga2, tapi ia tak tau kalau Fallen mencintainya selama itu! Bahkan laki2
itu bertahan meski pasti berat rasanya melihat Cherie berganti2 pacar dan
disakiti terus2an.
Fallen meraih tangan Cherie. Menatap Cherie dalam2. Alunan lembut biola yg
sejak tadi menemani makan malam mereka semakin menambah romantis suasana.
''Cherie, will you marry me?''tanya Fallen lembut.
Cherie menarik napas gemetar. Ia tak menyangka Fallen melamarnya. Melamarnya!!
Betapa senang hati Cherie. Meski ia tidak menyadarinya sampai tadi. Tapi
sekarang Cherie sadar kalau ia juga mulai menyayangi Fallen. Dan sekarang
Fallen melamarnya. Mengajaknya menikah..
Laki2 itu masih sabar menunggu jawaban Cherie. Membuat Cherie makin terharu.
''Fal..aku...''Cherie kesulitan menemukan kata2 yg tepat.
''Aku gag akan maksa kamu untuk jawab sekarang kalau kamu belum siap. Aku akan
menunggu,''kata Fallen
Cherie menggeleng. Air matanya sudah meleleh di pipinya.
''No... I want to say... Aku...''Cherie menarik napas untuk menenangkan
dirinya. Fallen mengeluarkan sebuah sapu tangan dan menghapus air mata Cherie.
''Jangan nangis.. Aku bukannya mau buat kamu nangis,''kata Fallen
Cherie menggeleng dan mengulas senyum lemah.
''Aku...cuma merasa bahagia aja,''kata Cherie
Fallen mengerjap. Tangannya yg sejak tadi menghapus air mata di pipi Cherie
kini terhenti dan ia menatap Cherie.
''Yes, Fallen.. I will marry you...''bisik Cherie
Mata Fallen melebar dan senyum senang merekah di bibirnya. Ia bahkan tertawa
keras untuk menunjukkan kebahagiaannya. Fallen kemudian menyematkan cincin di
jari Cherie. Memutari meja dan mengangkat tubuh Cherie. Ia berputar2 dan
berteriak, ''CHERIE, I LOVE YOUU!!!''
Yg membuat Cherie malu sekali karena pemain biola yg di sewa Fallen dan
beberapa pelayan yg melayani mereka sepanjang makan malam tadi, bertepuk tangan
merayakan kebahagian pasangan baru itu.
''Fal, turunin! Aku malu nih!''kata Cherie.
Fallen masih berbinar2. Ia menurunkan Cherie tapi tidak melepaskan wanita itu.
Ia memandang Cherie penuh cinta.
''I'm very very love you,''kata Fallen
Cherie tertawa. ''Yeah, I know,''sahutnya
Fallen merengut dengan wajah lucu. ''And you? Do you love me too?''tanyanya
Cherie menggigit bibir dan tersenyum jahil. ''Yes, i love you too,''bisik
Cherie
Tanpa di duga2 Fallen langsung menciumnya di hadapan seluruh staf restoran yg
ada di ruangan vip itu.
Cherie merasa dirinya takkan bisa lebih bahagia darpada sekarang..
Bertunangan, sekarang Cherie sudah bertunangan!
Cherie masih tak percaya dirinya bertunangan dengan Fallen. Rekan kerja yg
selama ini dianggapnya sebagai sahabat.
Dipandanginya cincin di jarinya dengan bahagia. Cantik sekali cincinnya. Fallen
pasti sangat memikirkannya matang2. Dia tau betul apa yg Cherie sukai dan tidak
sukai. Kalau diingat2, dinner tempo hari juga hampir semua yg dihidangkan
merupakan makanan kesukaan Cherie.
Cherie mendesah bahagia. Kalau dengan Fallen, ia yakin dirinya akan bahagia.
Kalau Fallen, ia tidak akan sakit hati lagi.
Teman2 sekantor mereka juga sangat gembira mendengar berita bahagia itu. Bahkan
tanpa sepengetahuan Cherie, mereka justru lebih dulu tau. Namie, sahabat Cherie
di kantor, dialah yg membantu Fallen membeli cincin. Berhubung ukuran jarinya
sama dengan Cherie, Namie dengan senang hati membantu. Apalagi Namie adalah
orang pertama yg ngamuk begitu mendengar gosip perselingkuhan Alex dan Marie.
Cherie berhenti memandangi cincinnya. Ia harus bersiap2 karena Fallen akan
datang untuk makan malam ke rumahnya. Cherie sudah membuat makanan yg
sederhana, hasil belajar pada Mamanya semasa kuliah. Karena ia tinggal terpisah
dengan orang tuanya, ia harus bisa hidup mandiri.
Astaga! Orangtuanya! Ia belum mengatakan apapun soal dirinya yg bertunangan
pada kedua orangtuanya! Aduh, kenapa ia bisa melupakan hal itu? Cherie langsung
merasa ngeri. Bicara pada Mamanya sih mudah, malah Mamanya pasti akan melompat2
girang mendengar berita akhirnya Cherie memutuskan untuk menikah. Tapi lain
lagi dengan Papanya. Papanya sangat over protective padanya. Tak ada laki2 yg
pantas di mata Papanya. Semuanya dianggap kurang pantas untuk bersanding dengan
putri semata wayangnya. Hal itulah yg membuat Cherie memilih tinggal sendiri.
Bukan karena tidak sayang pada Papanya, hanya saja ia ingin mengurangi sifat
protective Papanya.
Astaga, Cherie tidak tau bagaimana reaksi Papanya jika tau Cherie menerima
lamaran Fallen tanpa membicarakannya lebih dulu.
Alhasil karena terlalu khawatir dengan reaksi Papanya, Cherie malah tidak
konsentrasi menikmati makan malamnya dengan Fallen.
''Kamu kenapa, Cher? Sakit?''tanya Fallen, menyentakkan Cherie dari lamunannya.
''Eh, bukan.. Nggak, aku nggak sakit kok,''sahut Cherie tergeragap.
''Terus kamu kenapa? Ada masalah? Apa Alex gangguin kamu lagi?!''tanya Fallen
Cherie langsung menggeleng2kan kepala. ''Oh, bukan Alex! Dia udah nggak pernah
ganggu aku lagi.''
''Terus kenapa?''tanya Fallen
Cherie menghela napas dan meletakkan sendok dan garpunya. Ia tidak selera
memakan steik kesukaannya itu.
''Aku sedang memikirkan orangtuaku,''kata Cherie
Fallen langsung menepuk dahi. ''Oh My God! Aku lupa belum meminta ijin resmi
supaya bisa menikah sama kamu,''kata Fallen
Seketika Cherie langsung ngeri. Membayangkan Fallen yg dengan lugu mendatangi
orangtuanya untuk melamar Cherie... Astaga, tidak bisa! Tidak bisa sekarang!
''Jangan!''seru Cherie ngeri. ''Eng..maksudku jangan sekarang.. Biar aku bicara
dulu sama mereka ya?''kata Cherie
''Ng? Bukannya malah lebih cepat kalau aku yg langsung ngomong? Aku gag mau
dikira nggak gentle sama orangtua kamu, Cher,''kata Fallen
''Bukan masalah gentle tidak gentlenya...''kata Cherie susah. Bilang tidak ya?
Aduh, Cherie takut Fallen mundur begitu mendengar tentang Papanya. Tapi kalau
tidak bilang, Cherie takut kalau Fallen akan melakukan hal bodoh.
Akhirnya Cherie memutuskan untuk mengatakannya.
''Ini tentang Papaku, Fal...''kata Cherie
''Kenapa dengan beliau?''tanya Fallen heran.
Cherie menarik napas panjang dan menghelanya. ''Beliau sangat protective sama
aku,''kata Cherie. Ia lantas menunggu reaksi yg ia duga akan ditunjukkan
Fallen. Namun laki2 itu hanya mengernyitkan alisnya.
''Fal, kamu tau kan artinya protective?''tanya Cherie sekadar memastikan.
Fallen mengangguk tegas. ''Tentu saja aku tau!''
Lagi2 Cherie menghela napas. Tampaknya akan jadi perjalanan panjang untuk
menjelaskan betapa protective Papanya. Fallen itu tidak akan gentar, Cherie
yakin itu. Tapi ia juga tidak mau Papanya menolak hubungan mereka. Cherie ingin
menikah dengan Fallen. Dan jika ingin hal itu terjadi, maka langkah pertama yg
harus diambil adalah memenangkan hati Papa Cherie..
Cherie terpaksa menjelaskan apa yg membuatnya tidak
mengijinkan Fallen menemui orangtuanya. Penjelasan itu memakan waktu lama
karena Fallen tak henti2nya menyela untuk menyampaikan pendapatnya.
Akhirnya setelah hampir satu jam berdebat panjang lebar, Cherie berhasil
meyakinkan Fallen agar memberinya waktu untuk bicara pada kedua orangtuanya.
Fallen setuju dan memberinya waktu seminggu, karena dari pihak Fallen sendiri
sudah mendapat restu. Bahkan kedua orangtua Fallen sudah tidak sabar ingin
bertemu dengan Cherie. Tambah lagi deh masalah buat dipikirkan Cherie. Namun
masalah persetujuan Papanya tetap menjadi masalah utama yg harus ia pecahkan.
''Kapan kamu mau bilang?''tanya Fallen malam itu, ketika mereka sudah pindah ke
sofa dan menonton acara di televisi. Fallen memainkan sejumput rambut Cherie,
memilin2nya di jarinya.
''Secepatnya. Tapi aku gag janji bisa meyakinkan Papa dalam waktu sesingkat
itu. Bisa jadi Papa mau menguji kamu, dan aku nggak tau cara apa saja yg akan
dipakai Papa untuk menyingkirkan kamu kalau menurut beliau kamu tidak lulus
tes,''kata Cherie
''Hmmhh,''gumam Fallen.
Cherie mendongak dan menatap khawatir pada Fallen. ''Maaf ya, harusnya aku
bilang lebih awal sama kamu,''kata Cherie
''Bukan soal itu..''sahut Fallen, wajahnya tiba2 merengut. Cherie jadi
bertanya2 apakah Fallen sedang merajuk atau tidak. Wah, kalau benar, Fallen
tampak lucu sekali.
''Terus kenapa?''tanya Cherie ingin tau.
Fallen masih merengut. ''Kalau Papa kamu lama baru bisa yakinnya, berarti aku lama
donk baru bisa nikah sama kamu,''kata Fallen.
Mata Cherie melebar dan ia seketika duduk tegak. Ia menatap Fallen yg nampak
murung. Sebesar itukah keinginan Fallen untuk bersamanya? Cherie merasa
terharu. Dimatanya, perasaan Fallen itu terlihat manis. Cherie langsung memeluk
Fallen, membenamkan wajahnya di leher tunangannya itu.
''Maaf ya, aku akan ngomong secepatnya sama Papa,''kata Cherie
''Aku nggak mau mendesak kamu. Tapi Mamaku udah merongrongku supaya cepat
nikah. Dan waktu aku bilang udah punya calon, beliau malah makin
menggila,''gerutu Fallen
Mau tak mau Cherie tertawa pelan di leher Fallen. ''Udah bawaan seorang ibu
mungkin,''kata Cherie
Ia melepaskan pelukannya dan menatap Fallen. ''Tapi kamu benar udah minta
restu? Aku takut nanti keluarga kamu nggak bisa nerima aku. Lagian kita kan
nggak sempat pacaran yg normal...''kata Cherie
''Papa dan Mamaku sudah ok 100%!''sahut Fallen PD
Cherie mengernyit. Kok bisa begitu? Ia memandang menyelidik ke arah Fallen.
Fallen yg ditatap begitu langsung salah tingkah.
''Ng...kenapa, Cher? Kok lihatinnya begitu?''
''Sejak kapan orangtua kamu tau tentang kita?''tanya Cherie
''Sejak kapan?''ulang Fallen pura2 bego.
''Fal! Jangan bilang kalau kamu udah cerita macam2 tentang aku ya?!''tuduh
Cherie
Fallen menghindari cubitan buas Cherie yg mengamuk. ''Iya kan!? Ngaku nggak!!''
''Duh, ampun, Cher! Iya2...aku ngaku. Aduh! Stop it! Owch...''Fallen mati2an
menghindari serangan Cherie.
''Cepat bilang!! Kamu bilang apa aja?!''
Fallen menangkap kedua tangan Cherie. ''I'm sorry, aku bilang semua hal tentang
kamu yg aku sukai. Aku cuma mau orangtuaku tau seperti apa wanita yg aku
cintai. Apa aku salah?''tanya Fallen
Tangan Cherie melemah dan ia menatap Fallen. Setengah jengkel setengah
tersanjung. Akan tetapi tindakan Fallen betul2 membuatnya jengkel! Masa Fallen
sudah menceritakan segala hal tentang dirinya bahkan sejak sebelum mereka
betul2 jadian! Cherie tak percaya! Itu kan artinya Fallen memang berniat
menikahinya sejak awal. Tak peduli apakah saat itu Cherie memiliki kekasih atau
tidak!
Ya ampun, betapa percaya dirinya laki2 itu! Kenapa selama ini Cherie tidak
menyadari sifatnya yg satu ini?
''Kamu tuh ya...''Cherie tak tau harus berkomentar apa. Dia hanya bisa mencubit
pinggang Fallen dengan gemas.
''Duh, jangan dicubitin terus donk! Memar nih!''sahut Fallen
''Biarin! Kamu nyebelin tau!''sahut Cherie sebal. Masih saja melayangkan
tangannya untuk mencubit Fallen. Fallen juga cuma bisa menghindar saja sambil
merayu dan tertawa geli melihat Cherie merajuk.
Dan rupanya sofa yg kecil itu sudah tidak kuat menahan perang kecil itu.
Sehingga Fallen merosot jatuh. Cherie yg memang tepat disampingnya jadi ikut
terseret jatuh ke lantai. Ia membentur dada Fallen, soalnya tangan Fallen tadi
melingkari pinggangnya.
Keduanya lalu saling tatap. Suasana langsung berubah drastis. Seolah ada alunan
biola yg mengalun lembut. Dan Cherie tak bisa mengalihkan pandangannya dari
Fallen.
Perlahan Fallen menarik wajah Cherie dan mendekatkan wajahnya. Tinggal sesenti
lagi bibir mereka bertemu ketika sebuah suara menggelegar memecah moment sihir
itu.
''CHERIE!!!''
Cherie dan Fallen terlonjak kaget. Keduanya langsung menoleh ke arah suara.
Disana berdiri seorang laki2 paruh baya yg wajahnya memerah karena malu dan
marah.
Cherie langsung memucat dan melompat berdiri. Fallen spontan mengikuti, tak
mengerti apa yg terjadi.
''Pa...papa?''ujar Cherie terperanjat.
Oh my God... Bencana telah tiba!
Cherie menatap ngeri ke arah Papanya. Ya Tuhan
kenapa Papanya bisa muncul disaat seperti ini?? Dan kenapa Beliau disini?!
Cherie nyaris kena serangan jantung. Wajahnya pucat dan tangannya berkeringat
dingin.
Perlahan ia mendekati Papanya. Tangannya gemetar dan ia tak berani melirik
Fallen. Akhirnya ia sampai di depan Papanya. Cherie tersenyum kaku. Cherie
takut!!
