Senin, 16 April 2012

THE CURSED HOUSE last part


_04:55_

Runa mengikuti pendar cahaya yg ia lihat tadi hingga tanpa ia sadari, ia sudah sampai ke ruang depan. Runa berhenti dengan napas terengah2. Ia melihat kesana kemari, mencari2 apa yg ia pikir adalah cahaya tadi. Di luar, badai telah reda namun hujan masih belum berhenti.
Runa kebingungan, dan ia sadar ia sudah meninggalkan teman2nya. Runa baru hendak berbalik kembali ketika Hagane muncul dan langsung memeluknya.
''Runa! Apa yg kau lakukan?! Ini bahaya sekali tau!!''kata Hagane marah bercampur lega.
''Ma..maaf.. Aku juga tidak tau..''kata Runa. ''Tapi lihat! Kita sampai di ruang depan! Kita akan selamat!!''kata Runa sambil menunjuk2 pintu.
Hagane menyadarinya juga. ''Kau benar! Kita bisa keluar! Tapi kita harus menyelamatkan Minato dan Makoto dulu!''kata Hagane
''Kita harus membakar rumah ini! Kau punya pemantik api?!''tanya Runa
''Tunggu, kurasa aku punya. Tapi kita harus menolong Minato dan Makoto!''kata Hagane
Runa mulai mengumpulkan barangt yg bisa terbakar dengan mudah. Ia juga menumpahkan beberapa lampu minyak yg ada di ruang depan ke lantai dan dinding rumah.
''Aku tau. Tapi kita tetap harus mempersiapkan semuanya. Begitu mereka menyusul, kita akan langsung menyulut api!''kata Runa
''Tak bisa begitu! Mereka tak tau jalan kemari!''kata Hagane
Runa menatap Hagane. ''Minato pasti tau. Aku tak tau kenapa aku yakin, tapi aku yakin makoto juga akan dituntun kemari!''kata Runa bersikeras.
''Tapi...''
''Berhentilah membantah Runa, Hagane...''
Runa dan Hagane menoleh ke arah suara dan melihat Minato berjalan terhuyung2 ke arah mereka.
Hagane langsung membantu Minato.
''Kita harus melakukan seperti apa yg Runa katakan,''kata Minato. ''Hanya kita yg tersisa, tak ada gunanya kita berlama2 disini.''
Hagane mengangguk dan melakukan apa yg Runa katakan tadi.
Dalam sekejap ruangan itu mulai dilalap api.
''Ayo kita keluar!!''kata Hagane
Hagane dan Makoto mendobrak pintu hingga terbuka. Ketika mereka mulai berlari keluar, Runa menjerit dan terjengkang. Kemudian ia ditarik ke dalam api entah oleh apa. Runa berusaha bertahan sampai Hagane menolongnya.
Runa akhirnya bisa melepaskan diri atas belitan tak terlihat itu. Hagane menggendongnya dan berusaha menghindari api yg mulai berkobar.
''Sial,''kata Hagane. Ia menurunkan Runa dan mencari2 celah dalam kobaran api. Kemudian ketika ia melihatnya, ia berteriak pada Minato agar bersiap di pintu keluar.
Runa tidak tau apa yg akan Hagane lakukan sampai ketika Hagane menggenggam tangannya, kemudian mengayunkan dan mendorongnya melewati celah kecil di antara kobaran api. Runa berteriak ketika ia merasakan hawa panas. Kemudian, air hujan sudah mengguyurnya. Ia ada dalam dekapan Minato.
''Hagane!!''kata Runa tersadar. Ia melepaskan diri dan membelalak melihat Hagane yg masih terperangkap dalam rumah. ''Tidak! Hagane!!''teriak Runa.
Ia berusaha kembali ke dalam rumah, namun Minato menghalanginya.
''Larilah bersama Minato!! Jangan pedulikan aku!!''teriak Hagane, sambil menutupi hidungnya untuk menghalau asap yg membuatnya tersedak.
''Tidak mau!! Kau sudah janji akan menjagaku seumur hidup kan?!''teriak Runa, ia menagis dan terus meronta di pelukan Minato.
''Maafkan aku!!''teriak Hagane. Wajahnya tampak sedih.
''Tidak...kumohon cobalah keluar...''tangis Runa.
Minato yg melihat Runa terus2an menangisi Hagane akhirnya tak bisa diam saja. Ia merenggut Runa dan menciumnya sekilas sebelum melompat ke dalam api.
''Aku akan menyelamatkannya,''begitu kata Minato tadi.
Runa hanya bisa terperangah dan menyaksikan Minato lenyap di balik kobaran api.
''TIDAAKK!! MINATO!! HAGANE!!!''teriaknya

