Minggu, 03 Februari 2013

LOVE AT THE FIRST SIGHT


Hal itu terjadi begitu saja tanpa Aria sadari, tanpa Aria harapkan, apalagi impikan. Rasanya seperti kilat yang menyambar di siang hari, perasaan itu menrasuk begitu aja ke dalam benak Aria ketika ia melihatnya. Kalaupun ia sempat merasakan sedikit percik-percik panas yang mengalir sebelumnya, perasaan itu kini sudah dibumihanguskan oleh kesadaran mutlaknya beberapa detik yang lalu. Dengan tatapan terpana dan bibir sedikit terkuak, Aria memandang ke satu arah. Aria yakin dirinya jatuh cinta.
            Aria menarik napas tajam saat cowok itu menoleh ke samping, membaca sepertinya. Dan hanya satu kata yang bisa Aria temukan untuk menggambarkan cowok itu. He is Perfect! Sempurna. Cowok itu bagaikan titisan Adonis, dengan wajah oke, alis melengkung tebal yang menaungi mata yang sewarna langit di tengah malam, dan lekukan bibir yang seolah minta dicium. Dan senyumnya... Oh, senyumnya mampu mencairkan es abadi di Kutub Utara dalam beberapa detik! Hanya dengan seulas senyum, yang diberikan cowok itu pada seorang waitress yang mengantarkan pesanannya, wajah cool cowok itu berubah menjadi hangat dan bersahabat. Dan Aria sadari, ada lesung pipit di pipi kirinya. Uhh... Yummy!
            Lalu, kenyataan pahit menyambar Aria bagai petir yang kedua. Ia melirik ke layar laptopnya yang gelap dan nyaris bergidik saat melihat pantulan wajahnya di layar itu. Rambutnya diikat asal-asalan, ia tidak pakai make up, dan ada kantung mata hitam di bawah matanya lantaran kurang tidur. Tampangnya persis seperti tampang gembel yang nggak kenal dengan air. Buru-buru, tapi dengan teknik tak kentara, Aria merapikan sedikit rambutnya. Melepas ikatannya dan menyisir dengan jari secara sambil lalu. Setelah itu ia mengambil jepitan dan menjepit poninya dengan rapi. Yah, memang tidak maksimal, tapi setidaknya sekarang tampangnya sudah jauh lebih beradab ketimbang tadi.
            Kenyataan lain kembali menggampar Aria dengan keras, tepat ketika ia nyaris menghela napas lega. Ia melihat betapa berantakannya meja yang ia tempati. Ada tiga gelas kopi kosong, tiga piring kecil bekas kue tart, dan sebotol air mineral. Hiiey, dia kelihatan seperti orang yang kelaparan! Mana sudah hampir dua jam ia duduk di cafe itu, merenung dan bersemedi mengharapkan dapat menemukan ide cerita untuk novelnya, yang tenggat waktunya tinggal tak berapa lama lagi. Dengan enggan ia menggeser mousenya, maka terpampanglah layar kosong Ms. Word. Bersih, tanpa satupun tanda titik atau huruf.
            Aria mengerang dan mencuri pandang ke arah Si Ganteng, panggilan Aria buat cowok yang sudah memanah hatinya itu. Ayo, Aria, jangan berkecil hati! Kamu masih bisa mengumpulkan setiap keping harga diri yang kamu miliki! Dengan sisa tekadnya, Aria duduk lebih tegak, wajah semangat, dan posisi tangan di atas keyboard, walau ia belum tau mau menulis apa. Yang penting gaya dulu. Siapa tau si Ganteng melirik ke arahnya kan? hehe.
            Kembali Aria mencuri pandang ke arah si Ganteng. Ya ampun, makin dilihat, cowok itu makin terlihat ganteng. Jantung Aria berdegup kencang hanya dengan menatap cowok itu. Pengunjung lain seolah kasat mata olehnya. Dan ia juga harus mati-matian menahan agar air liurnya tidak menetes dan menggenang di lantai di kakinya.
            “Lihat ke sini... Lihat ke sini...”gumam Aria tanpa sadar.
            Puji Tuhan! Seolah sinyal-sinyal acak dan mantra konyol yang sejak tadi dirapalkannya sampai pada cowok itu, si Ganteng mendongak. Dan melihat tepat ke arah Aria. Deg! Jantung Aria seolah berhenti berdetak saat itu juga. Nyaris iia terjungkal dari kursinya saking kagetnya. Dan semakin lama, semakin menggilalah degup jantung Aria. Mungkin sepulang nanti dia harus mampir ke dokter dulu, bertanya siapa tau ada jantung yang nagnggur, karena sepertinya sebentar lagi jantungnya akan segera tewas.
