Kamis, 01 Maret 2012

Cerpen : BOYFRIEND

BOYFRIEND

BOYFRIEND  #1
Windy berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Ia sedang memikirkan cara untuk keluar dari masalah yg sedang ia hadapi. Sebelum'a Windy mungkin takkan keberatan dengan kepopuleran'a diantara para siswa cowok di sekolah. Namun sekarang ia mulai merasa tidak nyaman dengan segala perhatian yg ia terima dari penggemarnya. Sebentar lagi ujian akhir, tidak kurang dari sebulan lagi, dan Windy takkan bisa berkonsentrasi jika disekelilingnya dipenuhi oleh cowok2 yg menginginkan perhatian'a. Cowok2 itu takkan pernah berhenti mengejarnya selama ia masih ''single''. Jadi satu2nya cara yg terpikir oleh Windy adalah seorang pacar. Tapi siapa yg bisa ia jadikan pacar sementara'a? Seorang cowok yg selain berwajah oke, pintar, memiliki tinggi tubuh ideal dan mengintimidasi, yg akan dengan senang hati membantu'a. Yg takkan menuntut apa2 dari kesepakatan yg bisa Windy ajukan. Dengan kata lain seorang cowok yg nyaris sempurna dan tidak memiliki perasaan apapun padanya. Sehingga jika sebulan telah berlalu, cowok itu takkan komplain jika Windy mengakhiri hubungan mereka. Dan Windy takkan menuntut apapun pada cowok itu selain bisa membantu'a dalam hal pelajaran dan membuat penggemarnya mundur teratur.
Masalah'a adalah, apakah ada orang seperti itu? Pintar, berwajah oke, mengintimidasi dan memiliki aura yg akan membuat orang enggan untuk mendekat.
Oh! Tiba2 Windy mendapat sebuah pencerahan dalam otaknya. Windy tau harus mencari siapa. Windy mungkin hanya pernah mendengar desas-desus tentang orang itu, tapi Windy yakin hanya cowok itu yang memenuhi persyaratan Windy. Akan tetapi, ada sesuatu yg membuat Windy getir. Dari apa yang Windy dengar, orang yang akan dia pilih ini akan sangat sulit dijinakkan. Bisa jadi Windy akan mendapatkan ''Masalah'' dengan huruf ''M'' ekstra besar didepan'a. Artinya takkan mudah mendapatkan kerjasama cowok itu. Bahkan bisa jadi Windy akan gagal bahkan sebelum memulai. Tapi Windy tidak punya pilihan lain. Dia harus bisa membuat cowok itu bersedia membantunya. Dan Windy akan melakukan segala cara agar cowok itu setuju.
Berbekal tekad sekuat baja, sekokoh batu karang, Windy keluar dari kelas'a yg sudah kosong karena jam pelajaran terakhir tadi kosong. Ia menuju kelas cowok itu. Ini bisa jadi misi bunuh diri dan mempermalukan diri sendiri. Tapi Windy sudah bertekad, dan itulah yang akan dia lakukan!
***
Daniel membenahi semua buku dan alat tulisnya yg berserakan di mejanya. Ia sedang bersiap2 untuk pulang. Hari ini ia sudah cukup lelah dengan keseharian'a yg monoton. Ia belajar, belajar dan belajar untuk ujian akhir nanti. Ditambah lagi dengan tugasnya sebagai Wakil Ketua Osis yg juga membuat'a sibuk.
Danie menginginkan hal lain yg bisa menyegarkan pikiran'a. Apapun yg membuat otak'a yg penat segar kembali. Kalau bukan karena image yg tak sengaja diciptakan'a untuk menjauhkan orang2 yg hanya melihat wajah'a, mungkin saat ini dia sudah menantang orang untuk diajak ribut. Tapi sudah lebih dari 2tahun ia menjadi Daniel si penyendiri. Yang rajin dan berusaha jadi anak emas para guru.
Jika dibiarkan memilih, Daniel pasti akan memilih jadi orang yg biasa2 saja. Sayang sekali ia tidak bisa. Ia mewarisi gen kedua orangtuanya yg sama2 jenius dan memiliki ambisi yg tinggi akan kesuksesan. Sehingga mau tak mau orang2 akan berpikir dua kali sebelum mendekatinya. Ditambah lagi dengan tinggi badannya yg diatas rata2 itu, 182cm. Tinggi yg membuat siapapun yg berhadapan dengan'a merasa terintimidasi.
Daniel menyampirkan tas'a di punggung dan keluar dari kelas'a. Belum jauh ia melangkah, seorang cewek mengikutinya. Daniel melirik'a namun tetap tak berhenti benjalan. Dan ketika Daniel memutuskan untuk mengabaikan cewek yg menjajari langkah'a itu, cewek itu malah menghadang jalannya. Daniel pun berhenti. Ia menunduk dan menatap cewek mungil yg berdiri didepan'a. Cewek itu tampak sedikit berhati2. Daniel harus menahan diri agar tidak mendengus melihat tingkah sok berani cewek itu.
''Boleh minta waktunya sebentar?''tanya cewek itu
''Bicara aja,''kata Daniel. Ia ingin segera menjauh dari cewek ini.
Cewek itu menengok ke kanan dan ke kiri, lalu ia mnggeleng. ''Nggak bisa disini,''sahut cewek itu berbisik. Ia tampak serius.
''Kalau nggak ya sudah, aku mau pulang,''kata Daniel cuek dan mulai berjalan lagi.
Cewek itu kelihatan jengkel tapi berusaha menahan diri. Ia kembali menghentikan Daniel dan tersenyum. Terpaksa, menurut Daniel.
Alis Daniel terangkat tinggi. Dalam hati ia bertanya2 apa mau cewek ini seandainya Daniel mau memberikan waktu beberapa saat.
''Please...''kata Cewek itu memohon.
Hmm.. Tampak'a cewek ini tidak main2. Ia memang perlu bicara dengan Daniel. Lagipula, ini sudah lewat jam pulang sekolah. Entah sudah berapa lama cewek itu menunggunya hanya untuk bicara. Kalau orang lain mungkin sudah pulang, tapi cewek ini justru tetap bertahan. Hmm, sepertinya menarik. Daniel jadi penasaran..


BOYFRIEND  #2
Windy sudah mengambil langkah nekat pertamanya. Ia menghadang cowok itu begitu keluar dari kelas'a. Ia menghadang cowok raksasa itu! Hoh, ia pasti sudah gila. Dan bukan perjuangan yg mudah mengingat ia harus menunggu dan bersembunyi di balik pot tanaman hampir selama setengah jam sebelum cowok itu muncul. Windy bahkan nyaris menerobos kelas cowok itu jika dalam waktu satu jam cowok itu belum keluar juga. Tapi cowok itu keluar, dan Windy langsung mengikuti'a. Astaga, cowok itu benar2 tinggi! Windy sampai harus mendongak agar bisa menatap matanya. Dan Windy merasa terintimidasi oleh cowok itu, padahal cowok itu cuma menatapnya dengan mata elang'a.
Tapi Windy menolak untuk menyerah. Ia dengan berani menatap mata cowok itu, meski lehernya harus pegal sekalipun! Bagaimanapun, tinggi badan Windy hanya 160cm, ia takkan pernah sejajar dengan cowok itu.
Setelah mengatakan ia ingin bicara dengan cowok itu, Windy harus langsung mendapatkan jawaban yg sangat pahit. Cowok itu tak mau jika Windy tak langsung bicara saat itu juga. Windy memutuskan untuk mencoba taktik rayuan. Ia tersenyum lalu menunjukkan wajah memelas.
''Aku gag bisa bicara disini,''kata Windy. ''Ikut sebentar denganku, ya? Gag lama kok! Sumpah!''bujuk Windy.
''Kalau nggak disini, ya udah,''kata cowok itu dan berjalan melewati Windy
''E.eehhh.eehh...''Windy langsung mengejar cowok itu. Ia kembali menghadang cowok itu. Kali ini sambil merentangkan tangan'a lebar2. Berharap bisa mengahalangi cowok itu. Namun cowok itu malah menerobos'a.
''Eehhh, tungguuuuuu,''kata Windy dan menarik tangan cowok itu dengan sekuat tenaga. Kebetulan mereka melewati ruang Lab yg Windy harap sedang kosong. Tanpa pikir panjang Windy langsung menarik cowok itu masuk ke dalam Lab. Windy langsung menutup pintu dan menguncinya. Kemudian berdiri menghalangi di pintu. Tak peduli dengan tatapan galak yg diberikan cowok itu.
Windy menari napas panjang. Haha, dia berhasil menyudutkan cowok gorila itu! Meski sekarang cowok itu tengah bersedekap, menunggu.
''Sebelumnya aku minta maaf udah mengganggu kamu,''kata Windy. ''Aku Windy, dari kelas XI 3. Aku butuh bantuan kamu, Daniel,''kata Windy lagi.
''Kenapa aku?''tanya cowok bernama Daniel itu skeptis.
''Karena cuma kamu yg bisa bantu aku!! Aku yakin, kalau kamu, mereka pasti nggak berani mendekat. Aku nggak bisa bikin mereka menjauh sehingga aku gag bisa konsentrasi belajar untuk ujian akhir,''kata Windy frustasi.
''Apa masalahmu? Aku gag mau terlibat dalam urusan yg gag penting!''sahut Daniel
Windy meraih tangan Daniel dan menatap'a lurus2. ''Aku mau kamu jadi pacarku!''kata Windy
Cowok bernama Daniel itu mengerjap beberapa kali. Seolah Windy baru saja memintanya jadi seorang spiderman dan merangkak di langit2. Jadi Windy langsung menambahkan dengan cepat. ''Pura2 aja. Cuma sampai UAS selesai! Please, Daniel.. Aku cuma bisa minta tolong kamuu,''pinta Windy
Cowok itu, Daniel, menarik tangan'a dengan kasar dan tentu saja menolak mentah2.
''Nggak! Cari orang lain aja! Enak aja minta tolong hal aneh begitu! Aku juga sibuk belajar. Lagian kita nggak saling kenal sama sekali,''sahut Daniel
Windy meringis. ''Justru karena kita nggak saling mengenal.. Aku memerlukan orang yg gag menyukaiku,''kata Windy mendesah. ''Dengar, aku janji nggak akan menyusahkan kamu, Dan! Kamu cuma perlu berlagak kita punya hubungan spesial. Minimal di sekolah kita harus terlihat bersama2 dan akrab. Supaya orang2 percaya kalau aku udah punya pacar. Kamu kan pintar, juara 1 umum, aku mungkin bisa belajar dari kamu,''kata Windy penuh kepasrahan. ''Aku bahkan rela melakukan apa aja sebagai imbalan'a,''kata Windy dramatis agar Daniel tersentuh. Tapi boro2 tersentuh. Wajah cowok itu masih saja tak terbaca. Windy jadi menebak2 apa kira2 jawaban cowok itu setelah ia mengajukan usul nekat itu. Windy sudah tidak punya amunisi untuk melawan Daniel. Kalau ini juga gagal, Windy mungkin akan menangis dan mengiba di kaki cowok itu!
''Oke,''
Jawaban yg tak terduga itu membuat Windy terbelalak. Windy terperangah. Dia baru saja hendak menghambur dan memeluk Daniel, bahkan mencium'a karena kesediaan cowok itu membantu'a. Tapi semua tindakan euforia itu batal ketika mendengar syarat yg mengikuti persetujuan Daniel tadi.
''Aku mau pura2 jadi pacarmu,''kata Daniel. ''Dengan syarat, kamu nggak boleh jatuh cinta padaku!''

BOYFRIEND  #3
Bukan hanya cewek didepan'a yg kaget. Daniel juga kaget mendengar dirinya berkata seperti itu. Dan cewek itu, Windy, terlihat sangat kaget. Daniel berhasil menyembunyikan kekagetan'a dengan baik dan menampilkan wajah datar'a.
''Kalau nggak setuju juga nggak apa,''kata Daniel
''Ehh, iya! Aku setuju!''sahut cewek itu cepat. Kemudian dengan ragu dan bingung ia menambahkan, ''Aku gag akan jatuh cinta sama kamu,''
Daniel menahan senyum gelinya. Menarik juga cewek ini. Jelas2 cewek itu punya banyak pertanyaan yg berseliweran dikepalanya. Tapi cewek itu, Windy, berusaha keras menahan lidah'a. Mungkin ini bisa menjadi selingan untuk rasa bosan'a, pikir Daniel.
''Selain itu, aku nggak mau berakting kalau kita cuma berdua. Aku cuma jadi 'pacar' kamu di muka umum. Dan kamu gag boleh mempertanyakan tindakanku. Kamu tinggal lihat dan ikuti,''kata Daniel tegas
''Tunggu, aku oke2 saja dengan syarat2 itu. Tapi aku juga punya syarat2ku. Antara lain'a kamu gag boleh ambil kesempatan atas diriku, ya? Kita pacaran cuma sebulan, hingga UAS selesai,''kata Windy
''Ya,''kata Daniel. ''Kalau udah selesai, aku mau pulang,''kata Daniel.
Kali ini langkahnya tidak dihalangi lagi. Cewek bernama Windy itu lngsung menyingkir dan membiarkan Daniel membuka pintu. Tapi Daniel berhenti ketika sudah ada di luar. Daniel melirik ke balik bahu'a.
''Kamu pulang sendirian?''tanya Daniel
''Eh, i..iya sih,''sahut Windy
''Ayo, kalau begitu,''kata Daniel dan kembali melanjutkan langkah'a. Kalau mau bermain peran, bukan'a lebih baik secara total? Jadi Daniel berpikir kalau memang ia akan bersama dengan cewek itu sebulanan ini, bukankah lebih baik membiasakan diri? Daniel bisa merasakan Windy dengan ragu mengikuti'a.
''Sekarang ceritakan apa masalahmu,''kata Daniel
''Aku pikir kalau aku punya pacar, mereka akan menyerah..''kata Windy
''Siapa yg kamu sebut dengan 'mereka' sejak tadi?''
Windy menarik napas panjang dan menghembuskan'a dengan lelah. ''Mereka itu adalah anak2 cowok di sekolah ini. Tiap hari ada saja yg menyatakan cinta sama aku. Aku merasa terganggu karena aku nggak bisa membalas perasaan mereka. Dan menolak orang itu sangat membebankan. Coba pikir, mereka itu makin ditolak makin menjadi! Mereka pikir aku belum siap atau apa. Aku sendiri heran dari mana mereka mendapatkan pemikiran seperti itu. Apa coba yg mereka lihat dariku?''oceh Windy panjang lebar. Daniel mendengarkan dengan tenang. Sementara ia memperhatikan tindak tanduk Windy yg tampak waswas ketika mereka melintasi lapangan basket untuk menuju lapangan parkir. Kmudian Daniel tau apa yg membuat gadis itu waspada.
Tiba2 entah darimana, muncul gerombolan cowok2 yg langsung mngerubungi Windy. Membuat Windy kelabakan menghadapinya. Semua'a berebut ingin mengantarkan Windy pulang.
Daniel pun maju dan menyeruak kerumunan itu. Kemudian ia melingkarkan tangan'a di pinggang Windy dan menatap satu per satu mata yg memandang'a.
''Ayo,''kata Daniel pada Windy, tapi tatapan membunuhnya masih tertuju pada cowok2 disekeliling Windy. Yg langsung saja bikin bulu kuduk merinding.
Daniel menuntun Windy ke mobil'a yg terparkir tak jauh disana.
''Thanks.. Kamu memang penyelamatku,''bisik Windy penuh terimakasih
Karena masih di lingkungan sekolah, Daniel membukakan pintu mobil untuk Windy dan menyuruh Windy masuk. Tak peduli apakah Windy ragu2 atau tidak. Kemudian Daniel melajukan mobil'a keluar dari lingkungan sekolah. Akan tetapi, begitu melewati tikungan pertama, Daniel menghentikan mobil'a di dekat halte bus.
''Turun,''perintah'a pada Windy
''Hah?!''gadis itu tampak shock. ''Disini?? Yang benar saja donk!''protes'a.
''Turun. Aku kan nggak bilang akan mengantar kamu pulang ke rumah? Jadi turun sekarang juga,''kata Daniel enteng
Sambil menggerutu Windy membuka pintu mobil Daniel dan keluar. Windy bahkan belum sempat mengeluarkan segala protes'a saat tanpa menunggu lagi, Daniel langsung tancap gas. Meninggalkan Windy yg mencak2 marah. Daniel bisa melihat cewek itu mengacungkan tinjunya ke udara dan memaki2 dirinya dari kaca spion. Daniel terbahak2. Permainan ini tampak lebih seru dari yg ia bayangkan..


