Selasa, 02 April 2013

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 1 : LOVE IS YOU #3


Sejak itu, Linzie selalu direcoki oleh Samuel. Secara kebetulan, cowok itu akan selalu bertemu dengan Linzie. Entah di kantin atau di manapun di lingkungan sekolah. Selain itu, seolah belum cukup, Samuel juga sering datang ke cafe Daniel. Membuat Linzie malas membantu di cafe Daniel untuk pertama kalinya. Linzie merasa tidak punya tempat untuk menghindari Samuel. Seolah cowok itu ada dmana-mana. Bahkan Linzie mulai percaya dengan reputasi cowok itu. Dia adalah seekor serigala yang jika sudah menancapkan taring pada mangsanya maka si mangsa takkan lepas begitu saja. Dan sekarang Linzie merasa sebagai mangsa yang tak berdaya. Linzie cuma bisa berpegang teguh pada asumsinya bahwa Samuel itu sama dengan cowok-cowok playboy lainnya. Yang merasa kalau cewek itu adalah objek taklukan. Yang begitu sudah didapatkan, bisa ditinggalkan setelah bosan. Linzie nggak mau lagi mengalami hal itu. Dia bukan lagi Linzie yang lugu dan polos yang mudah percaya kata-kata cinta dari mulut lelaki.
            Pengalaman mengajarkannya untuk selalu waspada. Cowok itu akan bermulut manis jika sudah ada maunya. Dan Linzie yakin Samuel juga punya tujuan tertentu saat mendekatinya. Linzie tau dirinya tidak sedewasa Keisha atau semanis Chika, tapi bukan berarti cowok itu bisa mempermainkannya seenaknya. Linzie bertekad tidak akan luluh oleh bujuk rayu Samuel.
            Samuel, di lain pihak, mulai menikmati perburuannya. Ia membuat pertemuannya dengan Linzie seolah kebetulan semata. Ia juga selalu bersikap manis dan sopan pada cewek itu. Hanya terkadang sedikit menggodanya dengan kata-kata pujian, sekadar untuk melihat reaksi Linzie. Ajaibnya, Samuel sama sekali tidak menduga kalau ternyata Linzie itu gadis yang menarik, berhati keras dan penuh dengan pikiran-pikiran aneh. Terutama tentang cowok buaya darat. Samuel sangat yakin dirinya masuk daftar blacklist cewek itu, bahkan mungkin ia menempati posisi teratas, tapi ia justru nggak keberatan. Justru itu membuat pendekatannya menjadi lebih menarik.
            Semakin mengenal Linzie, Samuel jadi tau kalau Linzie itu cewek yang aktif. Dia ikut banyak ekskul selain ekskul olahraga, dari situ Samuel menduga kalau Linzie benci olahraga. Tapi satu pengecualian, Linzie suka bersepeda. Ke mana-mana cewek itu lebih memilih naik sepeda, padahal menurut info yang Samuel dapatkan, cewek itu hidup serba berkecukupan.
            Perlahan-lahan, hal-hal kecil yang terjadi dalam kebersamaan yang separuh disengaja itu mengirimkan sengatan-sengatan aneh dalam diri mereka. Samuel, yang awalnya ingin membuktikan pada teman-temannya bahwa ia bisa menaklukkan Linzie dengan mudah, kini justru menikmati kesempatan-kesempatan yang ia dapat untuk bisa mengenal Linzie lebih dekat.
            Sementara waktu terus berlalu Linzie merasa tekadnya mulai goyah. Kecurigaan yang ia pegang teguh selama ini rasanya mulai terkikis ketika Samuel menunjukkan sikap tulus ingin mengenalnya. Semakin Linzie coba menepiskan pikiran asing itu, semakin susah bagi Linzie untuk melihat Samuel dari sudut pandangnya yang lama. Cowok itu bukan hanya sekedar pandai bicara, tapi juga memang memiliki pesona yang membuat siapa saja merasa nyaman bersamanya.
            Ya Tuhan! Linzie mulai takut. Ia takut jika seandainya apa yang ia pikir selama ini benar ternyata salah! Jangan-jangan rumor yang beredar itu terlalu dilebih-lebihkan? Mungkinkah Samuel itu sebenarnya tak seburuk rumor yang beredar? Aarrgghhh... Linzie bingung! Harusnya dia menjauhi cowok itu! Cowok itu terlalu berbahaya jika terlalu lama di dekatnya. Benar, Linzie mungkin harus menjauhi cowok itu agar pikirannya bisa jernih kembali. Samuel sudah mengkontaminasi pikirannya terlalu banyak. Linzie harus menemukan sudut pandang baru dalam masalah ini. Untuk sementara, dengan catatan waktu yang belum dipastikan seberapa lama, Linzie akan menghindari Samuel. Ia sudah tidak mau meladeni cowok itu. Baik dengan sambil lalu atau penuh perhatian. Ia akan mengenyahkan cowok itu dari pikirannya. Kemudian baru merunut semuanya dari awal, sehingga ia bisa menemukan sudut pandang baru dalam menyelesaikan masalahnya. Linzie yakin itu tindakan terbaik. Yang terbaik dari semua yang bisa ia pikirkan.
            Hanya saja, belakangan Linzie baru menyadari kalau ternyata hal itu tidak semudah itu untuk dilakukan...
***
            Menghindari Samuel! Tegas Linzie berkali-kali dalam kepalanya. Ia harus menghindari cowok itu. Rupanya imunitasnya tak bisa bertahan lebih lama lagi jika berada dekat cowok itu. Linzie baru menyadari kalau senyum 1000watt Samuel bisa begitu sangat mengerikan kalau terlalu sering dilihat. Buktinya sekarang perut Linzie sslalu berontak jika Samuel mengeluarkan senyumnya. Sungguh mengerikan…
            Makanya Linzie harus menjauhi cowok itu sebelum terkontaminasi efek buruk apapun yang mungkin timbul. Bisa aja nanti dia pusing-pusing atau susah bernapas kan? Ngeri nggak tuh, dihinggapin penyakit kayak gitu cuma gara-gara senyum seorang playboy. Linzie jelas menganggapnya mengerikan, karena dia jarang sakit, dan nggak mau memulainya sekarang.
            “Linziee!!!” seruan itu membuyarkan semua rencana Linzie.