            Dan tanpa diduga, sebuah senyum melekukkan bibir si Ganteng. Cowok itu tersenyum padanya!
            Aria langsung yakin dirinya pasti sudah ada di surga.
            Kemudian, hal paling menakjubkan terjadi. Cowok itu bangkit, menutup buku yang sedari tadi dibcaranya, mengambil gelas kopinya, dan terakhir... melangkah ke arah Aria.
            Aria ternganga. Ia langsung kebat-kebit sendiri. Apa cowok itu mau menghampirinya? Atau ia hanya ingin menghampiri temannya yang duduk di belakang Aria? Aria hendak memastikannya ketika ia teringat bahwa ia duduk di meja pojok cafe, selalu setiap ia datang ke cafe itu. Otomatis nggak ada orang lain yang duduk di belakangnya. Dan kalau nggak ada orang lain yang duduk di belakangnya, berarti sowok itu memang... menghampirinya!
            Ya Tuhan, tenang Aria. Rileks. Atur napas, ya, begitu. Bagus. Sekarang, coba kamu lihat sekitarmu. Mungkin saja ada teman si Ganteng yang duduk di meja di dekatmu kan? Ada banyak meja yang tersebar diantara meja Aria dan meja nomor 4, meja si Ganteng tadi. Jadi, belum tentu si Ganteng menuju ke arahmu. Aria mengangguk-angguk. Ya, pemikiran itu tampaknya jauh lebih masuk akal. Memangnya apa yang bisa membuat si Ganteng menghampirinya? Tampangnya kucel, mana jorok lagi, nggak mungkinlah si Ganteng berniat menyapanya. Jangan ngimpi, Ar.
            “Hai, boleh aku duduk di sini?”
            Mata Aria membelalak, dan ia ternganga saat mendengar sebuah suara yang agak ngebass menyapanya. Ia mendongak, dan makin menganga. Si Ganteng berdiri di hadapannya, dengan senyum 1000watt yang ditujukan padanya! Katakan kalau ia memang ada di surga karena kini Aria betul-betul akan mati saking bahagianya.
            “Boleh?”tanya si Ganteng mengulangi.
            Aria mengerjap, tersadar dan buru-buru mengangguk. Ia langsung membereskan mejanya dan menyingkirkan buku-buku referensinya, meletakkannya di atas kursi di sebelahnya. Tak ada yang bisa Aria lakukan dengan bukti kerakusannya, jadi ia hanya menggesernya agar ada tempat buat si Ganteng meletakkan bawaannya.
            “Apa aku mengganggu?”tanya cowok itu, masih sambil tersenyum, memperlihatkan dengan jelas lesung pipitnya. Aria langsung meleleh.
            “Ng... Nggak! Tentu aja nggak!”sahut Aria cepat-cepat, ia tersenyum membalas senyuman si Ganteng.
            Cowok itu lalu mengulurkan tangannya. Tangan yang tampak jauh lebih besar dari tangan Aria dan tampak kokoh.
            Aria menelan ludah seketika.
            “Aku Dylan,”kata cowok itu.
            Aria mengerjap. Ia menatap tangan yang terulur di hadapannya itu seolah tangan itu cuma tipuan kamera. Setelah menenangkan diri, Aria menjabat tangan itu. “Aku Aria. Mariana lengkapnya, tapi teman-temanku sering memanggilku Aria, kata mereka nama itu lebih enak di dengar,”celoteh Aria. Aduh, kenapa ia berubah jadi cewek idiot begitu? Memangnya Dylan ada bertanya apa?!
            Tapi Dylan hanya tersenyum dan mengangguk. Aria langsung merasa kecewa saat Dylan melepaskan tangannya. Lagi donk, batin hati kecil Aria.
            “Aku penasaran,”kata Dylan. “apa sih yang kamu kerjakan?”
            Aria harus memaksakan diri untuk memfokuskan pikirannya. Apa tadi yang ditanyakan Dyaln? Oh, apa yang sedang Aria kerjakan? Apa yang sedang... Aria nyaris menyeringai konyol dan menjawab 'mandangin kamu diam-diam' saat itu juga, tapi berhasil menggigit lidahnya dan memaksakan otaknya untuk memberikan jawaban yang lebih berkelas.
