Senin, 15 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 1 : LOVE IS YOU #7


Samuel sedang ngumpul-ngumpul bareng Rafhael dan Jeremy di kelasnya yang terbilang cukup sepi ketika Keisha menyerbu masuk dengan ketenangan yang anggun dan terkesan berbahaya. Samuel langsung duduk tegak. Dia tau ada yang akan terjadi jika teman Linzie yang satu ini sampai menghampirinya. Terlihat Chika juga ikut di belakangnya.
            Berbeda dengan reaksi Samuel yang langsung waspada, kedua temannya justru tampak tertarik. Setidaknya Jeremy tampak cukup tertarik ketika memperhatikan Keisha berdiri tepat di depan Samuel, tatapannya cuma tertuju pada Samuel. Hmm, Jeremy bertanya-tanya apa yang akan dilakukan cewek itu pada Samuel jika dilihat dari ketenangan wajahnya yang palsu. Sementara Rafhael tampak setengah tertarik setengah mengerang ketika melihat Chika. Hal itu juga tak luput dari perhatian Jeremy.
            Samuel mengerling ke arah teman-temannya yang sama sekali tak membantu. Jeremy melipat kedua tangan di depan dada dan memperhatikan dengan intensitas berlebihan, pada Keisha kalau boleh Samuel tambahkan dengan pahit. Sementara Rafhael terdengar mengerang dan tampak mau pergi, yang setelah Samuel amati, penyebabnya tak lain tak bukan adalah Chika. Sepertinya ada yang membuat Rafhael sangat anti pada cewek itu. Tapi Samuel tidak punya waktu memikirkannya lebih jauh, karena ia harus memusatkan perhatiannya pada Keisha.
            “Ada apa lo ke sini, Kei?” tanya Samuel tenang.
            “Gue pikir lo tau kenapa gue datang ke sini,” sahut Keisha.
            Samuel mendesah. “Ya, kayaknya gue tau,” gumamnya pelan.
            Keisha menumpangkan tangan di atas meja dan memajukan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Samuel. “Linzie berubah,” kata Keisha tenang. “Dan sepertinya lo tau lebih banyak apa penyebabnya. Seorang cowok baru-baru ini mendekati dia, bersikap selayaknya benar-benar tulus dan membuat Linzie perlahan percaya sama cowok itu. Kemudian, suatu ketika cowok itu ‘nembak’ Linzie. Tapi jelas bukan itu maksud awal cowok itu, dan Linzie tau ada yang tidak pas. Akhirnya ketika Linzie menuntut kejujuran dan mengatakan dugaannya, cowok itu nggak menyangkal. Nah, menurut lo gimana?” papar Keisha panjang lebar.
            Kalau tidak sangat kaget, maksimal Samuel tercengang. Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Keisha ucapkan padanya! Wow, berarti cewek itu betul-betul marah atas nama sahabatnya.
            “Tapi gue rasa lo pasti juga setuju sama gue,” kata Keisha lagi, tanpa menunggu tanggapan Samuel. Ia menegakkan tubuhnya. “Tuh cowok pasti sangat pengecut hingga mengakui kesalahannya aja dia nggak berani. Dan sekarang sahabat gue menderita karena kebohongan cowok itu,” kata Keisha. “Kalau bisa sih gue pingin minta bantuan lo buat menghajar cowok itu. Seenggaknya menurut gue, lo cukup peduli sama Linzie beberapa minggu belakangan ini,” kata Keisha. Samuel nyaris tak bisa menahan erangan dan sumpah serapahnya.
            Keisha mendesah dramatis. “Tapi sayang, kayaknya lo nggak bisa gue andalkan! Karena lo ternyata sama pengecutnya dengan cowok itu!”
            Chika menambahkan. “Sumpah, Chika pingin bikin cowok itu babak belur!” yang langsung disahuti oleh dengusan Rafhael.
            “Mau ngehajar pakai apa lo?” gerutunya
            “Pakai tangan,” sahut Chika lugas, seolah bumi memang bulat dan langit itu biru, yang membuat Rafhael kembali mendengus.
            Mengabaikan percakapan singkat Rafhael dan Chika, Samuel menatap Keisha. “Kei, gue nggak bermaksud nyakitin Linzie. Gue tau, gue salah, dan gue minta maaf untuk itu,”kata Samuel, menelan harga dirinya bulat-bulat ketika tidak punya pilihan lagi.
            “Oh! Lo nggak usah minta maaf sama gue! Lo buat salah apa sama gue? Lo kan nggak mainin perasaan gue?” sindir Keisha tanpa ampun.
            “Gue tetap harus...”
            “Bukan sama gue, brengsek!” potong Keisha sambil meraih kerah seragam Samuel, menunjukan emosinya yang sejak tadi ia sembunyikan. Membuat alis Jeremy terangkat. Rupanya cewek itu punya kosa kata yang menarik, selain bicara tanpa emosi tadi.
            “Dan kalau lo masih punya nyali, lebih baik lo berusaha minta maaf sama sahabat gue! Lalu enyah jauh-jauh! Atau gue nggak bakal tinggal diam,” kata Keisha sambil menyentakkan tangannya, kemudian ia berbalik dan meninggalkan kelas Samuel.
            Chika mengikutinya. “Pengecut!” cibir cewek mungil itu sebelum mengejar Keisha.