BOYFRIEND  #4
Windy turun dari mobil dan langsung menuju gerbang sekolah. Ia masih sebal kalau mengingat apa yg sudah dilakukan Daniel kemarin. Tega2nya cowok itu menurunkan'a di halte! Gara2 itu Windy harus menunggu selama hampir setengah jam sampai sopir papa'a datang menjemput'a. Dasar cowok tidak berperasaan! Kalau bukan karena Windy memerlukan bantuan'a, Windy pasti ogah berurusan dengan'a.
Sudah jutek, sombong lagi! Gag salah kalau rumor menyebut'a Cowok Es. Selain punya tatapan menakutkan yg bikin siapapun membeku, cowok itu juga punya postur yg bikin nyali orang menciut. Tapi cowok itu punya tampang yg oke banget, Windy akui itu. Dan Windy juga akui kalau ia bahkan tidak sampai sepundak cowok itu. Dan jangan2, kalau Windy membuat'a tersinggung, malah bisa jadi Windy yg akan dikemplang! Hiiee, memikirkan'a saja sudah membuat Windy bergidik. Membayangkan kalau cowok itu mungkin saja sekejam itu...
''Siang banget kamu,''
''Wuuahhh,''seru Windy kaget. Dia terlompat ketika mendengar suara yg paling datar itu ditelinga'a. Padahal Windy sangat tidak mau melihat cowok itu.
''Gag usah sekaget itu deh,''kata Daniel
''Jangan menyelinap gitu, bisa gag siah?''desis Windy. Ia mengelus dada karena masih deg2an. ''Kupikir aku bakal jantungan..''
''Ini kan rencana kamu. Lagipula harus'a kamu berterima kasih sama aku,''kata Daniel
''Hah? Terima kasih? Maksudmu...''Windy tak menyelesaikan ucapan'a ketika matanya menyapu sekeliling. Windy akhir'a menyadari kalau saat itu ia dan Daniel tengah menjadi pusat perhatian. Mau tak mau Windy merona malu. Ia melirik pada Daniel yg tampak memasang wajah datar'a. Uhh, coba tuh cowok memberitau'a, ia kan bisa bersikap lebih akrab! Sebagai ganti rasa malu'a, Windy mulai melempar senyum kepada Daniel. Bersikap seolah2 mereka sedang membahas hal menarik.
''Oke, kali ini aku mengaku aku teledor. Tapi aku masih jengkel gara2 kemarin,''kata Windy jengkel, meski senyum tak sirna dari wajah'a.
''Yang mana?''tanya Daniel, dan seolah membalas Windy, ia juga melemparkan senyum tipis'a yg menggoda.
''Jangan pura2 lupa deh, dasar jahat,''desis Windy. Kemudian tersenyum pada beberapa cowok yg menatap patah hati ke arah'a ketika Windy lewat. Ia kembali menatap Daniel. ''Lupakan.''
Kedua'a kemudian harus bertahan selama lima menit penuh untuk sampai di kelas Windy. Lima menit penuh berpura2 menunjukkan wajah saling memuja satu sama lain. Huueekk, Windy nyaris mual. Nyaris, tapi. Dan begitu mereka telah melewati lorong yg ramai, kedua'a langsung berlagak tak kenal. Hanya saja, begitu sampai di depan kelas Windylah sikap pura2 mereka kembali lagi. Daniel mengantarkan Windy sampai betul2 tiba di depan kelas'a. Dan Daniel bersikap cukup manis dengan mengacak2 rambut Windy sambil melemparkan senyum tipis'a. Itu menurut pandangan orang yg melihat. Aslinya, Windy gondok abis karena Daniel sengaja mengusutkan rambut'a. Kemudian cowok itu pergi ke kelas'a. Windy yg baru saja masuk ke kelas, langsung dicegat oleh teman2 cewek2'a dan diintrogasi perihal hubungan'a dengan Daniel. Dan Windy sudah menyiapkan jawaban'a.
***
Windy Rania Kharisma. Cewek paling populer di SMA Plato. Diincar semua cowok berbagai tingkatan dengan berbagai suku bangsa, dan sudah menolak cinta nyaris puluhan kali. Manis, ramah, dan baik hati.
Daniel mencerna informasi mengenai yg di dapatkan'a dari Roki, sahabat'a.
Ternyata cewek itu sangat terkenal di kalangan cowok dan dibenci di kalangan cewek. Tapi menurut Daniel, cewek itu biasa saja. Kecuali keras kepala dan semangat bajanya yg pantang menyerah dan tak mau kalah itu.
Memang sejak pertengahan awal tahun pelajaran lalu Daniel sudah mendengar desas-desus tentang Windy. Bahkan pernah beberapa kali berpapasan dengan'a. Kenapa ia mau membantu cewek itu? Apakah alasan bosan bisa dijadikan acuan? Mungkin Daniel memang bosan dengan keseharian'a yg monoton dan nyaris tanpa gairah, tapi bermain2 dengan perasaan bukanlah cara mencari hiburan yg tepat. Sebosan2nya ia, Daniel tak pernah bermain2 dengan perasaan orang maupun dengan perasaan'a sendiri. Itu bukan cara Daniel. Jadi kenapa ia mau membantu? Itu masih jadi tanda tanya besar.
Windy memang menarik Daniel mengakui hal itu. Tapi ia tidak berminat terlibat terlalu jauh dengan yg nama'a cewek. Ia sudah pernah dikecewakan berkali2 oleh yg nama'a cewek. Dimata Daniel, semua cewek itu sama. Mereka kalau tidak melihat tampang'a, maka pasti melihat hartanya. Atau lebih parah lagi, dua2nya. Sudah cukup ia mencari2 ketulusan. Ia yakin didunia ini tidak ada yg nama'a ketulusan. Dan Daniel tak mau terjerat dengan Windy.
Karena Daniel tidak yakin bisa bersikap baik. Sikap posesif dan melindungi apa yg ia miliki sudah mendarah daging dikeluarga'a. Bahkan sikap protektif mereka sudah sangat terkenal. Bahkan sampai saat ini Papanya masih sangat cemburuan jika melihat pria lain melirik mama'a. Dan Daniel tau ia pun akan begitu. Jadi lebih baik menjauh sebelum terjerat..


BOYFRIEND  #5
Sambil tersenyum puas, Windy menebarkan pandangan ke sekeliling'a. Memang reaksi'a terlalu heboh dan sedikit membuat kelabakan karena banyak pertanyaan yg datang. Tapi efek sesungguhnya dari beredar'a kabar ''jadian''nya dengan Daniel cukup untuk membuat cowok2 penggemar'a berpikir panjang sebelum mendekatinya lagi. Karena itulah Windy bisa sedikit bernapas lega. Meskipun tinggal tunggu waktu sampai kabar ini betul2 menyebar ke seluruh sudut sekolah. Maka masalah paling besar dan paling sulit disingkirkan akan muncul.
Windy tidak tau bagaimana reaksi yg akan muncul. Mungkin Daniel akan ditantang duel oleh makhluk idiot itu. Ada baik'a kalau Windy memperingatkan Daniel lebih dulu supaya cowok itu tidak marah karena kaget. Windy tidak mau membayangkan kalau sampai Daniel murka.
Karena itulah, saat jam istirahat tiba Windy langsung menuju kelas Daniel. Dan di perjalan singkat itu ia memarahi dirinya sendiri karena tidak meminta nomor ponsel Daniel. Jadinya kan tidak perlu repot begini.
Sampai didepan kelas Daniel, Windy melongokkan kepala'a sedikit ke dalam kelas. Melihat situasi kelas yg tidak terlalu ramai tapi cukup bising. Windy menemukan Daniel tengah duduk di bangku'a sembari membaca buku. Wiih, jam istirahat juga belajar??batin Windy takjub.
Windy ingin masuk ke dalam, tapi ragu2. Aneh nggak ya kalau ia menghampiri Daniel di kelas'a? Gimana kalau cowok itu marah? Ah, tapi kan perjanjian'a mereka jadi sepasang kekasih. Bukan hal aneh donk kalau Windy menemui 'pacar'nya? Duh, tapi kan Windy membuat skenario Daniel yg menyatakan cinta'a.
''Kamu mau berdiri disini berapa lama?''
Windy berjengit kaget dan mendongak. Ia meringis saat melihat Daniel berdiri menjulang di hadapan'a, bersandar santai di ambang pintu kelas.
''Ah, sebenar'a aku kesini cuma mau ngasih tau sesuatu sama kamu,''kata Windy. ''Aku pikir lebih baik kamu tau sebelum nanti betul2 udah kejadian,''tambah'a dan menunggu respon Daniel.
''Apa?''tanya Daniel
''Gosip tentang kita udah mulai tersebar. Nggak lama lagi seluruh sekolah akan tau soal kita. Dan ada seorang cowok, dia tuh keras kepala dan gag bisa dengerin omongan orang. Aku takut mungkin dia bakal bikin kekacauan. Mungkin dia bakal nantangin kamu tau apa, jadi lebih baik kamu siaga kalau seandai'a sewaktu2 dia...''perkataan Windy terputus oleh sebuah teriakan melengking yg sangat norak dan bikin malu. ''...muncul,''kata Windy lemah. Ia kemudian menoleh ke asal suara dan meringis ketika seorang cowok melesat ke arah'a dengan kecepatan setara bison Afrika. Cowok itu langsung meraih tangan Windy dan menggenggam'a erat2 didadanya.
''Windy, gosip itu bohong kan?? Aku yakin itu salah satu gosip murahan yg disebarin oleh orang2 yg gag bertanggung jawab kan?! Windyku gag akan selingkuh kan ya?!''berondong cowok itu, yg dilihat dari dasi'a, jelas2 berada satu tingkat dibawah Windy.
Windy meminta tolong pada Daniel lewat tatapan panik'a. Berharap cowok itu akan menyelamatkan'a dari situasi memusingkan ini. Ditambah lagi tangan'a sudah mulai mati rasa!
Daniel menatap pendatang baru itu dengan tatapan menilai. Kemudian ia maju dan menyeruak di tengah2 antara Windy dan cowok itu. Seperti'a tindakan'a itu membuat cowok itu menyadari keberadaan Daniel. Ia mendongak dan menatap Daniel kesal, lalu beralih pada tangan Daniel yg berada di pundak Windy. Tapi tatapan kesal itu kembali ditujukan pada Daniel. Hmm, berani juga, pikir Daniel
''Kamu bisa lepaskan cengkramanmu dari Windy,''kata Daniel tenang.
''Kamu siapa?! Kamu yg harus'a lepasin tanganmu dari Windy'ku!''sahut cowok itu
Windy menutup mata. Pusing! ''Gini ya, Erik..''kata Windy sabar
''Siapa aku?''Daniel mengulanginya, memotong ucapan Windy. ''Aku pikir kamu udah mendengar gosip tentang aku dan Windy,''kata Daniel
Mata cowok itu membelalak, kemudian ia menatap mara pada Daniel. Ia melepaskan tangan Windy, tapi sebagai ganti'a, ia mengepalkan tangan'a di kedua sisi tubuh'a.
Windy buru2 menyela, sebelum betul2 terjadi baku hantam. Ia tidak meminta Daniel bertarung demi menolong'a. ''Ng..Erik, ini Daniel. Dia..pacar aku,''kata Windy manis, meski dalam hati deg2an abis.
''Tapi.. itu kan gosip!''ujar Erik, tampak terluka. Mirip anjing yg ditelantarkan. Aiih, mengenaskan.
Windy jadi kasihan, tapi ia harus mengatakan'a pada Erik.
''Itu sungguhan. Aku dan Daniel memang jadian,''kata Windy lembut.
Erik menatap Daniel dari ujung kepala sampai ujung kaki. Menyadari ia kalah tinggi, tapi itu tetap tak membuat'a gentar. Kemudian tatapan'a kembali pada Windy yg tampak serba salah.
''Bohong!! Kalian bohong!!''tegas Erik.
Windy baru saja hendak meyakinkan Erik kembali ketika tangan Daniel melingkari bahunya dan menarik'a mundur. Merapat ke sisi cowok itu. Seketika jantung Windy serasa dihantam gelombang tsunami. Windy sampai tercekat dan menegang. Daniel pasti tidak sengaja melakukan'a. Itu pasti cuma tindakan spontan. Ini semata2 untuk memperkuat kesan seorang 'pacar' dimata Erik. Iya, Windy yakin itu.
''Terserah kamu mau bilang apa. Tapi fakta gag akan berubah,''kata Daniel. ''Aku dan Windy memang pacaran. Jadi lebih baik kamu mundur dan jangan ganggu kami,''lanjut'a dengan tenang yg mengancam.
Kemudian Daniel menarik Windy pergi dari hadapan Erik. Sengaja tidak melepaskan rangkulan tangan'a sampai mereka jauh dan tidak dilihat Erik lagi.
Dan Windy lagi2 hanya bisa tercekat. Ia mengikuti Daniel layak'a robot!!