            Astaga, masa secepat itu gagal sih?? Linzie langsung mempercepat langkah dan pura-pura tak mendengar panggilan itu. Bodo amat deh dikira aneh atau apa!
            Sementara itu, Samuel cuma menelengkan kepalanya, dengan satu tangan masih dalam posisi melambai, sisa senyum manis masih terukir dibibirnya.
            Rafhael tergelak melihat tampang Samuel. Dia langsung menggoda Samuel. “Wah, kenapa tuh? Dia kabur ya?” sindir Rafhael.
            “Nggak kedengaran kali ya?” kata Samuel.
            “Hmm… Menurut gue sih ya...” omongan Rafhael terpotong oleh pelototan galak dari Samuel. Rafhael sudah mencoba menahan tawa. Sumpah demi Tuhan dia udah mencoba, tapi sayang, imannya lebih kecil sehingga tanpa peduli dengan perasaan Samuel, tawanya pun meledak. Rafhael tertawa bahagia melihat tatapan bengis Samuel.
            Rafhael menepuk pundak Samuel bersimpati. “Sabar, Brother, bukannya lo tuh nggak pernah gagal?” hibur Rafhael. Tapi perkataannya selanjutnya langsung membumi hanguskan niat awalnya untuk menghibur. “Yah, meskipun pasti ada juga namanya kegagalan pertama,” katanya.
            “Sialan lo!” maki Samuel sembil mencoba menggetok kepala Rafhael, namun Rafhael sudah mengelak dan kembali tertawa bahagia. Bahkan ia sudah menebar senyum ke mana-mana, ke semua cewek yang menyapanya dengan wajah memuja. Membuat Samuel tambah dongkol. Akhirnya Samuel cuma bisa misuh-misuh.
                                                                        ***
            Linzie girang bukan main karena dia bisa mengelabui Samuel. Berarti rencananya masih bisa diterapkan. Langkah Linzie serasa seringan bulu ketika ia menuju ke kelasnya. Namun siapa sangka dia justru berpapasan dengan orang kedua yang tak mau ditemuinya. Jeremy. Menjulang tinggi di depannya, dan nyaris menghabiskan seluruh ruang di tangga itu. Linzie harus meminta cowok itu minggir kalau mau lewat. Tapi dia malas bicara dengan cowok itu. Sayangnya, Linzie terpaksa menelan harga diri. Dia kan juga nggak mau kepergok Samuel, itu seandainya cowok itu menyusulnya. Lagipula kelas cowok itu ada di lantai yang sama dengannya.
            “Minggir sedikit donk, gue mau lewat nih,” kata Linzie.
            “Lewat aja,” kata Jeremy bergeming.
            Linzie langsung cemberut. Melihat sisa ruang di samping Jeremy, yang nggak ada setengah meter, itu sih cuma anak tuyul yang bisa lewat!
           “Lo lihat kan jalannya tuh sempit. Kalau lo nggak miring sedikit, gue nggak bisa lewat!” kata Linzie senewen.
            Jeremy memiringkan badannya sedikit. Benar-benar cuma sedikit! “Segini?” tanyanya polos. Ada senyum bermain-main di mata cowok itu. Sekarang yang bisa lewat cuma anak jin. Linzie makin cemberut. Jeremy kemudian memberikan jalan sesuai kehendak Linzie, sambil tersenyum manis yang sangat menipu. Linzie langsung melewatinya, tentunya setelah melempar tatapan awas-nanti-gue-balas-lo yang bikin Jeremy menyeringai.
            Tak lama setelah Linzie menghilang di belokan tangga, Samuel dan Rafhael muncul. Jeremy masih terlihat girang ketika mereka menghampirinya.
            “Kenapa lo?” tanya Samuel ketus. Wajah cutenya memberengut dan jadi tambah lucu.
            “Lo sendiri kenapa?” tanya Jeremy geli.
            Rafhael langsung menyambar dan menceritakan kejadian di halaman depan sekolah tadi, lengkap dengan diiringi tawa bahagia sesi keduanya.
            Jeremy mengedikkan kepala ke arah tangga di belakangnya. “Barusan gue ngerjain dia,” kata Jeremy enteng. Membuat Samuel melotot. Kemudian misuh-misuh lebih keras lagi.
            Tanpa menunggu dua temannya Samuel langsung menaiki tangga dan menuju kelasnya, urusan dengan Linzie akan dia selesaikan nanti. Sekarang dia harus memikirkan apa tindakannya yang salah yang membuat rencananya mendekati Linzie jadi berjalan mundur.
            Ternyata semuanya jadi lebih parah dari yang Samuel kira. Linzie bukan hanya pura-pura tidak mendengar sapaannya, cewek itu juga mulai menghindar! Setiap Samuel mendatangi kelasnya, cewek itu selalu tak ada. Setiap berpapasan, cewek itu selalu bilang ada urusan dan buru-buru angkat kaki. Kemudian setiap Samuel mengira dia sendirian, maka entah dari mana cewek itu bisa mendapatkan bala bantuan yang membuat Samuel makin jengkel.
            Hingga akhirnya ia tak bisa menahan kekesalannya lagi dan mengambil langkah sembrono. Ia memboikot langkah apapun yang disiapkan Linzie untuk menghindar. Ketika Samuel menemui Linzie di kelasnya, rupanya ketika itu Linzie baru hendak kabur, tapi Samuel lebih pintar dan telah menunggu di depan kelasnya, Samuel langsung ‘menculik’ Linzie. Diseretnya cewek itu ke kantin bareng.
            “Hey! Apa-apaan nih! Gue mau ke tempat teman-teman gue nih!” protes Linzie di tengah kepanikannya.
            “Lo bisa cari mereka nanti! Sekarang lo temenin gue makan,” kata Samuel cuek.
            “Lo kan bisa ngajak teman-teman lo! Atau cewek manapun yang selalu membayangi lo! Gue sibuk tau!” sahut Linzie.
            Samuel berhenti dan menatap Linzie. “Iya, lo sibuk mikirin cara buat menghindari gue!” setelah berkata itu, Samuel kembali meneruskan langkahnya. Linzie butuh beberapa waktu untuk membalas ucapan Samuel.
            “Gue nggak menghindari elo! Lagian buat apa coba? Gue tuh memang sibuk tau!”