            Samuel langsung mengacak-acak rambutnya dan menelungkup di atas meja. Ia mengerang frustasi.
            “Lo punya kenalan yang menarik,” kata Jeremy merasa terhibur.
            “Lo tertarik? Sama yang mana? Gue harap bukan si kecil bawel itu!” kata Rafhael. “Dia nyaris bikin gue gila gara-gara ocehannya!” gerutu Rafhael. “Tapi yang satu lagi pun sama aja!” tambahnya.
          “Kalian berdua bisa diam nggak sih?! Gue lagi dalam masalah dan lo malah berdebat soal cewek-cewek itu?!” teriak Samuel frustasi. “Bisa gila gue lama-lama!” kemudian ia bangkit dan pergi meninggalkan Rafhael yang menggerutu dan Jeremy yang cuma, lagi-lagi, menaikkan alisnya.
                                                                        ***
            “Sumpah, Zizi, kalau lo nggak niat kerja, mending pulang deh! Kakak nggak mau cafe hancur!” hardik Daniel untuk yang kesekian kalinya siang itu.
            “Niat kok! Niat!” sahut Linzie tidak jelas.
            Setelah menghela napas panjang, Daniel berbalik, hendak menuju ruangannya ketika terdengar suara gelas pecah (lagi).
            “ZIZI!!!” suara Daniel menggelegar, membuat Linzie langsung angkat kaki dari cafe.
            Sambil menggerutu Linzie menuntun sepedanya di trotoar. Hari ini Linzie sudah memecahkan rekor cerobohnya, gelas terakhir tadi adalah gelas kelima yang Linzie pecahkan, tak heran kalau Daniel mengusirnya.
            “Linzie, lo nih kenapa sih?!” gumamnya. “Kenapa seorang cowok bisa bikin lo kacau sih? Dipikir sejuta kali juga nggak akan ada yang berubah! Cowok brengsek tetap cowok brengsek!!” lanjutnya kepada diri sendiri. Kemudian dia menghela napas. Ngomong sendirian, tampaknya dia mulai gila.
            Linzie merasa dirinya sudah diambang batas kewarasan. Entah sudah berapa orang yang ia buat kesal belakangan ini. Bahkan tempo hari dia sempat bikin ribut sama preman yang mau malakin dia dan Chika di halte. Syukur Chika jejeritan sehingga bala bantuan berdatangan, kalau tidak, Linzie nggak tau deh apa yang bakal terjadi. Mungkin aja dia udah terbaring di rumah sakit, atau bahkan dilecehkan! Hiieeyy… pikiran itu membuat Linzie bergidik. Kemudian Linzie ingat ia juga akan melewati halte. Ugh... Linzie cuma bisa berdoa agar nggak ketemu preman-preman yang kemarin!
            Semakin mendekati halte, semakin Linzie memelankan langkahnya. Linzie mengumpat ketika doanya ternyata tak terkabul. Setidaknya sekarang si preman cukup pintar karena nongkrong bersama temannya. Linzie nggak mungkin bisa lewat dengan selamat kalau preman itu masih ingat wajahnya. Sial, mana lagi sepi! Apa balik aja ya? Linzie berhenti dan menimbang-nimbang. Kayaknya kabur lebih aman deh! Linzie pun langsung balik arah ketika preman-preman itu menyadari keberadaannya.
            “Woi!! Tuh dia!” seru preman yang kepalanya botak.
            Linzie langsung naik ke sepedanya dan mulai mengayuh dengan sekuat tenaga! Dalam hati terus memanjatkan doa agar bisa sampai di cafe sebelum tertangkap. Tapi yang namanya sial, ya nggak bisa dianggap remeh, Linzie tertangkap sebelum mencapai cafe, padahal tinggal 200 meter!
            “Nah, kita ketemu lagi ya, Neng,” ujar si Botak menyeringai.
            “Oh, jadi lo nyariin gue? Belum kapok lo ya?! Gue bisa teriak lebih kencang dan orang-orang bakal datang!!” gertak Linzie.
            “Jelas nggak mungkin atuh, Neng!” sahut preman yang satunya, yang wajahnya brewok.
            Kemudian si Brewok melompat dan menangkap tangan Linzie. Linzie menjerit dan langsung melayangkan tasnya ke wajah si Brewok. Tapi preman yang satu lagi langsung mencekal lengan Linzie dan memelintirnya ke belakang.
            “Dasar pengecut!! Kalian beraninya sama cewek ya?! Keroyokan lagi!! Lepasin gue!! Preman jelek!” teriak Linzie.
            “Neng, mulutnya berisik ya?” sahut si preman kesal sambil membungkam mulut Linzie. Yang langsung saja membuat Linzie makin menjadi dan menendang ke sana kemari hingga mengenai selangkangan si preman. Si preman langsung berteriak dan melepaskan Linzie.
            “Toloooong!!!” teriak Linzie heboh.
            “Brengsek!!” maki si Brewok.
            “Woi!!!” sebuah seruan marah membuat Linzie dan para preman itu menoleh.
            Linzie langsung berbinar, kemudian agak kesal, tapi terpaksa bungkam karena harga dirinya yang terluka. Samuel, berdiri tak jauh dari tempat Linzie dan kini cowok itu tengah berlari ke arah Linzie.