            “Aku lagi mencari inspirasi untuk novelku,”kata Aria. Bego! Jawaban apa tuh? Di mananya yang berkelas?! Aria mengutuki kebodohannya.
            “Kamu menulis novel?”tanya Dylan, tampak tertarik.
            “Eh, yah, begitulah,”sahut Aria. Ia merasakan dirinya merona merah menghadapi tatapan Dylan.
            “Berapa novel yang sudah kamu terbitkan?”tanya Dylan, murni ingin tau.
            “Ehm... Beberapa mungkin. Tapi kamu mungkin nggak pernah baca, soalnya movelku itu novel cewek,”kata Aria buru-buru.
            “Coba sebutkan salah satu judulnya,”pinta Dylan.
            Aria ragu sejenak. Tapi lalu memutuskan nggak ada salahnya memberi tau Dylan. Jadi ia memilih satu novelnya yang paling laris. “Ehm... salah satu judulnya adalah Lukisan Senja,”kata Aria pelan.
            Dylan mengernyit seolah pernah mendengar judul novel itu, matanya masih menatap Aria. Ia lalu menumpangkan sikunya di atas meja dan menatap Aria lekat-lekat, membuat Aria salah tingkah.
            “Lukisan Senjanya Arian?”tanya Dylan.
            Kini giliran Aria yang kaget. “Kamu tau?”Aria balik tanya, agak kaget karena Dylan mengingat nama samarannya. Apa mungkin Dylan pernah membaca novelnya? Ah, nggak mungkin. Lukisan Senja yang ia buat kan sarat dengan romantis dan melodramatis banget. Pokoknya jenis novel yang akan membuat pembacanya nangis deh. Nggak mungkin kan Dylan... Memikirkannya saja sudah membuat Aria memasang tampang ngeri.
            Melihat ringisan Aria, Dylan menaikkan sebelah alisnya. Lalu seolah bisa membaca kemana arah pikiran Aria, Dylan tersedak tawa. Akan tetapi ia tak bisa menyamarkan tawanya menjadi deham atau sejenisnya. Dylan tergelak lepas, sukses membuat Aria terpana. Aria jadi bertanya-tanya apa ada hal lainnya yang bisa membuat Dylan lebih ganteng lagi.
            “Nggak, aku nggak seperti yang kamu pikir,”kekeh Dylan. “Aku pernah baca sekilas karena adikku keranjingan novel itu dan menceritakan seluruh isinya padaku,”kata Dylan.
            Aria merasakan wajahnya memerah dan ia menyambar air mineralnya untuk menyamarkan betapa malunya ia. Ia minum dengan pelan, tak berani melirik Dylan yang rupanya sudah pasang senyum lagi. Ya ampun, kenapa Aria harus kelihatan memalukan begitu sih?
            “Ehm... begitu ya,”sahut Aria pelan, tak tau harus berkata apa.
            “Ya. Awalnya aku nggak tertarik, tapi ketika Sarah terus saja mengocehkan isi novelnya, lama-lama aku tertarik juga. Novel itu menceritakan tentang cinta yang tak mengenal perbedaan kan? Yang nggak lekang walau apapun yang terjadi,”kata Dylan.
            Aria mengangguk malu. “Cerita itu sebenarnya separuhnya kisah nyata,”aku Aria. “Itu kisah sahabat baikku.”
            “Kuharap endingnya sama seperti di dalam novel kamu,”kata Dylan.
            Sekali itu Aria tersenyum lembut. “Ya. Endingnya memang membahagiakan,”sahutnya. “Akhir yang sempurna untuk kisah mereka.”
            Aria menatap Dylan, yang balas menatapnya dengan alis terangkat. Andai ending Aria dan Dylan juga seperti itu... Aria berangan-angan. Pasti menyenangkan, hehe.
            Obrolan Aria dan Dylan makin lama makin lancar. Aria tidak lagi mendapat serangan jantung tiap kali Dylan tersenyum atau tertawa. Dan dari obrolan singkat itu, Aria mengetahui di mana Dylan tinggal, di mana ia bekerja magang, dan apa-apa saja yang disukai dan dibenci cowok itu. Aria harap di akhir sesi obrolan mereka nanti, mereka bisa tukeran nomor ponsel, hehe....