_04:55_

Runa mengikuti pendar cahaya yg ia lihat tadi hingga tanpa ia sadari, ia sudah sampai ke ruang depan. Runa berhenti dengan napas terengah2. Ia melihat kesana kemari, mencari2 apa yg ia pikir adalah cahaya tadi. Di luar, badai telah reda namun hujan masih belum berhenti.
Runa kebingungan, dan ia sadar ia sudah meninggalkan teman2nya. Runa baru hendak berbalik kembali ketika Hagane muncul dan langsung memeluknya.
''Runa! Apa yg kau lakukan?! Ini bahaya sekali tau!!''kata Hagane marah bercampur lega.
''Ma..maaf.. Aku juga tidak tau..''kata Runa. ''Tapi lihat! Kita sampai di ruang depan! Kita akan selamat!!''kata Runa sambil menunjuk2 pintu.
Hagane menyadarinya juga. ''Kau benar! Kita bisa keluar! Tapi kita harus menyelamatkan Minato dan Makoto dulu!''kata Hagane
''Kita harus membakar rumah ini! Kau punya pemantik api?!''tanya Runa
''Tunggu, kurasa aku punya. Tapi kita harus menolong Minato dan Makoto!''kata Hagane
Runa mulai mengumpulkan barangt yg bisa terbakar dengan mudah. Ia juga menumpahkan beberapa lampu minyak yg ada di ruang depan ke lantai dan dinding rumah.
''Aku tau. Tapi kita tetap harus mempersiapkan semuanya. Begitu mereka menyusul, kita akan langsung menyulut api!''kata Runa
''Tak bisa begitu! Mereka tak tau jalan kemari!''kata Hagane
Runa menatap Hagane. ''Minato pasti tau. Aku tak tau kenapa aku yakin, tapi aku yakin makoto juga akan dituntun kemari!''kata Runa bersikeras.
''Tapi...''
''Berhentilah membantah Runa, Hagane...''
Runa dan Hagane menoleh ke arah suara dan melihat Minato berjalan terhuyung2 ke arah mereka.
Hagane langsung membantu Minato.
''Kita harus melakukan seperti apa yg Runa katakan,''kata Minato. ''Hanya kita yg tersisa, tak ada gunanya kita berlama2 disini.''
Hagane mengangguk dan melakukan apa yg Runa katakan tadi.
Dalam sekejap ruangan itu mulai dilalap api.
''Ayo kita keluar!!''kata Hagane
Hagane dan Makoto mendobrak pintu hingga terbuka. Ketika mereka mulai berlari keluar, Runa menjerit dan terjengkang. Kemudian ia ditarik ke dalam api entah oleh apa. Runa berusaha bertahan sampai Hagane menolongnya.
Runa akhirnya bisa melepaskan diri atas belitan tak terlihat itu. Hagane menggendongnya dan berusaha menghindari api yg mulai berkobar.
''Sial,''kata Hagane. Ia menurunkan Runa dan mencari2 celah dalam kobaran api. Kemudian ketika ia melihatnya, ia berteriak pada Minato agar bersiap di pintu keluar.
Runa tidak tau apa yg akan Hagane lakukan sampai ketika Hagane menggenggam tangannya, kemudian mengayunkan dan mendorongnya melewati celah kecil di antara kobaran api. Runa berteriak ketika ia merasakan hawa panas. Kemudian, air hujan sudah mengguyurnya. Ia ada dalam dekapan Minato.
''Hagane!!''kata Runa tersadar. Ia melepaskan diri dan membelalak melihat Hagane yg masih terperangkap dalam rumah. ''Tidak! Hagane!!''teriak Runa.
Ia berusaha kembali ke dalam rumah, namun Minato menghalanginya.
''Larilah bersama Minato!! Jangan pedulikan aku!!''teriak Hagane, sambil menutupi hidungnya untuk menghalau asap yg membuatnya tersedak.
''Tidak mau!! Kau sudah janji akan menjagaku seumur hidup kan?!''teriak Runa, ia menagis dan terus meronta di pelukan Minato.
''Maafkan aku!!''teriak Hagane. Wajahnya tampak sedih.
''Tidak...kumohon cobalah keluar...''tangis Runa.
Minato yg melihat Runa terus2an menangisi Hagane akhirnya tak bisa diam saja. Ia merenggut Runa dan menciumnya sekilas sebelum melompat ke dalam api.
''Aku akan menyelamatkannya,''begitu kata Minato tadi.
Runa hanya bisa terperangah dan menyaksikan Minato lenyap di balik kobaran api.
''TIDAAKK!! MINATO!! HAGANE!!!''teriaknya
#11
Runa memanggil2 nama Hagane dan Minato. Ia tak dapat melihat jelas ke dalam kobaran api yg melalap ambang pintu dan asap yg membumbung tinggi. Hujan masih turun cukup deras dan itu membuat pandangan Runa makin terbatas. Ia berdoa semoga keduanya selamat. Ia takkan bisa jika kehilangan salah satu dari mereka.