BOYFRIEND  #6
Hari2 berlalu dengan tenang. Erik tidak pernah muncul di depan Windy. Belum, pikir Daniel. Erik pasti akan muncul lagi. Firasat Daniel mengatakan kalau Cowok itu termasuk tipe kulit badak alias bebal. Daniel yakin dia sedang merencanakan hal lain. Mungkin mencari informasi sebanyak2nya, kemudian baru menyerang.
Daniel kemudian memperhatikan Windy yang tampak sibuk berkutat dengan soal2 matematika di hadapan'a. Cewek itu mengaku dirinya sudah bisa bernapas lega karena kini cowok2 yg biasa mendekati'a sekarang telah mundur teratur begitu tau Daniel adalah pacar'a. Daniel tak mengira, ternyata Windy memang cewek aneh. Cewek itu membawa kue brownies sebagai imbalan dan tanda perayaan sukses'a rencana awal mereka.
''Ini brownies spesial buatan Mamaku. Aku kasih ke kamu sebagai tanda terima kasih,''kata Windy saat itu. Dan karena cewek itu memberikan'a di sekolah, dikantin pula, sesuai perjanjian, Daniel pun harus menerima'a. Karena kalau tidak, orang2 akan curiga. Saat itu, Daniel sempat memiliki keinginan untuk mencekik Windy.
Kemudian, Windy mengambil inisiatif menyuapi Daniel. Yg ini sempat membuat niat selentingan Daniel tadi hampir terealisasi. Tapi, selidik punya selidik, ternyata Windy melakukan'a karena Erik juga ada di kantin.
Daniel jadi menahan senyum. Ia pun mengikuti permainan yg sedang dilakoni Windy. Ia sengaja menyentuh pipi Windy dan membersihkan remahan brownies di sudut bibir Windy dengan tissue. Saat itu tubuh Windy langsung sekaku papan cucian dan mata'a membelalak menatap Daniel. Dan Daniel cuma melemparkan senyum tipis'a. Windy kelihatan jengkel, karena wajah'a memerah dan senyum'a dipaksakan.
''Kenapa lihatin'a begitu?''tanya Windy yg sadar sedang diperhatikan
Daniel memasang ekspresi datar. ''Asik aja lihat kamu ribet sendiri buat ngerjain soal semudah itu,''sahut'a. Jelas2 cuma alasan. Daniel tidak mau Windy besar kepala jika tau dirinya sedang memikirkan berbagai kejadian selama satu setengah minggu ini.
''Terus aja ngeledek! Dasar sombong! Mentang2 kamu pintar!''sungut Windy. Ia terpaksa menjaga suara'a sepelan mungkin karena saat itu perpustakaan sedang hening.
Daniel meraih kertas buram ditangan Windy. Ia berdecak dan mulai membuat rumus matematika sembari menjelaskan'a pada Windy. Windy buru2 bangkit dan memutari meja. Ia kemudian mengambil tempat duduk disebelah Daniel dan mendengarkan baik2 penjelasan Daniel. Rasa kesal cewek itu hilang seketika dan pikiran'a terpusat pada penjelasan Daniel. Ia juga langsung bertanya2 jika tak mengerti.
Daniel menahan senyum'a. Ia menyadari ternyata belajar jadi tidak membosankan jika ada Windy. Cewek itu begitu transparan. Ia mendengarkan dengan serius layak'a murid yg rajin. Dan ia juga mudah mengerti.
Hampir sejam mereka belajar setelah sekolah bubar. Sekarang kedua'a sedang meregangkan otot2 yg pegal dan berbincang ringan. Jika itu bisa disebut berbincang2.
''Kamu jenius, tapi kok gag kelihatan sih?''tanya Windy. ''Yang aku tau ya, orang jenius tuh biasa'a kutu buku, pakai kacamata, rambut belah tengah dan seragam ekstra rapi. Sedangkan kamu malah kebalikan'a.''
''Aku pakai kacamata, hanya saat aku membaca. Dan jenius itu memang bawaan lahir,''sahut Daniel enteng
''Waaahh, asik ya? Gag perlu belajar udah pintar,''
Daniel menatap tajam pada Windy, ia mendengar nada sindiran dalam pernyataan tadi. ''Tanpa belajar jenius itu gag berarti,''sahut Daniel
''Tapi tetap aja..''sungut Windy
''Percuma mengeluh. Kamu gag akan jadi pintar dengan mengeluh,''kata Daniel
''Ish, cowok kejam,''cibir Windy
''Terima kasih. Suatu kehormatan aku dibilang kejam oleh otak utang sepertimu,''balas Daniel
Windy mendelik. Daniel balas menatap dengan datar. Kedua'a saling tatap, kemudian memberekan buku. Gencatan senjata telah usai! Kedua'a keluar dari perpustakaan sambil membuang muka ke arah lain.
Tiba2 saja Erik muncul. Menghadang langkah Daniel dan Windy. Senyum mencemooh terukir di wajah'a.
''Wah, wah, berantem nih?''kata Erik
Baik Daniel maupun Windy tak ada yg menjawab. Erik pun melanjutkan, seolah memang mengharapkan tak ada jawaban dari Windy ataupun Daniel.
''Belum jadian lama kok udah ribut. Mana keromantisan yg disebut2 orang?''
''Erik,''Windy menyela. ''Kami nggak berantem. Kami cuma beda pendapat saat belajar tadi. Dan dimana aneh'a kalau aku ngambek saat Daniel bilang aku bodoh? Nggak kan?''kata Windy. ''Lagian Daniel tau aku nggak betul2 marah. Iya, kan, Dan?''kata Windy dan mendongak menatap Daniel. Mengancam.
''Apa yg membuatmu gag puas?''tanya Daniel langsung pada Erik. ''Kalau kamu memang gag terima, bilang aja,''kata Daniel lagi.
Erik maju dan berdiri menantang dihadapan Daniel. ''Jelas aku gag puas!''sahut Erik. ''Jadian'a kalian tuh gag normal! Bahkan gag ada yg tau kapan kalian mulai PDKT!''
''Memang'a kalau aku mau PDKT dengan Windy harus lapor sama kamu? Memang'a kamu siapa? Adik'a? Pacar'a? Atau suaminya??''cecar Daniel
''Aku yg lebih dulu kenal Windy!! Aku yg lebih dulu menyukai'a! Kamu yg gag jelas gag pantas buat dia!!''teriak Erik marah
''Lalu kenapa? Apa yg kamu dapatkan dengan mengenal'a lebih dulu? Kamu tau perasaan itu tak bisa dipaksakan?''Daniel mengucapkan kalimat terakhir itu dan diam2 merenungkan'a sendiri. Mungkin bukan hanya Erik yg harus diberitaukan soal itu. Dirinya sendiri juga sedang bermain2 dengan perasaan kan?
''Berhenti, kalian berdua!''teriak Windy dan memisahkan Erik dari Daniel. Seperti'a cewek itu mengantisipasi terjadi'a baku hantam. Hal yg wajar, karena apa yg sedang mereka perjuangkan saat itu adalah kepura2an.
''Tolong jangan membicarakan aku seolah2 aku nggak ada disini!''bentak Windy marah. ''Erik, aku udah bilang kan kalau aku dan Daniel udah jadian!. Dan sejak awal aku udah bilang aku gag bisa membalas perasaan kamu!''kata Windy terdengar putus asa.
Erik terdiam dan menatap marah pada Daniel. Kedua tangan'a terkepal kuat. Daniel juga dalam keadaan siap jika tiba2 Erik menyerang. Sementara Windy tampak sangat putus asa. Daniel memperhatikan kerut2 yg menghiasi kening Windy. Dasar, cewek itu betul2 tidak bisa menyembunyikan perasaan'a.
''Kalau begitu buktikan! Tunjukkan kalau kalian memang betul2 saling jatuh cinta!''kata Erik tiba2.
''Maksud kamu?''tanya Windy tak mengerti
Erik tersenyum sinis. ''Aku mau lihat kalian ciuman! Kalau kalian memang jadian, hal seperti itu gag aneh kan?''
Windy membelalak. Ck, dasar cewek itu, batin Daniel. Kemudian Windy menatap Daniel. Daniel bisa melihat kepanikan di mata Windy.
''Dan..''kata Windy, berharap Daniel punya cara untuk lepas dari masalah itu.
Daniel menghembuskan napas. ''Kalau kami ciuman, apa kamu gag bakal ganggu kami lagi?''tanya Daniel
''Daniel!''sergah Windy
Erik mengangguk. ''Ya,''kata Erik puas.
''Oke, fine,''desah Daniel. Kemudian tanpa aba2 dia meraih pinggang Windy. Dengan tangan kiri'a ia mendongakkan wajah Windy. Terakhir, ia menundukkan wajah'a ke wajah Windy.
Daniel melihat Erik mengepalkan tangan dan membelalak. Perasaan tak percaya'a betul2 jelas. Sehingga ia tidak memperhatikan lebih seksama dan langsung balik badan. Daniel memperhatikan Erik yg berlari pergi sambil berteriak marah.
Setelah yakin Erik telah jauh, Daniel menegakkan tubuh'a. Ia menatap ke arah Erik pergi.
''Dasar,''gerutu Daniel.
Windy masih kaku di pelukan Daniel. Jantung'a bertalu2 bahkan sampai ke telinga'a. Ia pikir ia akan mati jantungan!
Daniel kemudian mengalihkan perhatian'a pada Windy. Alisnya berkerut. ''Kenapa kamu?''tanya'a. Masih gag sadar kalau diri'a masih memeluk Windy
Wajah Windy memerah dan ia cuma bisa melotot pada Daniel.
Daniel menaikkan sebelah alisnya, ia tersenyum menggoda dan menundukkan wajah'a hingga ia bisa berbisik di telinga Windy.
''Apa kamu pikir aku beneran bakal mencium kamu?''bisik'a.
Blusshh.. Wajah Windy seketika memerah.
Daniel pura2 cuek. Jadi begitu sadar dia masih memeluk Windy, ia pun langsung melepaskan tangan'a. Dia menatap Windy yg tampak ingin sekali membunuh seseorang. Dugaan Daniel, dialah target pertama'a.
Daniel tidak mencium Windy. Ia hanya membuat seolah2 diri'a dan Windy memang berciuman jika dilihat dari belakang. Nyata'a, ia hanya menunduk , menelengkan kepala dan menggunakan tubuh Windy untuk menghalangi pandangan Erik. Siapa sangka cowok itu akan mudah terpedaya begitu? Daniel sendiri jelas2 takkan tertipu dengan trik itu.
Tapi tampak'a tindakan'a itu membuat Windy kaget setengah mati. Dasar cewek polos.
''Dasar cowok jahat! Kenapa kamu gag bilang kalau kamu bakal pura2 nyium aku?!''hardik Windy begitu ia menemukan suaranya.
''Cuma itu cara yg kupikir akan berhasil,''sahut Daniel masa bodoh
''Tapi gag perlu seekstrem itu donk!''sahut Windy.
''Bocah macam itu perlu cara2 ekstrem untul membuat'a kapok,''sahut Daniel tenang.
Windy tampak tak bisa mendebat. Daniel merasa puas bisa membuat cewek itu bungkam. Kekawatiran'a sungguh sangat tidak beralasan. Bukankah dulu dia sudah setuju menyerahkan semua'a pada Daniel? Tampak'a cewek itu lupa. Dan Daniel pikir perlu membuat cewek itu tak bisa mendebat'a.
''Dasar cowok kejam!''kecam Windy akhir'a. Ia berbalik pergi mendahului Daniel.
Daniel memutar bola mata'a. Sungguh balasan yg kreatif. Rupanya selain mudah ditebak, cewek itu juga miskin kosa kata untuk mencaci maki orang.


BOYFRIEND  #7
Kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Mungkin dulu Windy mengatakan ia takkan tertarik. Karena kali pertama mereka tak saling mengenal. Tapi bagaimana setelah waktu yg terlewati, mereka justru saling menyadari keberadaan masing2? Mampukah hati menolak getaran yg mulai timbul? Dan sanggupkah hati menolah memberikan respon?
Windy sulit tidur malam itu. Mengingat telah banyak waktu yg berlalu. Dan tanpa terasa 3hari lagi UAS akan berakhir. Berhari2 Windy menghabiskan waktu untuk belajar bersama Daniel. Baginya, Daniel adalah tutor yg hebat. Berkat penjelasan Daniel, semua soal yg Windy tak mengerti dulu, sekarang terlihat jauh lebih mudah. Akan tetapi, kenyataan juga tak bisa dipungkiri lagi. Semakin lama waktu kebersamaan itu jadi semakin sedikit. Perjanjian'a dengan Daniel pun akan segera berakhir. Windy tak bisa lagi bersama2 dengan Daniel. Gag bisa berdebat. Dan gag bisa berpura2 jadi sepasang kekasih lagi..
Kenapa Windy jadi sedih? Bukankah sejak awal memang itu rencana'a? Mereka kan cuma jadian selama sebulan. Eh, ralat, pura2 jadian selama sebulan.
Windy berguling diatas ranjang'a beberapa kali. Kemudian dengan kesal ia duduk dan menarik2 rambutnya yg panjang dengan frustasi.
''Duuh, aku kenapa sih?! Windy, sadar donk! Kamu itu nggak suka sama cowok angkuh, seenak'a dan kejam itu! Buat apa kamu sedih!?''
Tapi bukan'a merasa lebih lega, Windy malah makin teringat dengan Daniel. Kebersamaan mereka beberapa minggu belakangan ini sungguh menyenangkan. Saat Daniel dengan sabar mengajari'a belajar. Saat Daniel melindungi'a dari cowok2 yg belum mau menyerah, cara Daniel merangkulkan ketika berpapasan dengan Erik. Betapa alami rasanya sehingga Windy jadi terbuai. Genggaman hangat tangan Daniel ketika melingkupi tangan'a. Bahkan beberapa kali gerutuan Daniel tentang betapa menyusahkan'a Windy, tapi cowok itu tetap mengantar'a pulang.
Niat awal Windy yg tidak mau terlibat jauh dengan Daniel, tampak'a tidak berjalan sebagaimana mestinya. Karena selama beberapa minggu ini bersama Daniel, Windy jadi tau kalau Daniel sebenar'a baik, tidak seheboh gosip.dibalik sosok'a yg mengintimidasi, sebenar'a Daniel adalah orang yg cukup perhatian dan lembut. Memang kata2nya sering kali menyakitkan, namun tindakan'a selalu berlawanan dengan kata2nya.
Setiap kali mereka terpaksa berpegangan tangan atau saat Daniel merangkulnya, semua itu dilakukan Daniel dengan lembut. Windy merasa rapuh dan lemah jika Daniel melepaskan tangan'a. Ia ingin berlama2 dalam moment itu..
''Aku harus gimana... Nggak mungkin kan aku jadi suka dia.. Ingat Windy, Daniel mau membantumu dengan syarat kamu gag boleh jatuh cinta sama dia!''Windy bicara pada dirinya sendiri.
Menyebalkan! Kenapa mengajukan syarat itu kalau sikap'a justru sangat menjerumuskan?! Apa cowok itu memang sengaja?! Ia tau kalau Windy akan jatuh cinta padanya? Kalau benar begitu, berarti Windy telah terperosok ke dalam pesona Daniel, dan tidak ada jalan untuk keluar selain memilih maju atau lupakan saja.
Windy menghempaskan tubuh'a ke tempat tidur dan mendesah keras. Pikiran'a galau. Tidak sadar kalau airmata mulai menetes dipipinya.
''Cowok menyebalkan! Syarat sialan!''kata Windy di tengah isakan'a.
***
Daniel menguap kemudian meregangkan tubuh'a. Ia menatap jam di dinding yg sudah menunjukkan pukul 11 malam. Ia menutup buku yg sedari tadi dibaca'a dan mematikan lampu belajar'a.
Daniel berbaring dan menatap langit2 kamar'a. Kedua tangan'a terlipat dibawah kepala'a. Kemudian dengan tangan kiri'a ia mengambil ponsel'a, hendak mengaktifkan alarm, namun tatapan'a terpaku pada tanggal yg tertera di ponsel'a.
Tiga hari lagi.
Tidak terasa betapa cepat'a waktu berlalu. Berarti permainan pun akan segera berakhir.
Permainan?katanya pada diri sendiri. Tapi sejak kapan ia mulai menikmati kesepakatan itu seperti sebuah permainan? Bahkan sebagian besar tindakan'a merupakan tindakan spontan. Contoh'a saat menyingkirkan daun yg menempel di rambut Windy ketika mereka belajar di halaman. Alih2 membersihkan, Daniel malah tergoda untuk merasakan lembut rambut itu ditangan'a.
Bukan hanya itu, selama waktu yg mereka habiskan bersama, Daniel menyadari beberapa hal tentang Windy. Dibalik sikap keras kepala'a, Windy ternyata memiliki kemauan yg keras. Bahkan meski tubuh'a mungil, tenaga cewek itu cukup kuat. Bukti'a tangan Daniel sampai biru gara2 Windy mencubit'a karena keberatan dengan improvisasi spontan'a.
Daniel juga ingat kejadian ketika ia berpura2 hendak mencium cewek itu guna meyakinkan Erik. Mata cewek itu membelalak maksimal dan tubuh'a sekaku patuh. Entah bagaimana Daniel malah menyesal. Harusnya saat itu ia sungguhan mencium Windy. Toh itu improvisasi. Pasti menyenangkan melihat reaksi cewek itu. Mungkin ia akan pingsan, atau mungkin Daniel akan mendapatkan sebuah tamparan. Tapi Daniel tidak melakukan'a. Ia sudah janji takkan mengambil kesempatan. Lagipula ia tak ingin bermain2 dengan perasaan orang. Windy terlalu polos. Dan Daniel sudah berjanji. Sampai waktu'a nanti perjanjian mereka berakhir, Daniel takkan melanggar janji'a.
Lagipula ia juga mengajukan syarat sialan pada Windy. Syarat yg bahkan sampai saat ini selalu membuat'a emosi tiap mengingat kebodohan'a itu.
''Idiot,''Daniel memaki diri'a sendiri. Ia menutup wajah'a dengan lengan dan tidur dengan kekesalan dalam pikiran'a.


