Cafe Daniel, sore hari setelah semua masalah yang
terjadi belakangan ini akhirnya mengendap dan tertinggal di belakang dan
menjadi cerita lama.
Chika
menyeruput minumannya sambil memperhatikan teman-temannya. Samuel yang telah
berhasil memenangkan hati Linzie, selalu bersikap manja di setiap ada
kesempatan pada Linzie. Meski Linzie selalu menunjukkan raut kesal, tapi Chika
tau Linzie sayang sama Samuel. Kemudian ada Jeremy dan Keisha. Mereka baru
baikan aan akhirnya jadian setelah diadu domba oleh Renaldi. Keduanya mungkin
bersikap seolah-olah biasa saja, dan juga membicarakan hal-hal yang umum, tapi
Chika tau kalau tangan mereka tak pernah lepas di bawah meja.
Haah...
romantis. Chika membayangkan kapan ia bisa seperti mereka. Mungkin nggak ya,
kalau Chika juga menemukan pacar yang hebat seperti Samuel dan Jeremy? Chika
mendesah iri.
Teman-temannya terlihat begitu bahagia. Oh, kecuali
satu orang yang sejak tadi tampak suntuk.
“Kenapa
cemberut?” tanya Chika pada Rafhael.
“Siapa?
Tampang gue memang begini dari sananya!” sahut Rafhael sedikit ketus.
Sejujurnya,
Rafhael jengkel karena sekarang Jeremy sudah jadian dengan Keisha. Bukan karena
nggak suka melihat teman-temannya bahagia, melainkan karena ia jadi merasa
tersisih. Sekarang kedua temannya pasti sibuk sama urusannya sendiri deh. Lihat
saja, sejak tadi mereka seolah ada di dunia milik mereka sendiri. Rafhael cuma
bisa menatap datar ke arah mereka. Ditambah lagi, makhluk satu yang duduk di
sampingnya ini terus-terusan mendesah dan tak henti-hentinya tersenyum.
Membuatnya makin frustasi. Padahal niat mereka berkumpul di sana kan buat
merayakan selesainya masalah! Bukan malah pamer kemesraan!
“Yah,
tapi bisa donk kelihatan berbahagia sedikit. Jemy dan Kei baru jadian lho, masa
lo nggak senang sih?” kata Chika. “Ah, minuman gue abis. Ambil lagi ahh,” cetusnya
dan langsung ngeloyor ke meja bar. Meninggalkan Rafhael yang makin dongkol.
Dasar
cewek bunglon! Belum juga beberapa menit lalu dia mendesah setengah sedih,
sekarang malah menceramahi orang! Mana setelah ngomong dengan soknya tuh cewek
langsung ngeloyor pergi pula. Sekarang malah lagi asik-asikan ngobrol sama
Indra. Akhirnya karena takut makin dongkol, Rafhael pun pilih undur diri.
“Gue
duluan deh! Kepala gue sakit,” kata Rafhael beralasan.
“Yakin
lo? Nggak mau pesan makanan lagi?” tanya Samuel.
“Nggak,
makasih,” sahut Rafhael dan langsung cabut.
Tak
lama, Chika kembali ke tempat duduknya dengan heran. “Lo, Rafha ke mana?” tanyanya.
“Tau
tuh, dia pulang duluan. Katanya sakit kepala,” kata Samuel.
“Pasti
cuma alasan tuh!” sahut Linzie sambil bersungut-sungut.
Chika
tampak merenung. “Hmm... gue kira karena dia bete melihat kalian yang
mesra-mesraan,” katanya polos. “Kan dia nggak bawa pasangan. Jadi pasti dongkol
deh lihat kalian berempat. Kenapa coba dia nggak ngajak ceweknya, ckck,” oceh
Chika sambil berdecak.
Keempat
pasang mata langsung menatap Chika dengan aneh. Seperti tidak setuju sepenuhnya
dengan ucapan Chika.
“Apa?”
tanya Chika ketika semua mata menatapnya.
Linzie
menghela napas pasrah. Samuel tergelak keras dan Jeremy terkekeh geli.
“Chi,
gue rasa sebagian besarnya karena elo,” kata Keisha lembut.
Dahi
Chika mengernyit. “Kok gue?” tanyanya bingung.
“Lupain
deh,” Keisha mendesah pasrah.
Chika
menatap keempat temannya dengan tidak mengerti, lalu memutuskan untuk tidak
memikirkannya lebih jauh. Jadi dia kembali menikmati minumannya. Dan juga
kembali pada lamunannya sebelumnya.