Sementara itu, Minato berhasil menerobos masuk. Kondisinya yg basah kuyub membuatnya sedikit terhindar dari hawa panas. Ia akhirnya menmukan Hagane yg membungkuk dan terbatuk2. Ia menghampiri Hagane.
''Kau baik2 saja, Hagane?''tanya Minato
''Mi..Minato? Kenapa kau...''
''Jangan banyak bicara! Aku akan mengeluarkanmu dari sini! Runa menunggumu di luar sana!''kata Minato, memotong ucapan Hagane.
Minato melihat ke sekelilingnya untuk mencari apapun yg bisa ia gunakan untuk membuka jalan di tengah2 kobaran api. Matanya terpaku pada sekelebat bayangan yg berdiri diatas tangga. Minato mengumpat. Dengan cepat ia menyortir semua barang yg ada di dekatnya dan menemukan bagian atas meja yg sudah patah. Potongan itu cukup panjang untuk dijadikan pijakan untuk membuka jalan.
Ia mengabaikan Hagane dan mengambil potongan meja itu, kemudian melemparkannya ke atas kobaran api yg menghalangi pintu masuk.Menciptakan sebuah jalur kecil.
''Cepat lari!!''teriak Minato sembari mendorong Hagane
''Apa?!''tanya Hagane tak jelas. Ia nyaris tak bisa bernapas.
''Sialan, lari Hagane!! Lewati papan itu! Cepat!!''teriak Minato
Hagane menatap jalur yg dibuat Minato dan langsung mengerti.
''Kau akan mengikuti kan?''tanya Hagane
Minato hanya mengangguk. Dan itu cukup untuk membuat Hagane mulai berlari. Menghindari sambaran2 api di sekelilingnya.
Minato hanya menatap kepergian Hagane. Kemudian ia menatap bayangan diatas tangga.
''Kita akan mati bersama,''kata Minato pada bayangan itu.
Terdengar suara raungan marah yg menggetarkan rumah sebagai jawabannya.
Hagane berhasil mencapai dunia luar. Ia langsung tersungkur. Namun ia ingin memastikan Minato juga selamat. Dia menoleh ke belakang dan melihat Minato masih di dalam.
''Minato!?''panggil Hagane
Runa mendekati Hagane dan berlutut di sampingnya. Ia menangis. Ia sudah mengerti niat Minato sejak awal.
''Cepat! Sebelum jalurnya hilang!!''teriak Hagane
Minato hanya tersenyum. Hagane terus berteriak2 menyuruh agar Minato keluar, tapi Minato bahkan tak bergerak dari tempatnya.
Kemudian terdengar suara gemuruh. Minato menatap ke atas. Dan beberapa detik kemudian, rumah itu mulai runtuh.
''MINATOOO!!!''teriak Hagane
Api makin melalap rumah dan menjadi raksasa panas yg menyilaukan dalam badai. Hagane terduduk lemas. Ia menatap puing2 yg tadinya berdiri Minato.
Runa memeluknya dan menangis. Bersama hujan yg turun serta cahaya pagi yg mulai muncul di cakrawala, rumah itu berubah menjadi puing2 yg terlalap api.
**
Runa dan Hagane menghadiri pemakaman teman2nya. Suasana duka menyelimuti mereka semua, namun jelas bahwa Runa dan Haganelah yg paling merasa kehilangan. Runa bersandar di bahu Hagane, air matanya tak henti2nya mengalir.
Begitu pemakaman selesai, satu persatu orang yg hadir di pemakaman itu pulang. Semuanya menepuk pundak Hagane dan memberi semangat pada Runa.
Rumah itu telah rata dengan tanah. Butuh waktu berhari2 untuk menemukan semua mayat teman2nya yg meninggal dengan cara mengenaskan. Dan mengikuti apa yg ditulis dalam buku harian, Runa juga meminta agar polisi menyelidiki sekeliling rumah itu. Mencari mayat2 lain yg konon dikubur disana. Runa berharap, dengan dimakamkan secara layak, arwah orang2 yg mati disana akan tenang.
''Kita pulang?''tanya Hagane
Runa memandang makam Minato untuk terakhir kalinya kemudian ia mengangguk pelan.
Hagane merangkul pundak Runa. ''Kita takkan melupakan pengorbanan Minato,''ucap Hagane. ''Aku telah berjanji padanya akan menjagamu. Dan aku berniat menepatinya. Bahkan tanpa ia minta sekalipun,''kata Haganr
Runa mendongak dan tersenyum tipis. Ia bersandar kepada Hagane.
''Iya, aku tau..''sahutnya.
Berdua, mereka meninggalkan pemakaman itu. Angin berhembus pelan. Menerbangkan dedaunan kering yg jatuh di jalan. Sehelai daun terhempas angin dan membumbung tinggi ke langit. Langit yg berwarna kelabu, dengan sinar matahari yg mulai menerobos celah2 awan kelabu...