            Dari obrolan itu juga Aria tau kalau Dylan sering mampir ke cafe itu untuk membeli kopi dan camilan untuk makan siangnya, karena rupanya tempat magang cowok itu ada di dekat cafe itu. Dylan sih mengatakan kalau ia magang di studio musik, ia sesekali mengajar les gitar privat atau terkadang manggung bersama teman-temannya. Aria tanpa sadar langsung membayangkan saat Dylan memengang gitar. Mengajarinya langkah-langkah bermain gitar, tangan mereka bersentuhan, punggungnya menempel di dada cowok itu, dan Dylan akan menjelaskan cara bermain gitar sambil berbisik di teliganya. Huaa... Aria langsung ngeces lagi. Buru-buru ia mengalihkan khayalan liarnya sebelum bertambah parah. Salah-salah Dylan bisa ilfeel melihatnya.
            Diam-diam Aria memperhatikan Dylan. Cowok itu menghampiri mejanya dan mengajaknya ngobrol. Mungkin nggak sih, kalau Dylan naksir padanya? Aria cepat-cepat menepiskan pikiran itu. Tapi diam-diam berharap kalau memang itulah yang terjadi. Uh, Aria betul-betul jatuh cinta pada Dylan! Hush, Aria, jangan kebanyakan menghayal. Salah-salah cuma menambah kecewa nantinya. Akan tetapi... Aria tetap penasaran. Mengapa cowok seganteng Dylan mau menghampiri cewek upik abu sepertinya? Dilihat dari penampilannya, Aria yakin ia kelihatan menyedihkan. Aneh kalau Dylan tertarik padanya kan? Apa lagi, mana ada sih cewek seusianya (23 tahun) duduk di pojok cafe sambil memelototi laptopnya?
            Sekali lagi Aria mendebat kata hatinya. Kalau tadi Dylan mengajaknya kenalan, kenapa sekarang bukan Aria saja yang duluan minta tukeran nomor ponsel dengan Dylan? Hal seperti itu tentunya nggak aneh donk, di era emansipasi wanita begini. Lirik sebentar, tampak kalau Dylan sedang sibuk melihat buku-buku referensi Aria. Ayo, Aria. Come on! Keluarkan keberanianmu dan katakan!
            “Ng... Lan...”kata Aria memulai dengan ragu-ragu. Sayangnya kata-katanya tersela oleh suara deringan telepon yang sangat keras, sampai-sampai ia terlonjak kaget. Semua kata-kata yang ia susun langsung melesat keluar dari otaknya. Ditambah lagi Dylan terlanjur menatapnya penuh tanya, menunggu. Haduh, mati deh!
            “Ng... Itu... Aku...”Aria langsung tergagap.
            “Ya? Ada apa?”tanya Dylan, tersenyum polos.
            Duh, Aria nggak bisa konsentrasi deh. Siapa sih yang punya telepon kok nggak diangkat? Kan berisik banget. Dan kenapa cuma Aria saja yang sepertinya merasa terganggu? Dylan atau pengunjung lainnya seolah nggak mendengar suara dering yang keras itu. Padahal Aria saja sampai ingin menutup telinganya. Aria menolah ke sekeliling. Benar, semuanya tampak nggak terganggu.
            “Lan, kamu nggak terganggu dengan suara dering ponsel itu ya?”tanya Aria, menoleh kembali kepada Dylan.
            Lho, kemana Dylan? Tempat duduk di depan Aria kosong melompong dan nggak ada tanda-tanda keberadaan Dylan sama sekali. Aria langsung celingukan dan memanggil-manggil nama Dylan. Tapi hanya suara dering ponsel yang terdengar makin keraslah yang menyahutinya. Aria mulai kehilangan kesabarannya dan menutup telinganya. Menahan suara ponsel yang menjerit-jerit itu.
            “Aarrrghhhh!! Berisiiikk!!!”

            Aria tersentak, duduk tegak di kursinya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan menatap ke sekitarnya. Ia masih duduk di cafe, laptopnya terbuka di atas meja, dan dering ponsel masih terdengar, tapi dengan volume yang normal. Lho, ada yang aneh. Mejanya masih berantakan, laptopnya terbuka, dan Dylan... Oh, Dylan lenyap!
            Aria langsung celingukan.