BOYFRIEND  #8
Akhir'a hari itu tiba. Windy menjejakkan kaki'a di sekolah dengan perasaan super galau. Ia sudah memikirkan perasaan'a pada Daniel. Yang semakin dipikir malah semakin membuat'a depresi. Tidak ada pelajaran yg nyangkut di kepalanya ketika ia belajar kemarin malam. Dan sekarang Windy setengah mengantuk gara2 begadang untuk belajar. Windy menahan kuap'a. Ini semua salah Daniel! Coba sifat asli cowok itu tak beda jauh dengan rumor, pastinya Windy takkan begini! Daniel jelek! Daniel cowok iblis!
Kenapa ketika sekarang Windy jatuh cinta, tapi malah jatuh cinta pada orang yg salah?! Kalau Daniel sampai tau, cowok itu pasti akan merendahkan'a. Pasti kata2nya sangat menyakitkan. Windy yakin cowok itu akan tertawa dan dengan sombong'a mengatakan Windy tak bisa menepati janji. Tapi mau bagaimana? Hati kan tidak bisa diatur2!
Hiks, memikirkan'a saja sudah membuat Windy ingin menangis. Ini salah'a karena memaksa Daniel pura2 jadi pacarnya. Windy tidak akan menyalahkan Daniel.
''Setidaknya cobalah datang pagi saat ujian,''kata Daniel yg tiba2 sudah menjajari langkan Windy.
Dengan cepat Windy mengusap matanya yg mulai berkaca2 dan menolak menatap Daniel.
''Aku kemarin..''Windy berdeham, membersihkan tenggorokan'a yg seolah tersekat tadi. Dan menjaga agar suaranya agar tidak bergetar. ''belajar sampai tengah malam,''lanjut'a.
''Jangan maksain diri. Belajar itu harus rileks,''kata Daniel.
Windy cuma mengangguk2 tapi tidak juga menyahut ataupun menatap Daniel.
''Kenapa? Nggak biasa'a sediam ini,''kata Daniel. ''Ada yg gag kamu ngerti untuk ujian nanti?''
Windy menggigit bibir'a ketika merasakan kekhawatiran Daniel. Uhh, sampai kapan Daniel mau menyiksa'a??
''Aku gag diam. Aku cuma lagi mengingat2 pelajaran'a tau,''sahut Windy ketus. Kemudian supaya lebih meyakinkan, Windy melotot pada Daniel. ''Orang pintar gag bakal ngerti sama masalah orang bego!''
Daniel tertawa, yg biasanya jarang terjadi selama sebulanan ini. Dan kali ini pun tawa Daniel membuat Windy jengkel karena membuat jantung'a jadi tidak karuan. Daniel kelihatan senang sekali. Tawanya begitu lepas. Tidak ada kesan mengejek atau sinis yg biasa ia keluarkan.
''Jangan ketawa! Nggak ada yg lucu juga!''omel Windy sambil melayangkan tangan'a, hendak mencubit Daniel.
Daniel mengelak tepat waktu dan menangkap tangan Windy.
''Hei, tanganku yg kanan masih biru karena cubitanmu tempo hari tau!''kata Daniel. ''Aku gag mau tangan kiriku mengalami hal yg sama!''
''Makanya jangan ketawa, Daniel!!''sahut Windy jengkel.
Akan tetapi Daniel malah terkekeh2. Windy menarik tangan'a. Ia menyadari betapa berbahaya'a terlalu lama bersentuhan dengan Daniel. Meskipun hanya sentuhan ringan.
''Ayo, bentar lagi bel'a bunyi!''kata Daniel dan lagi2 ia menggandeng tangan Windy. Membuat Windy kehilangan kata2.
***
Daniel merasa ada yg aneh dengan Windy. Saat ia melihat cewek itu memasuki gerbang sekolah, ia sudah menduga ada yg tidak beres. Cewek itu terus2an menunduk. Bahkan tidak menyadari kedatangannya. Dan yg lebih aneh, menolak memandang'a.
Daniel terpaksa harus memancing kekesalan Windy agar cewek itu mau merespon'a. Dan meski cewek itu berusaha kelihatan kesal saat menatap'a, Daniel menyadari mata Windy memerah. Pertanda cewek itu hendak atau sudah menangis. Dan Daniel jelas tidak mempercayai alasan yg diberikan Windy.
Apa mungkin ia terlalu gugup karena hari ini ujian Matematika? Memang Windy lemah dalam pelajaran itu. Tapi akhir2 ini kemampuan'a sudah meningkat. Tak ada alasan untuk khawatur. Atau.. mungkinkah cewek itu menyadari ini hari terakhir kesepakatan mereka? Mungkinkah cewek itu juga merasa belum ingin hari ini tiba? Ah, tidak mungkin, Daniel menepiskan pikiran itu. Windylah yg menginginkan perjanjian ini. Tak ada alasan bagi cewek itu untuk menyesalkan berakhir'a kesepakatan itu.
Tapi Daniel juga tidak bisa melihat Windy murung. Jadi ia tidak punya pilihan selain membuat cewek itu kesal dan melupakan apapun yg dipirkan oleh cewek itu. Karena ia tidak punya pilihan. Membuat Windy marah, atau kalah oleh godaan untuk memluk cewek itu. Daniel pilih jalan aman. Karena ia tidak mau mengakui apa yg tengah ia rasakan.
Sial, hanya dalam waktu sebulan permainan ini menjadi jauh berbahaya. Bahkan bisa dibilang ini pertama kalinya ia terusik dan tidak konsen belajar hanya gara2 seorang cewek bawel nan keras kepala.
Daniel mengantarkan Windy ke kelas'a seperti yg biasa ia lakukan. Kemudian pergi ke kelas'a. Windy juga langsung masuk ke dalam kelas. Betul2 tidak seperti diri cewek itu yg biasa'a.
''Habis dari kelas'a Windy?''tanya Roki begitu Daniel duduk di bangkunya.
Daniel menjawab dengan anggukan dan mengeluarkan buku biologi dari tas'a. Masih ada waktu sebelum ujian pertama dimulai.
''Aku kira cuma sekadar gosip, ternyata kalian betul2 jadian toh,''kata Roki. ''Sejal kapan kamu bisa dekat sama cewek?''
Daniel mendengus. ''Pertanyaanmu nggak mutu. Langsung to the point aja,''sahut Daniel
Roki meringis. ''Yah, aku cuma mau tau aja. Kamu betulan serius ya sama cewek itu? Gimana pun dia kan bukan tipemu,, aneh aja kalau kalian jadian. Pdkt'a kapan coba? Ngobrol aja gag pernah.''
''Kenapa baru komplain sekarang? Aku rasa itu gag perlu dibahas,''kata Daniel
''Dan,''
''Toh kamu gag mungkin cemburu kan? Kamu kan cowok normal. Dan aku juga cowok normal,''sahut Daniel asal
''Sialan!''sahut Roki sambil meninju lengan Daniel. ''Aku ini bukan makhluk sesat tau!''
''Ayo, belajar. Sebentar lagi bel,''kata Daniel mengabaikan perkataan Roki. Karena kalau dilanjutkan, bisa2 Daniel akan kelepasan bicara. Windy bukanlah topik yg ingin Daniel diskusikan dengan Roki. Dan takkan pernah menjadi bahan diskusi.
Biarlah dirinya saja yg mengurusi masalah itu sendirian..


BOYFRIEND  #9
Waktu terasa cepat sekali berlalu. Tau2 UAS sudah berakhir. Murid2 SMA Plato bersorak girang karena 'neraka' mereka telah berakhir. Namun tidak bagi Windy dan Daniel. Keduanya justru lebih banyak diam'a. Begitu Windy keluar dari kelas, setengah jam lebih lama. 10menitan karena sedikit kesulitan di akhir soal, dan 20menit untuk melamun. Namun akhir'a ia memutuskan untuk keluar, tak ada gunanya menghindari sesuatu yg sudah pasti. Dan ketika akhir'a ia betul2 keluar dari kelas, ia langsung disambut dengan pemandangan Daniel yg tengah menunggunya. Cowok itu bersandar di pilar dengan kedua tangan di dalam saku celana. Windy memaksakan sebuah senyum cerah ketika menghampiri cowok itu.
''Ini hari terakhir!''kata Windy. Daniel cuma mengangguk. Windy menarik napas panjang. ''Ayo senyum. Setelah ini kamu gag akan terbebani olehku lagi. Sebulan ini aku sangat terbantu berkat kamu,''kata Windy. Ia meringis. ''Maaf ya, udah banyak ngerepotin kamu. Sekarang kamu udah bebas dari aku,''katanya lagi
Daniel menegakkan tubuhnya dan berjalan ke arah Windy. Ia berhenti beberapa puluh senti didepan Windy. Sekarang mereka berdiri berhadap2an.
''Permainan berakhir,''kata Daniel
Windy mengangguk. ''Iya, game over,''sahut Windy menunjukkan raut sedih, tapi detik berikut'a ia sudah tersenyum cerah. Windy tertawa kecil. ''Harus siap2 dikerubutin lagi nih,''kata Windy
Daniel menatap Windy dengan seksama, lalu meraih tangan cewek itu.
''Ayo, hari ini masih belum berakhir,''kata Daniel. ''Aku antar kamu sampai rumah.''
Windy tertegun sesaat, kemudian berjalan disamping Daniel. Tanpa sadar ia meremas tangan Daniel. Tangan yg besar dan hangat yg kini tengah membungkus tangan'a. Tak ingin melupakan kehangatan itu.
''Tapi jangan turunin aku di halte lagi ya?''kata Windy, menggoda
''Boleh juga,''sahut Daniel, yg langsung disambut cubitan pelan oleh Windy.
Daniel mengantarkan Windy pulang sampai di depan rumah'a. Setelah melalui 20menit perjalanan yg didominasi oleh keheningan, karena kedua'a tampak sibuk dengan pikiran'a masing2.
Ketika mobil Daniel berhenti di depan rumah Windy, tak ada yg bergerak. Keduanya sama2 diam, menunggu. Akhirnya Windy yg memecah keheningan lebih dulu.
''Ng..makasih udah nganterin aku pulang. Dan ini,''kata Windy sambil menyerahkan sekotak brownies kukus pada Daniel. ''ucapan makasihku atas semuanya. Ini aku sendiri yg buat. Tapi aku jamin rasanya gag jauh beda kok sama buatan Mamaku! Sumpah, gag bikin orang tewas kok!''Windy mulai melantur.
''Yah,makasih,''kata Daniel, tak tau harus bilang apa. Agak geli juga melihat Windy salah tingkah.
''Ng..kalau gitu udah ya! Aku turun! Ng...setelah ini aku harap kita masih berteman. Gag lucu kan kalau kita musuhan? Lagian gag rugi kok. Malahan siapa tau aku bisa belajar dan jadi jenius kayak kamu!''kata Windy.
Daniel cuma mendengarkan semua ocehan Windy yg mulai ngawur itu. Hingga akhir'a Windy buru2 turun dari mobil Daniel, nyaris terjungkal karena tersandung kakinya sendiri. Ia melambai pada Daniel.
''Oke, aku pergi,''kata Daniel.
Windy mengangguk. ''Hati2 ya!!''kata Windy sambil melambai2 ketika mobil Daniel mulai melaju pergi.
Begitu mobil Daniel hilang dari pandangan'a, tangan Windy langsung terkulai. Ia memandang ke arah pergi'a Daniel.
Stelah 10menit mematung di depan pintu gerbang, Windy akhir'a masuk ke dalam rumah. Ia menutup pintu rumah'a dan tetap berdiri disana sampai Mama menyambutnya. Akan tetapi, Mama'a justru mendapati anaknya tengah menangis. Langsung saja dipeluk'a Windy dengan lembut.
''Ayo, kenapa kamu nangis? Cerita sama Mama,''kata Mama halus sembari menggiring Windy ke sofa.
Perlakuan lembut mama membuat Windy menumpahkan semua kesedihan'a. Ia menceritakan semua'a dari awal hingga akhir pada Mamanya. Tak ada yg dilewatkan'a sama sekali. Semua ia ceritakan.
''Windy.. Windy patah hati, Ma,''isak Windy. ''Pa..padahal..Windy belum..hiks..ngungkapin perasaan..Windy..hiks..''
Mama mengelus pipi anaknya dengan lembut. Menghapus air mata yg mengalir dimata Windy.
''Windy sayang, kamu kan belum tau dia suka atau nggak sama kamu,''kata Mama
''Tapi di awal dia bilang aku gag boleh jatuh cinta sama dia, Ma,''tukas Windy
''Itu kan sebelum kalian mengahabiskan waktu bersama2. Sebulan itu mungkin waktu yg singkat, sayang... Tapi ingat, cinta itu datangnya tiba2, tanpa pemberitahuan. Kamu gag akan tau sampai kamu merasakan'a,''kata Mama lembut.
''Ja..jadi menurut Mama aku masih punya kesempatan?''tanya Windy
''Iya, sayang. Kamu tidak akan tau sampai kamu mencoba mengungkapkan isi hati kamu sama Daniel,''kata Mama
''Kalau Windy ditolak??''
''Kalau kamu ditolak, maka dengan besar hati kamu harus menerimanya. Atau kamu mau berusaha membuat dia juga jatuh cinta sama kamu? Anak mama kan keras kepala,''kata Mama
Perlahan Windy tersenyum malu2. Benar kata Mama, sejak kapan ia jadi seorang pengecut? Diam2 Windy membulatkan tekad'a. Benar, ia harus mencoba mengatakan'a pada Daniel. Sebulan lalu Windy kan juga hanya bermodal nekat, lalu kenapa kali ini ia juga tidak nekat? Kalau perlu, Windy akan membuat Daniel juga merasakan apa yg Windy rasakan. Iya, Windy bersumpah! Apapun yg terjadi, ia akan mengatakan'a pada Daniel.
Akan tetapi...