            “Kalau gitu lo bisa donk, nemenin gue makan?” kata Samuel sambil melemparkan sanyum mautnya. Nah, perut Linzie langsung berontak. Mati-matian dia mencari alasan yang bisa membuatnya lepas dari situasi mengerikan ini. Namun mereka keburu sampai di kantin. Dan parahnya, Samuel mengambil tempat di pojok kantin, di meja yang mepet tembok! Tanpa Linzie sadari, ia sudah digiring masuk ke dalam jebakan.
            “Lo duduk di dalam,” kata Samuel.
            “Hah? Nggak mau! Gue di pinggir aja, lagian buat apa gue duduk di dalam, toh kursinya hadap-hadapan gini,” kata Linzie.
            “Makanya lo masuk dulu, gue nggak mau lo pergi kalau gue biarin lo duduk di luar,” kata Samuel.
            “Maksud lo? Lo nuduh gue bakal kabur dari lo gitu?!” sahut Linzie emosi.
            “Gue nggak nuduh. Dan kalau emang lo nggak bakal kabur, lo mau donk duduk di dalam,” kata Samuel.
            “Oke! Dan jangan bilang gue niat kabur! Karena gue nggak pernah kabur dari elo!” ketus Linzie. Kemudian menambahkan sambil menggerutu. “Lagian elo bukan siapa-siapa gue, buat apa gue kabur dari elo.”
            Samuel tersenyum dalam hati ketika Linzie sudah duduk manis. Kemudian tanpa rasa bersalah dia duduk di sebelah cewek itu.
            “Kok lo duduk di sini sih!? Depan masih kosong!” protes Linzie, dalam hati panik berat ketika menyadari dia tidak punya jalan keluar selain melewati Samuel. Selain dengan melompati meja kantin tentunya.
            “Lo mau pesan apa? Biar sekalian gue pesanin,” kata Samuel mengacuhkan protes Linzie.
            “Gue nggak nafsu makan!” ketus Linzie.
            “Oh, ya udah, gue samain aja kalau gitu,” sahut Samuel enteng.
            Linzie mendelik. “Gue bilang gue nggak lapar!” sahutnya kesal.
            “Hm-mm,” sahut Samuel sambil lalu.
            Linzie melipat tangan di depan dada dan duduk bersandar. Ia membuang pandangan dari Samuel yang duduk di sebelahnya. Mengabaikan lonjakan-lonjakan sinting diperutnya.
            Samuel menahan senyum kemenangannya ketika melihat Linzie mulai bersikap kooperatif. Meski jelas cewek itu bakal melesat pergi begitu ada kesempatan.
            Makanan mereka tiba, Samuel memesankan dua piring nasi goreng dan dua gelas es jeruk untuk mereka. Namun Linzie tak mau menyentuh makanannya. Bahkan sekalipun penghuni perutnya sudah protes minta diisi.
            “Gue tau lo belum makan, nggak usah sebal gitu deh sama gue,” kata Samuel sambil bersandar miring pada tangan kirinya dan menatap Linzie.
            “Jadi lo nyadar kalau gue sebal sama elo?!” sindir Linzie pedas.
            “Tapi gue kan nggak salah. Gue cuma ngajak lo makan bareng, di kantin pula. Apa yang salah?” tanya Samuel polos.
            “Yang salah,” kata Linzie sambil duduk tegak menghadap Samuel. “lo nggak nanya gue mau apa nggak! Lo langsung narik dan ngajak gue ke sini!”
            “Nah, sekarang jelasin sama gue, di mana letak salahnya? Lagian gue nggak merasa ada yang salah dengan tindakan gue. Gue kan memang lagi PDKT sama lo, wajar donk gue ngajak makan bareng?”
            “PDKT lo bilang? Sejak kapan??? Gue nggak pernah setuju ya! Dan gue nggak akan pernah setuju! Gue tau reputasi lo. Lo bisa aja bilang lagi PDKT sama gue, tapi siapa yang tau di tempat lain lo lagi PDKT sama yang lain?!” kata Linzie meremehkan.
            Rahang Samuel mengencang. “Dengar ya, terserah reputasi gue yang mana yang lo percayai, tapi gue kasih tau sama lo, kalau gue udah memutuskan buat PDKT sama elo, maka gue cuma PDKT sama elo!!”
            Ketegasan di wajah dan suara Samuel membuat Linzie terperangah. Belum pernah Linzie melihat Samuel melepaskan topeng malaikat berwajah manisnya ketika bicara dengan cewek. Dan jika sampai ekspresinya berubah tajam begini... Linzie langsung mengenyahkan pikiran gilanya itu. Bukan urusannya Samuel marah atau tidak. Namun saat bicara, nadanya tak lagi sekasar tadi.
            “Kenapa lo PDKT ke gue? Masih banyak kan cewek yang mengejar-ngejar elo?” tanya Linzie sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kantin yang isinya nyaris cewek semua dan kini sedang memperhatikan mereka dengan keseriusan tingkat dewa.
            “Perlu gue jelasin alasannya? Lo benar-benar nggak tau?” Samuel balik tanya, tatapannya masih belum lepas dari mata Linzie. Membuat Linzie nyaris sesak napas. Linzie kemudian menggeleng lemah.
            “Jelas karena gue merasa tertarik sama elo! Kalau gue nggak merasa tertarik sama elo, buat apa gue susah payah ngedeketin elo?” sahut Samuel. Kemudian bertanya-tanya dalam hati dari mana datangnya penjelasan seperti itu. Biasanya Samuel tak pernah merasa harus memiliki ketertarikan kuat untuk mendekati cewek-cewek, bahkan sampai menjelaskan alasannya. Karena cewek-cewek itu sendiri yang datang padanya. Ia tinggal memilih mau jalan dengan yang mana. Tapi dengan Linzie, Samuel merasa harus memperoleh kepercayaan cewek itu. Gagasan itu membuatnya sedikit takut. Dia mendekati Linzie karena merasa tertantang untuk menaklukkannya kan??
            Setelah keluar dari ketidakpercayaannya, Linzie pun berkata. “Kenapa gue?”
            “Gue juga nggak tau. Tau-tau gue pingin aja kenal lo lebih dekat,” kata Samuel. Nah, dari mana jawaban itu datang? batin Samuel.
