Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 3 : ADDICTED TO LOVE #1


Cafe Daniel, sore hari setelah semua masalah yang terjadi belakangan ini akhirnya mengendap dan tertinggal di belakang dan menjadi cerita lama.
            Chika menyeruput minumannya sambil memperhatikan teman-temannya. Samuel yang telah berhasil memenangkan hati Linzie, selalu bersikap manja di setiap ada kesempatan pada Linzie. Meski Linzie selalu menunjukkan raut kesal, tapi Chika tau Linzie sayang sama Samuel. Kemudian ada Jeremy dan Keisha. Mereka baru baikan aan akhirnya jadian setelah diadu domba oleh Renaldi. Keduanya mungkin bersikap seolah-olah biasa saja, dan juga membicarakan hal-hal yang umum, tapi Chika tau kalau tangan mereka tak pernah lepas di bawah meja.
            Haah... romantis. Chika membayangkan kapan ia bisa seperti mereka. Mungkin nggak ya, kalau Chika juga menemukan pacar yang hebat seperti Samuel dan Jeremy? Chika mendesah iri.
Teman-temannya terlihat begitu bahagia. Oh, kecuali satu orang yang sejak tadi tampak suntuk.
            “Kenapa cemberut?” tanya Chika pada Rafhael.
            “Siapa? Tampang gue memang begini dari sananya!” sahut Rafhael sedikit ketus.
            Sejujurnya, Rafhael jengkel karena sekarang Jeremy sudah jadian dengan Keisha. Bukan karena nggak suka melihat teman-temannya bahagia, melainkan karena ia jadi merasa tersisih. Sekarang kedua temannya pasti sibuk sama urusannya sendiri deh. Lihat saja, sejak tadi mereka seolah ada di dunia milik mereka sendiri. Rafhael cuma bisa menatap datar ke arah mereka. Ditambah lagi, makhluk satu yang duduk di sampingnya ini terus-terusan mendesah dan tak henti-hentinya tersenyum. Membuatnya makin frustasi. Padahal niat mereka berkumpul di sana kan buat merayakan selesainya masalah! Bukan malah pamer kemesraan!
            “Yah, tapi bisa donk kelihatan berbahagia sedikit. Jemy dan Kei baru jadian lho, masa lo nggak senang sih?” kata Chika. “Ah, minuman gue abis. Ambil lagi ahh,” cetusnya dan langsung ngeloyor ke meja bar. Meninggalkan Rafhael yang makin dongkol.
            Dasar cewek bunglon! Belum juga beberapa menit lalu dia mendesah setengah sedih, sekarang malah menceramahi orang! Mana setelah ngomong dengan soknya tuh cewek langsung ngeloyor pergi pula. Sekarang malah lagi asik-asikan ngobrol sama Indra. Akhirnya karena takut makin dongkol, Rafhael pun pilih undur diri.
            “Gue duluan deh! Kepala gue sakit,” kata Rafhael beralasan.
            “Yakin lo? Nggak mau pesan makanan lagi?” tanya Samuel.
            “Nggak, makasih,” sahut Rafhael dan langsung cabut.
            Tak lama, Chika kembali ke tempat duduknya dengan heran. “Lo, Rafha ke mana?” tanyanya.
            “Tau tuh, dia pulang duluan. Katanya sakit kepala,” kata Samuel.
            “Pasti cuma alasan tuh!” sahut Linzie sambil bersungut-sungut.
            Chika tampak merenung. “Hmm... gue kira karena dia bete melihat kalian yang mesra-mesraan,” katanya polos. “Kan dia nggak bawa pasangan. Jadi pasti dongkol deh lihat kalian berempat. Kenapa coba dia nggak ngajak ceweknya, ckck,” oceh Chika sambil berdecak.
            Keempat pasang mata langsung menatap Chika dengan aneh. Seperti tidak setuju sepenuhnya dengan ucapan Chika.
            “Apa?” tanya Chika ketika semua mata menatapnya.
            Linzie menghela napas pasrah. Samuel tergelak keras dan Jeremy terkekeh geli.
            “Chi, gue rasa sebagian besarnya karena elo,” kata Keisha lembut.
            Dahi Chika mengernyit. “Kok gue?” tanyanya bingung.
            “Lupain deh,” Keisha mendesah pasrah.
            Chika menatap keempat temannya dengan tidak mengerti, lalu memutuskan untuk tidak memikirkannya lebih jauh. Jadi dia kembali menikmati minumannya. Dan juga kembali pada lamunannya sebelumnya.