Selasa, 02 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 1 : LOVE IS YOU #5


Belakangan, hubungan Samuel dan Linzie makin dekat. Linzie sendiri kaget karena Samuel tidak pernah mengungkit-ungkit kejadian ketika ia menangis di depan cowok itu. Justru sikap Samuel semakin sopan. Dia tak lagi bersikap genit, hanya sesekali melempar kata-kata menggoda dan menghibur, yang sering kali membuat Linzie tersenyum atau bahkan tertawa. Linzie terkejut karena dirinya bisa tertawa bahkan bersikap santai didekat Samuel. Padahal Linzie tau kalau Samuel itu playboy, hanya saja, Linzie tak pernah lagi melihat cowok itu bergenit-genit ria dengan cewek-cewek yang mendekatinya.
            Samuel memang tetap ramah, tapi hanya sebatas itu. Tak ada lgi kata-kata manis merayu yang terlontar dari mulut cowok itu. Linzie pernah mengira kalau Samuel sakit, dan ketika ia mengutarakan hal itu, ia malah ditertawakan oleh Samuel.
            “Gue nggak sakit. Tapi gue cuma bakal ngerayu elo. Supaya elo cepat-cepat ngasih gue lampu hijau, nggak mentok di lampu kuning aja,” kata Samuel ketika itu. Sukses membuat pipi Linzie terbakar.
            Kali lainnya, Samuel dengan manisnya memberikan sekotak cokelat pada Linzie. Lalu pernah juga menawarkan diri untuk membantu di cafe Daniel. Linzie sempat membayangkan Samuel jadi waitress atau bartender di cafe kakaknya, pasti akan terjadi huru-hara deh. Jadi cepat-cepat ia menolak. Bukannya marah, Samuel hanya mengangkat bahu.
           Siang itu, Linzie, Keisha dan Chika sedang belajar di cafe Daniel. Di tempat langganan mereka, sofa pojokan.
            “Jadi sekarang lo malah jadi dekat sama Sam?” kata Keisha, dengan mata masih tertuju pada buku paketnya.
          Linzie mengernyit, tapi tetap mengangguk. “Ya, gue rasa begitu. Dia kelihatan tulus mau berteman sama gue,” kata Linzie
            “Bukannya dia niatnya ngejadiin lo ceweknya? Udah berubah pikiran?” tanya Keisha lagi.
            “Nggak juga sih. Dia masih sering membahas hal itu,” kata Linzie, kemudian menghela napas. “Tapi gue nggak mau. Gue belum siap untuk percaya sama cwok sampai sebesar itu. Gue cuma bisa menawarkan pertemanan.”
            “Tapi? Perasaan lo ke dia gimana?” tanya Keisha lagi, kali ini matanya menatap Linzie.
            “Perasaan gue? Kenapa lo pingin tau perasaan gue?” Linzie terdiam sejenak kemudian mengalihkan pandangannya. “Gue jelas nggak punya perasaan apa-apa sama dia,” sahutnya pelan.
            Keisha menatap Linzie sejenak, kemudian beralih kembali pada buku. Namun jelas-jelas ia tak percaya pada kata-kata Linzie.
            Kemudian Linzie mengalihkan tatapannya pada Chika yang sedang memesan minuman di bar pada Indra. Ia tampak sedang mengobrol seru. Lalu pintu cafe terbuka dan Samuel serta Rafhael muncul. Saraf Linzie langsung kaku. Ia seketika menunduk dan menyibukkan diri dengan bukunya. Astaga, ngapain coba tuh cowok ke sini? Dan astaga kuadrat, kenapa Linzie malah pingin ngumpet?
            Chika masih asik ngbrol dengan Indra sehingga tidak menyadari kehadiran dua cowok keren itu.
            “Chi, Linzie mana?” pertanyaan Samuel itu membuat Chika melonjak kaget.
            “Astaga, Sammy!! Lo bisa kok nggak ngagetin Chika! Jantung Chika mau loncat tau!!” omel Chika.
            Samuel meringis mendengar suara nyaring Chika. Ia mengerling peda Rafhael yang menaikkan alis terkejut. Samuel menyeringai, tampaknya ada orang lain yang juga merasa jengkel dengan teman Linzie yang satu ini.
            “Sorry, Linzie mana? Kebetulan gue lewat nih,” kata Samuel.
            “Zizi? Tuh di belakang sama Kei. Lagi belajar. Ini Chika lagi ambil minum,” kata Chika santai. Kemudian dia menatap Rafhael. Dan Samuel lalu mengenalkan mereka.
            “Ohh, lo punya teman yang cakep-cakep ya! Gue taunya cuma dari gosip atau cerita Zizi sih. Tapi ternyata memang beneran,” kata Chika riang sambil melempar senyum ke arah Rafhael. “Oh iya, Zizi!” kata Chika teringat. Kemudian ia menoleh ke arah bilik di pojokan.
            Samuel langsung mengerling Rafhael dan menyuruh cowok itu tutup kuping.
            “Kenap…?” belum selesai pertanyaan Rafhael, seruan Chika sudah terdengar. Membuat telinganya berdenging. Untung café cukup sepi.
            “Ziziiiiii!! Ada Sammy niiih!!” seru Chika.