''Ppapa..kkookk di..disini??''tanya Cherie gagap
Papa tak mengalihkan tatapan membunuhnya dari Fallen. Saat itulah Cherie berani
mengambil kesempatan melirik Fallen yg berdiri tenang di sisi sofa. Oh God,
kenapa laki2 itu malah bersikap tenang begitu? Sementara Cherie sudah panik
setengah mati.
''Pa, Cherie bisa jelasin sama Papa,''kata Cherie memulai. Ia menyentuh tangan
Papanya lembut, berharap kemarahan Papanya berkurang.
''Masuk ke kamar!''tegas Papa
''Papa!''protes Cherie. ''Papa harus dengar penjelasan Cherie dulu!!''
Papa Cherie mengalihkan tatapan tajamnya ke arah Cherie. ''Masuk!''perintahnya.
''Papa!! Aku dan Fallen udah tunangan!!''teriak Cherie
Sungguh cara yg baik, Cherie. Papa mendelik, dan Cherie menahan napasnya. Oh
Tuhan, dia sudah mengatakannya!!
''Siapa yg tunangan?''tanya Mama yg baru saja masuk ke dalam ruang depan dengan
polosnya.
''Mama!!''seru Cherie lega. Ia pikir ia takkan mempunyai sekutu! Kalau ada
Mama, maka Papa pasti bisa di bujuk.
Cherie langsung menghambur ke pelukan Mamanya yg bingung melihat ketegangan di
dalam ruangan itu.
''Siapa yg tunangan, Cher?''tanya Mama lagi
''Cherie, Ma,''sahut Cherie. Ia lantas mengangguk ke arah Fallen. ''Itu Fallen.
Dia tunangan Cherie,''kata Cherie malu2.
Mama menatap Fallen. Fallen yg sejak tadi menampakkan wajah tenang langsung
terlihat salah tingkah. Ia mengangguk pelan sebagai salam.
''Tunangan???''seru Mama, tapi dengan nada riang. ''Cherie! Kenapa kamu gag
bilang kalau kamu sudah punya pacar setampan ini?!''pekik Mama
Cherie tersenyum ragu dan melirik Fallen. Kalau tidak sangat takut dan panik,
ia mungkin akan merasa situasi ini lucu.
Bayangkan saja, ia baru saja berjanji akan bicara secepatnya dengan Papanya
pada Fallen, dan simsalabim abrakadabra, Papanya muncul di rumahnya. Melihat
putri kesayangannya nyaris berciuman dengan 'tunangannya'. Kemudian secara tak
terduga diberitau bahwa anak kesayangannya telah bertunangan! Ini suatu
kejadian yg takkan Cherie lupakan!
Dan sekarang, Mama sudah menghampiri Fallen, memeluknya, dan mencium kedua
pipinya sambil mengucapkan selamat atas pertunangannya. Ya ampun, apakah ada
hal gila lainnya??
''TIDAK AKAN ADA PERTUNANGAN!!!''gelegar suara Papa.
Oh. Rupanya ada. Cherie berbalik menatap marah pada Papanya. Mama menatap tajam
pada suaminya. Sedangkan Fallen cuma bisa menatap secara bergantian ketiga
orang di depannya.
Ia baru saja diperingatkan tentang Papa Cherie, dan sekarang ia berhadapan
langsung dengan Beliau. Dan Cherie rupanya tak melebih2kan, Papanya memang
takkan setuju semudah itu.
Fallen memperhatikan dengan seksama. Papa Cherie pasti dulunya sangat tampan,
karena biarpun sekarang rambutnya sudah di warnai beberapa rambut putih, raut
tegas dan berwibawa terpahat sempurna di wajah dan sikap tubuhnya. Fallen
takkan heran kalau dulunya Papa Cherie pasti anak pembangkang. Tipe yg suka
membolos dan melanggar peraturan. Dan sekarang, adalah ujian untuk Fallen untuk
menaklukkannya. Pasti berat. Mungkin akan banyak memakan waktu, perdebatan
sengit, bahkan perang dingin tak berkesudahan. Dan kalau beruntung, Fallen
mungkin hanya akan di pisahkan dengan Cherie selama beberapa minggu, tergantung
seberapa cepat Fallen bisa mengalahkan Papa Cherie. Dan kalau sial, maka
mungkin saja ia akan dipaksa untuk mengucapkan selamat tinggal pada Cherie,
cinta sejati yg selama ini ia cari.
Fallen harus menang. Bagaimana pun caranya. Meski ia harus bersujud agar
diijinkan menikahi Cherie, atau kalau perlu ia akan mengorbankan nyawanya agar
Papa Cherie percaya kalau Fallen betul2 serius dengan Cherie.
Yang manapun, Fallen yakin, akan membutuhkan kerja keras. Dan kepercayaan
antara dirinya dan Cherie. Gadisnya itu akan cemas selama berhari2.
Fallen maju dan berdiri tepat di hadapan Papa Cherie, tak menggubris bisikan
ngeri Cherie yg memperingatkannya.
''Selamat malam, Om. Mungkin ini bukan saat yg tepat untuk memperkenalkan
diri,''kata Fallen memulai. ''Saya Fallenino Yudhira, rekan kerja Cherie. Dan
saya ingin meminta ijin agar bisa menikahi putri Om,''kata Fallen, tegas dan
lugas. Matanya menatap mata Papa Cherie.
Keheningan seketika merebak. Kedua laki2 itu saling tatap dan tak ada yg mau
mengalah. Sementara Cherie terus2an berdoa semoga Papa tidak meledak dan malah
menyakiti Fallen. Jika itu terjadi, Cherie takkan mau memaafkan Papanya.
Terlebih, ia takkan bisa memaafkan dirinya sendiri..
Hening. Mencekam. Mirip pemakaman. Cuma itu yg bisa
menggambarkan suasana ruang tamu rumah Cherie malam itu.
Setelah pengumuman yg diproklamirkan oleh Cherie tadi, sekarang Cherie, Fallen
dan kedua orangtua Cherie tengah duduk berhadap2an di ruang tamu.
Cherie duduk bersama Mamanya, Papanya duduk di sofa tunggal, sementara Fallen
duduk di sofa untuk dua orang.
Cherie sudah merengek pada Mamanya supaya Papa nggak mempermasalahkan urusan itu,
tapi tampaknya Papa masih belum puas.
''Atas dasar apa kamu mau melamar Cherie?''tanya Papa Cherie pada Fallen.
''Cinta, Om,''kata Fallen lugas. ''Dan juga karena saya yakin Cherie adalah
wanita yg saya cari selama ini,''tambahnya
''Apa kamu yakin bisa membahagiakan anak saya?''tanya Papa dingin
''Yakin,''sahut Fallen masih dengan kepercayaan dirinya.
''Tau apa kamu tentang anak saya sehingga bisa yakin?!''tanya Papa
''Saya tau hampir semua hal tentang Cherie. Karena selama ini saya selalu
memperhatikan Cherie,''sahut Fallen
''Apa makanan favorit anak saya?''tanya Papa
''Sea food,''sahut Fallen mengangguk yakin
''Hal yg dibenci?''
''Serangga.''
''Hal yg disukai!!?''Papa mulai panas
''Saya,''sahut Fallen PD
Papa dan Fallen sama2 memanas. Papa bertanya tanpa henti dengan nada galak dan
aura membunuh yg sangat kentara. Sementara Fallen terus2an menjawab dengan
lugas dan dengan kepercayaan diri penuh.
Pertengkaran sengit itu membuat Cherie pusing dan malu. Papanya telah
mengatakan dan menanyakan hampir semua hal yg memalukan tentang Cherie, dan
Fallen terus saja menjawabnya!
Akhirnya Cherie menoleh ke arah Mama yg sejak tadi tampak menikmati
pertengkaran sengit itu.
''Mama...''rengek Cherie
''Mereka berdua sangat mirip ya?''ujar Mama
''Hah?? Mama gag salah??''tanya Cherie pelan.
Mama terkikik pelan. ''Fallen sangat mirip dengan papamu waktu muda dulu. Papa
juga bersikap percaya diri dan menantang Kakek kamu waktu melamar Mama,''tutur
Mama
''Ah, masa? Kok Mama nggak pernah cerita?''tanya Cherie. ''Terus gimana cara
Papa meyakinkan Kakek???''tanya Cherie. Berharap cara yg sama akan berhasil
pada Papanya.
Mama cuma menggeleng. ''Papa tidak pernah cerita tentang hal itu sama
Mama,''kata Mama
Cherie langsung kecewa. Ia menatap kedua orang di depannya masih saja berdebat.
Cherie berdiri dengan kesal.
''Tolong ya, yg kalian bicarakan itu adalah aku!!''kata Cherie menginterupsi.
Dan meninggalkan ruang tamu dengan langkah menghentak.
Papa dan Fallen hanya bisa menatap kepergian Cherie.
''Nah, sampai kapan kalian akan berdebat seperti anak kecil?''tanya Mama lembut
''Ma, tolong jangan ikut campur,''kata Papa
Mama menggeleng. ''Cherie juga anak Mama. Dan Mama juga berhak memberikan
penilaian disini,''kata Mama. ''Dan Mama rasa saat ini masih terlalu dini untuk
memutuskan. Kita bisa menghabiskan sisa waktu kita selama berkunjung untuk
mengenal Fallen dengan lebih baik,''kata Mama dan tersenyum ke arah Fallen.
''Yg penting itu kebahagiaan Cherie kan, Pa?''Mama beralih kepada Papa.
Papa langsung menatap muram dan jengkel ke arah istrinya. Papa mendelik galak
ketika melihat istrinya bertukar senyum dengan Fallen.
''Sekarang sudah malam!''kata Papa, secara tersirat mengatakan sudah waktunya
Fallen untuk pergi, alias minggat dari rumah itu.
Fallen berdiri dan mengangguk. ''Sepertinya sudah saatnya saya pamit. Maaf
kalau membuat malam Om dan Tante berantakan,''kata Fallen.
''Memang sudah sewajarnya,''gerutu Papa.
Mama mendelik galak ke arah Papa. Papa membuang muka dan mencibir layaknya anak
muda.
''Sama2, Fallen. Tante senang mengetahui kalau Cherie mendapatkan orang seperti
kamu,''kata Mama sambil menyentuh lengan Fallen.
Setelah itu Fallen pamit. Mama mengantarkan Fallen sampai ke depan rumah.
Kemudian Mama kembali ke dalam dan menemui Papa yg sedang duduk bersedekap di
sofa.
''Papa kelewatan! Setiap ada laki2 yg mendekati Cherie selalu Papa takuti!
Kalau begitu terus, anak kita akan jadi perawan tua!''omel Mama
Papa cuma cemberut.
''Papa boleh uji dia, tapi Mama tidak mau kalau pada akhirnya akan tetap Papa
tolak! Mama suka sama Fallen, dan Mama yakin Cherie mencintai Fallen. Jadi
kalau Papa mau bersikap bijak, Mama akan sangat senang,''kata Mama
mengultimatum. ''Akan tetapi, jika Papa membuat Cherie sedih...''Mama
menggantung kalimatnya agar lebih dramatis. ''...Papa tidur di sofa
selamanya!!''
Setelah melemparkan ultimatum itu, Mama langsung meninggalkan Papa yg menganga
lebar.
Wah, Mama rupanya nggak main2...
Cherie bangun dengan tidak bersemangat. Rambutnya
kusam dan acak2an. Kantung mata tampak samar di bawah matanya. Dan moodnya
betul2 buruk.
Alasannya? Sudah jelas karena Papanya yg terus2an mengganggu hubungannya dengan
Fallen. Sudah 4 hari Cherie tidak bisa leluasa bertemu dengan Fallen. Selain di
tempat kerja, Cherie tak punya kesempatan lain untuk bisa bersama2 Fallen.
Boro2 bersama, bertemu saja syukur!
Apalagi di kantor mereka sama2 sibuk dengan kerjaan yg menggunung. Sehingga
sedikit sekali waktu bisa berdua. Kan tidak enak kalau mereka pacaran di
kantor, apa kata teman2 dan bos'a nanti?
Cherie mendesah. Ia menyingkirkan selimutnya dan bangun dari tempat tidur.
Cherie mandi dan bersiap2 pergi ke kantor. Kemudian ia turun untuk sarapan.
Cherie bahkan tidak memakai make up seperti biasa. Ia hanya memakai sedikit
bedak dan Lipgloss. Rambutnya tidak di curly seperti biasa, hanya diikat
sembarangan. Ia duduk di meja makan dengan tampang di tekuk 10.
Papa sedang minum kopi sembari membaca koran. Beliau hanya melirik Cherie dari
atas koran.
Sementara Cherie menolak menatap Papanya. Dan sudah 4hari ini Cherie tak mau
bicara pada Papanya.
Setelah sarapan setangkup roti dan segelas susu, Cherie pamit.
''Kamu masih berhubungan sama dia?''tanya Papa
''Ma, sepatu merah Cherie dimana ya?''tanya Cherie pada Mamanya.
''Dia bukan laki2 yg tepat buat kamu,''kata Papa lagi.
''Di kotak sepatu nggak ada, sayang?''seru Mama menyahuti Cherie.
Hiahhh, Papa dicuekin! Mama dan Cherie mogok bicara sama Papa. Selain itu, Mama
juga pindah ke kamar Cherie tiap malamnya. Otomatis Papa tidur sendirian.
''Cherie pergi dulu,''pamit Cherie datar dan berangkat kerja. Mencium pipi Mama
dan sekilas mencium pipi Papanya.
''Bagus, cuekin saja Papa terus2an,''gerutu Papa
Mama melirik jengkel ke arah Papa, kemudian ngeloyor pergi.
Papa langsung membanting korannya ke meja. Diabaikan oleh kedua wanita paling
berharga dalam hidupnya membuat Papa frustasi. Tapi Papa juga tidak mau
menyerahkan Cherie kepada pemuda yg tidak jelas asal-usulnya.
**
Cherie sampai di kantornya. Dia berjalan ke ruangannya dengan lesu. Ia serasa
tidak punya semangat kerja. Senior Cherie di tempat kerja menatapnya heran.
Cuma Mbak Sophie yg menyapa Cherie.
''Kenapa kamu, Cher?''tanya Mbak Sophie
Cherie menatap muram ke arah Mbak Sophie. Diantara semua rekan kerjanya, yg
paling asik buat curhat ya Mbak Sophie ini. Rahasia dijamin deh!
''Aku lagi pusing, Mbak,''kata Cherie dan mendesah
''Ayo, cerita sama Mbak!''kata Mbak Sophie dan menyeret Cherie ke ruangannya.
Mbak Sophie lalu duduk di kursinya, sementara Cherie duduk di kursi di depannya.
Cherie melipat kedua tangannya dan membaringkan kepalanya disana.
''Ayo cerita. Ada hubungannya dengan kesibukan kita akhir2 ini ya? Memang
kantor lagi sibuk2nya, jadi kamu nggak bisa berduaan sama Fallen,''kata Mbak
Sophie.
''Bukan itu, Mbak...''kata Cherie. ''Ini soal Papa aku. Dia nggak setuju aku
pacaran sama Fallen. Huh, bahkan Papa gag pernah setuju sama cowok manapun yg
kusebut pacar,''gerutu Cherie.
''Terus?''tanya Mbak Sophie.
''Ya aku jadi nggak bisa keluar sama Fallen, Mbak! Tiap Fallen kerumah dan aku
nggak tau, Papa pasti ngusir dia. Tiap die telpon, ponselku langsung disita
Papaku! Sedangkan sekarang dia lagi sibuk2nya, aku juga, kami jadi jarang
ketemuu,''curhat Cherie
''Ckck, Papa kamu kok kayak anak kecil ya? Masa anaknya yg udah segede ini gag
diijinkan menikah? Ada2 saja deh!''komentar Mbak Sophie.