                                                                        ***
            Apakah ada tempat di mana ia takkan menemukan cewek itu? Sekali saja seumur hidupnya, ia ingin tidak terlibat dengan apapun ulah yang dilakukan oleh cewek itu.
            Rafhael menggerutu sembari menatap Chika yang tengah memanjat pohon untuk mengambil seekor anak kucing. Ia baru saja hendak pergi mencari tempat tenang untuk istirahat karena Samuel dan Jeremy membuatnya gila. Dan ia pikir taman belakang adalah tempat yang pas karena tempat itu sepi. Tapi apa yang dia temukan?
            Sumpah, ia rela membayar berapapun untuk menyingkirkan cewek itu.
          “Aha, dapat!!” seruan Chika membuat Rafhael keluar dari lamunannya. “Cup, cup, pasti takut ya di atas sini,” kata Chika.
            Rafhael memutar bola mata ketika melihat Chika duduk di ranting yang cukup besar sembari mengayunkan kaki. Di pangkuannya seekor kucing kecil bergelung manja.
            “Lo lagi ngapain sih?” tanya Rafhael lelah.
            Chika mendongak dan seketika berbinar-binar ketika melihat Rafhael. Ia melambai-lambai. “Awas jatuh!” hardik Rafhael waswas ketika melihat Chika terhuyung.
            Chika berhasil tegak kembali. “Hehe, nggak apa-apa kok. Rafha lihat deh! Ada anak kucing!!” seru Chika.
            “Heh, turun!! Lo tuh cewek! Jaga sikap sedikit kenapa?!” sergah Rafhael. Kemudian kecurigaannya muncul ketika Chika cuma meringis. “Jangan bilang lo cuma bisa naik...”
            “Haha… tepat! Gue nggak tau caranya turun!” sahut Chika cengengesan.
            Rafhael langsung menggerutu. Ia mulai berjalan pergi meninggalkan Chika. Chika jelas langsung memanggil-manggilnya. Membuat Rafhael mau tak mau tak bisa mengabaikannya. Ia mulai mencari-cari sesuatu untuk digunakan sebagai pijakan agar Chika bisa turun. Beruntung sekali ia menemukan tangga lipat di dekat gudang. Ia langsung membawa tangga itu dan mengaturnya agar seimbang.
            “Nah, sekarang lo bisa kan? Gue bakal pegangin tangganya saat lo turun,” kata Rafhael.
            Chika mengangguk-angguk paham dan mulai menurunkan kakinya satu persatu. Dengan sebelah tangan memeluk kucing dan sebelah lagi berpegangan di tangga. Rafhael harus membuang muka ke arah lain karena suatu alasan yang membuatnya ingin segera pergi. Tinggal beberapa anak tangga lagi yang tersisa sebelum Chika terpeleset dan hilang keseimbangan lalu jatuh menimpa Rafhael yang cuma sempat berteriak “Woi!” dan “Apaan...?” ketika Chika jatuh.
            Sungguh mengenaskan karena pada akhirnya mereka bergelimpangan di atas tanah. Tepat seperti pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula, dan ini dalam artian  harfiah, bukan kiasan semata. Dengan posisi Rafhael di bawah dan punggung Chika menindihnya, Rahael tak bisa berbuat apa-apa selain berusaha untuk bernapas. Rafhael mengerang kesakitan, sementara Chika meringis karena kepalanya menghantam dada keras Rafhael.
            “Buruan bangun!” geram Rafhael.
            Chika cepat-cepat menyingkir ke samping dan duduk menatap serba salah ke arah Rafhael. Ia menatap cemas Rafhael yang mulai duduk sambil meringis. Aduh, apa yang sudah ia lakukan? Lagi-lagi ia membawa kesialan buat Rafhael. Padahal Rafhael sudah sering sekali membantunya keluar dari masalah-masalah yang ia buat. Tapi apa yang ia berikan pada cowok itu selain nasib sial? Huhu, Chika merasa bersalah banget.
            “Rafha maaf... Chika nggak sengaja, sumpah! Chika nggak maksud buat jatuh kok!!” kata Chika.
            Rafhael mnggerak-gerakkan bahunya, memeriksa apakah ada luka serius, kemudian memeriksa kepalanya. Ada benjolan yang lumayan besar yang membuatnya langsung meringis ketika disentuh. Chika seketika memucat.
            “Astaga, maaf banget! Pasti sakit ya? Ayo, Chika obatin di UKS!!” seru Chika panik. Ia berlari ke arah gudang, meletakkan si kucing ke dalam sebuah kardus lalu kembali pada Rafhael. Ia membantu Rafhael bangun dengan hati-hati kemudian menarik cowok itu ke UKS seolah-olah Rafhael tak sanggup jalan sendiri.