            Beberapa saat mereka cuma saling tatap. Kemudian Linzie menghela napas pasrah. “Gue tetap nggak mengerti apa yang bikin lo tertarik sama gue. Gue selalu menghindari tipe-tipe cowok kayak lo karena nggak mau mengulang kesalahan yang sama lagi,” kata Linzie
            “Tipe kayak gue?” tanya Samuel ingin tau.
            “Iya, tipe cowok yang bermulut manis, yang menggunakan pesonanya buat mendapatkan cewek mana pun yang elo mau. Tipe playboy yang nggak mungkin cukup dengan satu cewek,” kata Linzie sambil menatap Samuel. “Lo termasuk tipe itu kan? Gue udah banyak dengar cerita tentang sepak terjang lo,” kemudian Linzie mengalihkan tatapan kepada es jeruknya. Ia mengaduk-aduknya tanpa berniat meminumnya.
            “Gue nggak tau apa aja yang lo dengar tentang gue,” Samuel angkat bahu. “Tapi gosip selalu dilebih-lebihkan kan?”
            Meskipun dalam kasus Samuel sepertinya kenyataan dan gosip itu cuma beda tipis. Tapi Linzie kan tidak tau hal itu. Dia cuma bisa percaya pada apa yang ia dengar atau percaya pada Samuel. Dan keduanya jelas sama-sama meragukan dan punya dampak yang sama berbahayanya.
            “Memangnya kesalahan apa yang pernah lo perbuat yang melibatkan tipe cowok kayak gue?” tanya Samuel. Tiba-tiba merasa ingin tau tentang kehidupan Linzie.
            Linzie meliriknya sekilas. “Lo nggak perlu tau. Lagian nggak ada hubungannya sama elo,” kata Linzie mengelak. “Kalau lo mau makan, ya udah cepat makan. Gue temanin. Tapi nggak lebih,” kata Linzie kemudian.
            Samuel memutuskan belum saatnya bertindak lebih jauh, jadi ia tidak mendesak Linzie lebih jauh. Akhirnya ia pun berkata, “Tapi lo juga makan, aneh donk lo nemenin gue makan tpi gue cuma makan sendiri?”
            Setelah menimbang-nimbang sesaat, akhirnya Linzie mengambil sendok dan mulai menyuap sesuap kecil nasi goreng ke mulutnya.
            Samuel tersenyum puas dan melanjutkan makannya. Menyelingi dengan beberapa obrolan ringan namun sedikit menggoda agar ketegangan yang tadi terasa segera sirna. Setelah itu, Samuel mengantarkan Linzie kembali ke kelasnya. Sebelum meninggalkan kelas Linzie, Samuel pun meminta nomor ponsel cewek itu.
            “Buat apa?” tanya Linzie curiga.
            “Tentunya buat melancarkan PDKT gue ke elo kan?” kata Samuel, meskipun dalam hati bertanya-tanya hal apa yang membuat Linzie harus merasa selalu waspada padanya.
            Setelah memikirkan sesaat, akhirnya Linzie memberikan nomor ponselnya, tapi dengan sedikit peringatan kalau ia tidak suka diganggu dengan telepon-telepon atau sms-sms nggak penting tiap harinya.
            Samuel mengangguk-angguk setuju, meski jelas itulah yang akan dia lakukan. Setelah itu Samuel pergi ke kelasnya.
            “Oke, bye ya!” kata Samuel sambil mengacak-acak pelan rambut Linzie.
            “Apa sih!?” Linzie menepis tangan Samuel, sehingga Samuel tertawa.
            Setelah beberapa langkah, Samuel menoleh ke belakang, ternyata Linzie sudah masuk ke dalam kelasnya. Samuel kembali melanjutkan langkahnya. Lalu tanpa sadar dipandanginya tangannya yang tadi menyentuh rambut Linzie. Kenapa rasanya begitu alami ya? Seolah-olah mereka memang pasangan kekasih. Samuel menggeleng-gelengkan kepalanya. Mengenyahkan pikiran itu. Jelas mereka bukan kekasih.
            Ingat, misinya adalah untuk membuktikan pada teman-temannya bahwa ia mampu menaklukkan Linzie. Dan memang itu yang sedang Samuel lakukan. Setidaknya memang itu yang ia lakukan kan? Samuel bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang perasaan aneh yang mulai menderanya ketika ada dekat Linzie tadi.
Sungguh, apa yang terjadi pada dirinya...?
***

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 1 : LOVE IS YOU #2


Linzie memandang kedua sahabatnya, menunggu komentar atas apa yang baru saja ia ceritakan. Linzie sudah menceritakan pertemuannya yang kedua beberapa hari lalu dengan Samuel pada kedua sahabatnya. Kini mereka bertiga sedang duduk di salah satu sofa di pojokan cafe Daniel. Tempat yang sudah biasa mereka pakai kalau sedang ngumpul-ngumpul.
            “Lo yakin dia nyaris menjadikan lo target rayuan terbarunya?” tanya Keisha, cewek yang pembawaannya tenang dan lebih dewasa ketimbang Linzie atau Chika. Di antara mereka, Keisha selalu bisa menjadi penengah dan pikirannya paling jernih. Jarang marah dan sangat pengertian.
            “Yakin banget!” Linzie mengangguk. “Lo tau kan reputasi yang disandang sama Bule oriental itu? Salah satu dari beberapa playboy tengik yang merajalela di Plaga ini! Sekali lihat aja gue tau dia niat buat ngejadiin gue bahan taruhan!”
            “Tapi Zizi, mungkin nggak kalau dia memang tertarik sama elo?” tanya Chika dengan gaya polosnya yang biasa. Chika, kebalikan dari Keisha yang dewasa, merupakan cewek yang manja dan cengeng! Paling polos dan gampang dikerjai, makanya Linzie selalu merasa perlu menjaga temannya itu.
            “Chika, sekali playboy tetap playboy! Nggak mungkin bakal berubah! Gue udah belajar dari pengalaman untuk nggak gampang percaya sama omongan cowok! Mereka itu buaya!” kata Linzie berapi-api.
            “Lalu,” Keisha menyela dengan tenang, “apa ada tanda-tanda dia masih mengincar elo?” tanyanya.
            “Gue sih nggak yakin dia masih penasaran sama gue atau nggak, tapi gue tetap harus waspada kan?” kata Linzie.