            Samuel menyeringai melihat Rafhael mengerjap-ngerjapkan mata, kelihatan sedang mengumpulkan nyawanya yang terbang entah ke mana. Kemudian mendengar cowok itu menggerutu agar memperingatkannya lebih awal.
            Linzie yang dengan enggan pun menemui Samuel. Ia setengah cemberut. “Chi... lo kalau mau bikin semua orang di sini budek, mending pulang aja deh!” sungut Linzie.
            “Ups… maaf... Gue lupa, hehe,” kata Chika cengengesan.
            Kemudian Chika meninggalkan Linzie dengan santainya. Menghampiri Keisha yang menatap penuh arti ke arah Linzie.
            Setelahnya, Linzie terpaksa mengobrol bersama Samuel. Memaksa Keisha dan Chika bergabung bersama mereka. Tapi tak berapa lama, Keisha mengundurkan diri. Kemudian Chika juga ikut-ikutan. Tapi Linzie menahan agar Chika pulang dengannya. Atau nebeng sama Indra. Chika sih oke-oke aja, jadi dia tak sadar telah menjadi pengganggu PDKT Samuel.
            “Gue kira udah lebih lancar,” komentar Rafhael. Yang mendapat hadiah lirikan ganas dari Samuel.
            “Apanya yang lancar?” tanya Chika.
            “Bukan apa-apa,”sahut Samuel sambil menatap penuh arti pada Rafhael.
            “Oke, gue pulang deh! Kayaknya gue mengganggu,” kata Rafhael.
            Chika menatap bergantian ke arah Rafhael yang sudah bangkit dan tatapan Samuel yang penuh arti. Butuh waktu lama bagi Chika untuk mengerti isyarat Samuel. Kemudian dia juga pamit pulang. Tak mengindahkan kata-kata Linzie dan bilang akan menyetop taksi untuk pulang. Kemudian dengan berisiknya dia kabur. Linzie mengutuk dalam hati. Berjanji akan membuat perhitungan nanti.
                                                                        ***
            Chika yang sebenarnya tidak mengerti-mengerti banget dengan situasi tadi, berdiri di pinggir jalan menunggu taksi lewat. Ia mengayunkan kaki kanannya maju mundur untuk menghabiskan waktu. Ah, coba tadi pulang bareng Keisha. Chika jadi menyesal.
            Kemudian sebuah motor berhenti di depan Chika. Begitu si pengendara motor membuka kaca helmnya, baru Chika mengenali itu Rafhael.
            “Wah, Rafha! Lo naik motor ya?” kata Chika. Ia memperhatikan motor Rafhael dengan penuh minat. Ia belum pernah naik motor sih.
            “Lo ngapain di sini?” tanya Rafhael, padahal jawabannya sudah jelas.
            “Nunggu taksi,” sahut Chika polos. Sebagai bukti, dia langsung nengok kanan-kiri. “Abis tadi gue lihat kayaknya Sammy pingin ngomong berdua sama Zizi. Jadi gue ikut undur diri deh!” kata Chika. Lalu ia bertanya pada Rafhael mengenai arti isyarat Samuel tadi.
            “Gue pikir dia mau ngomong hal yang pribadi,” sahut Rafhael.
            Mata Chika membulat. “Oh ya?? Wah... waahhh...” Chika tampak berbinar-binar. “Untung deh gue pulang!” kata Chika. Kemudian ia mengerutkan kening dan menatap Rafhael. “Lo kok masih di sini?” tanyanya bingung.
            Buseet dah! Nih cewek kayak bunglon aja. Cepat banget ganti ekspresinya, batin Rafhael.
“Gue tadi udah mau pulang, terus gue lihat lo lagi berdiri di sini. Gue pikir lo mau gue anterin pulang?” kata Rafhael.
            “Nganterin Chika??” tanya Chika. “Tapi ngerepotin donk? Rumah Chika nggak dekat lho,” kata Chika.
            Rafhael menanyakan alamat rumah Chika, kemudian Chika menyebutkan alamatnya.
            “Gue searah sama elo. Rumah gue daerah situ juga,” kata Rafhael. “Ayo naik! Sekalian gue anterin deh!”
            “Gue belum pernah naik motor,” kata Chika.
            “Nggak ada aturan khusus!” kata Rafhael, kemudian dia terpaksa menjelaskan secara singkat pada Chika agar cewek itu tidak banyak tanya. Tapi belakangan Rafhael mulai menyesal menawarkaan diri karena ternyata Chika sangat bawel!! Dia terpaksa menahan gondok ketika Chika tak henti-hentinya bertanya-tanya padanya. Sumpah, Samuel hutang budi padanya karena telah membantu menyingkirkan makhluk ini di saat-saat kritis tadi.
            Sementara itu di dalam cafe, keheningan merebak ketika Chika dan Rafhael pergi. Linzie berusaha terlihat santai dengan memain-mainkan sedotannya dan mengalihkan perhatiannya ke arah bar. Tempat Indra sedang mengelap gelas. Linzie jadi tergoda untuk membantunya, asal bisa lepas dari keharusan berduaan dengan Samuel.
            “Zi,” panggilan Samuel membuat Linzie keluar dari pikirannya.
            “Ya?” sahut Linzie.
            “Boleh gue to the point?” tanya Samuel.
            “To the point soal apa?” kening Linzie berkerut. Ditatapnya Samuel dengan tatapan waswas. Membalas tatapan serius Samuel.