            Akan tetapi semuanya tak ada yang berubah. Ia kembali memperhatikan mejanya yang berantakan. Nggak ada tanda-tanda kalau ia sempat membereskannya untuk mengobrol dengan seorang cowok. Semuanya sama seperti saat ia memandangi si Ganteng.
            Hanya satu kemungkinan yang bisa Aria pikirkan.
            Aria mendesah berat dan menatap kursi kosong di hadapannya. Lalu ia menatap ke arah meja 4, yang kini sudah kosong. Si Ganteng --Aria nggak berani menyebut Dylan-- tidak pernah menghampiri dan mengobrol akrab dengannya. Ia pasti ketiduran dan bermimpi. Ugh... Malu-maluin banget...
            Dan ponselnya masih saja berdering!
            Dengan kesal Aria mengangkat teleponnya. “Hallo?!”sahutnya ketus. Lalu suaranya berubah manis karena ternyata yang menelepon adalah Mamanya yang menyuruhnya agar segera pulang. Aria mengiyakan seraya membereskan barang-barangnya. Setelah meyakinkan kalau ia akan segera pulang, Aria memutuskan sambungan telepon dan menghela napas.
            Ia kemudian meraih tas laptopnya dan memasukkan laptop ke dalamnya. Setelah itu ia melangkah menuju pintu keluar. Ketika hampir mencapai pintu, seorang pelayan laki-laki menghentikan Aria. Aria berhenti dan menunggu hingga pelayan itu sampai di hadapannya.
            “Maaf, ada titipan untuk Anda,”kata pelayan itu.
            “Oh ya?”tanya Aria heran.
            Pelayan itu lalu mengulurkan segelas kopi pada Aria. Aria langsung mengernyitkan dahinya. Sebelum ia sempat bertanya, pelayan itu kembali merogoh kantong celemeknya dan mengulurkan secarik kertas yang dilipat dua kepada Aria.
            “Ini aja?”tanya Aria.
            Pelayan itu mengangguk. “Iya.”
            Aria berterima kasih dan pelayan itu pun berbalik pergi. Aria memegang kopinya dengan tangan kiri dan mengamati kertas di tangannya. Ia lalu mengangkat bahu dan membuka kertas itu. Awalnya ia mengernyit membaca pesan di dalamnya. Lalu, perlahan matanya membelelak dan jantungnya berdegup kencang.
            Perlahan-lahan tawa pelan menyeruak dari bibirnya. Ia menutup kertas itu dan menyelipkannya ke dalam tas laptopnya. Ia melangkahkan kakinya keluar dan tersenyum riang. Hatinya terasa ringan dan ia seolah melayang.
            Yah, mungkin hari ini nggak sepenuhnya mengecewakan, batinnya.

“Jangan berpikir terlalu keras, nanti malah stress. Minum ini dan semoga apa yang kamu kerjakan selesai dengan hasil yang memuaskan.

PS: See you tomorrow

                                                                                                            -David, meja nomor 4-”



THE END

YOUR PRISONER 9 - END


Lyla berlari keluar dari kamarnya seperti orang dikejar setan. Ia tak memedulikan penampilannya yang acak-acakan ataupun keheranan keluarganya. Begitu sampai di pintu depan, Lyla langsung menghambur keluar dan berlari ke jalanan. Lyla tak menoleh ke kanan atau ke kiri, ia langsung saja berbelok ke kanan dan berlari. Akan tetapi langkahnya perlahan terhenti s...aat melihat siapa yang berdiri bersandar di dinding rumahnya. Napas Lyla terputus-putus dan air mata membanjiri pipinya. Tatapannya nanar saat menatap siluet kabur Glenn yang tengah bersandar sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Dan cowok itu mendongak saat merasakan kehadiran Lyla.
            “Akhirnya kamu muncul juga,” ujar Glenn perlahan. Ia kemudian menegakkan tubuhnya hingga berdiri mengahadp ke arah Lyla.
            “Kamu cowok paling jahat yang aku kenal...” kata Lyla dengan suara bergetar. Ditatapnya Glenn dengan marah.
            “Ya, aku memang jahat,” aku Glenn.
            Lyla perlahan melangkah, lama-kelamaan langkahnya menjadi cepat hingga ia berada di hadapan Glenn. Lyla memukuli Glenn dengan kepalan tangannya sambil memaki-maki cowok itu.