THE END

THE CURSED HOUSE part 3


_03:00_

Sebelum memberika bukunya kepada Runa untuk dibacakan, Minato melipat ujung beberapa halaman yg ia anggap penting. Kemudian barulah ia mengembalikan buku itu ke tangan Runa.
''Apa?''tanya Runa
''Bacalah,''kata Minato
Dengan ragu Runa mulai membaca.
''Tanggal 11 bulan 8 tahun 1989.. 'Aku yakin ada yg aneh dirumah ini. Sejak menginjakkan kaki dirumah ini, aku sudah tau sesuatu yg buruk akan terjadi. Hanya saja aku mengabaikan perasaanku itu. Namun aku mulai menyadari sesuatu ketika aku melihat bahwa wajah pelayan disini selalu berubah2. Aku tak tau apa yg membuat mereka selalu diganti. Kemudian terjadi kecelakaan. Seorang pelayan jatuh dari tangga dan mati.'''baca Runa
''Lanjutkan,''kata Minato
''...'Tanggal 12 bulan 8 tahun 1989. Keanehan itu makin menjadi2. Aku tak tahan tinggal disini. Aku sudah bilang pada orang2 kalau tempat ini aneh, tapi mereka mengabaikanku. Lalu aku menemukan sebuah catatan mengenai sejarah rumah ini. Disana aku mendapatkan sesuatu yg mengejutkanku. Konon, dulu rumah ini milik seorang bangsawan kaya. Karena keserakahannya, ia membantai seluruh keluarganya dan mengubur mayatnya di sekita rumah. Kemudian karena dihantui oleh arwah2 yg ia bantai, bangsawan itu bunuh diri karena depresi. Aku yakin hantunyalah yg bergentayangan dan membunuhi orang2 dirumah ini.'..''Runa mengakhiri dengan suara kesiapan keras.
''Astaga...''gumam Makoto
''Ini..ini tulisan kakak,'''kata Runa
''Lanjutkan lagi,''kata Minato
Hagane mengambil alih. ''Tanggal 13 bulan 8, hari ini Yo janji akan menjemputku. Aku sudah mengatakan kalau aku tak mau ada disini lebih lama lagi.
Ia memang datang dan aku segera mengambil barang2ku. Hanya saja, ketika aku kembali, ia sudah tak ada. Aku bertanya pada setiap pelayan yg ada, tapi tak satupun yg melihatnya. Dan aku sadar..Yo pun sudah diambil. Tak ada lagi yg membuatku sanggup bertahan. Tanpa Yo, buat apa aku menyelamatkan diri?
Suara2 tangis itu menghantuiku. Aku tau sebentar lagi akupun akan bernasib sama. Oleh karena itu, aku menulis pesan ini. Aku berharap seseorang akan menemukannya. Rumah ini rumah terkutuk. Jangan datang kemari. Kumohon kalian jangan kesini. Siapapun yg kemari akan mati. Cukup aku saja yg akan mengakhirinya. Aku mengorbankan diriku agar iblis itu tak membunuh siapa lagi. Kuharap ia takkan membunuh lagi'...''baca Hagane.
Minato memberi isyarat untuk membuka halaman paling belakang. Hagane melakukannya. Ia melihat sekilas dan kembali menyerahkan buku harian itu pada Runa. Runa menerimanya dengan bingung.
Kemudian ia mulai membaca. Runa menutup mulutnya dengan tangan saking tak percayanya dengan apa yg ia baca.
'Runa, jangan pernah mau tinggal disini! Bahkan jangan pernah datang kesini! Bawa semua orang pergi dan hancurkan rumah ini. Iblis itu tak bisa meninggalkan rumah ini. Bakar saja! Sebelum semua terlambat. Aku menyayangimu. Airi.'
Runa menangis keras. Hagane langsung memeluknya. Makoto mengepalkan tangannya tanpa bisa melakukan apapun. Minato juga hanya terdiam. Keheningan yg tak nyaman mengambang di udara sekitar.
''Kita harus segera keluar,''kata Hagane.
Minato mengangguk setuju. ''Kita kumpulkan lilin dan lakukan seperti yg ditulis Kak Airi dalam buku hariannya,''kata Minato
Ketiga temannya mengangguk dan mulai mengumpulkan lilin yg tadi mereka pakai dalam diam..