''Itu dia yg aku herankan! Papa tuh kelewat protect sama aku! Dia gag mau aku
diambil orang lain! Mana Papa bilang kalau Fallen itu nggak jelas asal-usulnya
lagi! Aku kan kesal, Mbak,''kata Cherie
''Yah, Mbak ngerti perasaan kamu. Mbak kan juga pernah mengalaminya. Tapi kamu
harus percaya semua akan baik2 saja,''kata Mbak Sophie bijak
''Aku berusaha..''gumam Cherie
Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yg empuk. Ia memejamkan matanya.
Rasanya betul2 lelah. Sudah lama rasanya tidak diperlakukan seperti anak kecil
oleh Papa. Dulu saat masih tinggal dengan orangtuanya, hampir setiap hari
Cherie selalu diawasi Papanya. Dan sekarang Cherie merasa Papa masih saja
menganggapnya anak2. Padahal Cherie sudah 25tahun. Sudah waktunya untuk menata
rumah tangga. Tapi kalau semua laki2 yg ia bawa tidak disetujui oleh Papa,
sampai kapanpun Cherie takkan pernah menikah..
Cherie membuka mata dan beranjak berdiri.
''Cherie mau kerja dulu. Takut dimarahin Pak Johan lagi,''kata Cherie
''Fallen gimana?''tanya Mbak Sophie
''Aku nggak tau..''desah Cherie.
Ia lalu keluar dari ruangan Sophie dan menuju ruangan'a sendiri. Banyak berkas
yg harus ia revisi dan tinjau ulang. Pasti akan sangat melelahkan..
Cherie memikirkan Fallen sepanjang hari itu. Tadi laki2 itu sempat menelpon
keruangannya. Mereka sempat mengobrol sebentar sebelum harus kembali ke
pekerjaan masing2.
Cherie bosan begini terus. Ia sudah capek bergonta-ganti pacar dan terus
disakiti oleh laki2 seperti Alex. Ia tak mau menyia2kan cinta Fallen.
''Aaarrrggghh!!! Ini menyebalkaaann!!?''seru Cherie frustasi. Ia mulai
mengumpat2 dalam bahasa inggris yg lebih baik tak usah disebutkan karena bisa
membuat kuping panas.. Kemudian Cherie menelungkupkan kepalanya diatas meja.
''Menyebalkaaannn....''rengeknya kesal. Ia mengayun2kan kakinya di bawah meja
dan membuat suara2 ribut kecil.
''Apanya yg menyebalkan?''tanya Fallen yg sekarang sedang bersandar di pintu.
Cherie kontan menegakkan kepalanya. Ia berdiri dan langsung menghambur ke arah
Fallen.
''Fallen...''rengeknya. ''Papaku sungguh menyebalkan! Dia pasti udah ngomong yg
macam2 sama kamu kan?''kata Cherie khawatir.
Fallen angkat bahu. ''Sejauh ini Papa kamu cuma menggertakku,''sahut Fallen.
''Tapi kalau terus begini, Papa betul2 akan menjalankan ancamannya..''kata
Cherie takut
''Sshhhss... Jangan takut. Gag akan ada yg terjadi kok! Trust me! I promise,
aku akan lakukan sesuatu agar Papa kamu setuju,''kata Fallen.
''Papa nggak akan pernah mau setuju,''kata Cherie putus asa
Fallen memegang kedua bahu Cherie dan menatapnya lekat2. Cherie tampak kusut.
Wajahnya lesu, lingkarang hitam di bawah mata, dan rambutnya yg biasanya
berkilau kini terlihat kusam.
''Cherie, my dear, dengarkan aku. Aku janji akan cari jalan keluarnya. Kamu
jangan kayak gini, nanti kamu sakit,''kata Fallen. ''Makanmu teratur?''tanya
Fallen. ''Istirahat cukup?''tanyanya lagi.
Cherie menggeleng untuk setiap pertanyaan.
Fallen mendesah jengkel. Ia mencubit hidung Cherie dengan gemas.
''Berhenti menyiksa diri! Oke? Ini gag akan berlangsung selamanya,''kata
Fallen.
''I know...''bisik Cherie. ''Aku cuma...kangen....''
Fallen tersenyum lembut. ''Me too. But, jangan siksa diri kamu. Aku nggak mau
saat nanti menjemputmu, kamu malah turun sekian kilo! Aku lebih suka body kamu
yg sekarang,''kata Fallen dengan jenaka. Kemudian ia mengedip nakal. ''Lebih
seksi,''bisiknya.
Cherie langsung memukul pundak Fallen. ''Ini nggak lucu!! Aku khawatir betulan
tau!''
Fallen tertawa. ''I know. Tapi aku serius saat mengatakan jangan siksa diri
kamu. Itu gag akan ada gunanya, Dear.. Will you promise??''
Cherie mengangguk. ''I promise,''katanya.
''Good. That it's my girl!''sahut Fallen puas. Ia menunduk dan mengecup bibir
Cherie sekilas. ''Sementara itu dulu.''kata Fallen. Ia membuka pintu dan
keluar. Namun ia kembali melongok ke dalam. ''Lanjutannya setelah kita mendapat
restu Papa kamu.''
Dan pintu pun menutup. Meninggalkan Cherie yg otaknya blank seketika..
Seminggu telah berlalu sejak Fallen mengatakan kalau
dia akan memikirkan satu cara untuk mendapatkan restu dari Papa Cherie. Namun
sudah beberapa hari ini Cherie tidak mendengar kabar apapun dari Fallen.
Terakhir yg Cherie dengar, Fallen sangat sibuk. Entah karena pekerjaan atau hal
lainnya. Yg jelas Fallen sudah tak menghubunginya semingguan ini.
Bukannya Cherie ingin mengeluh, tapi ia sudah tidak tahan dengan perlakuan
Papanya. Sekarang Cherie merasa bagai di kurung dalam sangkar. Kemana2 diantar
jemput. Sedikit2 dicurigai, pokoknya Cherie merasa hidupnya tidak tenang.
Ia kan bukan anak umur lima tahun lagi! Tapi Papanya terus saja
memperlakukannya seperti anak kecil.
Sekarang Fallen malah ikut2an menghilang. Kemana laki2 itu? Apa dia sebegitu
sibuknya sampai2 tidak bisa memberi kabar?
Terpikir oleh Cherie untuk mencari Fallen di ruangannya. Tapi selama ini Cherie
tak pernah kesana dan pasti akan canggung rasanya jika ia datang kesana. Selain
itu, biasanya Fallenlah yg mencarinya.
Mungkinkah Fallen sudah putus asa? Cherie harap tidak. Ia tidak mau kehilangan
Fallen gara2 ulah Papanya. Ia ingin bersama Fallen. Ia ingin menikah dengan
Fallen. Dan ia yakin Fallen tidak sama dengan laki2 yg selama ini mendekatinya.
Fallen beda. Fallen mencintainya apa adanya.
Tapi sekarang Cherie sangat kangen dengan Fallen. Ia sudah tak bisa mencuri
waktu untuk bertemu dengannya karena Papa selalu on time saat menjemputnya. Dan
Cherie pikir ia bisa bertemu Fallen saat makan siang, tapi laki2 itu juga tidak
muncul!
Kemana Fallen? Kenapa ia malah tidak ada kabar begini?! Membuat Cherie khawatir
saja. Apa laki2 itu tidak tau bagaimana rasanya jadi Cherie? Di penjara di
rumahnya sendiri oleh Papanya!
Cherie muak, bahkan ia juga kesal dengan Fallen! Terserah laki2 itu maunya apa.
Tapi Cherie sangat kesal karena Fallen bahkan tidak memberinya kabar apapun
semingguan ini. Padahal Cherie terus2an merasa gelisah. Ia takut Papa akan
melakukan hal lain jika Fallen tetap tidak menunjukkan niatnya.
Sudah cukup Cherie mendengarkan kata2 merendahkan mengenai Fallen. Soal Fallen
yg tidak seriuslah, soal Cherie yg tertipulah. Pokoknya segala macam hal yg
dianggap akan membuat Cherie benci pada Fallen dan meragukannya. Dan Cherie
bahkan tidak bisa memberikan argumen yg bisa mematahkan dugaan Papanya.
Cherie mendesah. Ia mengaduk2 minumannya dengan sedotan tanpa niat untuk
meminumnya.
Amel, teman sekantornya, menatapnya aneh.
''Kenapa kamu?''tanya Amel
''Aku cuma bingung,''sahut Cherie
''Bingung kenapa?''tanya Amel sambil menggigit makanannya. Mereka berdua sedang
makan siang di cafetaria kantor.
''Fallen,''kata Cherie lemah
''Kenapa Fallen? Oh iya, dia kok jarang kelihatan ya?''tanya Amel
''Aku juga gag tau, Mel! Udah seminggu aku nggak dengar kabar dari dia! Padahal
kami sekantor! Dan jelas2 kami gag bisa ketemu di luar karena adanya pengawasan
Papaku,''kata Cherie jengkel.
''Uhm.. Aku dengar dia sedang sibuk dengan suatu hal. Dia sampai rela lembur
agar semua pekerjaannya rampung. Tapi aku gag tau apa yg bikin dia jadi gila
kerja begitu,''sahut Amel
''Aku nggak tau.. Mungkin gag kalau dia udah putus asa sama aku?''tanya Cherie
sedih
Amel cuma menatap simpati kepada Cherie. Ia tak bisa banyak membantu.
Kemudian Mbak Sophie bergabung bersama mereka.
''Lho, Cher, kamu nggak jenguk Fallen?''tanya Mbak Sophie
''Jenguk? Memangnya dia kenapa, Mbak?''tanya Cherie
''Lhoo, dia kan lagi cuti sakit. Udah dari kemarin lho. Masa kamu yg pacarnya
nggak tau?''tanya Mbak Sophie heran
Cherie menggeleng. Ia sendiri kecewa karena tidak tau keadaan pacarnya sendiri.
Pacar macam apa dirinya ini? Selain menyusahkan dan tidak mengetahui kalau
pacarnya sakit. Cherie kecewa pada dirinya sendiri.
''Aku nggak tau... Dia nggak menghubungi aku seminggu ini,''kata Cherie pelan
''Mungkin dia nggak mau kamu khawatir,''kata Mbak Sophie
Cherie menggeleng. ''Tapi aku kan pacarnya. Harusnya dia percaya sama aku.
Harusnya dia mengatakan ke aku kalau dia butuh sesuatu. Dan sekarang aku bahkan
nggak tau dia jatuh sakit karena apa! Pacar macam apa aku ini?!''
Mbak Sophie menyentuh tangan Cherie. ''Kamu kan juga mengalami masalah dengan
Papa kamu. Fallen pasti nggak mau kamu tambah kepikiran. Kenapa kamu nggak
jenguk dia aja?''kata Mbak Sophie
''Iya, Cher, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,''timpal Amel.
Iya ya, mungkin sebaiknya Cherie menjenguk Fallen. Toh Cherie tau dimana rumah
Fallen. Fallen bilang ia tinggal terpisah dengan orangtuanya, pasti tidak ada
yg merawatnya. Cherie harus kesana dan memastikan Fallen tidak kekurangan
apapun.
Namun ada masalah lain. Papanya bisa jadi halangan terbesar.
Ah, bodo amat! Cherie sedang tidak mau peduli pada Papanya. Cherie akan
melarikan diri dan pergi ke rumah Fallen. Cherie sudah tidak tahan dengan
kelakuan Papanya yg kelewatan. Ini saatnya Cherie membuktikan kalau ia juga
bisa membuat keputusan sendiri. Ia harus membuktikan pada Papa kalau ia sudah
dewasa dan mandiri.
Maka sepulang kantor, Cherie langsung pergi ke rumah Fallen. Ia mengecoh
Papanya dengan minta ijin pulang lebih awal. Cherie pergi ke rumah Fallen
dengan naik taksi. Ia sudah bertekad akan menunjukkan pada Papa apa yg akan
terjadi jika Papa terus2an menolak merestui hubungannya dengan Fallen.
Cherie sampai di depan rumah Fallen. Hmm, rumahnya lumayan besar. Cherie
dibukakan pintu gerbang oleh satpam yg menjada komplek perumahan itu. Satpam
itu juga menunjukkan alamat rumah Fallen. Cherie hanya perlu berjalan beberapa
ratus meter untuk sampai di rumah Fallen. Ia meragu ketika sampai di depan
rumah Fallen.
Apakah benar tindakannya datang ke rumah Fallen? Bagaimana kalau laki2 itu
tidak bisa bangun karena sakit? Fallen mengatakan kalau ia hanya tinggal
sendirian tanpa pembantu. Berarti dia mungkin takkan bisa bangun dari tempat
tidur.
Tidak, Cherie memang benar datang kesana. Ia yg akan merawat Fallen. Ia tidak
mau dianggap sebagai pacar yg gagal. Ia ingin merawat Fallen dan memperlihatkan
kalau ia mencintai laki2 itu.
Cherie menarik napas panjang dan menekan bel di pintu. Menunggu sebentar
sebelum kembali menekan bel. Ia menunggu dengan cemas.
Aduh, apakah Fallen sesakit itu? Apakah laki2 itu sudah ke dokter? Cherie cemas
sekali sehingga tidak menyadari pintu yg terbuka.
Cherie merasa luar biasa lega. Rupanya Fallen tidak sesakit itu. Syukurlah..
Akan tetapi, kelegaannya tidak berlangsung lama. Warna seolah sirna dari
wajahnya ketika melihat seorang wanita cantik membuka pintu.
Siapa wanita cantik itu?! Cherie menggigit bibir untuk menahan tangisnya.
Kenapa Fallen membiarkan seorang wanita cantik merawatnya? Padahal ia punya
cherie yg bisa merawatnya. Apakah Fallen tidak mempercayai Cherie? Cherie
kecewa dan juga sedih, sehingga ia tidak menyadari sedikit kemiripan antara
Fallen dengan wanita itu. Cherie terlalu sedih karena mendapati bukan
dirinyalah yg Fallen ijinkan untuk merawatnya..
Cherie sudah hendak berbalik pergi ketika wanita
cantik yg membuka pintu rumah Fallen itu menyebutkan namanya. Kekecewaan dan
kesedihan yg melanda Cherie tadi kini berubah menjadi keheranan yg membuat
kening Cherie berkerut.
Ia mengerjapkan mata mengenyahkan airmata yg tadi sempat menggenang.
''Kamu Cherie kan?''tanya wanita cantik itu ragu. Kemudian tersenyum lebar
ketika Cherie mengangguk. Wanita itu langsung memeluk dan mencium kedua pipi
Cherie.
''Astaga! Ternyata yg aslinya jauh lebih manis ya? Ayo masuk! Kamu pasti mau
jengukin Fallen kan? Anak itu lagi tiduran di kamarnya. Dia sebenarnya ingin
sekali kerja untuk ketemu kamu, tapi kondisinya masih begitu,''kata wanita
cantik itu ceria dan menggiring Cherie masuk ke dalam rumah. Dan wanita itu
terus mengoceh tiada henti sehingga Cherie tidak bisa menyelanya.
''Jadi, kapan kalian akan menikah?''tanya wanita cantik itu sembari tersenyum
lembut.