            “Mungkin ada baiknya lo nggak ambil pusing. Mungkin dia udah pindah target,” kata Keisha.
            Chika tiba-tiba menarik perhatian kedua temannya dengan seruan tertahannya. Lalu menunjuk-nunjuk ke pintu masuk. Linzie dan Keisha ikut melihat apa yang dilihat Chika. Dan mata kedua cewek itu melotot maksimal. Linzie yang sadar paling pertama, langsung menarik kedua temannya agar merunduk. Kemudian mengintip dari sela-sela tanaman hias yang berjejer di sekeliling kaca luar yang menyembunyikan ruangan yang mereka pakai.
            “Oh My God, kenapa dia balik lagi sih!?” gerutu Linzie, sambil memperhatikan Samuel yang langsung mengambil tempat duduk di kursi meja bar. Tampak cowok itu sedang bercakap-cakap dengan Indra. Indra, entah kenapa melirik ke arah ruangan yang Linzie tempati.             Untungnya Linzie berpikir cepat. Ia melotot dan menggeleng keras agar Indra tidak menatap mereka. Kemudian Indra kembali mengalihkan tatapannya pada Samuel dan angkat bahu. Sial, Linzie penasaran dengan apa yang mereka bicarakan. Lagian ngapain juga sih cowok itu ke sini lagi? Kalau tidak ingat bahwa cowok itu adalah pengunjung cafenya Daniel, Linzie pasti sudah mengusirnya. Sungguh, ide itu tampak sangat menggoda bagi Linzie saat ini. Tapi berhubung cowok itu adalah pelanggan, Linzie tak bisa semena-mena. Atau Daniel bisa merebusnya hidup-hidup karena bersikap kurang ajar pada tamu.
            “Kira-kira mereka ngomongin apa yah?” kata Chika penasaran.
            “Mana gue tau! Lagian tuh cowok ngapain ke sini lagi sih?! Kayak nggak ada cafe lain aja!” sahut Linzie sewot.
            “Mungkin karena dia memang suka dengan suasana di sini,” kata Keisha, sama sekali tidak membantu. Linzie cuma bisa menahan diri agar tidak memutar bola mata. Ketenangan Keisha kadang membikin jengkel.
            Butuh waktu 15 menit sampai Samuel angkat kaki dari ruangan itu dan Linzie bisa bernapas lega. Ia langsung melesat ke meja bar.
            “Kok Zizi semangat banget ya? Kei, menurut lo apa mungkin Zizi bakal kalah sama pesona Sammy?? Dia cakep banget lho,” kata Chika mengomentari tingkah Linzie yang nggak seperti biasanya.
            Keisha tersenyum dan angkat bahu. “Kita nggak bakal tau gimana endingnya kalau semua baru dimulai kan?”
            Chika tampak berseri-seri. “Maksud lo, ada kemungkinan mereka bakal dekat?? Tapi kan Sammy playboy. Gimana kalau dia cuma sekadar iseng seperti kata Zizi?” kata Chika khawatir.
            “Berarti itu saat di mana kita yang harus turun tangan buat membalas Samuel,” kata Keisha manis. Chika cuma nyengir. Dibalik sikap tenang Keisha rupanya tersimpan sifat sesadis iblis. Dan Chika tau betul sifat itu akan bangkit jika salah satu dari dirinya atau Linzie disakiti oleh orang lain.
            “Uhh…Chika sayang Kei,” kata Chika sambil memeluk Keisha. Keisha cuma menepuk-nepuk pelan kepala Chika dan melirik ke arah bar. Tempat Linzie yang sedang terlibat pembicaraan dengan Indra.
            Sementara itu, Linzie sedang mengintrogasi Indra.“Dia ngomong apa aja sama Kak Indra?” tanya Linzie.
            “Dia cuma ngajak ngobrol biasa aja,” kata Indra, heran.
            “Yakin? Dia nggak nanya-nanya hal yang aneh-aneh kan?”
            “Nggak sih. Yah, dia ada nanya-nanya soal lo sedikit,” kata Indra.
            Linzie langsung mencondongkan tubuhnya ke depan. “Oh ya?!” sahutnya.
            Indra mengangguk, meski heran dengan tingkah Linzie. “Dia cuma nanya lo datang ke sini tiap hari apa aja, terus bisa nggak dia kapan-kapan ngobrol lagi sama elo. Katanya kalian satu sekolah,” kata Indra.
            Linzie langsung mencibir. “Nah, apa kata gue! Tuh playboy nggak bakal nyerah kan! Dia pasti merasa egonya terkoyak abis gara-gara gue nolak pendekatannya! Biar tau rasa!!”
            “Memang ada apaan sih antara kalian?” tanya Indra.
            “Nggak ada apa-apa! Dan nggak bakal ada apa-apa! Nggak sudi gue dekat sama playboy macam itu!” ketus Linzie. Kemudian menambahkan. “Ya udah, Kak Indra kerja lagi deh! Gue mau siap-siap pulang,” kata Linzie lalu ngeloyor pergi.
            Keisha dan Chika pamit pulang duluan sementara Linzie masih harus menyelesaikan beberapa hal tentang keuangan di kasir. Setelah itu, Linzie memakai jaket dan menyelempangkan tasnya, kemudian keluar lewat pintu samping. Linzie segera menaiki sepedanya dan mulai mengayuh santai di sepanjang pinggiran jalan. Dia sama sekali tidak sadar dengan mobil Jaguar hitam yang mengikuti di belakangnya.
            Kemudian mobil itu menjajari Linzie. Linzie nyaris berhenti ketika menyadari ada mobil mewah menepi di sampingnya. Kemudian kaca mobil itu diturunkan dan menampakkan wajah yang paling tidak ingin dilihat Linzie.
            Cowok itu tersenyum manis pada Linzie, dan Linzie kontan merinding.
            “Hai, gue pikir gue nggak bisa ketemu lo,” kata Samuel manis. Yang langsung membuat Linzie ingin berada di tempat lain, di mana pun selain di dekat cowok itu. Anehnya, senyum cowok itu yang tampak tulus dan tidak dibuat-buat kok bikin perut Linzie serasa di jungkir balik ya? Linzie yakin kebenciannya pasti sudah mencapai tingkat abnormal karena reaksinya sudah berlebihan begitu.