            “Gue bisa jalan sendiri!!” sentak Rafhael. “Gue cuma benjol tau, bukannya sekarat!”
            Tapi Chika tak mengindahkan semua protes Rafhael dan terus menyeretnya ke UKS. Bahkan ia dengan hebohnya mendobrak UKS dan minta obat pada guru UKS. Yang pada akhirnya memberikan kompres dingin pada Chika untuk mengompres benjol di kepala Rafhael.
            “Ayo nunduk!! Biar gue bisa ngompresnya!” kata Chika.
            “Gue bisa sendiri!” sahut Rafhael dan merebut kompres dari tangan Chika.
            Ia tak bisa memercayai kemampuan cewek itu dalam mengobati tanpa menambah luka yang lain. Chika duduk dan memperhatikan Rafhael yang mengernyit ketika menempelkan kompres di bagian belakang kepalanya. Chika masih tampak khawatir, tapi tidak separah tadi. Dan ketika guru UKS menanyakan kenapa mereka bisa tampak berantakan dan kotor begitu, Chika dengan senang hati menceritakannya. Guru UKS cuma geleng-geleng kepala dan meninggalkan mereka. Chika kemudian mengelilingi ruangan dan melihat-lihat isi kotak P3K.
            “Lo ada luka?” tanya Rafhael.
            Chika menoleh. “Ng… Nggak sih kayaknya. Selain yang sempat dicakar si kucing tadi,” sahut Chika sambil menunjukkan punggung tangannya. Terdapat bekas cakar kucing di sana.
            Rafhael meletakkan kompresnya dan berjalan menghampiri Chika. Ia mengeluarkan cairan pembersih luka, obat dan perban. Kemudian tanpa bicara apa-apa dia mulai mengobati luka Chika.
            Chika menatap kagum hasil kerja Rafhael ketika Rafhael kembali mengompres kepalanya.
            “Wahh… Chika aja belum tentu bisa serapi ini,” komentar Chika
            “Udah gue duga,” gumam Rafhael.
            Kemudian setelah kepalanya membaik, Rafhael pun meninggalkan UKS, Chika mengekor di belakangnya. Menanyakan apakah ada yang bisa dilakukannya guna menebus kesalahannya tadi.
            “Berhenti berulah. Menjauh dari masalah. Cuma itu yang bisa lo lakuin!” sahut Rafhael serius, kemudian meninggalkan Chika.
            Chika memandang kepergian Rafhael dengan sedih. Lagi-lagi ia membuat Rafhael marah. Kenapa ia tak pernah membuat Rafhael senang? Cowok itu tak pernah tersenyum, apalagi tertawa jika ada di dekatnya. Padahal Chika ingin sekali berteman dengan cowok itu. Chika menghela napas. Ia berjalan ke arah yang berlawanan dengan Rafhael. Dengan perasaan sedih yang tidak ia inginkan.
            Sementara itu, Rafhael jadi kepikiran ketika ia telah cukup jauh dari Chika. Apakah kata-katanya tadi kelewat kasar? Mungkin tak seharusnya ia berkata seperti itu pada Chika. Bagaimana pun, bukan salah cewek itu jika ia terpeleset kan. Tapi sisanya memang karena ulah Chika. Jika saja cewek itu tidak memanjat pohon hanya untuk menolong seekor kucing, ia tidak akan terjebak tanpa tau cara turun, dan Rafhael takkan perlu menolongnya.
            Tapi kalau dipikir-pikir percuma juga mempermasalahkannya. Toh, semua udah terjadi. Lagipula Rafhael ragu Chika akan membiarkan seekor kucing ketakutan di atas pohon. Rafhael menghela napas. Cewek itu terlalu polos dan lugu. Hatinya pasti sangat lembut. Bahkan meskipun hal itu justru malah membuat cewek itu terlibat banyak masalah.
            Yah, Rafhael tak akan ambil pusing. Itu masalah Chika. Ia tak perlu memikirkan cewek itu. Ia cuma berharap berada di tempat lain ketika cewek itu sedang membuat atau terlibat dalam masalah. Yang selama ini belum pernah dikabulkan oleh Tuhan. Mungkin sudah nasibnya sesial itu. Ada di tempat dan waktu yang salah.
***

2 komentar:

  1. next ai, akuggemar cerita kamu. Aku suka cerita cerita kamu. :)

    BalasHapus