''Eng... Maaf, anda...''Cherie ragu2 bertanya
''Oh, astaga! Tante sampai lupa memperkenalkan diri!''seru wanita itu. ''Saya
Mamanya Fallen,''kata Wanita itu.
Cherie menganga kaget. Ini Mamanya Fallen??? Wanita cantik ini??? Cherie
menatap tak percaya ke arah Mama Fallen. Mama Fallen terlihat masih cantik dan
awet muda! Jelas saja tadi Cherie mengiranya adalah... Astaga, sekarang Cherie
merasa malu sendiri karena mencurigai Fallen yg tidak2!
''Cherie? Kamu nggak apa2? Kamu kelihatan kaget sekali,''kata Mama Fallen.
Cherie tersentak dan merona malu. Ia menunduk dan menyembunyikan wajahnya yg
memerah.
''Maaf, Tante. Saya tidak tau kalau tante adalah Mamanya Fallen,''kata Cherie
tergeragap.
Mama Fallen tertawa. ''Banyak yg bereaksi sama seperti kamu. Mereka tidak
percaya kalau tante sudah punya anak sebesar Fallen,''kata Mama Fallen
''Tante masih kelihatan muda,''kata Cherie. ''Saya pikir malah lebih cocok jadi
kakaknya Fallen,''komentar Cherie
Mama Fallen kembali tertawa. Kemudian berbisik penuh konspirasi. ''Karena
itulah Papanya Fallen selalu jengkel kalau Tante keluar rumah sendirian,''kata
Mama Fallen
''Eh, Om ada disini juga?''tanya Cherie. Dia sama sekali tidak siap jika harus
bertemu dengan Papanya Fallen. Bertemu dengan Mamanya Fallen saja sudah
membuatnya salah tingkah. Apalagi jika harus berhadapan dengan Papanya?? Bisa2
Cherie mati gaya! Ditambah lagi keadaan Fallen sangat tidak membantu! Mana
mungkin Cherie bisa meminta bantuan Fallen kalau laki2 itu sendiri terbaring
tak berdaya di tempat tidur??
''Oh, Papanya Fallen nggak disini sekarang. Beliau paling tidak mau berurusan
dengan Fallen ketika Fallen sakit,''kata Mama Fallen sambil lalu. Ia menuntun
Cherie naik ke lantai dua.
''Fallen bisa sangat manja jika dia sakit. Dan biasanya dia gag akan mau tante
tinggalkan. Jadi daripada menjitak anaknya sendiri, suami tante lebih memilih
tidak datang kesini sampai Fallen sembuh,''jelas Mama Fallen ketika melihat
Cherie tampak bingung.
''Nah, kita sampai,''kata Mama Fallen ketika mereka berhenti di sebuah pintu.
Mama Fallen membukakan pintu untuk Cherie dan mengisyaratkan agar Cherie masuk.
''Eh, saya tidak mau mengganggu Fallen, Tante,''kata Cherie menolah. Ia
berbisik karena tidak mau Fallen terganggu.
Mama Fallen menggeleng. ''Dia justru akan sangat senang jika tau kamu datang
menjenguknya. Ayo, masuk. Dia mungkin sedang mengerjakan tugas kantornya via
email. Anak itu sangat sulit diatur,''kata Mama Fallen dan mendorong lembut
punggung Cherie.
Cherie terpaksa masuk ke dalam kamar Fallen. Entah kenapa ia tiba2 merasa
gugup. Ini pertama kalinya ia masuk ke kamar laki2. Kamar Fallen sedikit
temaram karena hanya sinar dari jendela yg setengah terbuka yg menyinari seisi
ruangan. Namun Cherie bisa melihat kalau Fallen tengah tertidur di tengah
tempat tidurnya.
Cherie sempat berniat meninggalkan kamar itu karena tak ingin mengganggu tidur
Fallen.
Akan tetapi ia justru beranjak ke sisi tempat tidur Fallen. Ia sudah kabur dan
nekat datang kesini. Mungkin saja Papa sedang menunggunya dengan bermacam
hukuman di rumah. Oleh karena itu Cherie tidak bisa menyerah disini. Ia sudah
mengambil resiko di kurung di dalan kamar jika ketahuan Papa. Makanya ia akan
merawat Fallen selagi bisa.
Dengan perlahan Cherie duduk di sisi tempat tidur Fallen. Ia mengulurkan tangan
dan menyibakkan poni Fallen dari keningnya dan memeriksa suhu tubuhnya. Hmm,
masih panas. Cherie mencari2 sesuatu yg bisa dijadikan kompres. Namun ia tak
menemukannya. Ia baru hendak beranjak keluar dan memninta handuk kecil untuk
mengompres Fallen pada Mamanya ketika ia merasa tangannya di genggam. Cherie
memfokuskan mata dan melihat sepasang mata Fallen menatapnya. Laki2 itu tampak
setengah tidur. Kemudian, Fallen mencium telapak tangan Cherie. Setelah itu
menggenggam tangan Cherie dan kembali terlelap. Ia menggumam tak jelas dan
menyebut nama Cherie.
Mau tak mau Cherie tersenyum. Benar kata Mama Fallen. Fallen menjadi sangat
manja jika sedang sakit. Cherie tersenyum dan mengusap2 rambut Fallen dengan
tangan kanannya yg bebas dari genggaman Fallen. Seandainya ia bisa menemani
Fallen hingga sembuh. Cherie tak menyesal telah melakukan tindakan nekat dengan
datang ke rumah Fallen tanpa sepengetahuan Papa. Biarlah nanti ia menghadapi
hukuman Papa. Toh akhirnya ia bisa bertemu dengan Fallen..
Cherie pulang ke rumah sekitar pukul 10 malam. Ia
menghabiskan waktunya bersama Fallen yg bertingkah sangat manja dan memaksa
agar Cherie menyuapinya makan. Dan Mama Fallen juga memaksa Cherie untuk makan
malam disana. Setelah itu, Cherie harus terus menemani Fallen. Membiarkan
Fallen bermain2 dengan jari2 tangannya sementara Fallen berbaring.
Laki2 itu menelusuri garis2 di tangannya dengan pelan, kemudian membuat pola2
lingkarang tak berhingga sampai menciumi telapak tangannya dan juga pergelangan
tangan bagian kanannya. Semua itu membuat Cherie merasa merinding. Belum pernah
ia merasa seperti itu sebelumnya. Tapi dengan Fallen, ia memang merasakan
banyak hal2 yg baru.
Cherie meninggalkan rumah Fallen setelah Fallen tidur. Sudah cukup ia menemani
Faallen hari itu. Panasnya juga sudah turun. Cherie sudah bisa merasa lega.
Ketika Cherie masuk ke dalam rumah, Cherie langsung disambut tatapan garang
Papanya. Tapi Cherie sudah bisa menebaknya dan tetap menunjukkan sikap
tenangnya. Cherie masuk dan hendak langsung ke kamarnya ketika Papa
menghentikannya dengan kata2 dinginnya.
''Kemana saja kamu seharian ini?! Berkeliaran dengan laki2 tak jelas itu??
Iya?!''
Cherie berbalik dan menatap sengit ke arah Papanya.
''Pa, Cherie nggak pernah merasa perlu menentang Papa, tapi Papa selalu
berlebihan jika Cherie dekat dengan laki2. Dan asal Papa tau, aku nggak
berkeliaran dengan laki2 nggak jelas! Aku bersama Fallen! Aku menjenguk dia yg
sedang sakit!''kata Cherie. ''Apa salah jika aku khawatir sama orang yg aku
cintai, Pa? Salah kalau aku merasa ingin berada di dekat orang yg aku sayangi?
Ingin berguna untuknya? Salaha??''kata Cherie retoris. Ia menatap Papanya lurus
ke matanya. Berharap Papanya mau mengerti perasaannya.
''Masuk ke kamar kamu,''kata Papa dan mengalihkan pandangannya.
Cherie merasakan besarnya rasa kecewanya. Ia berbalik dan berlari menaiki
tangga dan langsung ke kamarnya. Ia menutup pintu dengan sebuah bantingan keras
yg menggetarkan dinding rumah.
Mama muncul dan menatap Papa dengan pandangan mencela. ''Lihat apa yg sudah
Papa lakukan pada Cherie. Apa Papa pernah melihat Cherie sesedih itu
sebelumnya? Tidakkah sekali saja Papa pernah berpikir kalau perasaan Cherie dan
Fallen sama kuatnya?''tanya Mama
Papa tak menjawab dan hanya menatap hampa ke arah teras yg terlihat dari
jendela yg kordennya terbuka. Di luar sangat gelap dan halaman juga tak
terlihat jelas.
Mama mendekati Papa dan menyentuh tangan Papa. ''Coba Papa berikan kesempatan
untuk Fallen membuktikan keseriusannya, Pa. Papa juga ingin Cherie bahagia kan?
Cherie gag akan bahagia jika kita turut campur dalam kehidupannya,''kata Mama
lembut.
''Dia anak kita satu2nya,''kata Papa
''Ya. Dan dia sudah tumbuh besar. Dia telah menjadi wanita yg cantik dan
memesona,''kata Mama menyetujui.
Papa menghela napas. ''Dia terlalu cepat dewasa..''desah Papa
''Cepat atau lambat hal itu memang akan terjadi,''kata Mama
Papa lagi2 hanya menghela napas dan mendengus. Tampaknya Papa masih belum puas
menerima semuanya begitu saja.
Sementara itu, Cherie menenggelamkan dirinya dalam kehangatn selimutnya dan
menangis tanpa suara. Tega sekali Papa sampai melarangnya mencintai orang lain.
Padahal Papanya tau jika sekali Cherie mencintai seseorang, makan Cherie akan
mempertahankannya. Cherie tidak akan menyerah semudah itu. Bahkan ia siap
menyandang predikat durhaka jika sampai akhirnya nanti Papa tak juga kunjung
merestui hubungannya denga Fallen. Biar saja Papa tau kalau ia membesarkan anak
yg keras kepala dan berpendirian teguh. Sama seperti dirinya sendir yg selalu
ingin menjaga Mama tak peduli sudah berapa lama mereka bersama.
Jujur Cherie iri pada Papa dan Mamanya. Mereka saling mencintai dan menyayangi
satu sama lainnya. Cherie juga ingin mengalami hal yg sama. Dan ia ingin
menjalani kehidupan yg bahagia bersama Fallen. Bukan laki2 lain. Hanya Fallen
seorang.
Fallen sudah memberikan warna pada dunianya yg suram gara2 ulah Alex. Fallenlah
yg menghiburnya. Fallen juga yg tau segala hal tentang Cherie meski Cherie
tidak tau sampai belum lama ini.
Akan tetapi, hati Cherie sudah terlanjur terpaut dengan hati Fallen. Dan Cherie
tidak mau berpisah hanya karena Papa tidak setuju.
Lagipula, Fallen sudah berjanji akan melakukan sesuatu untuk meyakinkan Papa
bahwa ia serius. Dan Cherie percaya pada kata2 Fallen. Ia percaya dengan
segenap hati yg ia miliki. Dan hati itu pun sudah menjadi milik Fallen sejak
laki2 itu muncul di depan Cherie dengan sebuah buket mawar yg cantik tepat
setelah Cherie memutuskan hubungan dengan Alex. Sejak itulah Fallen menjadi
orang terpenting di hati Cherie..
Menunggu adalah pekerjaan paling sulit menurut
Cherie. Tak pernah Cherie bayangkan kalau menunggu bisa membuatnya gelisah dan
resah. Sudah lama rasanya ia dan Fallen tak bertemu. Kalau bukan karena campur
tangan Mama yg dengan baik hati mau mengembalikan ponselnya yg disita Papa,
Cherie mungkin takkan pernah bisa menghubungi Fallen.
Laki2 itu sudah jauh lebih sehat sejak terakhir kali Cherie melihatnya. Dari
nada suaranya di telpon, Cherie yakin Fallen sudah sehat. Karena laki2 itu
sudah bisa menggodanya. Bahkan kata2 yg ia ucapkan terus2an membuat Cherie
tertawa dan tersipu2.
Seperti malam itu. Salah satu malam dimana Cherie bisa mencuri2 waktu menerima
telpon Fallen di kamarnya. Ia sudah mengunci pintu dan menyalakan radio dengan
volume pelan agar Papa tidak mendengar ia berbicara dengan Fallen, itu dengan
catatan Papa akan menguping, dan Cherie takkan ragu soal itu.
''Cher, i miss you so much,''kata Fallen
''Hmm.mm... Aku juga,''sahut Cherie pelan
''Do you still waiting for me?''tanya Fallen dengan nada memohon yg lucu.
Cherie tertawa pelan. ''Yes, i'm still waiting for you,''sahut Cherie. ''Tapi
sampai kapan ya...''goda Cherie
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika itu. Menurut
Cherie, papa dan mamanya pasti sudah tidur. Haah, ia betul2 tidak tahan jika
begini terus. Ia harus menunggu agar Papa tidur dulu agar bisa menghubungi
Fallen. Cherie tidak heran jika Fallen akan merasa bosan padanya. Meskipun
sampai saat ini laki2 itu belum menunjukkannya.
''Cher, aku pingin ketemu kamu,''kata Fallen di telpon
''Ya, aku juga. Mungkin besok di kantor? Apa kamu udah nggak sesibuk
itu?''tanya Cherie ragu
''Aku udah nggak sibuk. Semua kerjaan untuk seminggu ke depan udah aku
selesaikan,''sahut Fallen
''Hah?! Buat apa kamu melakukan itu?! Jelas aja kamu jatuh sakit kan?''
Terdengar suara Fallen terkekeh pelan. Membuat Cherie mengerutkan keningnya.
''Kenapa kamu malah tertawa? Apa aku ngomong sesuatu yg lucu?!''kata Cherie
tersinggung. ''Biar kamu tau ya, aku bicara begitu karena aku peduli sama kamu!
Aku nggak mau kamu sakit karena terlalu banyak kerja! Benar kata Mama kamu,
kamu tuh memang suka aneh2! Apa coba keuntungan dari kerja gila2anmu
itu?''cecar Cherie.
''Aku jadi bisa meluangkan waktu buat ketemu kamu,''kata Fallen.
Cherie terkesiap ketika ia mendengar suara Fallen dengan sangat jelas. Ia
berbalik dan tertegun melihat Fallen duduk di pegangan balkon kamarnya. Cherie
mengedip2. Takut kalau ia cuma berhalusinasi.
''Fal, apa aku udah mulai gila? Aku berhalusinasi melihat kamu di balkon
kamarku,''kata Cherie
Fallen tertawa. ''Jelas kamu juga sangat kangen sama aku. Tapi sorry, dear,
kamu nggak berhalusinasi. Aku memang lagi berdiri di balkon kamarmu,''sahut
Fallen
Cherie langsung berdiri. Ia menatap Fallen tak percaya. Kemudian, ketika Fallen
merentangkan kedua tangannya, Cherie langsung berlari dan melompat ke pelukan
Fallen.
Fallen memeluk Cherie dengan erat. Ia harus berusaha menjaga keseimbangan jika
tak mau terjun bebas dari balkon kamar Cheri yg tingginya nyaris 7meteran.
''Kok kamu bisa naik?? Gimana caranya?? Dan kok kamu disini??
Gimana...?''Cherie melontarkan berbagai pertanyaan yg bahkan tidak bisa ia
mengerti. Jelas saja Fallen tertawa pelan. Kemudian Fallen memberikan isyarat
agar Cherie diam dengan menempelkan jari telunjuk di bibir.