BOYFRIEND  #10
Akan tetapi, berkata memang lebih mudah ketimbang melakukan'a.
Tiga hari kemudian, Windy menunggu Daniel di parkiran sekolah. Bodo amat dengan reaksi Daniel dan orang2. Biar saja semua tau kalau selama ini mereka cuma pura2. Siapa tau orang2 beranggapan mereka sedang bertengkar? Ah, apapun anggapan orang2, Windy tak peduli lagi.
Setelah menunggu beberapa lama, Windy mulai gelisah. Keberanian'a kian lama kian menyusut. Terlebih karena Daniel tidak muncul2.
Perasaan horor mulai menghantui'a. Jangan2 Daniel sudah pulang? Mobil'a juga nggak ada. Aduuh, gimana donk? Windy tidak mau kehilangan keberanian'a. Stop, Windy, jangan panik. Ia mengingatkan dirinya sendiri. Tapi tetap saja ia merasa panik. Ia mulai mondar mandir dan menggigiti kukunya. Kenapa Daniel lama sekali? Masa sih dia sudah pulang? Windy tidak akan punya keberanian lagi selain hari ini. Windy takut memikirkan kemungkinan terburuk yg mungkin terjadi.
''Aduh, Aku nih mikir apa sih?! Ayo keluarkan semangatmu, Windy! Chayoo!!''gumam Windy
Ketika ia tak juga tenang, dengan kesal ia menepuk kedua pipi'a. Sayang'a ia menepuk terlalu keras. Windy meringis kesakitan. Ia berjongkok dan memegangi kedua pipi'a. Duh, kenapa sejak tadi tak ada satu pun yg berjalan baik? Mata Windy berkaca2 karena pipi'a perih.
''Kamu ngapain sih?''
Sebuah suara membuat Windy tertegun. Windy mendongak perlahan. Dan ia melihat Daniel berdiri menjulang dihadapan'a. Kening cowok itu berkerut. Seketika, Windy langsung kehilangan suaranya. Semua kata2 yg ia siapkan semalam langsung lenyap ketika melihat Daniel berdiri dihadapan'a. Alhasil, ia cuma menatap Daniel dengan wajah blo'onnya.
***
Daniel pulang terlambat siang itu lantaran harus membuat laporan di ruang OSIS. Sudah 3 hari berlalu dan Daniel tidak mendengar kabar apapun dari Windy. Yah, memang kenapa? Mereka sudah ''putus''. Jadi buat apa ia memikirkan apakah cewek itu baik2 saja. Tak ada yg perlu dirisaukan lagi.
Cewek itu pasti sudah kembali ke kehidupan lamanya. Daniel pun harus'a begitu. Lagipula sebentar lagi liburan sekolah dimulai. Dan Daniel takkan bertemu Windy lagi setidak'a selama dua bulan kedepan. Akan tetapi, Daniel tak bisa menepiskan bayangan Windy dari kepalanya. Malah semakin ia berusaha mengenyahkan'a, justru semakin kuat bayangan'a. Sial, ia rindu berdebat dengan cewek itu. Ia rindu dengan 'permainan' kecil mereka.
Dengan kepala yg terasa berdenyut karena pikiran2 tentang Windy, Daniel meninggalkan ruang OSIS.
Sial, ia harus menemukan kesibukan lain yg bisa membuat'a sibuk sehingga takkan punya waktu untuk memikirkan cewek itu. Baru saja ia hendak menuju parkiran, Daniel melihat seseorang yg mirip dengan Windy berdiri tak jauh dari mobil'a, mobil Papa'a lebih tepatnya.
Sial, bahkan sekarang ia membayangkan cewek itu. Tidak mungkin cewek itu masih di sekolah. Ini kan sudah lama lewat jam pulang sekolah.
Kemudian apa yg ia anggap bayangan Windy itu mulai mondar-mandir. Tiba2 saja cewek itu memukul pipi'a sendiri. Sepertinya cukup keras karena cewek itu lantas berjongkok dan memegangi pipinya.
Tiba2 saja Daniel tak bisa mencegah dirinya untuk bergegas. Dan dalam sekejap ia sudah berdiri di hadapan Windy. Astaga, ini memang cewek itu. Ia tak hanya membayangkan'a!
''Kamu ngapain sih?''pertanyaan itu terlontar begitu saja tanpa sempat Daniel proses. Ketika Windy perlahan mendongak, kelihatan'a hendak mengatakan sesuatu, namun tak jadi. Karena cewek itu tampak linglung. Seketika Daniel merasa perut'a seolah dipukuli oleh Mike Tyson. Ya, Tuhan, ia memang merindukan cewek ini...


BOYFRIEND  #11
Windy kaget bukan main ketika mendapati Daniel muncul di depan'a. Buru2 ia berdiri dan menurunkan tangan'a dari pipinya yg memerah. Bekas air mata masih bersisa disudut2 matanya.
''Ngapain kamu?''Daniel mengulangi pertanyaan'a.
Windy memutar otak untuk mencari jawaban yg masuk akal. Kata2 yg sudah dengan masak2 ia persiapkan malah hilang entah kemana, meninggalkan Windy dalam kepanikan'a. Ahh, bodo' deh! Nekat aja! Udah kepalang basah juga, ya sekalian mandi aja!
''Aku nungguin kamu,''kata Windy. ''Ng..ada yg mau aku omongin,''tambah'a grogi.
Haduh, haduh, jangan pasang wajah mengerutkan kening gitu donk, Dan, batin Windy.
''Dari tadi?? Kamu sadar gag ini jam berapa? Berapa lama kamu berdiri disini?!''
''Ng..itu..gag penting! Iya, pokok'a aku mau ngomong sama kamu! Ada hal penting yg harus aku omongin. Menyangkut hidup dan matiku nih!''sahut Windy
''Mau ngomongin apa sih sampai nungguin selama itu? Kamu bisa sms kan? Toh kamu tau nomor ponselku,''kata Daniel
''Iya sih... Tapi ini gag bisa diomongin lewat sms!''
Daniel bersedekap. ''Silakan, kamu mau ngomong apa?''tanya Daniel
Walah, Windy gag tau mau ngomong dari mana! Kalau ia langsung to the point, dia takut diri'a malah akan menangis. Kalau ngomong berbelit2, Daniel bisa jengkel, ujung2 Windy nangis juga! Windy takut malah jadi melantur. Tuhan, tolong aku, pinta Windy.
''A..aku mau minta pertanggung jawabanmu! Gara2 kamu aku jadi begini! Kamu pasti sengaja kan? Kamu tau kalau akhir'a akan jadi begini, makanya kamu setuju membantu aku!''kata Windy marah
''Tunggu, aku ngapain? Kok malah menyalahkanku?''sela Daniel tak mengerti
''Terus aku harus bilang apa?! Kamu mau dengar aku bilang kalau gara2 syarat sialan yg kamu ajukan dulu itu, gara2 sikap kamu ke aku itu, aku malah jadi suka sama kamu?! Jadi mikirin kamu setelah semua'a selesai, iya?!''sergah Windy emosi
Daniel tampak terperangah. ''Tunggu, apa tadi kamu bilang?''tanyanya
''Kamu dengar apa yg tadi aku bilang!!''sahut Windy kesal. Kemudian Windy berbalik pergi saking malu'a. Ia sudah mengatakan apa yg perlu dikatakan'a. Ia tidak akan sanggup berdiri lebih lama bahkan untuk sekedar menunggu tanggapan Daniel. Dianggap pengecut juga nggak apa2. Windy nggak peduli. Ia nggak mau Daniel melihatnya menangis.
***
Daniel terlalu terkejut mendengar pengakuan Windy yg super berantakan itu, sehingga untuk beberapa saat ia menjadi linglung. Ia tersadar ketika Windy mulai berbalik dan mengambil ancang2 untuk kabur. Tanpa sempat memproses tindakan apa yg akan ia lakukan, Daniel sudah mengejar Windy. Ia menangkap lengan Windy dan menarik'a agar berhenti.
Windy berusaha melepaskan diri ketika Daniel memaksanya untuk berbelik. Ketika mereka berdiri berhadapan, cewek itu memandang ke arah lain, menutup mata, dan tak mau menatap'a.
''Tadi kamu bilang kalau kamu jatuh cinta sama aku?''tanya Daniel
Windy diam seribu bahasa. Meski Daniel melihat jelas bahwa wajah Windy semerah tomat. Sebenarnya hal itu sangat lucu, namun Daniel menahan diri agar tidak tertawa.
''Sejak kapan?''tanya Daniel tenang, seolah sudah menduga'a. Dan rupanya ketenangan'a itu menarik perhatian Windy, yah mungkin kemarahan lebih tepat'a. Cewek itu mendongak dan menatap'a dengan sengit. Daniel jadi bertanya2 apa yg sedang dipikirkan oleh cewek itu.
''Sejak kapan?''ulang Daniel, kali ini lebih lembut.
''Gag tau!''ketus Windy. ''Aku gag tau sejak kapan aku mulai suka sama cowok idiot kayak kamu!''lanjut'a dengan sama ketusnya. Kemudian ia berkacak pinggang. ''Dengar ya, kamu bisa merasa besar kepala! Anggap aja aku lagi sial karena suka sama kamu! Udah sombong, judes, menyebalkan...''suara Windy memelan dan kini cewek itu menunduk menatap kakinya. ''...tapi aku malah gag bisa melupakan kamu,''bisik'a
Windy menggigit bibir'a yg bergetar sebagai usaha terakhirnya untuk menahan isakan'a. Tapi tetap saja ia tdak bisa mencegah airmata'a untuk menetes turun. Windy langsung menghapusnya dengan cepat.
Daniel menarik napas dan menatap takjub pada Windy. Kemudian ia menggelengkan kepala karena tetap tak bisa mengerti jalan pikiran cewek itu. Ia merasa dipermainkan. Seolah2 ia sedang dihadapkan dengan buah simalakama. Menggoda tapi terlarang. Ia pikir ia bisa melupakan cewek itu. Tapi lihat sekarang! Cewek itu tiba2 muncul di hadapan'a dan booomm! Marah2 padanya, lalu menyatakan cinta padanya.
Daniel tau dirinya takkan bisa menang dari Windy. Daniel menelan keinginan'a untuk menertawai dirinya sendiri. Ia menunduk dan menempelkan kening'a di kepala Windy. Kedua lengan'a bertenggaer santai di pundak Windy.
''Kalau kamu nyalahin aku, aku harus nyalahin siapa?''tanya Daniel lembut.
''Mana aku tau! Aku juga gag tau harus nyalahin siapa selain kamu!''sahut Windy ketus dan membuang muka ke arah lain.
Daniel tersenyum geli.
''Ngapain senyum2?! Senang ya bikin aku kayak gini?!''sentak Windy jengkel.
''Yah, aku cuma geli aja. Siapa sangka aku bakal ditembak kamu lagi,''kata Daniel. ''Meski aku gag tau yg ini serius atau nggak,''tambah'a hanya untuk memancing reaksi Windy.
Windy mendorong Daniel dan berkacak pinggang. ''Dengar ya! Aku gag pernah main2 sama perasaanku sendiri! Dan yg sebelum'a itu pengecualian! Aku juga gag nyangka bakal jatuh cinta sama kamu!''
''Jadi kamu menyesal?''goda Daniel
Windy melotot. ''Aku gag bilang kalau aku menyesal! Lagian aku cuma mau bilang itu! Terserah kamu mau nanggepin apa!''sahut Windy marah. Ia berbalik dan siap pergi.
Daniel kembali menahan dan membalikkan tubuh Windy hingga cewek itu melotot kesal.
''Apa lagi?! Aku gag minta jawaban kok! Aku tau kamu gag suka sama aku!''kata Windy sok kuat, padahal suaranya saja bergetar.
''Siapa bilang?''tanya Daniel. ''Memang'a aku ada bilang aku gag suka kamu?''
Windy mengerjap kaget. ''Ma..maksud kamu?''