            Di samping itu, Linzie sudah terjebak. Ia tidak bisa kabur dan pura-pura tidak melihat cowok itu. Bagaimanapun Linzie naik sepeda sedangkan cowok itu naik mobil! Sungguh nggak adil!
            Samuel tersenyum, dalam hati menghitung bahwa ia memenangkan ronde itu. Kini tinggal langkah selanjutnya. Ia yakin kali ini nggak akan gagal seperti kejadian-kejadian sebelumnya. Samuel yakin Dewi Fortuna ada di pihaknya kali ini. I’ll get you, batin Samuel penuh kemenangan.
            Samuel menatap Linzie, masih memamerkan senyum manisnya. Meskipun dalam hati tak kunjung ia tertawa penuh kemenangan. Apalagi ketika melihat tampang terpojok Linzie, sungguh tiada tandingannya! Samuel merasa di atas angin melihat keputusasaan membayang di mata Linzie.
            “Gimana kalau kita ngobrol di taman depan sana?” tanya Samuel.
            Linzie memutar otak untuk menolak alasan itu. Dia nggak mau dekat-dekat apalagi ngobrol sama cowok di depannya itu! Linzie jengkel banget melihat kilat kemenangan di mata Samuel. Dan godaan untuk menghapuskan senyum angkuh di wajah cowok itu!
            “Sorry, tapi gue harus buru-buru pulang! Gue masih ada janji sama nyokap gue,” kata Linzie beralasan.
            “Kalau gitu bareng gue aja,” tawaran Samuel membuat Linzie memutar otak. Ah, sepedanya.
            Dengan senyum yang tak kalah manisnya Linzie pun menolak. “Gue kan bawa sepeda. Lagian, gue nggak lihat tempat buat menaruh sepeda gue di mobil lo,” kata Linzie.
            Samuel tak kehilangan akal. Dia mengusulkan agar mereka balik ke cafe dan menitipkan sepeda Linzie di sana. Linzie langsung menolak, beralasan kalau sepeda itu terlalu penting buatnya untuk ditinggal-tinggal sembarangan. Alhasil perdebatan itu terus memanas dan keduanya sama-sama tak mau mengalah. Mata mereka terkunci dalam sihir yang membuat keduanya tidak mau berpaling. Salah satu tak mau kalah dari yang lainnya. Akhirnya, sebagai seorang cowok sejati, Samuel mengalah. Membuat Linzie memekik girang dalam hati.
            “Ok, anggap kali ini gue kurang beruntung. Gue harap besok kita bisa ngobrol di sekolah,” kata Samuel.
            “Ya… semoga aja,” kata Linzie sambil lalu. “Oke, cukup ngobrolnya, gue duluan! Bubbye!” kata Linzie dan melambai, kemudian mulai mengayuh sepedanya dengan santai.
            Samuel menatap kepergian Linzie dengan penuh rasa ingin tau. Samuel yakin Linzie cuma beralasan, tapi entah kenapa Samuel justru membiarkan Linzie merasa menang. Masih banyak waktu untuk mencari tau. Samuel akan pastikan cewek itu menyadari pesonanya. Dan jika saat itu tiba, cewek itu akan memohon agar Samuel memberinya perhatian. Hmm, Samuel tak sabar melancarkan serangan berikutnya.
                                                                        ***

HIGH SCHOOL LOVE STORIES 1 : LOVE IS YOU #1


Linzie adalah tipe cewek yang membenci cowok playboy. Ia telah belajar dari pengalamannya sewaktu di kelas XI dulu ketika ia diselingkuhi oleh pacarnya. Dan bukan hanya dengan satu cewek, melainkan tiga cewek sekaligus!! Betapa marah dan sakit hatinya Linzie saat semua itu terungkap. Marah, kecewa dan sakit hati membuat Linzie menangis semalaman. Untungnya ada Keisha dan Chika, dua sahabatnya yang selalu setia menemani. Berkat mereka Linzie bisa bangkit dari keterpurukannya.
            Begitu naik ke kelas XII, Linzie sudah menutup hatinya pada semua cowok. Ia tak bisa percaya pada kata-kata cowok lagi. Ia lebih memilih menjomblo ketimbang sakit hati lagi. Ia selalu jutek jika bicara dengan cowok, nggak peduli cowok itu memang jahat atau cowok baik-baik. Baginya cowok itu semuanya sama saja.
            Siang itu, Linzie tengah membawakan buku tugas teman-teman sekelasnya ke ruang guru ketika ia nyaris terjungkal gara-gara ditabrak oleh seseorang. Untung saja si penabrak itu punya reflek yang bagus sehingga Linzie tidak jadi terjungkal, melainkan jatuh ke dalam pelukan cowok itu.
            “I’m sorry. Gue nggak sengaja. Gue lagi buru-buru kabur soalnya,” kata si penabrak itu, yang ternyata seorang cowok.
            Tubuh Linzie seketika menegang. “Lepasin gue,” desisnya.
            “Lo nggak apa-apa kan?” tanya cowok itu, belum mau melepaskan Linzie.
            “Gue bilang lepasin gue!” sentak Linzie dan langsung menjauhkan diri dari cowok itu.       Linzie mendongak, bersiap mendamprat siapapun yang menabraknya dan juga seenaknya memeluknya itu. Namun, napas Linzie seketika tersangkut di tenggorokannya ketika melihat wajah cowok di depannya.
            Cowok itu bukan hanya tinggi dan atletis, melainkan juga cakep, bukan, cakep saja nggak bisa mewakili wajah cowok itu. Oh ya, super duper cakep! Cowok itu punya lesung pipit di pipi kanannya. Matanya berwarna cokelat terang, dan ada kesan oriental di wajahnya. Astaga, bgaimana bisa cowok itu terlihat “cute” dan juga maskulin di saat yang sama? Dan Linzie yang anti cowok terbengong-bengong dibuatnya.
            Cowok itu melambai-lambaikan tangannya, meminta perhatian Linzie. Linzie tersentak dan wajahnya langsung memerah karena malu dan kesal pada dirinya sendiri. Ngapain coba dia melihat cowok itu sampai sebegitunya??
            “Lo baik-baik aja? Sumpah gue nggak sengaja. Maafin gue ya? Cewek manis kayak lo nggak cocok pasang wajah marah,” kata cowok itu sambil tersenyum manis.