            “Cowok jahat! Cowok brengsek!! Kenapa kamu harus bilang hal seperti itu di saat terakhir?! Kenapa kamu harus merusak ketenangan hidup aku?! Kenapa kamu harus kembali!!” seru Lyla penuh amarah. Dia memukuli dada Glenn tanpa ampun dengan segenap perasaan marahnya.
            Glenn menangkap tangan Lyla dan menghentikan pukulan cewek itu. “Sorry, Ly, aku nggak bermaksud buat menyakiti kamu,” kata Glenn lembut.
            “Aku nggak peduli!! Aku udah benci sama kamu!! Dan sekarang aku akan makin membenci kamu!! Pergi aja! Aku nggak peduli kalau kamu mau pergi ke manapun yang kamu mau!! Aku nggak peduli! Kamu dengar!!” bantak Lyla.
            Glenn menarik Lyla ke dalam pelukannya, tak peduli dengan rontaan Lyla. Akhirnya setelah merasakan perlawanan diri Lyla yang berangsur melemah, barulah Glenn bicara.
            “Aku tau aku salah karena nggak bilang apapun sama kamu. Tapi kalau kamu ingat, kamu selama ini kan benci sama aku. Kalau aku tiba-tiba bilang sayang sama kamu, apa kamu akan percaya?” tanya Glenn.
            Lyla terdiam.
            “Nggak kan? Makanya aku menggunakan cara ini supaya kamu mau memaafkan aku. Aku ingin supaya kamu bisa menerima perasaan sayangku tanpa prasangka apapun, Ly,” kata Glenn. “Tapi sampai akhir, kamu nggak menunjukkan perasaan apapun sama aku. Aku jadi merasa putus asa,” lanjutnya.
            “Kalau gitu kenapa kamu nggak bilang aja langsung?! Kenapa malah bilang saat kamu mau pulang?!” sahut Lyla.
            “Aku nggak punya kesempatan buat ngomong. Saat aku pikir kamu udah maafin aku, tiba-tiba kamu menjauh lagi. Terus begitu sampai aku kehabisan waktu dan terpaksa pakai cara ini,” kata Lyla.
            “Tapi kamu udah sadar kan sama perasaanku?! Kenapa kamu masih aja mempermainkan aku?!” tuduh Lyla.
            Glenn menjauhkan dirinya dan menatap Lyla. “Aku nggak pernah mempermainkan kamu,” kata Glenn.
            “Lalu itu apa?! Kamu buat aku suka sama kamu, lalu kamu pergi! Apa itu nggak mempermainkan aku?! Kamu juga bilang sayang sama aku, tapi kamu malah pergi ninggalin aku tanpa sepatah kata perpisahan!!”
            “Kamu yang nggak mau ketemu sama aku kan?” tanya Glenn lembut.
          Lyla gelagapan. “Aku cuma... cuma... nggak tau kalau kamu mau pulang! Kamu nggak bilang kan sama aku?!” tukasnya.
            Glenn menggeleng sambil menghela napas. Sampai kapan mereka akan memainkan permainan ini?
            “Lyla, aku minta maaf untuk semua kesalahan yang aku lakukan ke kamu. Dari dulu sampai sekarang. Aku sayang sama kamu. Saking sayangnya, sampai-sampai aku bela-belain ke sini dan berbohong soal liburan itu ke orangtua kamu!” kata Glenn.
            “Apa?” tanya Lyla.
            “Ya, aku bohong. Sebenarnya aku nggak lagi liburan. Harusnya saat ini aku ada di kamp pelatihan fotografer. Tapi aku datang ke sini supaya bisa ketemu sama kamu dan memperbaiki hubungan kita yang renggang,” kata Glenn.
            “T... tapi gimana mungkin kamu bisa bohong seperti itu?! Lalu gimana dengan kamp pelatihan itu?!” tanya Lyla.
            “Aku bilang kalau aku ada urusan darurat yang membuatku nggak bisa ikut ke sana,” sahut Glenn santai.
            Lyla tercenung. Dia sama sekali tidak percaya akan kata-kata Glenn. Cowok itu bolos kegiatan kampus hanya demi menemuinya? Ini sama sekali nggak bisa dipercaya. Kenapa cowok itu melakukan hal seperti itu? Bagaimana kalau kampus memberinya peringatan?
            Glenn menyentuh kerutan di antara dua alis Lyla dan tersenyum. “Tenang aja. Nggak ada hal yang perlu dikhawatirkan,” kata Glenn.