_04:45_

''Hoshi, ayo kita cari Runa dan yang lainnya! Bagaimana kalau 'Dia' muncul?''tanya Midori takut.
''Aku tau! Tapi kita tak tau dimana mereka!''sahut Hoshi. ''Sial, mereka kemana sih?!''umpatnya kesal. Sudah sejak tadi ia dan Midori mencari2 Runa dkk.
''Hoshi, ayo cepat... Aku merasa tidak enak..''kata Midori
''Ayo!''sahut Hoshi dan menggenggam tangan Midori. Keduanya bergegas. Mereka sama2 merasa diikuti, jadi dengan putus asa mereka mulai mempercepat langkah hingga nyaris berlari. Mereka ketakutan, kelelahan dan putus asa. Napas mereka tersengal2, tapi mereka tak bisa berhenti. Akhirnya mereka sampai di ruangan utama, hanya untuk mendapati tak ada Runa dan yg lainnya.
Tak berapa lama, lampu diruangan itu mulai berkedip2. Udara berubah dingin. Midori langsung merapat pada Hoshi.
Lalu bayangan itu muncul entah dari mana. Seolah ia muncul dari ruang kosong dengan sebuah pedang di tangannya.
''Ho..shi... Itu...''
''Aku tau. Kita harus lari!''kata Hoshi
''Kemana?!''tanya Midori panik
''Kemana saja!!''tukas Hoshi putus asa.
'KHU~KHU~KHU~ KAALIIAAANNN PIIKIIRRR AAKKKANN PERRGIII KEEMANA??'kata bayangan hitam itu. Sebuah rongga mata hitam menatap ke arah Hoshi dan Midori.
Bayangan itu tertawa. Tawa mengerikan yg membuat bulu kuduk meremang. Kemudian Dia menyeringai dengan mata haus darah. Hoshi dan Midori mundur.
Belum sempat Hoshi menarik Midori dan pergi, bayangan itu sudah melesat ke arah Hoshi.
Suzu hanya sanggup berdiri mematung ketika tubuh Hoshi roboh. Darah memerciki pakaian Midori
Ia menatap kosong ke arah tubuh tanpa kepala Hoshi. Kemudian, seperti halnya Hoshi tadi, Suzu bahkan belum bergerak ketika ia merasakan sensasi dingin di perutnya. Perlahan ia menunduk, menatap pedang yg menancap di perutnya. Kemudian, perlahan tubuh Midori merosot jatuh, bergabung bersama tubuh tak bernyawa Hoshi dalam genangan darah..
**
_04:40_