            Insting Linzie langsung awas, menyadari cowok di depannya itu mungkin adalah tipe cowok yang paling dibencinya. “Gue nggak apa! Dan lain kali, jalan tuh pakai mata! Ini bukan jalan nenek moyang lo!” ketus Linzie dan langsung pergi. Meninggalkan si cowok ‘cute’ berdiri terbengong-bengong. Mungkin shock karena nggak menyangka reaksi Linzie akan sejutek itu.
***
            Samuel Tan, cowok berwajah Asia Oriental itu baru saja mendapatkan hadiah tak terduga. Ketika itu, ia sedang kabur dari kejaran para fansnya. Ia tak sengaja menabrak seorang cewek yang lumayan manis. Siapa sangka ketika ia lari dari kumpulan serangga pemangsa, seorang malaikat malah jatuh ke pelukannya? Samuel pun mengamati cewek yang ada di pelukannya itu dengan cermat. Hmm, mungil. Cuma itu yang bisa Samuel pastikan. Cewek itu bahkan tidak sampai sepundaknya. Cewek itu juga menguarkan aroma lembut seperti bayi. Samuel jadi tidak sadar sudah berapa lama dia memeluk cewek itu, sampai cewek itu tiba-tiba menarik diri. Samuel menyadari keterkejutan cewek itu. Matanya membelalak dan tidak berkedip. Kemudian ekspresinya berubah jengkel.
            “Lo nggak apa-apa? Sumpah gue nggak sengaja. Maafin gue ya? Cewek manis kayak elo nggak pantas pasang wajah marah,” kata Samuel sambil memamerkan senyum 1000 wattnya yang selalu sukses bikin banyak cewek lumer.
            Namun siapa sangka cewek di depannya justru malah menyipitkan mata dan masih memasang aura permusuhan, bahkan lebih kentara dari sebelumnya. Dan bukannya luluh, cewek itu malah menegur Samuel dengan galaknya. Kemudian tanpa bilang apa-apa lagi, cewek itu bergegas pergi. Meninggalkan Samuel yang masih berdiri tak percaya dengan reaksi cewek itu. Samuel berbalik dan menatap kepergian cewek itu. Masih tak percaya kalau dibalik tubuh yang mungil itu tersimpan pribadi yang bertolak belakang. Jelas cewek itu punya imunitas yang tinggi karena tidak terpengaruh pesonanya. Sudah sejak SMP Samuel selalu berhasil menjadi penakluk hati cewek. Tak sekalipun gagal. Dan kejadian tadi membuat egonya sedikit terusik. Ia penasaran dengan cewek yang imun terhadap pesonanya itu. Ia harap masih berkesempatan bertemu cewek itu. Toh, mereka ada di sekolah yang sama kan? Dan dalam kesempatan lain itu, Samuel akan pastikan cewek itu takluk padanya.
***
            Linzie baru saja meletakkan satu kerat minuman ringan di bawah meja bar ketika kakaknya muncul. Kakak Linzie, Daniel, memiliki sebuah cafe yang cukup terkenal di kalangan anak remaja, khususnya yang bersekolah di Plaga. Dan Linzie sekali-sekali membantu di sana. Keluarga mereka bukanlah keluarga yang berkekurangan, mereka hidup nyaman, hanya saja Linzie termasuk gadis yang aktif dan tidak bisa diam. Jadi dia mengajukan diri untuk membantu di cafe kakaknya.
            “Hai, Kak! Kok tumben jam segini ke sini? Biasanya juga sorean baru muncul,” kata Linzie menyapa kakaknya.
            Daniel mengacak rambut adiknya dengan sayang. Usia mereka terpaut cukup jauh, sekitar 6 tahun, tapi mereka sangat dekat. “Kakak mau ambil uang buat disetor ke bank. Sepi ya? Kenapa kamu nggak pulang aja?”
            Linzie merengut. “Bosen di rumah! Lagian di sini lebih asik,” kata Linzie lalu menyengir.
            Daniel geleng-geleng kepala dan masuk ke ruangannya. Tak lama kemudian Linzie sudah ditinggal lagi. Linzie angkat bahu dan memutuskan untuk mengelap meja bar hingga mengkilap. Bel kecil di pintu berdenting.             Linzie langsung menyambut para tamu itu dengan senyuman bisnisnya yang paling manis. Namun, kata-kata selamat datangnya tersangkut di tenggorokannya ketika melihat siapa yang datang.
            “Lo bisa aja dihajar sama pacar cewek tadi,” kata seorang cowok berambut pirang yang tampak cool kepada temannya yang menyeringai. Kedua cowok itu sama tampannya. Dan juga tinggi.
            “Gue rasa Rafhael nggak berpikir sepanjang itu, Jer,” kata cowok ketiga. Cowok yang berwajah ‘cute’ oriental sambil terkekeh. Yang tak lain adalah Samuel.
            Cowok yang dipanggil Rafhael itu cuma menyeringai. “Lo pasti bakal tetap memihak gue kan?” katanya.
            Mereka bertiga masuk ke dalam cafe dan mencari-cari tempat duduk yang dirasa tepat. Dan saat itulah pandangan Samuel terarah ke arah bar. Matanya pasti tidak beda jauh seperti cewek yang tengah menatapnya dengan shock itu.
            “Lo...” kata Samuel, ia berjalan menuju meja bar untuk memastikan ia tak salah lihat. “Ah, ternyata gue memang nggak salah lihat,” katanya. Ia kemudian tersenyum manis. “Gue nggak tau lo kerja di sini.”
            “Siapa?” tanya si pirang ingin tau.
            “Seseorang yang nggak sengaja gue kenal,” sahut Samuel.
            “Gue nggak pernah berkenalan sama elo,” kata Linzie datar, meski emosinya bergolak.
            “Nah,” kata Samuel. “apa sekarang bukan saat yang tepat buat kenalan secara resmi?”
            Linzie mendengus pelan. Kemudian menambahkan dengan menggerutu. “Gue udah tau siapa elo.”
            “Oh ya? Wah, berarti cuma gue yang belum tau siapa nama lo,” kata Samuel.
            Mata Linzie memicing. “Kalau lo masih mau memesan, silahkan cari tempat duduk,” kata Linzie. Kemudian dia berbalik pergi dan memanggil Rosa untuk melayani para pengunjung itu.