***
Apakah
ada tempat di mana ia takkan menemukan cewek itu? Sekali saja seumur hidupnya,
ia ingin tidak terlibat dengan apapun ulah yang dilakukan oleh cewek itu.
Rafhael
menggerutu sembari menatap Chika yang tengah memanjat pohon untuk mengambil
seekor anak kucing. Ia baru saja hendak pergi mencari tempat tenang untuk
istirahat karena Samuel dan Jeremy membuatnya gila. Dan ia pikir taman belakang
adalah tempat yang pas karena tempat itu sepi. Tapi apa yang dia temukan?
Sumpah,
ia rela membayar berapapun untuk menyingkirkan cewek itu.
“Aha,
dapat!!” seruan Chika membuat Rafhael keluar dari lamunannya. “Cup, cup, pasti
takut ya di atas sini,” kata Chika.
Rafhael
memutar bola mata ketika melihat Chika duduk di ranting yang cukup besar
sembari mengayunkan kaki. Di pangkuannya seekor kucing kecil bergelung manja.
“Lo
lagi ngapain sih?” tanya Rafhael lelah.
Chika
mendongak dan seketika berbinar-binar ketika melihat Rafhael. Ia
melambai-lambai. “Awas jatuh!” hardik Rafhael waswas ketika melihat Chika
terhuyung.
Chika
berhasil tegak kembali. “Hehe, nggak apa-apa kok. Rafha lihat deh! Ada anak kucing!!”
seru Chika.
“Heh,
turun!! Lo tuh cewek! Jaga sikap sedikit kenapa?!” sergah Rafhael. Kemudian
kecurigaannya muncul ketika Chika cuma meringis. “Jangan bilang lo cuma bisa
naik...”
“Haha…
tepat! Gue nggak tau caranya turun!” sahut Chika cengengesan.
Rafhael
langsung menggerutu. Ia mulai berjalan pergi meninggalkan Chika. Chika jelas
langsung memanggil-manggilnya. Membuat Rafhael mau tak mau tak bisa
mengabaikannya. Ia mulai mencari-cari sesuatu untuk digunakan sebagai pijakan
agar Chika bisa turun. Beruntung sekali ia menemukan tangga lipat di dekat
gudang. Ia langsung membawa tangga itu dan mengaturnya agar seimbang.
“Nah,
sekarang lo bisa kan? Gue bakal pegangin tangganya saat lo turun,” kata
Rafhael.
Chika
mengangguk-angguk paham dan mulai menurunkan kakinya satu persatu. Dengan
sebelah tangan memeluk kucing dan sebelah lagi berpegangan di tangga. Rafhael
harus membuang muka ke arah lain karena suatu alasan yang membuatnya ingin
segera pergi. Tinggal beberapa anak tangga lagi yang tersisa sebelum Chika
terpeleset dan hilang keseimbangan lalu jatuh menimpa Rafhael yang cuma sempat
berteriak “Woi!” dan “Apaan...?” ketika Chika jatuh.
Sungguh
mengenaskan karena pada akhirnya mereka bergelimpangan di atas tanah. Tepat
seperti pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula, dan ini dalam artian harfiah, bukan kiasan semata. Dengan posisi
Rafhael di bawah dan punggung Chika menindihnya, Rahael tak bisa berbuat
apa-apa selain berusaha untuk bernapas. Rafhael mengerang kesakitan, sementara
Chika meringis karena kepalanya menghantam dada keras Rafhael.
“Buruan
bangun!” geram Rafhael.
Chika
cepat-cepat menyingkir ke samping dan duduk menatap serba salah ke arah
Rafhael. Ia menatap cemas Rafhael yang mulai duduk sambil meringis. Aduh, apa
yang sudah ia lakukan? Lagi-lagi ia membawa kesialan buat Rafhael. Padahal
Rafhael sudah sering sekali membantunya keluar dari masalah-masalah yang ia
buat. Tapi apa yang ia berikan pada cowok itu selain nasib sial? Huhu, Chika
merasa bersalah banget.
“Rafha
maaf... Chika nggak sengaja, sumpah! Chika nggak maksud buat jatuh kok!!” kata
Chika.
Rafhael
mnggerak-gerakkan bahunya, memeriksa apakah ada luka serius, kemudian memeriksa
kepalanya. Ada benjolan yang lumayan besar yang membuatnya langsung meringis
ketika disentuh. Chika seketika memucat.
“Astaga,
maaf banget! Pasti sakit ya? Ayo, Chika obatin di UKS!!” seru Chika panik. Ia
berlari ke arah gudang, meletakkan si kucing ke dalam sebuah kardus lalu
kembali pada Rafhael. Ia membantu Rafhael bangun dengan hati-hati kemudian
menarik cowok itu ke UKS seolah-olah Rafhael tak sanggup jalan sendiri.