Cherie seketika menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Seolah sadar tidak
seharusnya ia histeris.
Fallen kembali tertawa pelan melihat tingkah Cherie.
''Kamu ngapain sih?!''bisik Cherie, kaget juga senang.
''Ya ketemu kamu,''kata Fallen santai
''Tapi ini kan lantai dua?!''sahut Cherie
Fallen lantas menarik Cherie dan memperlihatkan dengan apa dia naik ke atas.
Cherie melihat ada tangga di pinggir balkon. Mata Cherie melebar dan ia menatap
Fallen tak percaya.
''Kamu dapat darimana??''tanya Cherie.
''Mama kamu yg menyediakannya. Tempo hari Mama kamu nelpon aku, beliau bilang
kalau kamu lagi sedih karena bertengkar sama Papa kamu,''jelas Fallen. ''Kamu
masih sedih?''tanya Fallen lembut.
Cherie menyandarkan kepalanya di dada Fallen, tangannya melingkari pinggang
Fallen.
Cherie menghela napas. ''Aku kesal sama Papa...''
Fallen mengelus kepala Cherie. ''Kenapa?''tanya Fallen
''Karena dia keras kepala!''sahut Cherie jengkel. ''Sumpah deh, aku nggak
pernah lihat Papa kayak gitu. Sebelum2nya saat aku bawa pacarku pulang, Papa
nggak pernah bersikap semenjengkelkan ini. Tapi kenapa sama kamu dia
beda??''sahut Cherie tak habis pikir.
''Mungkin karena beliau tau kali ini akan betul2 kehilangan kamu,''kata Fallen,
ada senyum dalam suaranya, juga janji yg tersirat.
Cherie mendongak. ''Maksudnya?'' tanya Cherie tak mengerti, keningnya mengerut.
Fallen menghaluskan kerutan di kening Cherie dengan ujung jarinya.
''Maksudnya my Cherie, Papamu tau kalau kali ini perasaan kamu serius. Apa aku
salah? Atau aku cuma kepedean?''tanya Fallen.
Cherie tersenyum. ''Kamu nggak salah. Aku memang sayang sama kamu,''sahut
Cherie. Cherie kembali menguburkan wajahnya di dada Fallen.
Rasanya sudah lama sekali ia tidak merasakan kehangatan pelukan Fallen. Aroma khasnya
yg menenangkan, dan juga belaian sayangnya. Cherie merindukan Fallen. Ia tidak
tau kalau kerinduannya begitu besarnya sampai2 ketika rindu itu tertumpahkan ia
merasa seolah hatinya hendak meledak oleh kelegaan yg luar biasa.
Mereka hanya berpelukan dan menikmati waktu yg menenangkan itu. Musik masih
mengalun pelan dari radio yg ada di pojok kamar Cherie. Dan pas sekali saat itu
lagu yg diputar adalah lagu I Think I Love You yg menjadi soundtrack salah satu
drama korea terkenal.
''Lagunya pas ya,''komentar Fallen
Cherie tertawa. ''Kamu fans drama korea juga?''goda Cherie
''Mamaku yg doyan, mau tak mau kalau aku sedang di rumah ya aku nemenin,''kata
Fallen sambil meringis, membuat Cherie tertawa lagi. Wah, lega rasanya bisa
tertawa, pikir Cherie. Memang cuma Fallen yg bisa membuatnya tertawa.
''Mamaku cantik dan masih muda,''komentar Cherie
''Oh ya? Udah keriput gitu,''sahut Fallen yg langsung mendapatkan hadiah
cubitan di perutnya.
''Aku sempat ngira Mama kamu selingkuhan kamu tau!''sahut Cherie
''Hah? Ya ampun, masa kamu cemburu sama Nenek Tua itu?''sahut Fallen, yg lagi2
mendapatkan hadiah cubitan dari Cherie.
''Jangan menjelekkan Mama kamu! Tante baik banget tau sama kau! Dan kalau kamu
nggak sadar, Mama kamu kelihatan masih muda. Jelas aja saat itu aku kira dia
selingkuhanmu, kamu kan bilangnya tinggal sendirian!''sahut Cherie
''Haha, iya, maaf, maaf, jangan emosi gitu donk,''kata Fallen. ''Kok kamu belum
tidur? Besok kan ngantor,''Tanya Fallen
''Aku nggak bisa tidur karena mikirin cara buat meluluhkan hati Papa,''sahut
Cherie. ''Aku nggak tenang kalau Papa sama kamu nggak bisa akur,''kata Cherie.
Kemudian sambil bersungut2 menambahkan. ''Soalnya kamu sepertinya gag bisa
diandalkan.''
Fallen menangkap pinggang Cherie dan menariknya mendekat. ''Hey, hey, ego
lelakiku tersinggung lho!''sahutnya
Cherie buang muka. ''Bodo amat!''sahutnya
''Dasar Pembangkang,''kata Fallen sebelum ia menengadahkan wajah Cherie dan
menciumnya.
Cherie tentu saja membalas mencium Fallen. Ia melingkarkan tangannya di leher
Fallen dan merapatkan tubuhnya ke tubuh Fallen. Cukup lama mereka terhanyut
suasana sampai terdengar suara ketukan di pintu dan diikiti suara Papa.
''Cher, kamu belum tidur itu?''
Cherie langsung membeku dan menarik diri dari Fallen. Ia menatap ngeri ke arah
pintu. Kemudian ia beralih ke arah Fallen.
''Kamu harus pulang sekarang!! Papa belum tidur!''kata Cherie panik. Tanpa
sadar ia mendorong2 tubuh Fallen.
''Iya, iya.. Hey.. Jangan di dorong! Jatuh nih!''bisik Fallen
''Cepetaaaann, keburu Papaku curiga nih!''sahut Cherie panik. ''Kalau Papa tau
kamu menyelinap kesini, bisa2 kamu digantung sama Papa!''sahut Cherie
Fallen mulai memanjat pagar balkon dan mulai menapakkan kakinya di tangga.
''Hati2,''kata Cherie. Ia sebenarnya masih belum rela berpisah dengan Fallen,
tapi apa mau dikata? Situasi tidak memungkinkan! Duh, kenapa papa datangnya
selalu di saat yg gag tepat sih?! Batin Cherie
''Oke,''sahut Fallen. Ia mencuri satu ciuman lagi sebelum turun. Cherie
memperhatikan dengan khawatir sampai Fallen memijak tanah dengan selamat.
Cherie tak melihat bagaimana Fallen menyembunyikan tangga yg dipakainya karena
Cherie sudah menutup pintu balkon dan bergegas membuka pintu. Ia memperhatikan
bayangannya di cermin sekilas sebelum membuka pintu sedikit.
Cherie tak mengatakan apapun, hanya menatap datar ke arah Papa. Padahal
jantungnya sudah berdebar2 tak karuan.
''Lampu dan tape kamu masih nyala. Belum tidur kamu?''tanya Papa
''Ini mau tidur,''sahut Cherie singkat.
Papa melayangkan pandangan sekilas ke kamar Cherie. Membuat Cherie tegang.
Apakah ada tanda2 bahwa ia baru saja ''dikunjungi''?
''Selamat malam, Pa,''kata Cherie dan menutup pintu dengan pelan. Ia tak
mengunci pintunya agar Papa tidak curiga, kemudian bersandar di pintu.
Mendengarkan.
Ia mendengar suara helaan napas Papa, diikuti suara langkah kaki Papa yg
menjauh. Dugaan Cherie, Papa kembali ke kamarnya, atau kamar tamu, karena Mama
menghukumnya.
Kemudian hening. Cherie menghela napas lega. Ia meninggalkan pintu dan
mematikan lampu kamarnya. Cherie menyelinap ke balik selimut dan meringkuk.
Tanpa sadar ia menyentuh bibirnya dan tersenyum.
Malam itu, Cherie tertidur dengan perasaan yg bahagia luar biasa..
''APA?!? CHERIE IKUT KE PULANG?!!''teriak Cherie
suatu malam. Beberapa hari setelah kunjungan Fallen ke balkonnya.
''Papa ngomong apa sih?! Gimana mungkin aku ikut ke rumah??! Aku punya
pekerjaan disini, Pa!!''teriak Cherie
Papa duduk tenang di sofa. Papa menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan
menatap kemarahan putrinya.
''Kamu bisa tinggalkan pekerjaanmu,''kata Papa
''Tinggalkan?!''seru Cherie marah. ''Papa bercanda?! Cherie merintis karir
Cherie udah 2 tahun, Pa!! Nggak ada alasan buat Cherie meninggalkan kerjaan
Cherie sekarang!''kata Cherie. Kemudian ia mengangguk2, seolah mengerti apa yg
menjadi alasan Papanya ingin membawanya pulang. ''Oh, Cherie mengerti sekarang.
Ini salah satu cara Papa buat misahin aku dan Fallen, iya kan? Katakan sesuatu,
Pa!''tuntut Cherie
''Papa akan lebih tenang jika kamu ada di rumah,''hanya itu yg dikatakan Papa.
''Ini gag adil!!!''jerit Cherie. ''Papa nggak adil dan Papa tau itu!! Jarank
nggak akan bikin aku melupakan Fallen, Pa!!''
''Besok kita berangkat. Kemasi barang2 kamu, biar Papa yg mintakan ijin ke
kantormu,''kata Papa
''Aku benci Papa,''kata Cherie marah. Ia berbalik dan berlari ke kamarnya,
membanting pintu dan melemparkan diri ke tempat tidur. Cherie mengubur wajahnya
di bantal dan menangis keras. Ia tidak menyangka Papa akan setega itu. Pulang
bersama?! Yg benar saja! Cherie tidak akan pernah mau!
Cherie mendengar pintu kamarnya terbuka, tapi ia tidak mengangkat wajah ataupun
menghentikan sesenggukannya. Bahunya bergetar karena tangis.
Sebuah sentuhan lembut membelai pundak Cherie. Dan Cherie tau itu adalah
sentuhan Mama. Cherie berguling dan duduk. Ia menatap Mamanya dengan pipi basah
akibat air mata.
''Kamu baik2 aja, sayang?''tanya Mama lembut.
Cherie langsung memeluk Mama dan menangis. Ia mencurahkan semua kesedihannya di
pelukan Mama.
''Sshhss, jangan nangis,''kata Mama menenangkan sembari membelai rambut Cherie.
Cherie ingat, Fallen juga sering membelai rambutnya. Dan tangisnya makin keras.
Ia tidak mau berpisah dengan Fallen. Ia betul2 tidak mau!
''Cherie mau kabur aja,''kata Cherie
''Sayang, kamu nggak boleh bicara begitu. Papa pasti punya pertimbangan
sendiri,''kata Mama
''Ma, Papa cuma mau memisahkan aku dan Fallen! Cuma itu yg mau dilakukan
Papa!''isak Cherie. ''Papa cuma mau misahin kami...''
Mama menepuk2 tangan Cherie lembut.
''Papa nggak akan setega itu. Papa juga ingin melihat kamu bahagia. Mungkin
saja Papa ingin membuktikan kalau ia bisa melepaskan kamu jika ia yakin Fallen
adalah pilihan terbaik,''kata Mama. ''Sampai saat itu, dia akan terus
menyangkalnya.''
''Maksud Mama, Papa mau menguji seberapa seriusnya Fallen sama aku??''tanya
Cherie tak percaya
''Mama tidak bilang seperti itu, tapi mungkin kurang lebih seperti itu. Kita
nggak tau jalan pikiran laki2, sayang,''kata Mama
Cherie mengerang dan meringkuk di tempat tidur. ''Ini nggak adil! Fallen bahkan
nggak akan tau kalau Cherie pergi sampai semuanya udah terlambat!''kata Cherie
putus asa.
''Jangan menyerah, Cherie. Kalau Fallen memang sayang sama kamu, dia akan
menjemput kamu tak peduli apapun yg terjadi,''kata Mama
Cherie memandang Mama. ''Mungkin Cherie harus memberitau Fallen!''kata Cherie.
Tiba2 ia merasakan adanya harapan di hatinya.
Cherie merogoh2 ke bawah bantalnya dan mendapati bahwa ponselnya tidak ada. Ia
membalik2kan semua bantal dengan kalap, membuatnya bergelimpangan di lantai.
''Ponselku nggak ada!''katanya panik.
''Ponsel kamu ada pada Papa,''suara Papa terdengar dari arah pintu yg terbuka.
Cherie mendongak dan menatap tak percaya pada Papa. Jadi Papa tau kalau selama
ini Cherie sering berhubungan via telpon dengan Fallen? Cherie tak percaya ini.
Ia terduduk lemas.
''Tak ada yg boleh keluar rumah sampai besok pagi. Kemasih barang2 dan tidur
lebih awal,''kata Papa dan berbalik pergi. Namun beliau berhenti dan menoleh ke
belakang. ''Telpon sudah Papa putus,''tambah Papa.
Cherie melongo tak percaya. Ia meraih sebuah bantal dan melemparkannya ke
pintu.
''Papa jahat!!!!''teriak Cherie marah.
Dan Papa rupanya tak bercanda. Papa memutus semua hubungan telpon, mengunci
semua pintu dan tak membiarkan Cherie keluar dari kamarnya barang selangkahpun.
Parahnya, Papa juga mengunci pintu balkon dan mengambil kuncinya. Dan Cherie
pun terkurung di kamarnya sendiri seperti seorang tawanan.
Cherie duduk di tengah2 tempat tidurnya. Tak percaya dengan nasibnya.
Ia memandang koper2nya yg sudah disiapkan Mama teronggok di pojokan. Astaga,
bagaimana ia bisa lepas dari keadaan ini?? Ia sama sekali tidak mau pulang ke
rumah orangtuanya. Dia tidak mau pergi tanpa memberitau Fallen! Tapi ia sama
sekali tidak bisa keluar dari kamarnya. Apa yg harus ia lakukan???
*
Papa sedang membenahi pakaiannya ketika Mama masuk ke kamar tidur dan
menatapnya dengan kening berkerut.
''Jangan mulai, Ma,''kata Papa tanpa menatap Mama
''Jangan mulai apa?''tanya Mama
''Mama tau apa yg Papa maksud. Papa nggak akan berubah pikiran. Cherie pulang
bersama kita,''kata Papa.
Mama melangkah dan duduk di depan meja rias. Mama membersihkan wajahnya.
''Papa sudah memutuskannya, memangnya Mama bisa apa?''kata Mama
''Papa tau Mama akan bersikap tenang. Mama nggak sedang merencanakan pelarian
Cherie kan? Seperti saat Mama merencanakan menyusupkan Laki2 itu ke kamar
Cherie,''kata Papa
Mama menatap Papa dengan kening berkerut. ''Darimana Papa mendapat ide bodoh
itu?''tanya Mama
''Jangan pura2 tak tau, Ma. Mama pikir sudah berapa lama kita hidup bersama?
Papa tau apa yg bisa Mama perbuat,''kata Papa, terdengar seolah menggerutu
putus asa.
Mama tersenyum lebar. ''Senang rasanya bisa membuat Papa putus asa,''kata Mama
''Jangan menguji keberuntungan, Cinta,''kata Papa, menyebutkan nama Mama. Itu
biasa Papa lakukan jika Mama sudah memperlihatkan tanda2 akan membuat ulah, yg
ujung2nya akan membuat Papa repot.