BOYFRIEND  #12
Windy menatap Daniel yg terlihat tenang dihadapan'a. Ia tak bisa menebak apa yg dipikirkan cowok itu. Kalau cowok itu berniat mempermalukan'a, maka cowok itu sukses! Windy takkan bisa merasa lebih malu lagi setelah mengungkapkan perasaan'a lebih dulu pada cowok itu. Ditambah lagi ia tidak bisa segera kabur seperti rencana awal'a. Windy bisa aja melupakan sebulan kebersamaan'a denga Daniel dan menganggap tak pernah terjadi apapun. Tapi itu bukanlah sifat Windy. Jadi ia mengikuti kata hatinya, dan lihat, inilah balasannya!
Akan tetapi Windy terkejut oleh kata2 Daniel yg diluar dugaan. Ia menatap Daniel bingung. Apa barusan cowok itu menyiratkan kalau cowok itu mungkin merasakan hal yg sama seperti yg Windy rasakan? Tidak, Windy, berhenti berharap! Ingat, Daniel itu memang tak bisa ditebak.
''Kamu yakin suka sama aku?''
Pertanyaan Daniel membuat Windy mengernyit curiga. Apa cowok itu berniat membuat Windy mengatakan hal memalukan itu jutaan kali? Akan tetapi Windy mengangguk.
''Meskipun aku ini angkuh, egois, posesif, menyebalkan, dan kejam seperti katamu?''pancing Daniel. ''Aku bisa sangat posesif kalau menyangkut sesuatu yg aku miliki lho,''
Windy menahan kesal. Apa Daniel berharap ia akan berubah pikiran? Tega banget cowok itu merendahkan perasaan Windy. Padahal Windy sudah mengatakan tentang perasaan'a.
''Kenapa gag dijawab?''
Windy akhir'a masa bodoh. Ia akan mengingatkan dirinya untuk bunuh diri begitu sampai ruman nanti! Maka Windy pun menjawab.
''Iya! Aku cinta sama kamu! Gag peduli kamu sombong, jutek, nyebelin, atau bahkan posesif! Meski kamu mau bikin aku berubah pikiran, aku gag akan berubah pikiran!! Aku tetap cinta sama kamu! Cinta, cinta, cin...''
Kata2 Windy tak sempat terselesaikan. Tidak mungkin ketika Windy tercekat saat Daniel menundukkan wajah'a dan mengecup bibir'a. Mata Windy membelalak, napas'a tersangkut ditenggorokan, dan jantung'a seolah tewas sejenak. Perut'a serasa diaduk2 dan wajahnya memanas ketika Daniel menarik diri dan menatap ke arah'a. Oh Tuhan, cowok itu memang 'menyeramkan'!
Windy mengerjap. Setetes air mata menetes di pipinya, dan satu lagi, disusul oleh tetesan2 lainnya. Tak berapa lama, Windy sudah menangis.
Untung sekolah sudah sangat sepi murid, sehingga adegan Windy yg menangis keras itu takkan dilihat orang lain.
Daniel menatap Windy sembari tersenyum geli. Ia menghapus air mata di pipi Windy dengan ujung jarinya.
''Kenapa malah nangis?''tanya Daniel
''Aku gag ngerti sama pikiran kamu,''isak Windy
''Jangan mencoba hal yg sia2,''saran Daniel lembut
''Kalau gitu katakan gimana sebenarnya perasaan kamu ke aku! Jangan buat aku menebak2!''sahut Windy kesal
''Hmm, bagaimana ya..,''gumam Daniel, membuat Windy melotot. Kemudian cowok itu tertawa, membuat Windy tercengang. Bisa2nya cowok itu tertawa??? Kurang ajar!
Windy sudah akan mengeluarkan protesnya ketika mendengar kata2 Daniel.
''Aku gag mungkin mencium cewek yg gag aku sukai,''kata Daniel, tersenyum simpul.
''Jadi kamu suka sama aku juga?''tanya Windy penuh harap.
''Hmm.. Menurut kamu?''Daniel balas bertanya
Windy terhenyak seketika. Kemudian ia mendelik. Sedetik kemudian tangan Windy sudah menghujani sekujur tubuh Daniel dengan cubitan mautnya. Daniel mengelak dan tertawa2.
''Daniel!! Aku benci kamu!!''teriak Windy sambil mengejar Daniel yg sudah menghindar
''Bukannya tadi kamu bilang cinta???''goda Daniel.
''DANNIIIEEEELLLLLL!!!!''
Hemm, tetap tak terkatakan. Tapi setidaknya kedua anak itu kini sudah mengakui perasaan'a masing2. Ini adalah sebuah awal. Dulu mungkin mereka melihatnya sebagai sebuah kesepakatan, yg dalam proses'a telah mengubah perasaan mereka terhadap satu sama lain. Dari tidak memiliki ketertarikan--dan yakin gag akan tertarik-- hingga akhir'a mereka kena batunya. Mereka jadi seperti magnet yg memiliki dua kutub yg berbeda dan memiliki daya tarik menarik antara satu sama lain. Pada akhir'a mereka tetap akan bertemu.
Sungguh, Cinta itu tak bisa dimengerti... Tapi konon Cinta itu indah!

THE  END

Cerpen : YOU AND I

YOU AND I


YOU AND I #1
Pesta prnikahan slalu mmbuat Andreas mrasa bosan apalagi kalau nggak ada orng yg dkenal'a. Andreas sudah ngbet pingin pulang, kalau saja tdak ingat tugas'a mnemani kakak smata wayang'a, Diana, yg mnghadiri pernikahan teman'a itu.
Andreas brdiri d dkat meja prasmanan sambil mmainkan gelas mnuman'a. Mnatap ke skeliling ruangan yg dpakai tmpat resepsi itu. Betul2 gag ada yg dkenalnya, pikir Andreas. Dia mnyesap mnuman'a smbil mnerawang.
Haaah, apes bangt nasib'a. Malam mnggu bgini malah pergi kondangan. Bukan'a hang out breng tmn2nya. Hey, Andreas bru 18tahun! Masih muda dan suka brmain2. Masa malah prgi kondangan? Mana harus pakai baju formal pula. Ditambah lagi, Diana mninggalkan'a trkatung2 sndirian!!
Andreas tak henti2nya mnggerutu. Entah soal musik'a yg slow, suasana bising obrolan ibuk2 yg hadir, dan msih bnyak lgi yg ia jdikan bahan lampiasan kekesalan'a. Gerutuan Andreas trhenti ktika ia mrasa punggung'a ditabrak. Andreas brbalik, siap mluapkan kmarahan'a pda siapapun yg mnabrak'a. Tapi..tak ada yg kluar dari mulut'a.
''Maaf ya, aku buru2.. Gag sngaja, sumpah!''kata Cewek yg mnabrak Andreas itu cepat2. Wajah'a cute, dgn mata agak sipit, rambut'a yg hitam panjang dbuat sdikit ikal di ujung2'a, serta kdua lesung pipi yg slalu mncul tiap gadis itu bcara.
Musik seolah brhenti, obrolan, bahkan waktu dsekitar Andreas jdi brgerak lambat ketika itu. Dia trtegun mmandangi gadis ddpan'a itu. Andreas masih tdak bsa brkata2, bahkan mngedip pun tdak, ktika cewek itu mnatap bingung padanya dan kmudian pergi. Andreas sketika trbangun dri beku'a dan mncari2 cewek itu. Sayang ia tdak mnemukan'a. Andreas celingukan. Mncari2 cewek yg smpat mmbuat degup jantung'a brhenti brdetak itu. Tapi biarpun Andreas sdh mncari'a kmana2, dia ttap tak mnemukan cewek itu.
Mungkin sdh pulang, pikir Andreas kecewa. Dia keluar dri ruangan resepsi, namun ttap tak ada tanda2 kberadaan cewek itu. Dengan pasrah Andreas kembali dan langsung dihampiri oleh Nadia.
''Yas, kmu kmana aja tadi? Kakak cari2in juga,''kata Nadia.
''Kak, lihat cewek gag?''tanya Andreas
''Cewek yg mana? Disini ada bnyak, Yas,''kata Nadia bingung.
''Cewek, cantik, rambut'a panjang, pakai baju terusan biru, matanya agak sipit dan ada lesung pipit'a!!''kata Andreas scara mndetail dan tdak sabaran.
Nadia mnggeleng. ''Terlalu umum. Teman kamu?''tanya kakak'a.
Sekarang giliran Andreas yg mnggeleng. Sial, ia bahkan nggak tau nama cewek itu! Bodoh, bodoh, bodoh! Ia mmaki2 dirinya sndiri. Pertama kali'a ia mnemukan seorang cewek yg mmbuat'a khilangan kata2 dan jantung'a brhenti brdetak, tapi malah ia lewatkan bgtu saja. Andreas mndesah. Andai ia bisa brtemu cewek itu lagi..

***

Reena mnerobos tamu2 yg mmadati ruangan resepsi itu. Ia mnyelip sana sini krna Jimmy, kakak spupu'a yg lbh tua 6tahun dari'a itu, sudah mnunggu'a di loby hotel. Ia datang ke resepsi itu brsama Jimmy, krna Jimmy adalah teman dkat si mempelai pria. Dan Jimmy mngajak Reena brsama'a.
Karena trburu2, Reena menabrak punggung seorang cowok yg brdiri mmblakangi meja prasmanan. Cowok itu brbalik dan tampak marah pda awal'a, tapi entah kenapa ia tdk marah. Reena pun mmanfaatkan ksmpatan itu untuk mnta maaf. Bahkan stelah itupun cowok itu masih juga diam. Cowok aneh, pikir Reena dan mninggalkan cowok itu. Toh dia sdh mnta maaf tapi tak dgubris kan?
Ssampai'a di loby, Reena lngsung disambut oleh prtanyaan Jimmy.
''Lama bgt. Ngapain aja sih?''
''Tadi aku udah buru2. Malah sampai nabrak orang sgala! Tapi lucunya ya, pas aku kira dia bakal marah2, trnyata dia cuma bengong. Jdi aku mnta maaf dan lngsung pergi,''kata Reena mnceritakan kjadian lucu yg ia alami tadi.
Kedua'a mnuju mobil yg sdh trparkir d dpan hotel. Jimmy mmbukakan pintu untuk Reena dan mmutar ke sisi pengemudi. Reena sdng mmasang sabuk pengaman ktika Jimmy brtanya.
''Cowok??''tanya Jimmy curiga
''He'eh!''sahut Reena mngangguk. ''Kayka'a seumuran aku, tpi mngkin lbh tua juga,''tambah Reena.
''Alah, paling juga trpesona sama kmu,''sahut Jimmy
Mobil pun mlaju mmecah keramaian lalu lintas malam itu. Reena mnimbang2 kembali. Terpesona? Kelihatan'a cuma kata itu yg cocok mnggambarkan ekspresi aneh cowok itu. Habis Cowok itu sampai trpaku bgtu.
Kalau Reena ingat2, wajah cowok itu juga tdak bsa dibilang jelek. Cakep malah. Dengan rambut jabrik, hidung mancung aristokrat, dan mata teduh'a itu. Gaya'a juga keren. Meskipun tampil formal, ia kelihatan keren dan tetap gaul. Mski dsekeliling'a kbnyakan orang2 yg lebih tua dan juga yg brumur, cowok itu ttap terlihat berbeda. Hmm, sayang Reena tdak tau nama'a. Habis cowok itu tak bcara spatah katapun sih. Mungkin gag ya mreka ketemu lagi...batin Reena.

YOU AND I #2
Sbulan telah berlalu. Andreas ttap tak mngetahui siapa cewek yg mmbuat hati'a brdebar2 itu. Ia masih trbayang2 wajah Cewek itu. Kalau dulu ada yg brtanya apakah ia percaya dgn cinta pada pandangan prtama, dia pasti akan trtawa dan mngibaskan tangan'a. Tapi skarang Andreas prcaya 100%. Krna cuma itu yg bsa mnggambarkan keadaan'a.
Sejak awal SMA, Andreas sdh masuk ke SMA putra. Otomatis ia jarang berinteraksi scara langsung dgn cewek. Kalaupun iya, itu pasti saat pulang skolah. Krna SMA Putra brsebelahan dgn SMA Putri. Gosip'a dulu kdua skolah itu adalah sbuah skolah campuran. Tapi krna ada perselisihan yg trjadi antara para petinggi di skolah itu, maka akhir'a skolah trsebut dipisahkan. Namun demi ketertiban blajar, skolah itu ttap brdampingan. Dengan sbuah tembok raksasa stinngi tembok Berlin yg mmisahkan kdua skolah itu.
''Yas, kmu sbnar'a knapa sih? Akhir2 ini kamu klihatan muraaam terus. Ada apa sih?''tanya Anthony, salah satu tman baik Andreas.
''Bukan muram, tapi suram!''sahut Andreas
''Yaelah, jgn2 kmu msih kpikiran Cewek itu ya? Udah sebulan lho, Yas!''kata Anthony tak prcaya.
''Mau sebulan kek, stahun kek, aku gag peduli! Kamu gag ngerti prasaan orang yg brtepuk sbelah tangan!''sahut Andreas jengkel.
''Ah, berlebihan! Nyerah aja deh! Udah sebulan tapi kamu gag prnah mnemukan cewek itu kan? Kalau bukan gag jodoh, apa lagi?''
Andreas manyun mndengar logika Anthony. Mmang sudh sbulan brlalu dan Andreas gag prnah brtemu cewek itu lgi. Tapi hati Andreas blm mau mnyerah. Ia yakin suatu saat akan brtemu lgi dgn Cewek itu.
Pulang skolah, Andreas, Anthony dan David pergi makan di Mall. Mreka mau mnghibur diri di time zone atau sekedar nongkrong2. Syukur2 dpat kenalan cewek cantik,hehe
Andreas sangat mmerlukan pengalih perhatian. Agar ia tidak mmikirkan Cewek itu lgi. Dan mnurut teman2nya, cuci mata di Mall adalah salah satu cara'a.
Ktiga'a asik makan dan saling mnggoda. Bikin restoran yg sdh bising tambah bising. Dan hal itu benar2 mngalihkan pikiran Andreas hingga ia tak mnyadari dua orang cewek yg baru sja kluar dri restoran itu.