            “Gue mau tau gimana perasaan lo ke gue,” kata Samuel. “Sejak awal gue kan udah menunjukkan maksud gue sama elo. Sekarang gue ingin kepastian dari lo,” kata Samuel, sama sekali tidak mengalihkan tatapannya dari Linzie.
            Ia sudah mempertaruhkan semua kartunya di sini. Ia takkan mau gagal hanya karena Linzie tidak yakin padanya. Ia sudah menghabiskan waktu sebulan untuk mendekati Linzie, dan ia mulai tak sabar. Ia tak suka ketika teman-temannya terus mendesaknya bertindak. Lagipula Linzie jauh lebih baik dari yang Samuel harapkan. Tak apa jika memang ia harus nembak cewek itu. Toh, selalu ada yang pertama dalam setiap hal. Dan untuk pertama kalinya seorang Samuel nembak cewek dengan serius begini.
            “Kepastian apa maksud lo?” tanya Linzie hati-hati.
            “Gue mau lo jadi cewek gue, Zi. Gue nggak bisa kalau cuma sekadar teman sama lo,” kata Samuel lugas.
            Mata Linzie membulat maksimal. Apa? Samuel barusan nembak dia? Beneran nembak?? Seorang Samuel?? Linzie sama sekali tak percaya dengan apa yg baru saja didengarnya. Tidak mungkin Samuel serius padanya. Linzie yakin cowok itu cuma main-main selama ini. Tapi ketika Linzie tak menemukan secercah pun keraguan di mata Samuel, kepanikan langsung melandanya. Ia menggeleng.
            “Gue yakin lo nggak serius… Lo nggak mungkin serius sama gue, Sam,” kata Linzie pelan.
            “Kenapa nggak mungkin?” tanya Samuel, sedikit tersinggung.
            “Karena ini elo! Elo nggak pernah serius sama cewek! Elo... selalu menganggap mereka selingan…” Linzie menggeleng-geleng. “Lo nggak mungkin serius... Nggak sama gue…” kata Linzie lemah. Terlalu shock untuk mengatakan hal lainnya yang lebih masuk akal.
            “Kenapa?! Selalu ada yang pertama kali dalam segala hal kan? Dan gue nggak main-main sama elo! Lo bisa lihat usaha gue sebulan ini kan? Lo pikir gue begitu kurang kerjaan sehingga gue mau nguntit elo ke mana-mana??” sahut Samuel tak habis pikir.
            “Tapi lo nggak mungkin serius!!” Linzie bersikeras. “Lo ingat? Lo awalnya menganggap gue ini tantangan!! Lo pasti jadiin gue bahan taruhan kan sama teman-teman lo?! Gue nggak semenyedihkan itu, Sam!!” kata Linzie keras, nyaris mendekati histeris. Ia tak bisa menerima kenyataan kalau Samuel memang serius. Ia tak percaya pada cowok itu.
            Samuel sedikit kaget ketika Linzie nyaris menebak dengan tepat apa rencana awalnya. Sehingga pembenaran itu sempat terlihat di matanya. Samuel menyadari kecerobohannya ketika melihat ekspresi terluka di mata Linzie. Gadis itu bangkit dengan kasar dari kursinya.
            “Gue butuh waktu sendirian. Tolong jangan temui gue sementara ini, Sam... Gue…” Linzie tak menyelesaikan kata-katanya dan langsung pergi ke belakang. Samuel bangkit dan mengejarnya namun Indra menghadangnya.
            “Minggir, gue perlu ngomong sama Linzie,” kata Samuel tajam.
            Indra menggeleng. “Orang luar dilarang masuk. Dan gue lihat Linzie lagi nggak mau diganggu. Jadi sebaiknya lo hormati permintaan dia dan pergi,” kata Indra tegas.
            Rahang Samuel mengencang. Butuh pengendalian diri tinggi untuk tidak menyingkirkan Indra dan membuat kerusuhan di cafe itu. Dengan gigi terkatup rapat ia berbalik dan keluar. Sesampainya di luar, Samuel berteriak frustasi. Ia masuk ke mobilnya dan membanting pintu mobil keras-keras. Ia menggebrak setir mobilnya, emosi.
            “SIALAAAN!!!” teriaknya kesal. Ia cuma ingin membuat Linzie takluk padanya. Itu kan rencananya sejak awal? Tapi kenapa ia merasa marah ketika tau Linzie tak bisa mempercayainya?? Bukankah taruhan itu tak melibatkan kepercayaan??! Lalu kenapa ia harus marah? Kenapa dadanya bergemuruh ketika melihat kepedihan di mata Linzie?
            “Sialll....” kata Samuel lemah. Ia meletakkan kepalanya di atas setir mobil. Merasakan keputusasaan. Apakah yang ia lakukan ini salah? Apa sebenarnya niatnya ketika menyatakan hal itu pada Linzie???
                                                                        ***

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 1 : LOVE IS YOU #4


Samuel dan Linzie sama-sama diliputi kebingungan. Mereka tidak mengerti apa arti reaksi-reaksi yang timbul di antara mereka. Sementara Linzie meyakini kalau dia terkena penyakit aneh, Samuel sebaliknya justru terus meyakinkan kalau semua itu efek karena dia ingin menaklukkan Linzie yang terang-terangan menolaknya sejak awal. Keduanya sibuk berdebat dengan si hati kecil dan akhirnya menyerah untuk mendapat jawaban yang pasti.