''Oh, aku melakukan itu ya?''kata Mama polos
Papa menggeram sebagai balasannya. Membuat Mama tertawa pelan.
''Cherie takkan diam saja, Papa,''kata Mama
''Ya, Papa tau. Makanya Papa akan memakai mobil Cherie ke bandara nanti. Dan
mengawal Cherie hingga pesawat take off,''sahut Papa
''Mungkin dia tidak akan sempat naik ke pesawat jika Pangerannya datang tepat
waktu,''kata Mama
Papa memicingkan matanya. ''Mama tidak memberitau anak itu kan?''kata Papa
curiga.
''Tentu aja Mama nggak mengatakan apapun!''tukas Mama. ''Mama juga ingin
melihat apa yg akan dilakukan Fallen,''sahut Mama lagi.
Papa kembali memasukkan baju2nya ke dalam koper. ''Wanita Licik,''gerutu Papa
''Tapi justru itu yg membuat Papa jatuh cinta sama Mama kan?''goda Mama.
Papa cuma memutar bola mata.
Cherie duduk diam di dalam mobil. Melihat keluar
jendela ketika mobilnya meninggalkan rumah. Ia tidak menyangka ia betul2
terjebak. Ia tidak bisa melakukan apapun yg bisa memberinya sedikit kesempatan
untuk memberikan petunjuk pada Fallen. Papa sudah mengikutinya dan memberikan
perintah tegas agar Cherie tidak mencoba melarikan diri. Seolah Cherie bisa
saja!
Akhirnya Cherie hanya bisa pasrah ketika mobilnya terus melaju meninggalkan
rumah yg sudah 2 tahun ia tempati. Cherie menghela napas dengan berat hati.
Apakah ini yg akan dia alami? Dipisahkan dari Fallen tanpa bisa melakukan
sesuatu? Ini bukan kemauannya! Ia kan ingin menentukan masa depannya sendiri.
Bukannya malah di pingit di rumah!
Dan lagi, Fallen apa2an coba?! Katanya mau mencari jalan keluar dari
permasalahan mereka, tapi kenapa malah sampai sekarang belum juga terlaksana?!
Tau begitu, harusnya Cherie mengajak Fallen kawin lari saja! Kemudian tinggal
di suatu tempat bersama selama beberapa bulan dan baru kembali ketika Cherie
hamil. Dengan begitu Papa kan jadi tak bisa melarang lagi!
Namun sebesar apapun menggodanya ide itu, Cherie tetap tak bisa melakukannya.
Fallen jelas2 takkan setuju dengan rencana gilanya itu. Fallen akan menjunjung
tinggi nilai moralisme dan takkan mau menyentuhnya sampai mereka mendapat restu
dan resmi menikah. Terkutuklah laki2 itu karena membuat Cherie gila karena
mencintainya.
Mobil berhenti di area parkir bandara. Cherie melihat hal itu sebagai sebuah
kesempatan ketika melihat Papa yg mengatur agar mobil Cherie bisa dikirimkan
pulang ke rumahnya nanti. Cherie meraih tas tangannya dan membuka pintu mobil
dengan perlahan. Ia menatap bersalah ke arah kedua orangtuanya dan meninggalkan
mobil. Cherie menyelinap di antara mobil2 yg ada dan membaur di kerumunan.
Kemudian ia mulai berlari. Ia harus mencari tempat sembunyi sampai pesawatnya
take off.
Dan ia juga harus memastikan kalau Papa dan Mamanya takkan mengejarnya. Cherie
terus berlari hingga tidak tau ia berada dimana. Ia memang masih di bandara,
hanya saja ia tak tau ia sudah sampai dimana. Ia berhenti, mengatur napas dan
melihat ke sekeliling. Fuh, sepertinya Papa tidak tau kalau ia kabur. Biar
saja. Ia akan tidak mau pulang. Salah Papa yg terus memaksa Cherie untuk ikut
pulang padahal Cherie tidak mau.
Cherie celingukan, berharap bisa menemukan telpon umum. Ia menemukannya tak
lama kemudian dan mulai menekan nomor ponsel Fallen ketika lengannya di renggut
keras.
Spontan Cherie berteriak. ''Aku gag mau pulang!!''
''Cher! Ini aku!''
Cheria yg masih meronta2 tidak menyadari kalau yg menariknya tadi adalah
Fallen. Ia masih saja meracau tak jelas dan melepaskan tangannya.
''Cherie, my dear! It's me! Fallen!!''kata Fallen
Barulah Cherie berhenti dan mendongak. Ia menatap Fallen dan matanya berkaca2.
Tanpa pikir panjang ia langsung melemparkan diri ke pelukan Fallen.
''Huaaa, Fallen! Aku pikir aku gag akan bisa ketemu kamu!!''tangis Cherie. Ya
ampun, Cherie lupa umur rupanya. Kemana Cherie yg tegar yg dulu menolak ajakan
balik dari Alex? Kemana Cherie yg tegas dan dewasa? Semua seolah lenyap ketika
ia melihat Fallen.
''Kamu itu bikin orang khawatir tau!''omel Fallen
''Aku nggak mau pulang sama Papa! Dia mau misahin aku sama kamu!''kata Cherie
sesenggukan
''Kata siapa?!''tanya Fallen, rupanya ia jengkel karena harus mencari Cherie ke
seluruh bandara. Kalau Cherie belum menyadarinya, sekarang ia sadar kalau baju
Fallen sedikit basah oleh keringat.
''Ka..kata siapa? Tentu aja cuma itu alasannya! Papa kan nggak mau aku menikah
sama kamu! Makanya dia mau bawa aku pulang dan misahin aku dari kamu!''sahut
Cherie
''Makanya aku tanya, siapa yg bilang begitu?''tanya Fallen lagi.
Cherie jengkel. ''Kau yg bilang begitu!! Kamu tuh kenapa sih jadi menyebalkan
begini?!''seru Cherie. Hilang sudah kegembiraannya saat bertemu Fallen.
''Sekarang apa? Aku udah kabur dari Papaku. Kamu mau bawa aku pergi atau aku
pergi sendiri?!''tanya Cherie
Fallen menghela napas panjang, kemudian ia menggamit tangan Cherie.
''Ayo!''katanya
Senyum Cherie kembali dan ia dengan senang hati mengikuti Fallen. Akan tetapi
senyumnya langsung sirna ketika melihat ke mana Fallen akan membawanya. Cherie
bisa melihat kedua orangtuanya yg sedang menunggu di dekat pintu masuk ruang
keberangkatan. Disana jiga ada Mamanya Fallen dan seorang lelaki yg Cherie duga
adalah Papanya Fallen. Apa2an ini?!
Cherie berhenti seketika. ''Apa2an?!''katanya tak percaya. Ia berusaha menarik
tangannya dari genggaman tangan Fallen.
''Fal, kenapa kamu malah bawa aku kembali?!''tuntut Fallen
Fallen terus menyeret Cherie ke arah kedua orangtuanya. ''Supaya aku bisa
mendapatkan restu untuk menikahi kamu!''sahutnya
''Tapi aku mau dibawa pulang!''tukas Cherie.
''Karena itulah aku bawa kamu ke orang tua kamu,''sahut Fallen
''Fallen, lepasin! Aku nggak mau pulang!! Aku nggak mau pisah dari kamu tau!!''
''Aku juga,''sahut Fallen
''Kalau begitu kenapa?!''tuntut Cherie
Keempat orangtua yg sejak tadi tampak terlibat dalam sebuah pembicaraan itu
menoleh ketika mendengar suara melengking Cherie.
Papa mendelik kesal saat melihat Cherie, Cherie membalas dengan mendelik juga
ke arah Papa. Fallen melepaskan Cherie setelah yakin kalu Cherie takkan
berusaha kabur lagi. Ia tak mau harus mengejar Cherie di bandara dan dikira
orang jahat oleh seisi bandara.
Cherie buang muka ke arah lain ketika melihat Fallen menatapnya dengan kening
berkerut.
''Jadi ini yg namanya Cherie?''tanya sebuah suara.
Cherie spontan menatap lelaki yg berdiri di samping Mamanya Fallen. Fallen
sangat mirip dengan Papanya. Cherie bahkan bisa melihat semua hal yg ada pada
Papa Fallen, ada juga pada Fallen.
''Iya, Pa. Ini Cherie,''kata Fallen, terdengar bangga. Hah, gag salah tuh?pikir
Cherie.
''Wah, ternyata memang cantik ya,''komentar Papa Fallen. Mamanya mengangguk
setuju.
''Sudah Mama bilang kan? Fallen itu nggak salah pilih calon istri!''
Papa Fallen menatap Papa Cherie dan tersenyum. ''Dia mirip istrimu, Hen,''kata
Papa Fallen
''Ya, makanya aku tidak rela melepaskan dia,''sahut Papa, ada nada bangga dalam
suaranya sekarang.
Nah, sekarang Cherie mulai merasa bingung. Kok orangtua Fallen bisa bicara
santai dengan Papanya? Kening Cherie berkerut.
''Tunggu, katakan kalau Cherie salah menduga. Papa sama Om udah saling
kenal?''tanya Cherie, menyela perbincangan apapun yg terjadi antara kedua Papa
itu.
Papa dan Papanya Fallen menatap Cherie sejenak, kemudian Papa Fallen mulai
tertawa. Cherie makin mengernyit. Ia menatap Fallen yg hanya mengangkat bahu.
Kemudian Cherie beralih ke arah Mamanya yg juga hanya tersenyum.
Bagus, sekarang semua orang mulai membuatnya merasa seperti orang bodoh!
Cherie bersedekap dan mengetuk2an ujung sepatunya dengan tidak sabar.
''Saya masih menunggu,''katanya jengkel
Mama yg menjawab pertanyaan Cherie. ''Papa kamu dan Papanya Fallen ternyata
teman sejak SMA.''
''HAH?!?''seru Cherie
''Tapi,''lanjut Mama.''Papa baru tau saat tadi Fallen muncul bersama kedua
orangtuanya. Fallen berniat meminta ijin resmi sama Papa. Ehh, ternyata
keduanya saling kenal. Dan saat itu juga kami sadar kalau kamu sudah kabur.
Fallen lalu mengejar kamu,''jelas Mama
Cherie menatap tak percaya. Keduanya saling kenal? Teman lama? Ohh, takdir
sangat lucu! Bagus, Cherie tak bisa memikirkan hal lain yg lebih ironis dari
ini.
''Lalu, begitu tau kalau Fallen anak teman lama Papa, papa langsung setuju,
gitu?!''sahut Cherie
''Papa memang sudah memutuskannya bahkan sebelum kita berangkat. Papa hanya
membuat semuanya berjalan sesuai tradisi,''kata Papa bersungut2. ''Papa sendiri
tak menyangka kalau Fallen anaknya Rafhi,''kata Papa
''Seolah aku akan percaya. Setuju sebelum berangkat? Lalu kenapa harus pakai
acara maksa2 aku pulang segala?''tanya Cherie
''Supaya acara lamaran bisa dilakukan,''kata Mama Fallen sambil tersenyum.
Cherie menatap Papanya. Jadi mereka sudah direstui? Mereka boleh menikah?
Cherie nyaris tak bisa mencegah dirinya tersenyum, hanya saja ia tidak mau
terlihat memalukan, jadi ia hanya menoleh ke arah Fallen.
''Kamu udah tau hal ini?''tanya Cherie
''Nggak,''kata Fallen menggeleng. ''Aku taunya dari Amel kalau kamu akan pulang
sama orangtua kamu. Jadi aku sengaja mengajak kedua orangtuaku ke bandara
supaya Papa kamu percaya kalau aku memang serius. Hal selanjutnya sama sekali
nggak aku duga,''kata Fallen
Cherie kembali menatap Papanya. ''Papa...benar setuju?''tanya Cherie
Papa menghela napas. ''Ya. Papa sadar kalian takkan bisa dihalangi. Daripada
kamu dikunjungi seperti maling, lebih baik kalau lewat pintu saja,''kata Papa
Wajah Cherie dan Fallen seketika memerah. Dan Mama Cherie tertawa. Bahkan tanpa
ragu menceritakan apa yg terjadi pada kedua orangtua Fallen. Papa Fallen
langsung terbahak dan membuat wajah Cherie makin memerah. Sedangkan Mama Fallen
memandang tak setuju ke arah putranya.
Pengumuman keberangkatan mengalihkan perhatian semua orang.
''Ayo, udah waktunya berangkat!''kata Papa sambil menggamit tangan Cherie.
''Ehh??? Cherie tetap dibawa pulang?? Bukannya Papa udah merestui Cherie dan
Fallen?!''protes Cherie
Papa mendelik galak. ''Ini Papa lakukan supaya kamu dan dia bisa jaga sikap
sampai upacara pernikahan selesai!''tegas Papa
''Papa!!''seru Cherie malu. Cherie tak yakin wajahnya bisa lebih merah dari
itu.
Kemudian Papa melepaskan tangan Cherie. ''Papa tunggu di pesawat, kamu pamitan
dulu sana!''kata Papa
Cherie menatap Fallen dengan sedih. Fallen balas tersenyum. Ia menyentuh pipi
Cherie.
''Tenang, kita akan ketemu kok. Aku dan orangtuaku akan berkunjung dan melamar
kamu. Kamu sabar ya?''kata Fallen
''Aku nggak percaya ini,''desah Cherie
''Ya, siapa sangka semuanya berbalik arah?''kata Fallen
''Kamu janji bakal segera menyusul kan?''tanya Cherie
''Ya, aku janji,''kata Fallen. Ia mencium kening Cherie. ''See you. Kita akan
bertemu di pelaminan nanti,''kata Fallen
Mau tak mau Cherie tersenyum. Ia berjinjit dan memeluk Fallen. ''I'll miss you
so much..''bisiknya
''Me too,''balas Fallen
Kemudian Cherie melepaskan pelukannya dan menatap kedua orangtua Fallen dengan
malu2.
''Maafin kelakuan saya tadi...''kata Cherie
''Jangan dipikirkan. Tante juga akan melakukan hal yg sama,''sahut Mama Fallen
''Makasih tante,''kata Cherie
Pengumuman keberangkatan kembali terdengar. Cherie pun bergegas. Ia sempat
berbalik dan melemparkan senyum kepada Fallen sebelum menghilang di balik
gerbang keberangkatan.
''Cium kening. Hah! Tidak bisakah kamu melakukan hal yg lebih baik?''kata Papa
Fallen melotot kesal, tapi tak berkata apa2 terhadap komentar Papanya. Ada apa
sih dengan para Papa itu??? Apa otaknya memang aneh2 saja? Fallen tak habis
pikir.
Jangan2 dia juga akan jadi seperti itu! Tapi semoga saja nggak. Fallen mau jadi
ayah yg normal saja..
Seminggu kemudian, acara lamaran resmi dilakukan.
Fallen beserta orangtuanya datang ke rumah Cherie untuk meminang Cherie. Saat
acara yg khusus keluarga itu, Cherie tak bisa henti2nya tersenyum. Berbeda
dengan Fallen yg sejak awal menunjukkan raut pura2 seriusnya. Cherie tau kalau
Fallen sedang menahan seringainya. Karena bibir laki2 itu berkedut di
sudut2nya.
Begitu acara lamaran selesai dan cincin tersemat di jari Cherie, anak muda dan
yg tua langsung memisahkan diri. Cherie tak perlu waktu lama untuk bisa
menyeret Fallen keluar ruang tamu. Kemudian ia berdiri sambil berkacak
pinggang.