***

Reena dan Anggie jalan2 di Mall spulang skolah. Masih mngenakan seragam skolah yg mreka tutupi dgn jaket. Reena brjalan kluar restoran brsama Anggie. Soal'a Vicky, kakak Reena yg lbh tua 3 tahun itu, sudh mnunggu'a di parkiran.
Reena smpat trtarik dgn kributan di meja pojok blakang. Tmpat sgerombol cowok2 duduk dan bicara dgn volume suara yg keras. Reena mnggeleng pasrah, bicara kok kayak di rumah sndiri, pikir'a.
''Lihat deh, Ree. Cowok2 itu brisik bgt deh,''komentar Anggie.
Reena mngangguk. ''Itu seragam SMA Putra kan?''tanya'a
''Eh, iya, ya?! Ihh, untung kita nggak satu skolah sama mreka. Pasti deh bakal rusuh tiap hari,''kata Anggie.
''Begitulah para cowok,''kata Reena.
Kalau nggak brisik bukan cowok nama'a, batin Reena. Kakak'a, Vicky, juga sering mmbuat ricuh kalau sdh brkumpul dgn Jimmy, Reyhan (sepupu Reena yg lain yg cuma beda stahun diatas Reena), Yogi (adik spupu Reena), dan juga Choky (Adik'a Jimmy yg seumuran dgn Vicky. Cowok2 iitu bahkan prnah bikin seisi rumah jengkel hingga akhirnya para biang onar itu dilempar keluar rumah. Tapi biarpun sdh dtendang keluar, cowok2 itu ttap bsa brsenang2. Dan satu hal yg paling mreka nikmati adalah mnjaga ketat Reena dri incaran 'serangga2 pengganggu' yg mndekat. Tak heran jika Reena tak prnah punya pacar. Tiap ada cowok yg ingin mndekat, bgtu melihat para bodyguard'a, langsung mndur teratur!
Eh, tapi tunggu. Reena sperti mngenal salah satu dri mreka. Sambil brjalan kluar, ia mmperhatikan lbh seksama. Mngingat2 knapa rasanya salah satu cowok itu tdak asing bagi'a.
Oh! Reena ingat! Itu Cowok Aneh yg Reena tabrak saat di pesta resepsi! Reena tdak mngkin salah ingat. Ingatan'a sangat tajam. Jadi ia yakin cowok itu adalah orang yg sama. Rupanya cowok itu brsekolah di SMA Putra? Astaga, betapa sempit'a dunia ya? Reena trsenyum2 sndiri. Sebulan ini ia bgtu pnasaran ttg cowok itu. Siapa sangka trnyata mreka brada bgtu dekat? Takdir kadang memang lucu..
YOU AND I #4
''Wiiihhh, lihat cewek2 barusan?''celetuk David tiba2.
''Cewek2 yg mana??''Anthony lngsung clingukan
''Itu, yg barusan kluar dri tmpat ini,''kata David
Anthony mmanjangkan leher'a untuk melihat melalui atas kpala orang2 yg makan d tmpat itu. Andreas pun ikut2an mmutar tbuh'a demi melihat cewek yg dimaksudkan oleh David. Mata Andreas mncari2 smntara telinga'a mndengarkan deskripsi David ttg cewek yg dilihat'a. Ujung mata Andreas mnangkap sosok cewek yg mirip dgn yg dgambarkan oleh David. Ia mmicingkan mata'a. Dan cewek itu mnoleh ke samping sbelum mnghilang d antara brbagai macam prtokoan. Ia spontan brdiri. Andreas mngucek2 mata'a, mmastikan kalau ia tdak salah lihat. Astaga, nggak salah lgi!! Itu mmang dia!
Andreas lngsung brgegas mngejar cewek itu. David mmanggil2nya, bgtu juga Anthony. Smntara David brkutat dgn dompet'a dan mmbayar makanan mreka, Anthony sdh mngejar Andreas dan brhasil mncegat'a.
''Woi, kmu knapa sih, Yas??''tanya Anthony
''Itu dia, Thon! Itu cewek yg kau critakan ke kalian! Dia tdi disini!''kata Andreas tdk sabar dan trus mncari2. ''Vid, kmu lihat muka'a kan??''tanya Andreas pda David ktika cowok itu brgabung.
''Dari samping doank, Yas,''kata David ngos2an. ''Itu cewek yg lo maksud?? Wiih,,emang cantik ya,''kata David lgi
''Iya! Aku yakin itu dia! Sial, kmana dia pergi?''
Andreas terus mncari2, namun bayngan cewek itu pun tak trlihat lgi. Andreas mngumpat. Untuk kdua kalinya dia kehilangan cewek itu. Padahal dia sdh sangat bgtu dekat. Sekejap Cewek itu ada ddpan matanya, skejap kmudian ia mnghilang tnpa jejak.
Anthony mnepuk pundak Andreas. ''Udahlah, Yas. Kalau memang jodoh pasti ketemu lagi,''hibur'a.
Pundak Andreas trkulai lemah. Ia mndesah. ''Aku udah dua kali kehilangan dia, Thon,''kata Andreas. ''Mustahil ada kebetulan kayak gni lgi.''
''Yee, dia pesimis,''kata David. ''Yas, kalau dia mmang jdohmu, kalian pasti ketemu. Buktinya kmu tdi lihat dia kan?''
''Dan mau km khilangan dia dua kali, tiga kali, atau empat kali, ujung2'a psti akan ketemu!''timpal Anthony
''Dan yg lebih penting, kmu jdi tau kalau dia msih ada d kota yg sama dgn kita!''kata David
Andreas mau tak mau trsnyum mlihat perhatian teman2nya. ''Ya, kalian ada benar'a. Thanks,''kata Andreas
''You're wellcome,''sahut David dan Anthony
Yah, mngkin kali ini Andreas khilangan jejak Cewek itu lgi. Tapi lain kali, Andreas takkan mau mlepaskan Cewek itu.

***

Reena trsenyum2 sndiri saat mngingat prtemuan pertama'a si Cowok Aneh, bgtu ia mnyebutnya.masih trbayang oleh'a bgaimana reaksi Cowok itu ktika prtama kali mlihat'a. Kalau tdak trpesona, minimal Reena akan mnyebut'a trtegun. Lucu bget. Reena mnatap cermin kecil dtangan'a dgn bangga. Hmm, aku mmang manis, pikir'a. Ia mmiliki wajah oriental sperti Papa'a, senyum manis mirip Mama yg dulu'a seorng model trkenal. Wajar kan kalau cowok itu tak mampu brkata2? Reena trkikik sndiri.
Coba kalau cowok itu tdak hanya bengong. Pasti saat ini mreka sdah brkenalan. Sayang sekali, dua kali prtemuan tak trduga, namun tak prnah brkenalan.
''Knapa senyum2, Ree?''tanya Vicky yg msuk ke dapur, mnatap Reena yg duduk smbil trsnyum2 di kursi meja makan.
Reena mndongak. ''Siapa? Nggak kok,''sahut'a, tapi jlas brlawanan dgn snyum d wajah'a.
''Nah, tuh masih senyum,''kata Vicky. ''Ada hal yg bikin senang ya?''
Reena trtawa dan mnceritakan prtemuan kduanya dgn si Cowok Aneh. Reena yakin Vicky sdah mndengar crita prtmuan prtama'a dari Jimmy, jdi Reena lngsung saja mncritakan ttg kjdian siang tadi. Reena sering brtanya2 bgaimana kakak'a dan para spupu2 laki2'a brbagi informasi. Trutama mngenai Reena. Tak ada rahasia Reena yg tdak dketahui oleh para cowok itu. Reena tdak bsa mmbayangkan bagaimana mreka brkumpul di satu tempat dan mnggosipkan'a diam2! Atau mungkin mmbuat sbuah aliansi dan saling brtukar informasi mngenai Reena. Mreka sperti agen yg mmata2i Reena dan mlindungi'a entah dri hal apa.
''Kmu suka cowok itu?''tanya Vicky, kening'a brekerut dan trdengar protective. Yah, wajar aja sih. Adik smata wayang gitu loh!
Reena mmainkan sjumput rambut'a. ''Nggak juga sih.. Cuma penasaran aja. Apalagi dia trnyata anak SMA Putra. Brarti dunia ini mmang sempit ya?''
''Vicky mngambil mnuman dri dalam kulkas dan mnenggak'a banyak2. ''Brarti kesempatan brpapasan lebih tinggi,''komentar Vicky
''Mana bisa? Kan skolah aku pulang satu jam lebih awal ktimbang mreka,''sahut Reena.
''Berarti kmu mmang mau ketemu dia kan?''
Reena mngerucutkan bibir'a dgn lucu. ''Sedikit,''aku'a malu2.
Vicky mnenggak air lebih bnyak ktika mngetahui adik ksayangan'a sdh mulai trtarik pada cowok! Seperti biasa, insting protective'a sbg seorang kakak merasa tdak senang. Bagi Vicky, Reena msih adik kecil'a yg lugu, tak pduli bahwa umur Reena sdh 17thun.
''Asal kamu jaga diri aja. Jangan sampai trmakan rayuan2 gombal cowok yg tdak benar. Apalagi kmu tdak trlalu kenal dgn cowok itu,''kata Vicky panjang lebar
''Iya, Reena tau kok! Reena kan udah gede, kak!''kata Reena. ''Ngomong2 kakak mau kmana sih? Kok udah rapi?''tambah Reena ktika mnyadari pnampilan Vicky yg sudah rapi.
''Mau ke rumah Nadia,''sahut Vicky singkat
''Siapa?? Pacar kakak??''seru Reena semangat. Kakak'a sdh 21 tahun dan setau Reena, kakak'a blm pnya pcar sjak ptus dgn pacar trakhir'a 6bulan yg lalu. Kakak'a kan ganteng, pintar dan juga populer. Reena yakin cewek yg dipilih kakak'a pasti sangat istimewa.
''Iya, pacar kakak. Bru jalan 2bulanan,''kata Vicky.
''Kok gag dikenalin sama Reena ???''tanya Reena merajuk.
''Lain kali kakak kenalin,''kata Vicky dan menghampiri Reena. Vicky mncium kdua pipi Reena.
''Kakak pergi dulu ya,''kata Vicky. Lalu mngacak rambut Reena dgn sayang. ''Jaga rumah! Nanti Yogi dan Reyhan kesini,''kata Vicky sebelum pergi.
''Siip Bos!!'' kata Reena dan melambai riang. Hmm, dia pnya waktu brsenang2 kurang lbh satu jam sblm kdua spupu'a itu 'berkunjung'. Yang artinya 'awasi Reena jangan sampai macam2'. Reena pun pergi ke kamar'a. Mmpersiapkan apapun yg bsa ia lakukan untuk mmbuat Yogi dan Reyhan takkan tega mnahan'a drumah semalaman..

YOU AND I #5
Bel pintu brbunyi dua kali, diikuti oleh teriakan Nadia yg mnyuruh Andreas untuk mmbukakan pintu. Andreas juga tau tanpa dsuruh2. Jadi dgn malas ia bangkit dari sofa dan brjalan ke pintu. Mmbukanya dan brhadapan dgn seorang cowok yg mnurut Andreas mirib celeb itu. Cowok itu trsenyum sopan padanya. Hmm, pasti ini yang bikin kakak'a brdandan abis2an. Andreas lalu mmpersilakan cowok itu masuk dan mngajak'a ke ruang tamu. Ia mnjelaskan kalau Nadia masih di kamar.
''Kamu pacar'a Nadia ya?''tanya Andreas, setelah mmpersilakan cowok itu duduk.
Cowok itu mmajukan tubuh dan mngulurkan tangan. ''Aku Vicky. Kamu pasti adik'a Nadia, dia udah crita bnyak soal kamu,''kata Vicky.
''Aku Andreas. ''Dan ya, aku adik semata wayang'a Nadia. Melihat kamu, gag heran kakakku dandan dritadi,''kata Andreas dan nyengir.
''Bukan'a sudah kbiasaan cewek?''balas Vicky dan mnyeringai.
Kdua'a trtawa. Andreas lngsung mrasa akan mnyukai Vicky.
''Kalian mau ngedate?''tanya Andreas
Vicky angkat bahu. ''Nadia mau ke toko buku,''kata Vicky
Mreka kmudian mngobrol sambil mnunggu Nadia. Trnyata obrolan mreka sangat nyambung. Dan dari obrolan singkat itu Andreas jdi tau kalau Vicky pnya seorng adik perempuan dan Vicky sangat protectif padanya. Terlebih, adik Vicky yg brnama Reena itu brsekolah di SMA Putri. Andreas kaget juga mndengar'a. Nggak mnyangka dunia bgtu sempit.
''Dia mudah dkenali kok. Stidak'a mnurutku dia manis dan juga ramah. Dan dia gampang brgaul dgn siapa aja. Gag heran bnyak cwok2 aneh yg mndekati'a,''kata Vicky stengah mndesah. ''Mungkin kalian prnah papasan,''kata Vicky mnambahkan smbari trsenyum tipis.
''Bisa aja,''sahut Andreas
Nadia datang dan duduk di pegangan sofa yg diduduki Andreas. Ia melempar snyum manis pda Vicky.
''Reena cantik lho, Yas. Kakak prnah lihat foto'a. Kalau kamu lihat juga, mungkin kamu akan lngsung jatuh cinta dan siapa tau mlupakan Cewek itu kan,''kata Nadia.
Andreas cuma nyengir. Nadia slalu ingin mmbuat'a lupa pda Cewek Impian'a itu. Krna mnurut Nadia, itu tdak baik bagi Andreas. Tapi Andreas tdak mngatakan apa2.
Bgtu Nadia dan Vicky pergi, Andreas lngsung mnggerutu. Enak aja mau mnjodoh2kan'a. Andreas cuma cinta sama Cewek itu! Yang lain lewat! Biar kata Si Reena itu cantik'a kayak Britnet juga Andreas tdak trtarik. Hati'a sdah trlanjur ia berikan buat Cewek itu. Biarpun hingga kini Andreas belum mngetahui siapa Cewek itu. Tapi Andreas tdak mau mnyerah bgtu saja. Meskipun harus merelakan banyak waktu untuk mncari, bnyak pengharapan akan brtemu lagi, Andreas ttap brusaha optimis. Tapi, bagaimana kalau Cewek itu sdah pnya pacar? Tba2 pikiran itu mmbuat Andreas ngeri.
Astaga! Ia bahkan tdak kepikiran hal itu! Bagaimana kalau slama ini ia mncari2 sementara Cewek itu sdah pnya pacar?? Bgaimana kalau smua yg ia lakukan sia2?
'Bagaimana kalau Cewek itu bnar punya pacar?'bisik hati kecil'a
Ah, nggak, nggak, harus positif. Pasti kecil kmungkina dia sdah pnya pacar, sangkal Andreas
'Yang benar' terus waktu pesta itu dia datang dan pulang dgn siapa?'hati kecil'a msih tak pasti
''Pasti naik taksi!!''seru Andreas tdak sadar.
Andreas lgi2 brdebat dgn diri'a sndiri. Namun kmudian rasa optimis'a yg menang. Andreas mnolak brpikir negatif. Ada banyak jalan ke Roma. Pasti ada bnyak cara yg bsa ia lakukan agar bisa mnemukan cewek itu.
Andreas lalu mngambil telpon di samping sofa dan mnghubungi kedua sohib'a. Menyuruh kdua'a datang kerumah'a dan mnghabiskan malam itu dirumah'a. Entah main PS3 atau apa, yg penting ia tdak sndirian dan jadi gila krna pikiran2 laknat'a.
Dan tentu saja tawaran'a diterima dgn sukacita oleh David dan Anthony, krna kdua teman'a itu adalah Jojoba sejati..