            Linzie memutuskan bicara dengan sahabat-sahabatnya mungkin bisa membantu, namun sebaliknya, mereka justru mengatakan hal tidak masuk akal seperti kemungkinan Linzie mulai naksir pada Samuel, yang langsung ditertawakan oleh Linzie. Karena ia yakin ia benci sepenuhnya pada cowok itu. Jadi nggak mungkin kalau sekarang ia jadi naksir.
            “Ingat, gue benci sama playboy!” kata Linzie saat itu.
            Sementara itu, Samuel justru tidak mengatakan apa-apa pada kedua sahabatnya sampai mereka yang bertanya langsung. Karena sudah berminggu-minggu berlalu tapi Samuel belum ada kemajuan pesat. Itu sudah melewati waktu tenggat yang biasa Samuel terapkan. Dan kedua temannya jelas penasaran.
            “Gue masih dalam proses kemenangan! Lo berdua jangan cerewet dulu deh! Tuh cewek hatinya kayak es tau! Pakai rayuan nggak pernah mempan!” kata Samuel jengkel.
            “Atau rayuan lo yang udah hilang kasiatnya??” kata Rafhael memanasi.
            “Maksud lo gue udah nggak mampu gitu?” Samuel tersinggung.
            “Yaa, siapa yang tau kan? Coba kalau gue yang bertindak, pasti deh sekarang tuh cewek udah bertekuk lutut sama gue,” kata Rafhael.
            Membayangkan Rafhael mendekati Linzie membuat Samuel jadi geram. Ia menatap Rafhael dengan tatapan bengis yang mengisyaratkan jangan rebut target gue, yang membuat Rafhael menaikkan alisnya menantang.
            “Cukup, cukup, gue nggak mau rumah gue jadi tempat baku hantam lo berdua,” sela Jeremy. “Rafh, lo cari mangsa lain deh! Biar yang ini Samuel yang tuntasin. Lagian mungkin aja kita bakal lihat hal yang seru kan? Jarang-jarang ini Samuel serius PDKT sama cewek,” kata Jeremy menengahi.
            “Kata siapa gue serius?! Dia nggak ada bedanya sama taklukkan-taklukan gue yang lain!” sahut Samuel panas.
            Alis kiri Jeremy melengkung ke atas, gerakan yang biasa dilakukan cowok itu jika merasa heran. Samuel langsung buang muka ke arah lain. Membuat Jeremy menahan senyum. Ia mengerling ke arah Rafhael yang juga ternyata tengah menyeringai lebar. Mereka berdua tau kalau semakin lama perburuan Samuel makin menarik. Karena sepertinya si pemburu sama sekali tidak sadar sudah melibatkan perasaannya terlalu banyak.
            Beberapa hari kemudian, Samuel sudah ada di depan rumah Linzie. Setelah merayu-rayu selama hampir dua hari, akhirnya Samuel berhasil mengajak Linzie jalan. Malam itu dia berencana mengajak Linzie nonton di bioskop, lalu stelahnya makan di restorantt langganannya. Menurut Samuel, Linzie tampil cantik malam itu. Dibalut pakaian rumahan yang tak berlebihan dan kelihatan nyaman, Linzie duduk di kursi di sebelahnya. Samuel mencuri-curi pandang ke arah cewek itu yang sejak tadi cuma melihat keluar jendela. Bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan cewek itu.
            Sesuai rencana, mereka nonton dan makan di restorantt. Namun Linzie sempat menolak dibayari makan oleh Samuel. Dia bersikeras membayar makanannya sendiri. Samuel pun tak memaksa lebih jauh dan membiarkan Linzie berlaku sesukanya. Usai makan, mereka nongkrong di mall.
            Samuel mengobrol ringan dengan Linzie. Di luar dugaan, ia menikmati date mereka malam itu. Linzie termasuk cewek yang suka mengobrol, di samping sifat juteknya yang selalu membaur dalam setiap kata-katanya. Namun jika cewek itu tertawa, maka kesan juteknya langsung lenyap seketika. Samuel, tanpa direncanakan, merasa terpesona akan pribadi Linzie yang itu. Perlahan-lahan Samuel merupakan rencananya malam itu. Niat untuk membuat Linzie terpikat dengan semua kata dan sikapnya tiba-tiba lenyap ketika Samuel terseret dalam setiap ekspresi Linzie. Linzie memang malaikat. Senyumnya manis dan memabukkan. Sayang senyum itu harus sering disembunyikan oleh sikap sinisnya. Samuel bertanya-tanya apa yang membuat Linzie membentengi dirinya—hatinya—dari orang lain terutama yang bertitel cowok.
            “Pulang yuk. Gue nggak biasa pulang malam-malam,” kata Linzie.
            “Hah? Ini kan baru jam...” Samuel melirik jam tangannya, “…jam 9 malam,” kata Samuel.
            “Mau gimana lagi? Lagian kita udah nonton dan makan seperti yang lo mau kan?” kata Linzie. Dia memperhatikan sekeliling yang ramai dengan pasangan-pasangan yang lagi jalan-jalan atau keluarga-keluarga yang lagi refreshing.