Makoto mengambil senternya yg tadi ia selipkan di rak buku. Baru saja ia menarik senternya ketika sepasang mata hitam menatapnya dari celah buku. Seketika Makoto berteriak dan langsung melarikan diri.
''Ada apa?!''tanya Hagane
''Di..dia disini!!''engah Makoto
''Apa?!''
Makoto pun menjelaskan secara cepat apa yg ia lihat, tangannya menunjuk2 ke arah rak dengan panik. Minato memeriksa rak yg Makoto bicarakan tapi tak ada apa2. Makoto lalu mendekati Minato dan mengambil senternya. Cahaya lilin bergoyang2, mennciptakan bayangan yg menakutkan.
''Tak ada apa2,''kata Minato
''Aku yakin aku tadi melihat sesuatu,''kata Makoto berkeras.
''Awas di belakang!!!''teriak Hagane
Terdengar suara berderak. Minato dengan sigap menarik Makoto sesaat sebelum mereka tertimpa rak yg terjatuh.
''Cih!''umpat Minato. Ia berdiri dan menarik Makoto bersamanya. Minato baru sadar kalau lengannya berdarah karena tergores, sementara Makoto hanya memar karena terbentur meja.
''Kalian tidak apa2?''tanya Runa khawatir.
''Kami baik2 saja,''sahut Minato.
''Aku tak menyangka raknya akan roboh,''kata Hagane sambil membantu Makoto berdiri tegak.
''Tapi...''kata Runa, namun terhenti ketika mendengar suara berderak.
Keempatnya terdiam dan mendengarkan.
''Sialan!''umpat Hagane, menyadari suara gemuruh yg makin keras. ''Cepat lari ke pintu!! Semua rak itu akan roboh!!''teriak Hagane. Ia langsung menggamit lengan Makoto dan mendorongnya agar berlari lebih dulu.
Seolah membenarkan kata2 Hagane, satu persatu rak mulai bergoyang. Buku2 berjatuhan. Ruangan itu seolah bergetar hebat.
''CEPAT!!!''teriak Minato sambil menarik Runa bersamanya.
Keempatnya menaiki tangga dengan kecepatan penuh. Akan tetapi, ketika hendak membuka pintu, pintu yg tak bisa dikunci itu malah tak bisa terbuka.
''Tak mau terbuka!!''jerit Runa
''Dobrak saja!''kata Minato dan menggeser Runa, Hagane tiba tepat waktu untuk membantu.
Dobrakan pertama tak menghasilkan apa2. Sama seperti dobrakan kedua.
''Cepat!!''kata Makoto panik. Ia melihat ke belakang dan melihat rak2 buku berjatuhan. Kemudian dia berteriak ketika melihat sebuah bayangan melayang mendekat.
Hagane dan Minato langsung mengerahkan segenap tenaga untuk mendobrak. Begitu pintu terbuka, mereka langsung berdesakan keluar. Hagane membanting pintu hingga tertutup sebelum menyusul teman2nya yg sudah berlari. Ia sempat memandang ke belakang hanya untuk mendengar suara berdebum keras seperti suara pintu di hantam sesuatu. Kemudian ia menambah kecepatan larinya dan menjajari Runa dan yg lainnya...

