Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 3 : ADDICTED TO LOVE #12 END


Rafhael segera tancap gas. Untungnya ia bisa menemukan Chika tengah berjalan menuju halte. Rafhael menghentikan motornya dengan tiba-tiba tak jauh di belakang Chika dan mengejar cewek itu. Rafhael berhasil menarik lengan Chika hingga cewek itu berhenti.
            “Mau ke mana lo?! Urusan kita belum selesai!!” kata Rafhael marah.
            Chika berbalik dengan kaget, lupa kalau masih menangis. Seketika Rafhael langsung pucat pasi dan melepaskan cengkeramannya. Sebagai gantinya ia menangkup kedua belah pipi Chika dengan kedua tangannya.
            “Kenapa? Ada yang sakit? Kenapa lo nangis???” tanyanya panik. Kemarahannya lenyap seketika karena itu pertama kalinya ia melihat Chika menangis.
            Chika tampak bingung. Ia menatap Rafhael dengan aneh. “Ke... kenapa elo di sini?” tanyanya sesenggukan.
            “Ya, gue ngejar elo,” kata Rafhael bingung
            “Tapi… kenapa lo ngejar gue?” tanya Chika lagi.
            “Ya... gue ngejar elo karena... karena elo pergi!” sahut Rafhael kehabisan jawaban. Seketika ia melupakan apa tujuannya mengejar Chika.
            Chika mendengus. “Nggak masuk akal! gue udah gede, gue bisa pulang sendiri!” ketusnya sambil menghapus air matanya. “Kenapa lo nggak balik aja ke tempat Karen dan selesaikan apapun urusan kalian? Lo kan nggak punya kewajiban buat nganterin gue pulang,” kata Chika sambil melanjutkan perjalanannya ke halte yang tinggal beberapa puluh meter lagi.
            Belum ada selangkah Chika bergerak, kembali tangannya ditarik oleh Rafhael. Chika menepiskan tangan Rafhael dan melangkah lagi. Tapi kembali dihalangi oleh Rafhael.
            “Mau lo apa sih?” tanya Chika lelah. “Gue mau pulang, Rafha,” katanya lagi. “Lo yang bilang supaya gue nggak ikut campur urusan elo. Lo juga kan yang nyuruh gue menjauh. Sekarang ijinin gue pergi…”
            “Gue nggak ngijinin lo pergi!” kata Rafhael dengan arogannya.
            “Kenapa? Lo kan udah punya Karen... Dia cantik, baik, humoris,” kata Chika.
            “Tapi dia nggak telmi dan lemot! Dia nggak bikin gue terlibat dalam banyak hal-hal konyol. Dan yang terpenting dia bukan elo,” kata Rafhael.
            “Kenapa?” tanya Chika lagi.
            Rafhael terdiam. Dia memejamkan matanya sejenak untuk mengumpulkan semua emosi dan juga pikirannya. Dia tak diberi banyak waktu buat berpikir. Jadi Rafhael tidak mau mengacaukan semua yang ia pikirkan masak-masak dan yang akan dia katakan pada Chika. Kemudian Rafhael membuka mata dan menatap Chika.
            “Karena gue sayang, cinta, dan nggak mau kehilangan elo,” kata Rafhael.
            Chika kehilangan kata-kata. Meski Karen menyuruhnya untuk bersikap pasrah dan pura-pura jual mahal agar Rafhael mengakui perasaannya, tapi mendengar nada sungguh-sungguh dalam suara Rafhael, Chika langsung luluh. Seketika dia langsung menangis lagi.
            “Eehhh, apa gue salah ngomong? Kok lo malah nangis sih?? Lo nggak suka kalau gue ngomong gitu??” tanya Rafhael panik. Ia biasa menghadapi cewek yang berteriak bahagia, marah-marah, bahkan ngambek, tapi ia paling tidak bisa jika menghadapi cewek yang menangis!!
            Chika menggeleng-gelengkan kepalanya tapi tetap terisak-isak.
            “Terus kenapa?? Kok lo malah nangis?? Gue kan nyatain cinta sama elo,” kata Rafhael. Ia bingung harus bagaimana. Pada akhirnya dia hanya memeluk Chika dan membiarkan Chika menangis.
            “Aduh, Chi, lo jangan nagis donk... Gue jadi merasa jadi orang yang brengsek nih... Gue tau gue banyak salah. Gue udah ngomong kasar sama elo. Gue udah sering nyakitin elo baik sengaja atau nggak sengaja. Gue… gue minta maaf… Gue harap lo mau maafin gue...” kata Rafhael sambil mengusap-usap punggung Chika.
            “Gue… gue juga sayang sama elo,” isak Chika lirih.
            “Hah??” sahut Rafhael takut salah dengar
            Chika mendongak dan menatap Rafhael. “Gue juga sayang sama elo... Tapi gue nggak tau sejak kapan,” kata Chika.
            “Gue pikir sejak awal,” kata Rafhael. “Anak-anak pada bilang gitu,” tambahnya.