            “Yah…” Samuel tidak tau harus bicara apa.
            “Lagian gue kan udah bersedia jalan sama elo. Memang lo mau apa lagi?” kata Linzie heran. Dia sudah bela-belain nggak ke cafe Daniel, keluar dengan Samuel serta mengambil resiko ‘penyakit aneh’nya akan kambuh jika terlalu lama dekat Samuel. Ditambah lagi kata-kata Keisha yang mengtakan Linzie mungkin naksir Samuel sangat mengganggunya. Mana bisa Linzie terus-terusan bersikap tenang sementara perutnya bergolak tidak karuan? Bisa-bisa dia malah pingsan!
            Lalu, yang tidak bisa Linzie percayai, orang yang sangat tak ingin Linzie lihat lagi, berada tak jauh di depannya. Seketika ekspresi Linzie menegang dan tubuhnya berubah kaku.
            “Biasanya lo ke mana aja kalau malam minggu?” tanya Samuel. Ketika tak ada respon, Samuel mengambil resiko dengan melirik Linzie. Barulah ia menyadari ketegangan di wajah Linzie yang sebelumnya tidak ada.
            “Kenap…” pertanyaan Samuel terpotong ketika sebuah seruan mengalihkan perhatiannya. Samuel memperhatikan seorang cowok yang kini mendekatinya. Ia mulai mengenali cowok itu sebagai mantan kakak kelasnya sekaligus seniornya di klub basket. Kalau tak salah namanya Edwin.
            “Woi, apa kabar lo? Nggak nyangka ketemu di sini ya,” kata Edwin bersemangat.
            “Yah, gue baik,” sahut Samuel sambil melirik Linzie yang sejak tadi menatap ke arah lain.
            Edwin akhirnya mengalihkan perhatiannya dan menyadari kalau Samuel tidak sendirian. “Wah, cewek baru? Kali ini lo serius nggak?” kata Edwin, kemudian tertawa. Samuel menatap tajam sementara Linzie bergeming. Cuma bahunya yang semakin menegang. Samuel mengernyit ketika melihat reaksi Linzie.
            “Linzie?” panggil Samuel ragu.
            “Linzie??” Edwin membeo. Ia maju selangkah di depan Linzie dan menunduk. Dan mendapati tatapan dingin dari Linzie. Edwin langsung menegakkan badannya.
            “Linzie? Linzie! Ya ampun, lo Linzie?? Lo jadian sama Samuel?!” seru Edwin tak prcaya.
            Kernyitan Samuel makin dalam. Linzie dan Edwin saling kenal?
            “Ya ampun! Gue nggak nyangka lo sepolos itu! Rupanya lo emang nggak bisa lepas dari yang namanya playboy ya,” kata Edwin sambil menggeleng tak percaya.
            Linzie menatap Edwin penuh kebencian. “Gue nggak jadian sama Samuel,”desis Linzie.
            “Hmm... Yah, bukan urusan gue sih! Gue kaget aja, gimanapun lo kan pernah…” kata-kata Edwin langsung dipotong oleh Linzie.
            “Itu udah lewat dan nggak perlu lo ungkit! Gue belajar banyak hal dari kejadian itu, kalau lo mau tau. Dan lo nggak usah khawatir, gue nggak akan ngulangin hal yang sama lagi!” tegas Linzie. Ia merapikan roknya dan melangkah pergi.
            Samuel terlalu terkesima untuk segera menghentikan Linzie. Dia menatap Edwin penuh tanya.
            “Hebat lo, Sam! Gue nggak nyangka tuh cewek jatuh ke pelukan lo. Tapi mengingat sifat lo, gue yakin lo bakal bosen sama dia. Dia sama sekali nggak bisa diajak senang-senang,” kata Edwin.
            “Lo kenal Linzie?” tanya Samuel tajam.
            Edwin angkat bahu. “Dia pernah jadi pacar gue,” kata Edwin enteng. “Oke, gue duluan ya! Gue mau ketemu gebetan gue. Lo tenang aja, gue nggak niat sama dia kok! Bye,” kata Edwin dan melangkah pergi.
            Samuel mengumpat. Bingung antara menuntut penjelasan dari Edwin atau mengejar Linzie. Akhirnya ia lebih mementingkan Linzie. Ia berhasil menyusul Linzie di parkiran. Samuel menarik tangan Linzie dan menghentikan langkah gadis itu. Terkejut ketika mendapati air mata mengalir di pipi Linzie. Linzie langsung mengalihkan pandangannya.
            “Zi, lo baik-baik aja? Kenapa lo nangis?” tanya Samuel.
            “Gue nggak nangis!” tukas Linzie.
            Samuel menyentuh dagu Linzie dan mengarahkan wajah Linzie ke arahnya. Kemudian dengan ujung ibu jarinya ia menghapus air mata dari pipi Linzie.
            “Ya, lo nggak nangis,” kata Samuel menyetujui. Hanya agar Linzie tidak menangis lagi. Tapi siapa sangka air mata Linzie malah makin deras dan cewek itu mati-matian menghapusnya. Kemudian seolah tidak sanggup lagi, Samuel meraih Linzie ke dalam pelukannya. Ajaibnya, Linzie tidak menolak atau berontak. Samuel memeluk Linzie makin erat. Bertanya-tanya apakah tangis Linzie ada hubungannya dengan kemunculan Edwin. Tapi Samuel tak bisa bertanya lebih jauh lagi dan malah akan terkesan memaksa Linzie.