            Lyla mendongak. “Gimana kalau kamu sampai ketahuan?! Gimana kalau kamu dihukum??” tanya Lyla takut.
            “Tenang ajalah, Ly, ini bukan pertama kalinya aku bolos kok,” kata Glenn.
            “Bukan pertama kalinya???” tanya Lyla tak percaya.
            “Yep. Beberapa kali aku bolos buat menemui kamu. Tapi batal dan aku cuma mandangin kamu dari kejauhan aja,” kata Glenn sambil meringis. “Aku harus membuat moment yang tepat agar pertemuan kita nggak terlalu mengejutkan kamu,” kata Glenn lagi.
            Lyla menatapnya dengan sinis. “Jadi bangun disambut dengan ciuman penuh liur seekor anjing bisa disebut nggak mengejutkan? Terlebih jika yang dibangunkan itu benci sama anjing?!”
            Glenn meringis. “Itu di luar skenario. Aku nggak tau kalau Buddy bakalan masuk ke kamar kamu,” kata Glenn. “Aku rencananya mau menghadiahkan Buddy buat kamu sebagai permintaan maafku.”
            “Tapi kamu kan tau aku takut sama anjing!!”
            “Nggak semua anjing itu galak, Ly. Aku udah melatih Buddy supaya jinak sama kamu dan menuruti semua perintah kamu,” kata Glenn.
            Lyla membuang muka. “Seolah dia bakal mau aja!”
            “Hey,” kata Glenn dan memalingkan wajah Lyla ke arahnya. “Aku nggak mungkin berniat ngasih Buddy kalau dia nggak jinak! Senakal-nakalnya aku dulu, sekarang aku udah dewasa dan nggak mungkin aku ngejahilin kamu kayak dulu lagi,” kata Glenn.
            Ekspresi Lyla perlahan mengendur dan dia menundukkan kepalanya. Dipelintir-pelintirnya ujung pakaiannya dengan gusar. Sekarang, setelah semua kesalahpahaman di antara dirinya dan Glenn terselesaikan, Lyla tiba-tiba tidak tau harus bersikap bagaimana di hadapan Glenn. Semangatnya yang tadi menguap entah ke mana dan sekarang ia mulai merasakan panas merambati pipinya. Glenn sudah terang-terangan mengatakan kalau dirinya menyayangi Lyla, lalu apa yang Lyla tunggu? Bukankah dia juga merasakan hal yang sama pada Glenn?
            “Lyla,” panggil Glenn.
            “Hmm...?” sahut Lyla tanpa menatap Glenn. Sebaliknya Lyla malah melirik ke sekeliling jalanan komplek perumahannya yang masih terbilang sepi pagi itu.
            “Nggak ada yang mau kamu ucapin ke aku?” tanya Glenn. Senyum bermain-main di bibirnya, tapi Lyla tak melihatnya karena cewek itu terus saja menundukkan kepalanya.
            Lyla merasakan wajahnya semakin memanas dan dia berdiri dengan gelisah, baru sadar kalau dia tidak memakai alas kaki. Aduh, kenapa penampilannya begitu memalukannya sih? Lyla mengeluh dalam hati.
            “Ly,” panggil Glenn lagi, kali ini ada nada geli dalam suaranya. “bajumu bisa sobek kalau diplintir terus kayak gitu,” kata Glenn.
            Tangan Lyla berhenti memlintir ujung pakaiannya, gantinya ia malah meremas-remas tangannya. Glenn menggelengkan kepalanya dan meraih kedua tangan Lyla. Ditangkupkannya kedua tangan itu dengan lembut.
            “Ly, angkat kepala kamu,” perintah Glenn lembut.
            Lyla melakukannya dengan perlahan, tapi menghindari tatapan mata Glenn.
            Glenn melepaskan satu tangannya dan mengarahkan wajah Lyla hingga berhadapan dengannya. “Apa kamu sayang sama aku?” tanya Glenn perlahan.
            Lyla menatap Glenn dengan mata melebar panik. Ia tidak menyangka kalau Glenn akan menanyakan hal itu secara langsung. Dan sekarang jantung Lyla mulai berlompatan saking groginya.
            “A... Aku... Aku...” sahut Lyla grogi.