            “Chika nggak tau. Tapi pas lo nyuruh gue menjauh, gue sedih banget sampai gue ngerasa sesak. Gue nggak tau kenapa lo marah. Apa waktu itu gue ada salah sama elo?” tanya Chika dengan amat sangat polos. Membuat Rafhael bingung antara ingin mencekiknya atau malah menciumnya. Tapi akhirnya tak ada yang ia lakukan selain menatap Chika. Chika tidak menggodanya, cewek itu benar-benar ingin tau. Rafhael pun memeluknya dan menopang dagunya di atas kepala Chika.
            “Lo nggak salah apa-apa. Semua salah gue yang terlalu bingung sama perasaan gue. Sorry, Chi, gue udah bikin lo sakit hati,” kata Rafhael pelan.
            Chika menggeleng-geleng. “Elo nggak salah. Lo kan lagi bingung. Tapi…” kata Chika.
            Rafhael menarik diri dan menatap Chika. “Tapi apa?”
            “Apa sekarang lo udah nggak bingung lagi?”
            Rafhael terdiam sejenak, kemudian tersenyum. “Gue rasa gue udah nggak bingung.”
            “Lo rasa?” tanya Chika.
            “Gue yakin gue udah nggak bingung lagi,” ralat Rafhael.    
            Chika balas tersenyum dan kembali menyurukkan wajah di dada Rafhael. Rafhael menikmati saat-saat tenang itu. Akhirnya ada juga hal benar yang ia lakukan. Dulu dia membiarkan Karen pergi. Tapi sekarang, ia takkan membiarkan Chika pergi. Ia sudah memutuskannya.
            “Rafha, lo belum mandi ya?” tanya Chika sambil menarik diri dan mngernyit.
            Rafhael bengong sesaat dan mendengus. Astaga, haruskah Chika merusak moment indah mereka secepat itu?
            “Seharian kan gue nyariin elo, Chi,” kata Rafhael gemas. Ia menangkup kedua pipi Chika dan menatap Chika dalam-dalam. Kemudian dengan perlahan ia menundukkan wajahnya. Tinggal beberapa senti lagi hingga ia bisa merasakan bibir Chika sebelum tangan Chika mendorongnya. Ia hendak memprotes ketika tak ada sedetik kemudian Chika bersin-bersin hebat.
            “Astaga, lo kena flu ya??” tanya Rafhael terperangah. Terlalu bingung mencari komentar lain.
            Tapi Chika cuma bersin dan bersin lagi. Rafhael menghela napas. Apa boleh buat deh. Memang belum nasibnya. Rafhael melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Chika.
            “Ya udah, pulang yuk,” ajak Rafhael.
            Chika mengangguk dan bersin lagi. “He’eh... Hattciihmm... Ayo, pulang... Chika mau... hat... hattchimm... tidur...” kata Chika di sela-sela bersinnya.
            Rafhael memutar bola matanya dan menuntun Chika ke motornya. Ia membantu Chika naik, kemudian terdiam sejenak untuk memperhatikan Chika. Hidung Chika memerah karena bersin-bersin tadi. Matanya juga agak sembab karena menangis. Tapi di mata Rafhael, Chika tetaplah Chika. Cewek yang membuatnya jatuh hati tanpa ia sadari. Ia kemudian mencondongkan tubuhnya dan mengecup kening Chika.
            “Moga cepat sembuh, ya, Sweetheart,” kata Rafhael lembut. Chika langsung tersipu-sipu. Rafhael kemudian mengantar Chika pulang.
                                                                        ***
            Karen tengah menyesap secangkir teh hangat ketika ponselnya yang ia letakkan di atas meja berdering. Ia mengangkatnya dengan santai.
            “Ya, Karen si Cupid di sini,” kata Karen.
            Terdengar suara dengusan geli. “Gue bukan mau dengar lelucon lo. Gimana?” tanya Jeremy.
            Karen menyeruput tehnya pelan sebelum menjawab. “Semua beres. Tinggal Rafhael aja yang harus menyelesaikannya.”
            “Yah, berarti gue nggak sia-sia nonjok dia,” kata Jeremy.
            “Oh, jangan mulai memuji diri sendiri deh,” kata Karen. “Yang penting semua bahagia kan,” katanya kemudian.
            “Ya,” sahut Jeremy.
            Setelah meletakkan ponselnya ke atas meja, Karen menatap langit malam yang sangat indah. Bulan bersinar indah dan dikelilingi oleh banyak taburan bintang. Bersyukur bisa menikmatinya dan berdoa semoga semua berjalan semestinya. Setiap orang berhak merasa bahagia.
                                                                        ***
            Cinta bisa datang dan pergi sesuka hatinya. Tapi jangan sekali-sekali membiarkannya menunggu terlalu lama. Kejarlah ia bila kau yakin dia memang untukmu karena ia takkan mau menunggu lebih lama lagi...


~ SELESAI ~

1 komentar:

  1. wkwkwkwk hrrhhrhr Cika tuhhhhh lemoot banget yahhhhh
    ampunnn deghhhh
    hrhrhrhrrhhrhr

    Request :
    Oh iya Aq suka cerita2 kamu yang ada di watty juga lhhoooo
    bikin dong cerita yang agak dewasa yang ceritanya agak complicated
    maksudnya selain teenlit gitu
    hehehehe

    BalasHapus