''Kenapa lama banget sih! Aku cemas sendiri tau!''kata Cherie
Kali ini Fallen menyeringai. ''Kan aku harus membereskan ini itu, Dear,''kilah
Fallen
''Ini itu apa? Aku disini cemas tau. Takut kalau2 Papa berubah pikiran lagi!''
Fallen tertawa dan membimbing Cherie untuk duduk di ayunan kayu yg ada di
halaman.
''Gag mungkinlah Papa kamu berubah pikiran. Aku sudah cukup sering merecoki
Papamu, beliau pasti takkan tahan kalau aku melakukannya lagi,''kata Fallen dan
terkekeh
''Maksudmu?''tanya Cherie tak mengerti
Fallen lalu menceritakan apa saja yg selama ini ia lakukan. Setiap ada
kesempatan, Fallen selalu berkunjung ke rumah Cherie. Namun ketika Papa menolak
membiarkannya bertemu dengan Cherie, Fallen langsung ganti haluan dan
mengatakan sebenarnya ingin bertemu dengan Papanya Cherie. Dan dimulailah
kunjungan tak lazim Fallen. Tiap hari ia datang ke rumah Fallen hanya untuk
mengakrabkan diri dengan Papa Fallen.
Pertaruhan demi pertaruhan pun dimulai. Papa mulai menantang Fallen dengan
taruhan jika Fallen menang, maka Papa akan memikirkan mengenai pernikahan
mereka.
Semua permainan yg diajukan Papa, entah itu catur, permainan kartu, badminton,
bahkan sampai monopoli! Semua nya berhasil dimenangkan Fallen. Butuh waktu
berhari2 memang untuk menang karena mereka terus2an seri. Tapi pada akhirnya
Fallen berhasil juga memenangkan semuanya.
''Kok aku nggak tau??''tanya Cherie. Ia tak percaya Fallen dan Papanya
melakukan permainan konyol seperti itu.
''Ya karena saat itu kamu nggak ada dirumah. Atau karena kamu mengurung diri di
kamar dan nggak turun2,''sahut Fallen angkat bahu
Cherie langsung memukul bahu Fallen. ''Harusnya kamu bilang!''
Fallen tertawa. ''Aku kan gag tau gimana keputusan akhir Papamu. Beliau cuma
bilang akan mempertimbangkannya lagi.
Cherie menatap Fallen dan mendesah. Ia memeluk Fallen. ''Aku pikir kamu udah
putus asa,''bisik Cherie
''Wah, itu pengerusakan harga diri,''komentar Fallen. ''Kamu memang hoby bikin
ego laki2ku merasa diremehkan ya?''
Cherie mencubit Fallen. ''Wajar aku merasa gitu tau! Soalnya aku nggak mau kamu
menyerah,''sahut Cherie
''Hmm, itu wajib dibuktikan,''gumam Fallen
Cherie tak menggubris nada menggoda dalam suara Fallen.
Ia memeluk Fallen makin erat. ''I Love You,''kata Cherie
Fallen tersenyum, meski Cherie tak melihatnya, tapi ia tau tunangannya itu
tengah tersenyum.
''I Love You too,''balas Fallen.
**
Persiapan pernikahan Fallen dan Cherie sangat menyibukkan. Belum baju
pengantin, undangan dan dekorasi. Semuanya dilakukan dengan cepat dan
terencana. Semua berkat Fallen yg sudah membuat perencanaan sejak awal.
Pernikahan itu juga hanya akan dilangsungkan kecil2an. Hanya mengundang teman
dan kerabat dekat. Tapi resepsinya akan di adakan di restoran tempat Fallen
melamar Cherie pertama kali dulu. Cherie jatuh cinta pada taman restoran itu.
Sementara Fallen sibuk dengan urusan antar lelakinya dengan Papa Cherie dan
Papanya, Cherie bersama Amel dan Mbak Sophie juga sibuk dengan urusan antar
wanitanya. Soalnya Mama dan Mamanya Fallen sedang sibuk mengurusi katering.
Siang itu, Cherie, Amel dan Mbak Sophie menghabiskan waktu bersama di sebuah
Mall ternama. Mereka memilihkan lingerie untuk Cherie agar digunakan untuk
Malam pengantin nanti. Cherie ribut menolak melihat pakaian dalam seksi itu.
Amel dan Mbak Sophie tertawa tapi tetap membelikan lingerie itu.
Sehabis itu, mereka makan siang bersama. Membicarakan bagaimana perasaan Cherie
yg akan segera mengganti status lajangnya.
''Aku deg2an banget, Mbak!''kata Cherie. ''Kalau memikirkan sebentar lagi aku
akan menikah, rasanya masih nggak percaya.''
Mbak Sophie tertawa. ''Itu sih sudah wajar. Mbak dulu juga gitu. Rasanya gugup
dan terus2an gelisah. Tapi begitu acaranya selesai, perasaan itu hilang.
Kemudian muncul lagi masalah baru untuk dipikirkan,''kata Mbak Sophie
''Masalah baru apa, Mbak,''tanya Amel
Mbak Sophie mengedip jahil. ''Masalah malam pertama,''sahutnya
Wajah Cherie memerah dan Amel cekikikan.
''Udah ah! Itu nggak usah dibicarakan!''sergah Cherie malu.
''Ck, anak ini masih saja malu! Kamu kan sudah menjunjung tinggi moralmu selama
ini, sekarang saatnya kamu melepaskannya. Apalagi Fallen menghormatimu dan
nggak menuntut apa2 kan selama ini?''kata Mbak Sophie
''Betul, nggak seperti Alex. Kamu bilang Alex sering merayumu kan? Sementara
Fallen, ia bahkan nggak membicarakannya. Kamu harusnya senang punya suami kayak
dia,''kata Amel menimpali
Cherie tersenyum. ''Sebenarnya aku yg pernah menggoda Fallen,''aku Cherie.
Kemudian cepat2 menjelaskan ketika melihat kedua orang di depannya menganga tak
percaya. ''Tapi itu cuma buat mengetes! Sumpah! Kalau aku nggak mengenal Fallen
dengan baik, aku nggak akan berani menggoda dia!''
Amel pulih dengan cepat. ''Terus gimana reaksi Fallen?''tanya Amel
Cherie tertawa. ''Dia mengira aku sakit. Soalnya aku tiba2 jadi manja dan
nempel2 sama dia,''kata Cherie. ''Dia kira aku sama sepertinya yg bersikap
manja saat sakit.''
Amel geleng2 kepala. Mbak Sophie mengangguk2 paham.
''Kalau begitu, malam pengantin nanti kamu harus menggoda dia. Jangan tunjukkan
seberapa gugupnya kamu. Biar dia bertanya2 apa yg sedang kamu pikirkan!''kata
Mbak Sophie
Cherie meringis. Rasanya takkan segampang itu mengelabui Fallen. Tapi
sejujurnya Cherie memang tidak segugup itu. Karena entah mengapa ia percaya
Fallen akan menjaganya.
Sehabis makan, ketiganya pulang. Mereka berpisah ketika pulang.
Cherie pulang sendirian dengan mobilnya ketika di tengah2 perjalanan pulang,
mobilnya mogok.
Cherie terpaksa menepikan mobilnya. Dia turun dan memeriksa mesin mobilnya. Ia
tidak terlalu mengerti mesin, tapi ia yakin kalau mobilnya baru2 ini sudah di
service ke bengkel, jadi aneh kalau sekarang mobilnya malah mogok.
Cherie melihat ke sekelilingnya. Tak nampak bengkel ataupun tempat sejenis yg
bisa dimintai tolong. Jalanan itu sangat sepi. Cherie kembali masuk ke dalam
mobil dan menelpon Fallen. Ia harus menunggu sampai telponnya diangkat. Cherie
menggumam. Kenapa nggak diangkat2 sih? Cherie kembali mencoba menghubungi
Fallen. Tapi panggilan itu pun tak diangkat.
Akhirnya Cherie mengirimkan sms singkat yg mengatakan pada Fallen kalau mobilnya
mogok di jalan. Ia juga menyebutkan lokasinya.
Setelah sms'a terkirim, Cherie mencoba lagi menelpon Fallen. Hasilnya sama,
nggak diangkat. Seperti kedua Papa itu sedang memberikan petuah entah apa yg
membuat Fallen bahkan tak sempat mengecek ponselnya.
Kemudian Cherie menelpon Amel. Cherie sedang menunggu telponnya diangkat ketika
sebuah mobil berhenti tepat disebelahnya.
Kemudian semua berlangsung cepat. Sebuah tangan menarik Cherie, tepat ketika
Amel menjawab telpon Cherie. Sehingga Amel hanya sempat mendengar jeritan
Cherie ketika Cherie di paksa masuk ke dalam mobil.
''Cherie?! Cher, kamu kenapa? Hallo?? Cherie?? CHERIE!!''
Suara2 Amel terdengar dari ponsel Cherie yg jatuh ketika Cherie ditangkap entah
oleh siapa. Dan ponsel Cherie terjatuh ke bawah mobilnya.
Cherie yg dibekap, meronta2 di dalam mobil. Mencoba melepaskan diri dari
bekapan penangkapnya.
''Diam! Aku nggak mau terpaksa menyakiti kamu, Cherie,''kata suara yg menangkap
Cherie, sementara mobil mulai bergerak, dikemudikan orang lain. Cherie membeku.
Ia mengenali suara itu. Ia mencoba bicara, tapi hanya gumaman saja yg terdengar
karena mulut Cherie dibekap saputangan.
''Sshhss, sebentar lagi kita sampai. Kita punya banyak waktu, Sayang,''kata
Alex.
Cherie membelalak ketakutan. Ia mulai berontak lagi dan mendapatkan sebuah
pukulan di tengkuknya.
Seketika, tubuh Cherie melunglai, dan kesadarannya perlahan lenyap..
Amel dengan panik langsung memutar mobilnya dan
menuju ke rumah Cherie. Yg ia tau, disanalah ia bisa menemukan Fallen. Kalau
bukan karena ia sangat mengkhawatirkan Cherie, Amel pasti akan memperhatikan
kecepatannya. Rem mobil Amel berdecit keras saat berhenti di depan rumah
Cherie.
Suara itu tak urung mengagetkan seisi rumah yg saat itu hanya dihuni oleh para
lelaki.
Amel menyerbu masuk ke dalam rumah.
''FALLEN!!!''teriaknya
''Ada apa sih, Mel?''tanya Fallen yg langsung berdiri ketika mendengar
kehebohan yg dibuat Amel.
''Mana Cherie?? Dia udah pulang kan? Please bilang dia udah pulang!''kata Amel
''Bukannya kalian keluar sama2?''tanya Papa Fallen
Amel langsung terduduk lemas. Matanya berkaca2. Fallen langsung menghampiri
Amel. Perasaannya langsung tidak enak.
''Mel, apa yg terjadi?!''tuntut Fallen
''Aku nggak tauuu,''ujar Amel. ''Tadi dia menelponku, tapi yg aku dengar cuma
teriakannya. Terus aku nggak dengar apa2 lagi,''isak Amel.
Fallen langsung berdiri dan mengambil ponselnya yg ia tinggalkan di meja dapur.
Ponselnya di setting tanpa nada, sehingga ia tidak tau ada beberapa miscall
dari Cherie dan juga sebuah message. Fallen langsung membaca pesan dari Cherie.
Tanpa tunggu lama lagi, Fallen langsung meraih kunci mobilnya dan bergegas.
''Aku tau dimana terakhir kali Cherie berada. Biar aku cari dia,''kata Fallen
''A..aku ikut!!''seru Amel dan langsung mengejar Fallen.
Kedua Papa saling pandang. Papa Cherie tampak tegang, sementara Papa Fallen
mengerutkan keningnya.
''Apa Cherie kabur?''tanya Papa Fallen, membuat Papa Cherie mendengus.
''Anakku takkan mengirim pesan pada anakmu kalau dia berniat kabur,''sahut Papa.
Lagipula, dia juga yg menginginkan pernikahan ini,''tambah Papa Cherie.
''Kalau begitu ada sesuatu yg terjadi?''tanya Papa Fallen
''Pastinya,''sahut Papa Cherie.
Papa Fallen menepuk bahu Papa Cherie. ''Anakku pasti menemukan Cherie,''kata
Papa Fallen.
**
Fallen dan Amel sampai di tempat Cherie, namun hanya menemukan mobil Cherie.
Pintunya terbuka dan barang2 Cherie terberarak di tanah. Fallen mencari2 dan
menemukan ponsel Cherie di bawah mobil. Ia mengambilnya dan mengumpat pelan.
''Dia dibawa pergi,''kata Fallen
''Dibawa pergi???''suara Amel melengking. ''Oleh siapa?!''
''Aku nggak tau. Apa tadi kamu tidak melihat ada yg mengikuti kalian atau orang
aneh di sekitar kalian?''tanya Fallen
Amel menggeleng2kan kepalanya.
''Ingat2 lagi, Amel. Mungkin ada sesuatu yg lain yg tidak seperti biasanya yg
kamu lihat? Apapun itu yg membuatmu merasa aneh??''desak Fallen
Amel masih menggeleng2kan kepalanya, kemudian ia terkesiap keras.
''Apa?!''desak Fallen tidak sabar
''Alex! Aku merasa melihat orang yg mirip dengan Alex saat kami di Mall! Aku
pikir aku salah lihat karena kupikir Alex tidak mungkin ada disini,''kata Amel
Fallen sudah menuju mobilnya bahkan sebelum Amel selesai bicara.
''Tunggu! Kamu tau dimana dia?!''tanya Amel keras.
''Aku tau dimana bajingan itu tinggal sekarang,''geram Fallen. Memang ia sempat
mengancam Alex di rumah barunya di pinggir kota ketika laki2 itu masih
mengejar2 Cherie. Dan mengingat cukup terpencilnya tempat itu, Fallen takkan
heran jika Alex membawa Cherie kesana.
**
Cherie merasakan kepalanya berdenyut2 dan ia merasa mual. Perlahan ia membuka
matanya dan menyadari dirinya ada di tempat yg asing. Kemudian ia juga
menyadari dirinya yg diikat. Kedua tangannya diikat dibelakang punggung,
kakinya juga diikat, dan mulutnya disumpal.
Cherie menggeliat berusaha melepaskan diri. Rontaannya makin menjadi2 ketika
menyadari dirinya ada di atas tempat tidur.
Tampaknya suara berisik itu membuat Alex kembali. Laki2 itu berdiri di pintu
dan menyeringai ke arah Cherie.
Seketika Cherie dilanda gelombang kepanikan. Ia membelalakkan matanya ke arah
Alex ketika lelaki itu berjalan ke arahnya.
Cherie berusaha bergeser menjauh ketika Alex duduk di tepi tempat tidur.
''Seperti Putri Tidur sudah bangun,''kata Alex
''Hmmb...hmmk..mmpphh...''balas Cherie
''Ckck, ingin mengatakan sesuatu, Sayang?''tanya Alex. ''Lama nggak jumpa ya?
Kudengar kamu akan menikah dengan laki2 itu ya?''kata Alex
Kemudian ia melepaskan sumpalan mulut Cherie ketika Cherie hanya mengeluarkan
suara tertahan.
''Laki2 brengsek!!''maki Cherie serta merta. ''Apa mau kamu melakukan ini sama
aku?!''