            Glenn menunggu dengan sabar. Ia menahan geli saat melihat Lyla bergerak-gerak gelisah dan terus-terusan menatap ke sekelilingnya. Lalu, tanpa diduga-duga sama sekali, Lyla memandangnya dengan tatapan langsung. Dan sebelum Glenn sempat bereaksi, Lyla berjinjit dan mencium bibir Glenn sekilas. Mereka bertatapan sedetik sebelum Lyla menguburkan wajahnya di dada Glenn dan memeluknya dengan erat.
            “Aku sayang kamu,” bisikan lirih itu terdengar saat Glenn berusaha memulihkan diri dari kekagetan akibat tindakan Lyla tadi.
            “Apa? Aku nggak dengar,” kata Glenn, tidak tahan untuk menggoda Lyla. Dan dari cengkeraman Lyla, Glenn tau kalau cewek itu mulai merasa kesal.
           “Aku bilang, aku sayang sama kamu, Idiot!!” ulang Lyla seraya mendongak dan menatap Glenn dengan kesal. “Kamu budek ya?! Atau kamu cuma mau ngerjain aku? Iya kan? Kamu cuma mau ngerjain...”
            Kata-kata Lyla lenyap saat Glenn membungkamnya dengan sebuah ciuman. Mata Lyla membelalak dan ia berusaha mendorong Glenn. Ia takut akan ada yang memergoki mereka, khususnya keluarganya.
            “Glenn... Nanti ada yang lihat!” protes Lyla lemah.
            “Biar aja mereka lihat. Kayak nggak pernah muda aja,” sahut Glenn dan kembali mencium Lyla.
            Karena rasa takut ketahuannya menang, Lyla pun menginjak kaki Glenn agar cowok itu menjauh.
            “Aduh! Apaan sih, Ly? Kan sakit!” protes Glenn.
            Lyla mendelik dengan wajah memerah. “Kamu yang apaan! Kamu pikir kita ada di mana?! Gimana kalau Mama atau Papa aku lihat?!” balas Lyla.
            Glenn mencibir. “Ya biar aja... Palingan mereka malah bakal senang,” sahutnya.
            “Glenn!!”
            “Iya, iya, aku salah. Puas?” kata Glenn.
            Gonggongan keras Buggy dari dalam mobil membuat Lyla terlonjak kaget. Tanpa sadar dia langsung memeluk Glenn dan menatap ke balik bahunya.
            “Dia masih dikerangkeng kan??” tanya Lyla takut.
            “Masih kok, mau ketemu?” tanya Glenn.
            “Nggak! Nggak mau!!” tolak Lyla serta merta. Lalu ia ingat bahwa Glenn sengaja membawa Buddy untuk dihadiahkan untuknya. “Ehm, maksudku nggak sekarang... Aku... belum siap untuk… berinteraksi sama dia,” ralatnya.
            Glenn tersenyum dan mengusap-usap kepala Lyla. “Berarti aku harus membawa dia pulang dulu donk,” kata Glenn.
            “Kamu beneran mau pulang?” tanya Lyla, tiba-tiba merasa nggak rela.
            “Iya. Aku harus pulang dan siap-siap,” kata Glenn.
            “Siap-siap untuk apa?” tanya Lyla.
            Glenn tersenyum lebar. “Aku mau siap-siap pindahan,” kata Glenn.
            “Pindahan???” Lyla membeo.
            “Kamu lihat nggak rumah di seberang rumah kamu itu?” tanya Glenn.
            Lyla langsung menoleh untuk melihat rumah yang dimaksud. “Iya, rumah kosong itu kan? Memangnya kenapa?”
            “Mulai minggu depan aku dan keluargaku akan tinggal di sana,” bisik Glenn di teliga Lyla.
          “Ohh...” sahut Lyla. Lalu dia terdiam. Matanya membulat dan dia langsung menoleh ke arah Glenn. “Apa?!?” serunya.
            “Iya, Sayang, kita bakal tetanggaan lagi,” kata Glenn.
            Lyla mengerjapkan matanya. Lalu ia memekik dan langsung memeluk Glenn. Ia melompat-lompat dan berteriak kegirangan, membuat Glenn tertawa karenanya.
            Pada akhirnya, Glenn dan Lyla bisa menyelesaikan kesalahpahaman mereka. Kini mereka sudah saling mengetahui perasaan mereka masing-masing dan memulai dari awal lagi. Sebagai ganti hari-hari yang mereka habiskan untuk membenci dan dibenci, kini mereka mencoba untuk saling mengerti dan memahami satu sama lain. Dan juga, mengobati fobia Lyla terhadap anjing.

** SELESAI **