            Rafhael tergelak melihat tampang kecut Samuel. Ketiganya mengambil tempat duduk di dekat meja bar atas pilihan Samuel. Kedua sahabatnya menggoda Samuel karena gagal merayu cewek. Samuel berdalih kalau belum saatnya. Sekarang giliran Rafhael yang mencibir pada Samuel karena pesonanya sudah hilang.
            Si pirang Jeremy justru memperhatikan Linzie secara cermat. Bertanya-tanya di mana kelebihan cewek itu sehingga Samuel tidak bisa menaklukkannya. Cewek itu terbilang mungil, jutek, dan tidak sopan. Apanya yang menarik? Malah sangat biasa.
            “Lo lihat aja nanti, gue bakal taklukin tuh cewek!” kata Samuel jengkel. “Lagian tuh cewek juga paling jual mahal doank!”
            “Oh ya?” tantang Jeremy. “Gimana kalau justru elo yang takluk sama tuh cewek?”
            “Haha, becanda lo!” kata Rafhael. “Mana mungkin Sam ditaklukin cewek! Mana cewek yang so ordinary kayak gitu lagi,” lanjut Rafhael merendahkan.
            Samuel nyaris mengatakan kalau cewek itu seperti malaikat. Tapi ia dengan cepat menggigit lidahnya agar jangan sampai mempermalukan diri di depan teman-temannya. Ditolak saat pdkt tadi sudah cukup memalukan bagi Samuel, tidak perlu ditambah dengan membela cewek itu.
            Seorang waitress menghampiri mereka dan mencatat pesanan mereka. Kemudian waitress itu memberikan pesanan minuman ke bar.
            “Mocachino dan coffe latte dua,” kata Rosa pada Linzie.
            Linzie mengangguk dan mulai menyiapkan pesanan minuman ketiga cowok itu. Linzie bukannya tidak menyadari terjadi kasak kusuk di dalam cafenya sejak cowok-cowok itu datang. Sebagian abg cewek yang ada di dalam cafe kini sedang memperhatikan ketiga cowok itu. Hah, betapa tergodanya Linzie untuk menambahkan garam ke dalam minuman-minuman itu.
            “Zizi, ada telepon di ruang bos,” teriak Rosa cukup keras dari arah dapur.
            “Ya ampun, jangan bilang Kak Daniel melupakan sesuatu,” gerutu Linzie. Ia meninggalkan meja bar setelah sebelumnya menyerahkan tegas membuat minuman kepada Indra.
            “Oh, namanya Zizi toh,” gumam Samuel.
            “Lo nggak tau namanya?” tanya Rafhael.
            “Gue kan tadi udah bilang gue nggak tau apa-apa soal dia,” gerutu Samuel.
            Rosa kembali membawakan sandwich ke meja mereka. Samuel langsung bertanya tentang Linzie.
            “Oh, namanya Linzie, tapi biasa dipanggil Zizi. Dia adik yang punya cafe ini,” kata Rosa.
            Samuel mendapatkan beberapa informasi kecil tentang Linzie dari Rosa. Setelah itu ia memberikan senyum maut plus tip yang cukup. Setelah Rosa pergi, barulah Samuel bersandar dengan wajah puas.
            “Nah, sekarang gue punya beberapa hal yang bisa gue pakai buat menjerat cewek itu kan?” kata Samuel.
            “Oh ya? Terus kapan lo mau mulai misi aneh lo ini?” tanya Jeremy sarkastik.
            “Hmm, secepatnya,” sahut Samuel, mengabaikan nada sarkastik Jeremy.
            “Kalau gitu lo harus cepat, karena gue lihat target lo mau pergi,” kata Rafhael sembari mengangguk ke arah bar.
            Tampak Linzie yang sudah memakai jaket dan membawa tasnya. Kelihatannya akan pergi. Dari percakapan singkat Linzie dengan si bartender, Samuel bisa menyimpulkan kalau cewek itu harus menyusul kakaknya ke bank karena ada yang harus diserahkan.
            Samuel bangkit perlahan ia menghadang Linzie ketika cewek itu hendak keluar. “Ijinin gue minta maaf atas kejadian tempo hari. Gue harap lo nggak marah lagi sama gue. Karena jujur gue ingin berteman sama lo,” kata Samuel.
            “Gue udah nggak mempermasalahkan hal itu,” kata Linzie waspada. “Dan permisi, gue masih ada urusan penting!” tambah Linzie.
            “Oh ya? Jadi lo mau pergi? Gimana kalau gue antar?” tawar Samuel.
            Linzie menatap Samuel dengan mata curiga. Ia yakin cowok itu pasti merencanakan sesuatu. Kemudian ketika Linzie mengerling ke arah teman-teman Samuel, Linzie disambut oleh seringai geli kedua teman Samuel. Hal itu menguatkan kecurigaan Linzie, sehingga ia semakin berani menolak Samuel. Dia tidak mau cowok itu merasa menang karena berhasil menaklukkannya. Oh, Linzie tau sekarang. Pasti cowok itu sedang melakukan taruhan konyol dengan dirinya sebagai target. Linzie makin muak dengan Samuel.
            “Nggak, makasih! Dan kalau boleh gue kasih usul, lebih baik lo cari target yang lain!”
            Setelah berkata begitu, Linzie langsung meninggalkan Samuel tanpa menunggu respon cowok itu. Ekspresi Samuel yang penuh keterkejutan itu layak diabadikan. Linzie jadi berharap dirinya sedang membawa kamera!
            Rafhael dan Jeremy tertawa terbahak-bahak ketika Linzie sudah pergi. Mereka tak bisa menahan tawa lebih lama lagi melihat tampang tercengang Samuel. Akhirnya ada juga yang menolak rayuan maut sang Lucifer.
            Samuel menatap bengis ke arah teman-temannya. Yang bukannya membuat mereka bungkam, tapi justru malah membuat tawa Rafhael dan Jeremy makin mnjadi-jadi. Samuel menggeram marah. Ia tidak terima telah dipermalukan seorang cewek. Di hadapan teman-temannya yang laknat dan juga dua kali penolakan!!
            Ini sudah melewati batas toleransi Samuel. Kini dia sudah bertekad dan tak akan setengah-setengah lagi. Linzie, cepat atau lambat cewek itu akan bertekuk lutut padanya! Dan Samuel akan pastikan hal itu akan terjadi.