''Mauku?? Tentu aja supaya kita rujuk, Sayang... Dan aku nggak kepikiran cara
lain selain ini agar kamu mau kembali sama aku,''kata Alex dengan nada manis
menipu
''Jangan mimpi! Aku gag akan pernah kembali sama bajingan macam kamu!!''bentak
Cherie
Alex menggeleng perlahan dan berdecak. ''Sayang sekali, berarti aku memang
harus pakai jalan pintas agar kamu nggak bisa menolak aku,''kata Alex
''Apa...''Cherie bahkan belum selesai dengan pertanyaannya ketika dengan kasar
Alex menarik keras kemejanya dan membuat beberapa kancingnya lepas. Cherie
terpekik kaget dan tak percaya. Ia berusaha menjauh dan menghindari tangan
Alex.
Cukup hanya setengah kancing teratasnya yg terbuka dan membuat tubuhnya sedikit
terpapar. Cherie takkan sanggup jika tubuhnya terpapar lebih dari itu.
Alex tertawa melihat reaksi Cherie. Ia menunduk ke arah Cherie dan berbisik.
''Sabar, Sayang... Waktu kita masih panjang. Tunanganmu gag akan menemukanmu
sampai semuanya sudah terlambat,''kata Alex dan mencium Cherie.
Cherie memejamkan mata dan merapatkan bibirnya. Perasaan jijik seketika
melandanya.
Alex tertawa lagi dan meninggalkan Cherie dalam keputusasaannya sendirian di
dalam kamar itu.
Fallen, dimana kamu???batin Cherie ketakutan. Ia meringkuk dan gemetar dalam
tangis tanpa suaranya...
Rasanya lama sekali sampai mobilnya berhenti di
dekat rumah Alex. Fallen sengaja memarkir mobilnya agak tersembunyi agar Alex
atau siapapun yg ada di dalam rumah tidak menyadari kedatangannya. Perlahan2
Fallen menyelinap mendekati rumah itu. Ia bersembunyi di balik semak2 dan juga
pepohonan. Langit sudah mulai gelap dan bayangan2 menyembunyikan Fallen. Ia
mengendap2 dan mengintip lewat jendela. Tepat saat itu Fallen melihat Alex
keluar dari sebuah kamar. Alex tampak memberi perintah pada seorang lelaki dan
pergi ke ruangan lain. Sehingga Fallen menduga kalau ruangan yg dijaga itu
pasti tempat Cherie disekap.
Fallen memutari rumah yg tak begitu besar itu dan mencoba pintu belakang dan
untungnya tidak terkunci. Fallen pun menyelinap masuk. Ia mengendap2 dan
mengintip. Penjaga yg ditempatkan Alex masih berdiri di depan pintu. Fallen
mencari2 sesuatu yg bisa digunakan untuk membuat orang itu tidur sejenak.
Fallen akhirnya memutuskan menggunakan tangan kosong. Ia menyelinap hingga
berada di dekat penjaga itu dan langsung men'cop leher penjaga itu hingga
roboh. Fallen lalu menyeret tubuh penjaga itu dan menyembunyikannya di tempat
yg tidak akan dilihat Alex.
Kemudian, Fallen menyelinap masuk ke dalam kamar.
Cherie yg mendengar pintu dibuka, langsung meringkuk. Tubuhnya gemetaran.
''Pergi, Alex! Jangan sentuh aku! Aku benci kamu!''
''Cherie?''panggil Fallen pelan
Cherie seketika mendongak dan membelalak menatap Fallen yg berdiri di pintu.
Fallen menutup pintu dengan pelan sebelum mendekati Cherie.
Cherie berusaha menutupi kemejanya yg rusak dengan lututnya.
''Cher, are you okay?''tanya Fallen
Cherie hanya mengangguk. Fallen lantas membuka ikatan di kaki Cherie, kemudian
ikatan di tangannya.
Cherie langsung membenamkan wajahnya di leher Fallen dan menangis. Ia memeluk
Fallen dengan dengan erat.
''Aku takut, Fal... Aku pikir..aku akan...''Cherie tak sanggup menyelesaikan
ucapannya dan kembali sesenggukan.
Fallen menarik dirinya dan menatap mata Cherie. ''Semua akan baik2 aja. Aku
akan buat dia menyesal,''kata Fallen
Cherie mengangguk percaya. Tangannya masih memegangi kerah bajunya yg terbuka.
Dan seketika itu Fallen menyadari keadaan Cherie. Fallen mengatupkan rahangnya
dan menggeram pelan. ''Bajingan itu...akan kubunuh dia!''sahut Fallen geram
Cherie menggeleng. ''Please, aku mau pulang...''pinta Cherie
Fallen mengangguk kaku. ''Kita akan pulang!''tegasnya. Kemudian ia menuju ke
arah pintu dan mendengarkan. Suara langkah kaki samar2 terdengar. Fallen
merapat di dinding dekat pintu dan memberi isyarat pada Cherie agar diam.
Cherie menatap khawatir ke arah pintu yg mulai terbuka.
Kemudian Alex muncul dengan seringainya, namun seringai itu lenyap ketika
melihat ikatan Cherie sudah dilepaskan.
''Apa2an?!''teriak Alex marah
Pada saat itulah Fallen menerjang maju hingga mereka berdua terjerembab ke
lantai. Fallen berhasil menindih Alex dan mencekiknya.
''Kamu akan kubuat menyesal, bajingan keparat!''maki Fallen sebelum menyarangkan
sebuah pukulan di wajah Alex. Fallen berhasil menyarangkan satu pukulan lagi
sebelum kaki Alex menendangnya dan mereka berguling di lantai.
Keduanya bergulat untuk mendapatkan posisi yg paling menguntungkan dan
meyarangkan serangan antara satu sama lainnya.
Fallen terkena beberapa pukulan, tapi ia juga membalas dua kali lipat lebih
banyak.
Hingga akhirnya Alex tak mampu lagi bergerak dan tergeletak dengan tubuh babak
belur di lantai. Fallen berdiri sambil mengelap darah dari ujung bibirnya. Ia
menendang perut Alex untuk yg terakhir kalinya sebelum menghampiri Cherie.
''Oh Tuhan, kamu berdarah!''kata Cherie panik dan mengelap wajah Fallen dengan
saputangan.
''Aku ingin sekali membunuh dia,''kata Fallen tidak puas.
''Jangan! Biar polisi yg mengurusnya!''sahut Cherie. ''Aku nggak mau berurusan
dengan makhluk menjijikkan itu lagi!''tambah Cherie sambil memandang benci ke
arah Alex.
Fallen menyetujuinya. Dia meraih Cherie dan mencium keningnya dengan kelegaan
luar biasa. Jika terlambat semenit saja, Fallen takkan pernah memaafkan dirinya
sendiri.
''Kita pulang?''tanya Cherie penuh harap. Ia menatap Fallen dengan memelas.
Karena ia tidak mau berada lebih lama lagi di rumah Alex tanpa ingin mencabik2
laki2 itu.
''Kita pulang,''kata Fallen mengiyakan dan menuntun Cherie keluar. Sementara
itu, polisi akan segera menangkap Alex. Cherie tak melepaskan pelukannya pada
pinggang Fallen. Ia betul2 tidak mau jauh dari laki2 itu. Fallen sudah
melepaskan kemejanya yg kusut akibat pergulatan dengan Alex tadi dan memakaikannya
pada Cherie. Tak ada yg lebih menenangkan selain rasa aman dan seolah2 Fallen
melingkupinya dengan kehangatan. Cherie akan pulang. Pulang bersama Fallen..
Pernikahan itu dilaksanakan sebulan kemudian.
Setelah semua masalah terselesaikan dengan baik. Fallen sudah menuntut agar
Alex dipenjara selama mungkin. Dan Fallen tak mau melihat Alex berkeliaran
disekitar ''istri''nya lagi.
Kemudian, Fallen tak bisa dijauhkan dari Cherie setelahnya. Kemanapun Cherie
pergi, Fallen akan terus mengekor di belakangnya layaknya anjing penjaga yg
akan menggeram jika ada yg mendekati majikannya.
Cherie cukup senang dengan perhatian Fallen, namun lama2 ia mulai merasa
jengkel. Cherie lantas mengeluarkan ultimatum yg membuat Fallen terpaksa
menjauh dari Cherie. Cherie mengancam akan menunda pernikahan mereka hingga
tahun depan jika Fallen masih mengawalnya seperti anjing penjaga. Cherie juga
bilang pada Fallen kalau ia tidak apa2 dan Alex tidak sempat menyakitinya lebih
dari merusak pakaiannya. Dan besoknya, Fallen langsung membakar pakaian yg
Cherie kenakan ketika diculik oleh Alex. Bahkan Fallen tertawa keji ketika
membakarnya. Membuat Cherie menganga dan menggeleng tak percaya. Rupanya ia
mendapatkan calon suami yg amat sangat posesif! Tapi tak apa, ia mencintai
Fallen.
Cherie tengah duduk di depan cermin di ruang ganti. Menatap pantulan wajahnya
di cermin. Di tangannya ada buket bunga putih yg cantik. Cherie mengatur
napasnya, mencoba mengurangi rasa gugup yg sejak tadi menderanya. Astaga, hari
ini dia menikah!
Cherie bertanya2 apakah Fallen juga merasakan kegugupan yg sama seperti yg
dirasakannya. Atau malah laki2 itu sudah ada di depan altar? Aduhhh, Cherie
gugup sekali!!
Sampai2 Cherie tersentak ketika pintu ruang ganti dibuka. Papanya muncul dalam
balutan jas hitam yg membuatnya terlihat tampan di usianya yg hampir 50tahun
itu.
''Papa,''ujar Cherie
Papa berdiri terpaku di depan pintu, menatap Cherie. Cherie perlahan bangkit
dan memutar tubuhnya. Ia mengangkat sedikit gaun pengantinnya dan menghampiri
Papanya.
''Udah waktunya ya, Pa?''tanya Cherie
Papa mengangguk kaku dan berbalik.
Cherie menatap sayang ke arah Papanya. Ia memeluk papanya dari belakang.
''Papa tau kan kalau Cherie sayang Papa?''tanya Cherie. ''Meskipun Cherie
menikah...Cherie tetap putri kesayangan papa. Nggak akan ada yg berubah,
Papa,''kata Cherie
''Kamu sudah bukan Cherie kecil Papa,''kata Papa
''Iya, tapi Cherie tetap Cherie...''kata Cherie
Papa berbalik dan menatap mata Cherie, kemudian menghela napas. ''Papa nggak
sadar kamu sudah tumbuh jadi dewasa,''kata Papa. ''Rasanya Papa seperti sudah
tua saja,''tambah Papa masam.
''Papa masih terlihat seperti umur 30 lho,''goda Cherie
Papa tertawa. ''Mungkin di mata Mama kamu saja,''sahut Papa. Kemudian Papa
menawarkan sikunya. ''Ayo, kita jemput calon suami kamu,''kata Papa lembut
Mata Cherie berkaca2 dan ia mengangguk. Cherie meletakkan tangannya dan Papa
menuntunnya keluar.
Musik pengiring dimainkan ketika Cherie berjalan menuju altar di dampingi oleh
Papanya. Cherie melihat betapa tampannya Fallen dengan pakaian putihnya. Dan
seketika rasa gugupnya hilang ketika ia melihat senyum hangat Fallen.
Fallen terpesona melihat pengantinnya diantarkan ke altar oleh Papanya. Cherie
tampak sangat cantik dalam balutan gaun pengantin putihnya.
''Jaga Cherie,''pesan Papa Cherie ketika menyerahkan tangan Cherie pada Fallen.
Fallen pun mengangguk mantap. Kemudian Papa meninggalkan altar.
Fallen langsung mengalihkan tatapannya pada Cherie.
''Nona, you are so pretty,''goda Fallen
Cherie mendelik dari balik kerudungnya
Kemudian tatapan Fallen melembut. ''I'm seriously, you are so beautiful...''
Cherie merona malu dan balas berbisik. ''You too..''
Kemudian upacara pernikahan itu berlangsung khidmat. Mama Cherie berulang kali
mengusap matanya dengan saputangan. Papa Fallen duduk tegak dan tampak bahagia
sekaligus merana.
Disisi keluarga Fallen juga terjadi hal yg sama. Mama Fallen menangis bahagia,
sementara Papa Fallen tampak bangga.
Usai upacara, perayaan dilanjutkan dengan resepsi.
Semua bersenang2 merayakan peristiwa bahagia itu. Cherie bahkan tak bisa
bersama Fallen lebih dari 5menit. Setiap orang seolah ingin menjauhkan mereka
satiap detik. Cherie harus puas hanya dengan melihat Fallen di seret menjauh
terus2an setiap suaminya itu berusaha mendekatinya. Tapi bukan Fallen namanya
jika tidak bisa menemukan trik agar bisa memonopoli Cherie.
Laki2 itu berhasil menyelinap dan mencuri satu kecupan dari Cherie sebelum
akhirnya ditarik kembali. Cherie hanya tertawa.
Ketika malam tiba, tamu2 sudah hampir pulang. Cherie merasa lelah namun luar
biasa bahagia. Ia tak pernah membayangkan akan menikah dengan orang yg betul2
mencintainya seperti Fallen. Cherie takkan menyebutnya cinta sejati, namun ia
yakin itu cinta yg murni.
Cherie tersenyum sendiri dan beranjak meninggalkan teras depan.
Tiba2 tubuhnya diraup dan ia sudah ada dalam gendongan Fallen.
''Fal, kamu apa2an sih!''sahut Cherie kaget.
Fallen tersenyum nakal. Membuat Cherie mengernyit curiga. Seharian ini Fallen
bersikap sangat tenang untuk ukuran orang seperti Fallen. Cherie curiga Fallen
sedang merencanakan sesuatu.
''Apa yg kamu sembunyikan?''tanya Cherie
Fallen menyeringai. ''Apa kamu memakai lingerie yg dipilihkan Mbak
Sophie?''tanya Fallen. Membuat pipi Cherie serasa terbakar.
''Tau darimana kamu soal itu?!''tuntut Cherie malu.
''Aku lihat bungkusan yg ada di mobil kamu waktu mencari petunjuk di mobil
kamu,''kata Fallen
''Tetap saja kamu nggak seharusnya nanyain itu disini!''desis Cherie, menoleh
kanan kiri, takut di dengar Papanya.
''Tenang aja, 10menit yg lalu, orangtua kita sudah berbaik hati meninggalkan
rumah ini,''kata Fallen santai
''Apa?!''seru Cherie tak percaya.
Fallen tertawa. ''Itu benar, Dear.. Ini malam khusus buat kita,''kata Fallen.
''Kamu nggak akan kabur kan?''godanya
Cherie langsung memukul bahu Fallen dengan keras hingga suaminya itu mengaduh.
Tapi tak lama kemudian Fallen sudah kembali tertawa ketika menyadari rona
cantik mulai merambati pipi Cherie.
Fallen lalu membopong Cherie menaiki anak tangga satu persatu. Meninggalkan
suasana kacau bekas pesta diruang tamunya dan menuju kamar mereka.
''Aku justru takut kamu yg akan kabur,''bisik Cherie di telinga Fallen. Membuat
tawa Fallen kembali berderai.
''Jelas aku takkan melakukan tindakan pengecut itu, Dear...''kata Fallen parau
Cherie memeluk leher Fallen dan tersenyum bahagia di bahu Fallen, sementara
Fallen masih membopongnya menuju kamar.
''I love you,''kata Cherie
''I love you too,''kata Fallen juga.
**THE END**