“Gue
bisa jalan sendiri!!” sentak Rafhael. “Gue cuma benjol tau, bukannya sekarat!”
Tapi
Chika tak mengindahkan semua protes Rafhael dan terus menyeretnya ke UKS.
Bahkan ia dengan hebohnya mendobrak UKS dan minta obat pada guru UKS. Yang pada
akhirnya memberikan kompres dingin pada Chika untuk mengompres benjol di kepala
Rafhael.
“Ayo
nunduk!! Biar gue bisa ngompresnya!” kata Chika.
“Gue
bisa sendiri!” sahut Rafhael dan merebut kompres dari tangan Chika.
Ia tak bisa memercayai kemampuan
cewek itu dalam mengobati tanpa menambah luka yang lain. Chika duduk dan memperhatikan
Rafhael yang mengernyit ketika menempelkan kompres di bagian belakang
kepalanya. Chika masih tampak khawatir, tapi tidak separah tadi. Dan ketika
guru UKS menanyakan kenapa mereka bisa tampak berantakan dan kotor begitu,
Chika dengan senang hati menceritakannya. Guru UKS cuma geleng-geleng kepala
dan meninggalkan mereka. Chika kemudian mengelilingi ruangan dan melihat-lihat
isi kotak P3K.
“Lo
ada luka?” tanya Rafhael.
Chika
menoleh. “Ng… Nggak sih kayaknya. Selain yang sempat dicakar si kucing tadi,” sahut
Chika sambil menunjukkan punggung tangannya. Terdapat bekas cakar kucing di
sana.
Rafhael
meletakkan kompresnya dan berjalan menghampiri Chika. Ia mengeluarkan cairan
pembersih luka, obat dan perban. Kemudian tanpa bicara apa-apa dia mulai
mengobati luka Chika.
Chika
menatap kagum hasil kerja Rafhael ketika Rafhael kembali mengompres kepalanya.
“Wahh…
Chika aja belum tentu bisa serapi ini,” komentar Chika
“Udah
gue duga,” gumam Rafhael.
Kemudian
setelah kepalanya membaik, Rafhael pun meninggalkan UKS, Chika mengekor di
belakangnya. Menanyakan apakah ada yang bisa dilakukannya guna menebus
kesalahannya tadi.
“Berhenti
berulah. Menjauh dari masalah. Cuma itu yang bisa lo lakuin!” sahut Rafhael
serius, kemudian meninggalkan Chika.
Chika
memandang kepergian Rafhael dengan sedih. Lagi-lagi ia membuat Rafhael marah.
Kenapa ia tak pernah membuat Rafhael senang? Cowok itu tak pernah tersenyum,
apalagi tertawa jika ada di dekatnya. Padahal Chika ingin sekali berteman
dengan cowok itu. Chika menghela napas. Ia berjalan ke arah yang berlawanan
dengan Rafhael. Dengan perasaan sedih yang tidak ia inginkan.
Sementara
itu, Rafhael jadi kepikiran ketika ia telah cukup jauh dari Chika. Apakah
kata-katanya tadi kelewat kasar? Mungkin tak seharusnya ia berkata seperti itu
pada Chika. Bagaimana pun, bukan salah cewek itu jika ia terpeleset kan. Tapi
sisanya memang karena ulah Chika. Jika saja cewek itu tidak memanjat pohon
hanya untuk menolong seekor kucing, ia tidak akan terjebak tanpa tau cara
turun, dan Rafhael takkan perlu menolongnya.
Tapi
kalau dipikir-pikir percuma juga mempermasalahkannya. Toh, semua udah terjadi.
Lagipula Rafhael ragu Chika akan membiarkan seekor kucing ketakutan di atas
pohon. Rafhael menghela napas. Cewek itu terlalu polos dan lugu. Hatinya pasti
sangat lembut. Bahkan meskipun hal itu justru malah membuat cewek itu terlibat
banyak masalah.
Yah,
Rafhael tak akan ambil pusing. Itu masalah Chika. Ia tak perlu memikirkan cewek
itu. Ia cuma berharap berada di tempat lain ketika cewek itu sedang membuat
atau terlibat dalam masalah. Yang selama ini belum pernah dikabulkan oleh
Tuhan. Mungkin sudah nasibnya sesial itu. Ada di tempat dan waktu yang salah.
***
akhirnya nemu cerita ai...
BalasHapusnext ai, akuggemar cerita kamu. Aku suka cerita cerita kamu. :)
BalasHapus