            “Kalau lo udah selesai nangis,” kata Samuel, namun ketika Linzie mendongak dan menatapnya kesal, Samuel sadar salah bicara. Kemudian ia langsung meralatnya. “Kalau lo udah tenang, gimana kalau gue antar lo pulang?” kata Samuel. Barulah tatapan Linzie berubah normal dan dia mengangguk.
            Diperjalanan pulang, Linzie mengungkapkan kebenciannya terhadap Edwin. Ketika Samuel bertanya lebih lanjut, Linzie tak mau menjelaskannya dan bungkam.
            Samuel pulang dengan kepala penuh dengan pertanyaan-pertanyaan seputar Linzie dan penyebabnya menangis. Ia pikir hal mengganggu itu akan hilang keesokan harinya, namun malah makin mengganggu hingga Samuel jadi uring-uringan.
            Dan ketika ia sedang mengasingkan diri di perpustakaan, ia justru bertemu dengan teman-teman Linzie. Keisha dan Chika. Samuel langsung merutuk pelan.
            “Ah, Sammy!! Kok lo di sini? Nggak nguntit Zizi lagi??” tanya Chika ceria. Samuel langsung memiliki hasrat untuk mencekik leher cewek itu.
            Kemudian ia membalas tatapan Keisha yang setenang air itu. Mengeluh dalam hati kenapa malah diganggu dua makhluk itu. Namun sebuah pencerahan tiba-tiba menghampirinya. Kenapa tak bertanya pada kedua teman Linzie ini??
            “Lo berdua tau soal Edwin?” tanya Samuel. “Mantan pacar Linzie,” tambah Samuel ketika melihat sebelah alis Keisha terangkat. Membuat Samuel teringat kebiasaan menyebalkan salah satu temannya.
            “Ah!!” seru Chika, membuat Samuel terlonjak. Cowok cute itu nyaris betul-betul tergoda untuk mencekik Chika. Namun bertahan hanya dengan mendelik saja. Untung perpustakaan lagi sepi dan guru penjaganya lagi keluar, kalau tidak pasti mereka sudah diusir keluar.
            “Chika ingat! Edwin itu cowok brengsek! Padahal Zizi setia sama dia dan percaya sepenuhnya sama kata-katanya, tapi Zizi malah diselingkuhin! Bukan cuma sama satu cewek, tapi tiga!!”kata Chika emosi. Namun sifat kekanakannya membuat tuh cewek lebih mirip bocah yang mencoba marah-marah. Tapi bukan itu yang membuat Samuel memusatkan perhatiannya.
            “Apa lo bilang tadi?” tanya Samuel.
            Keisha yang menjawab dengan tenang. “Seperti yang lo dengar tadi. Edwin nyakitin Linzie sampai-sampai Linzie menutup hati dari cowok lain dan bersikap sinis sama cowok manapun. Gara-gara cowok itu, Linzie nggak bisa percaya sama kata-kata cowok lagi.”
            Samuel mencerna semua hal itu dalam diam. Bahkan setelah Keisha dan Chika pergi.
            “Sialan! Gue jadi menyesal nggak menghajar Edwin semalam!” geram Samuel. Terkejut dengan emosi yang tiba-tiba melandanya setelah mengetahui alasan dibalik sikap dingin Linzie. Tapi keterkejutan itu harus menunggu untuk ditelaah lebih lanjut, karena saat itu yang ingin Samuel lakukan adalah mencari pelampiasan emosinya.
***
            Linzie terus-terusan mengutuki kebodohannya kemarin malam. Tidak seharusnya dia lepas kendali dan menangis di dada Samuel. Sungguh, itu hal yang paling tidak ingin Linzie lakukan! Ia sudah tidak pernah menagis lagi sejak bersumpah akan mengenyahkan Edwin dari hidupnya. Namun semalam, ketika mendengar kata-kata Edwin, entah bagaimana pertahanan yang selama ini ia susun rapat-rapat, tiba-tiba pecah berkeping-keping. Rasa benci dan jijiknya pada tingkah Edwin sudah membuatnya berlaku ceroboh dan menunjukkan kelemahannya di depan Samuel. Cowok yang ia pikir ‘satu spesies’ dengan Edwin.
            Sekarang Linzie tidak tau harus bersikap bagaimana jika bertemu dengan Samuel. Linzie bahkan tidak berani membayangkan bagaimana reaksi Samuel. Linzie menghela napas depresi. Mau tak mau ia harus mengakui kalau Samuel tidaklah sejahat Edwin. Samuel jelas berbeda dengan Edwin. Dan Linzie tau itu. Tapi ia tetap tidak bisa menghilangkan ketakutannya akan mengulangi hal yang sama. Linzie masih tidak bisa—takut—untuk mempercayai lagi. Ia tidak berani memberikan kepercayaanya jika akhirnya akan dihancurkan lagi. Linzie tak bisa—dan belum bisa—belum mau percaya sepenuhnya pada Samuel. Namun Linzie sudah mencoba dan akan terus mencoba. Berharap Samuel tidak akan melakukan hal yang sama seperti Edwin. Berharap Samuel tidak seperti yang Linzie pikir selama ini...
***