Minato, Makoto, Runa dan Hagane terus berlari menjauhi ruang bawah tanah. Akan tetapi, rumah itu malah membuat mereka tersesat. Kemanapun mereka pergi, mereka tak bisa menemukan pintu keluar. Ditambah lagi dengan perasaan diburu yg membuat akal sehat melayang.
''Dimana kita?! Apa kita sudah aman?!''tanya Makoto tersengal2. Ia terbatuk2 karena kekurangan oksigen.
''Kita takkan aman sebelum kita keluar!''kata Minato sambil mengatur napas.
''Tapi dimana pintunya?! Aku tak bisa melihat apapun dalam kegelapan begini!''seru Makoto
''Benar, aku bahkan tak bisa melihat bentuk kakiku,''gerutu Hagane dengan napas terengah2. Ia membungkuk kehabisan napas, namun tangannya tetap menggenggam tangan Runa yg terbatuk2 di sebelahnya.
''Se...seharusnya kita tak jauh dari pintu depan,''sahut Runa
''Sebaiknya kita menghemat cahaya yg kita punya. Makoto, matikan sentermu, Hagane juga. Cukup memakai dua saja,''kata Minato. ''Sekarang kita harus tetap waspada. Kita harus saling melindungi.''
Hagane mematikan senternya dan mengambil alih senter Runa. Makoto juga mematikan senternya. Bersama2 mereka berjalan merapat satu sama lain.
Kemudian mereka mendengar suara langkah kaki.
''Kalian dengar itu?''bisik Makoto takut
Keempatnya langsung bersiaga, mengantisipasi serangan mendadak. Akan tetapi tak terjadi apapun yg mencurigakan.
Minato menyuruh Makoto tetap bersama Runa dan Hagane, sementara ia berniat memeriksa apapun itu. Makoto langsung menahannya.
''Jangan! Pasti Dia!''kata Makoto
''Tak apa, aku hanya akan melihat sebentar,''kata Minato.
''Sialan, Minato! Dengarkan aku!''kata Makoto kesal.
''Aku tau. Makanya kusuruh kau menunggu kan,''sahut Minato
''Dasar keras kepala!''
''Hei, kalian! Jangan ribut saja! Lebih baik kita pergi saja!''kata Hagane
Runa melihat ke sekeliling dan tak terlalu memperhatikan perdebatan itu. Saat itulah ia melihat sekelebatan cahaya di ujung lorong. Runa melihatnya dan mengira dirinya salah lihat. Akan tetapi, ia yakin ia melihatnya. Tanpa pikir panjang, Runa berlari ke arah pendar cahaya itu. Hagane yg sejak tadi memegangi tangannya terkejut ketika tiba2 Runa melepaskan diri.
''Runa!!!''teriak Hagane
''Apa?!''tanya Minato
''Runa kabur entah kemana!''sahut Hagane
''Cepat kejar dia!''perintah Minato. ''Biar aku memeriksa disini!''kata Minato lagi.
Hagane mengangguk dan langsung mengejar Runa.
Minato kembali memeriksa sekitar, mengabaikan gerutuan Makoto. Kemudian ia menyorotkan lampu senter ke depan. Minato terkesiap ketika cahaya senter mengenai tubuh2 penuh darah teman2nya. Makoto yg sudah panik tentu saja bereaksi dengan berlari ke arah lain. Akan tetapi belum sempat ia bergerak, sebuah tangan sudah mencekik lehernya. Makoto langsung megap2 mencari udara.
Minato dengan keahlian bela dirinya tak ragu2 menendang jatuh teman2nya. Kemudian ia menolong Makoto. Mainato harus berjuang keras untuk melepaskan cekikan Izumi dari leher Makoto, sementara Makoto mulai kehabisan napas.
Sial, mereka takkan bisa menang! Mana mungkin bisa menang melawan mayat hidup?!
''Sial, Makoto! Jangan menyerah! Mereka itu sudah mati! Pukul saja!!''bentak Minato yg berusaha memiting lengan Midori dan melemparkannya ke dinding. Kemudian Shino maju dan mencekiknya. Minato memelintir tangan Shino dan membantingnya ke lantai.
''Makoto!!''panggil Minato.
''Ce..paatt...laa..rriii... Jangan...pikir...kan...a...ak..kuu...''ujar Makoto kehabisan napas.
''Bicara apa kau?!''teriak Minato sambil melemparkan Suzu hingga menghantam meja. ''Mana bisa aku meninggalkanmu!!''
'KAALLAAAUUU BEEGIITUUU~~ MAATTIII BERRSAAMA PUUN KAAAU MMAAAUU~ KAAANN~'desis sebuah suara yg membuat Minato merinding seketika
''Apa?!''teriak Minato. ''Makoto!!!''