YOU AND I #5
Reena mnunggu jemputan Reyhan. Ia mnunggu ddpan gerbang skolah'a smbil duduk d bangku kios pnjual bakmi yg mangkal disitu. Reena mengecek jam di tangan'a, sdah pukul 2 lewat dan Reyhan belum juga datang. Padahal sekolah Reyhan pulang 1jam lebih awal ketimbang skolah Reena, jadi harus'a sepupu'a itu sudah sampai.
Reena mndongak ktika mndengar riuh rendah suara siswa2 SMA Putra yg baru pulang. Reena trsenyum sndiri. Mungkin cowok itu ada diantara ratusan siswa yg baru pulang itu. Kalaupun ada, pasti sulit mnemukan'a. Tidak mungkin kan ada kebetulan dan cowok itu tba2 muncul di depan'a? Hmm, padahal Reena ingin brtemu lagi. Kalau dihitung2, sdah hampir 1 stgh bulan sjak pertemuan pertama mereka. Akan tetapi Reena masih saja teringat dgn cowok itu. Mungkin krna ia penasaran dan belum smpat brbicara dengan cowok itu. Sehingga ia blm mngetahui pribadi cowok itu.
Saking asik'a dgn pikiran'a, Reena tdak mnyadari kalau Reyhan sudah datang. Cowok itu mmbunyikan klakson'a bbrapa kali tapi Reena ttap brgeming. Terpaksa Reyhan turun dan mnghampiri Reena.
''Hoi!''Reyhan mnegur sambil mnjentikkan jari ddpan wajah Reena. ''Bumu memanggil, Reena.''
Reena mngerjap kaget. ''Eh, kapan datang?''tanyanya
''Beberapa menit lalu. Kamu ngelamunin apa sih? Sampai aku klaksonin tapi gag sadar2?''atnya Reyhan
''Gag mikirin apa2 kok,''sahut Reena buru2. Ia brdiri dan mmbersihkan rok'a.
Reyhan mncondongkan tbuh'a dan menatap Reena curiga. Matanya sejajar dengan Reena krna Reena brdiri di atas trotoar. Lalu Reyhan mngalihkan tatapan'a ke arah SMA Putra.
''Hmm..mana Cowok Aneh itu? Vicky bilang dia anak SMA ini,''kata Reyhan
Reena lngsung mnggamit lengan Reyhan dan mnarik'a kembali ke mobil. ''Nggak usah bahas itu deh! Jangan2 kamu minta jemput karena penasaran ya?''kata Reena
Reyhan tdak melawan. ''Bukan cuma aku, Ree. Vicky, Jimmy, Choky dan Yogi semuanya penasran!''sahut'a.
''Yee, kenapa gitu? Lagian aku juga gag kenal sama cowok itu!''Reena sewot.
''Biarpun gitu, tiap serangga harus dibasmi!''tegas Reyhan
Reena brhenti dan mnatap Reyhan dengan jengkel. Ia sdh brdiri dsamping pintu mobil dan kini ia brkacak pinggang.
''Dasar nyebelin! Jelas aja aku nggak punya pacar! Pasti kalian biang kerok'a kan???''
O.owwh.. Reyhan meringis mndengar tuduhan Reena. Dia keceplosan. Dan sekarang Reena tau apa saja yg ia dan yg lain'a lakukan untuk mnjauhkan Reena dri stiap cowok yg mndekat. Ditambah lgi sekarang cewek itu ngambek. Waduh, bisa jadi tontonan umum nih! Reyhan buru2 mnta maaf dan mmbukakan pintu untuk Reena. Dia merayu, mmbujuk, bahkan nyaris mmaksa Reena agar mau masuk ke mobil. Bbrapa pasang mata sdh mulai mmperhatikan kehebohan kecil yg mreka buat.
''Aku gag suka kalau slalu di perlakukan kayak anak kecil! Aku kan udh 17tahun!''kata Reena jengkel
''Ree, ultahmu masih 2 minggu lagi,''Reyhan mengingatkan. Tindakan bodoh pastinya krna malah mmbuat Reena makin jengkel.
''Bodo amat! Yg jelas aku bukan anak kecil lagi! Kalian nggak bisa mngatur siapa aja yg boleh aku dekati!''sahut Reena
Kmudian Reena mnepiskan tangan Reyhan, mnolak dibukakan pintu. Ia mmbuka pintu mobil Reyhan dgn kasar. Tau itu adalah mobil kesayangan Reyhan. Reyhan cuma bisa meringis dan mmutar untuk masuk ke sisi pengemudi.
Ketika itulah tatapan Reena tak sengaja beradu dengan tatapan lain. Tatapan seorang cowok yg bbrapa mnggu ini terus diingat'a, yang saat ini brdiri hanya skitar 10meter jauh'a. Panggilan Reyhan mengalihkan tatapan Reena dri kontak mata itu. Dengan sangat tdak rela Reena masuk ke dalam mobil, tak lupa mmbanting pintu mobil'a, kmudian duduk cemberut.
Ketika mobil mulai melaju, Reena kmbali menatap ke tmpat trakhir Reena melihat cowok itu. Entah kenapa Reena mnangkap kesan kecewa dri tatapan itu. Kenapa ya? Entah kenapa Reena tak bisa mngabaikan'a begitu saja. Ia sampai mnoleh ke blakang, namun cowok itu sdh pergi..

***

David baru saja mngusulkan untuk ke game center spulang skolah itu, yg langsung di tolak mntah2 oleh Anthony. Kmudian dgn pantang mnyerah David kembali mngusulkan untuk cari makan. Yang lngsung disambut jitakan kanan kiri oleh Anthony dan Andreas. Soal'a blm ada sejam yg lalu mreka sudah menjamah 3bungkus keripik pedas dan 5 buah pisang goreng di kantin tadi.
David langsung komplain dan mminta usul dri teman2nya. Ketiga'a lngsung sibuk mikir. Saat lagi sibuk2nya mikir, pandangan Andreas justru teralihkan oleh sepasang cowok cewek yg sdang brdebat tak jauh darinya. Andreas geleng2 kepala. Itulah jeleknya punya cewek yg suka mnuntut. Kerjaan'a pasti marah2. Lihat cewek itu, dia berkacak pinggang. Pasti cowok'a trlambat datang sehingga ia harus mnunggu.
Andreas mnghela napas. Lagi2 teringat Cewek itu. Andai ia sudah brkenalan dgn cewek itu, mungkin saat ini dirinya bsa pulang brsama dgn Cewek itu. Kalau cewek itu, Andreas yakin pasti bukan tipe cewek posesif, malah mungkin justru Andreaslah yg akan brsikap posesif. Meskipun Andreas takkan keberatan dgn sikap Cewek itu.
Membayangkan hal itu mmbuat Andreas trsenyum getir. Astaga, kenapa ia bisa bgtu trgila2 pada Cewek yg bahkan tdak ia ketahui nama'a? Dia pasti sdh sakit. Iya, sakit cinta! Sakit paling akut yg blm ada obatnya sampai sekarang.
Andreas hendak mmalingkan wajah'a ketika pasangan yg dilihat'a tdi beranjak ke mobil. Andreas brkedip bbrapa kali sebelum benar2 yakin akan apa yg baru dilihat'a. Itu dia! Cewek yg slama ini mrusak sirkuit otak'a shingga tdak bsa mmikirkan hal lain'a. Jantung Andreas seakan berhenti berdetak ketika tatapan cewek itu brtemu dgn tatapan'a. Dilihat dari mata yg sdikit mmbelalak itu, Andreas asumsikan kalau Cewek itu jgan msih ingat sgn'a. Dunia serasa berhenti berputar dan Andreas trpaku. Andreas nyaris melangkah ke tempat Cewek itu, ketika Cewek itu brpaling dan mnengok ke dalam mobil.
Sebuah knyataan mnghantam Andreas. Seperti berton2 batu marmer yg dijatuhkan keatas kpala'a. Cewek itu tdak sndirian. Ia brsama seorang cowok. Dan mrekalah yg tadi Andreas perhatikan! Hati Andreas seketika mncelos. Tatapan'a trus trpaku pada cewek itu. Dan spertinya cewek itupun masih mnatap'a dari dalam mobil, mski Andreas tdak yakin. Apa yg ia rasakan?
Cewek itu sdh punya pacar, sialan! Kamu gag punya kesempatan lagi. Sia2 slama ini kmu brharap. Sekarang kamu ktemu dia lagi dan trnyata dia mmang sudah punya pacar! Andreas trpaksa mnelan keinginan'a untuk tertawa. Btapa ironis'a ini. Sial, dia cowok! Nggak mungkin menangis hnya krna cewek! Apalagi cuma krna patah hati!
''Woi, Yas, stuju gag? Kita mau ke toko musik nih!''kata2 David mngembalikan ksadaran Andreas, yg sejak tdi tatapn'a mngikuti mobil cewek itu.
Andreas melambaikan tangan'a dan berbalik pergi. Ia tdak bsa bcara skarang, tdak jika ia hnya akan berteriak frustasi.
Anthony dan David saling pandang. Kmudian keduanya mnyusul Andreas.
''Nah, dia knapa?''tanya David bingung
''Diam biasanya dia lagi nahan emosi kan?''sahut Anthony
''Apa yg bikin dia kecewa?''tanya David tak mngerti.
''Belakangan ini yg dia pikirin kan soal Cewek itu, bsa jadi ini juga ada hubungan'a dgn cewek itu!''sahut Anthony
''Apa hubungan'a? Kita kan gag lagi ngomongin soal itu?''David mulai senewen. Dia mulai muak dgn perkara Cewek Tanpa Nama ini, yg sdah mmbuat teman'a jdi aneh. Kalau mmang bsa, David pasti akan mnyeret cewek itu ke hadapan Andreas. Lengkap dengan pita besar kalau perlu!
''Jangan2 tuh cewek tadi disini?''kata Anthony pelan, ia tampak brpikir keras. ''Ya! Bisa jadi! Dan ada ssuatu yg bikin Andreas langsung down!''kata cowok itu sambil mnjentikkan jari.
''Tuh cewek dijemput cowok??''tebak David. ''Ehh,berarti tuh cewek anak sini donk??''
Anthony mngangguk2 yakin. ''Pastinya!''
David brdecak2 sembari mnggelengkan kpala'a. ''Kasihan Andreas. Belum apa2 udah broken heart duluan,''kata David brsimpati. Mmperhatikan ktika Andreas mninggalkan parkiran dgn motor'a..

YOU AND I #6
Sibuk, sibuk, dan sibuk! Vicky, Jimmy, Choky, Reyhan dan juga Yogi sibuk mondar-mandir merapikan halaman blakang dan samping rumah Vicky guna mmpersiapkan ulang tahun Reena yg ke-17 akhir pekan ini.
Reena brkeras mminta pesta kebun krna lebih santai dan tdak mmakan bnyak biaya. Reena mnolak smua usul kakak dan spupu2nya yg ingin ultah Reena diadakan di hotel brbintang. Sgala macam rongrongan yg datang langsung diabaikan oleh Reena. Ia masih kesal dgn para cowok itu. Pesta di hotel mewah? Didampingi 5 bodyguard yg akan mnjauhkan Reena dari cowok2 yg akan diundang'a? Trima kasih, tapi Reena mmilih tidak. Jadi Reena memilih pesta kebun dan kdua orangtua'a setuju.
Maka dari itu, siang itu spulang skolah dan stelah smua spupu'a brkumpul dirumah (Reena curiga Vicky, Jimmy dan Choky kabur kuliah), mreka lngsung brgotong royong mngatur tata letak pot2 tanaman di halaman. Dan smua itu HARUS dikerjakan oleh kakak dan para spupunya sbagai imbalan sikap mreka slama ini. Reena ingin pesta yg elegant tapi simple. Mawar'a dirapikan shingga bunga2'a yg sdang mekar bsa terlihat. Meja dan krsi diatur sdemikian rupa, dgn pita2 kain cantik dan helaian kain yg berwarna putih dan biru laut.
Untuk makanan'a, khusus dimasak oleh kathering Mama'a. Dan Reena mnjamin 100% makanan2 itu sangat enak.
Reena trsenyum mnikmati pemandangan d hadapan'a. Reyhan dan Yogi cemong2 blepotan tanah karna mmangkas rumput2 yg tggi. Ada jga Choky yg sok pamer otot mntang2 sering ke gym. Semua tampak mnikmati'a, mski mreka kotor dan brkeringat.
Reena jdi tdak sabar mnunggu hari esok. Reena hanya mngundang2 teman2 dan keluarga saja. Dan bukan hanya itu, Reena mmbebaskan tman2nya untuk mngajak pacar'a dan juga tak mmakai dresscode trtentu. Dan Reena mngharuskan Vicky untuk mngundang Nadia, pacar Vicky. Dan katanya Nadia mau datang dan akan mngajak adik'a yg brnama Andreas.
Akan tetapi, Reena msih trbayang2 dgn tatapan kecewa Cowok Aneh itu. Kenapa cowok itu kelihatan kecewa? Apakah krna ia brpikir Reyhan dan Reena pnya hubungan spesial? Kalau iya, Reena akan segera mmbunuh Reyhan krna mmbuat orang2 brpikir sperti itu! Gara2 itu kesempatan Reena dapat pacar jdi hilang! Krna Reyhan senang skali brsikap seolah2 ia pacar Reena di hadapan orang lain. Dan jika kali ini Cowok itu mundur teratur gara2 hal itu, Reena akan mmboikot Reyhan, Choky, Jimmy atau pun Yogi untuk tdak brada di dekat'a. Stidak'a dalam radius 5 meter!

***

''Yas, kamu mandi gih! Sbntar lagi makan malam siap lho!''kata Nadia mmbangunkan Andreas. Ia mnarik selimut yg mnutupi tubuh adik'a. Heran krna skarang adik'a itu jdi sering mngurung diri di kamar. Kalau tdak tdur dan malas2an, maka Andreas akan mnggetarkan seluruh dinding rumah dgn volume tape yg gila2an. Tampak'a adik'a sedang uring2an.
Sbgai reaksi dri tindakan Nadia tadi, Andreas cuma mngerang tapi tdak mau bangun.
''Andreas, bangun! Nanti kmu disiram sama mama lho!''kata Nadia
''Duh, aku males, kak,''sahut Andreas mnggerutu.
Nadia duduk di tepi tmpat tdur Andreas. ''Kamu knapa sih? Kalau ada masalah, ya, diomongkan,''kata Nadia sabar
''Gag ada apa2,''sahut Andreas
''Gag ada apa2 tapi knapa kamu kayak gini?''sahut Nadia. ''Apa ini ada hubungan'a dgn cewek yg kamu cari2 itu?''
Andreas mngerang dan berbalik hingga telentang. Ia mnatap kosong ke arah langit2 kamar'a.
''Dia udah punya cowok,''kata Andreas pelan
''Kamu tau darimana? Bisa jdi itu saudara'a kan?''tanya Nadia
Andreas mndengus. ''Mana ada saudara yg mesra kayak gitu?!''
''Jadi critanya kamu patah hati? Gitu?''goda Nadia
Andreas merengut dan mnutupi wajah'a yg memerah dgn tangan'a.
''Yas, kamu kan belum knal gadis itu. Nama'a saja tdak tau kan? Kalau sekarang kmu patah hati kayak gag ada hari esok, apa gag trlalu brlebihan?''
Karena Andreas tdak mnjawab, jdi Nadia melanjutkan. ''Kamu ini cakep, masa cuma krna seorang cewek yg bhkan gag kamu knal kamu mndekam disini? Kayak bukan kmu yg biasa'a deh,''kata Nadia.
Stelah hening sjenak, Andreas mntapa kakak'a dgn kening brkerut.
''Jadi mnurut kakak, aku trlalu trpuruk?''tanya'a
Nadia trsenyum. ''Bukan terpuruk, cuma sdikit melankolis! Masih bnyak cewek diluar sana. Kakak yakin kamu akan mnemukan yg cocok diantara'a. Kmu gag selemah itu kan?''
Nadia gag serius, ia cuma ingin mndongkrak semangat adik'a sehingga brhenti mngurung diri. Nadia jga prnah patah hati sbelum'a.. Cuma krna ia trlalu pengecut untuk mnunjukkan perasaan'a, jadi Vicky keburu dsambar cewek lain tak lama stelah cowok itu kmbali single. Krna sedih, Nadia mmutuskan untuk berubah. Siapa sangka bbrapa bulan kmudian justru Vicky yg mndekati'a?
Andreas lngsung duduk tegak dan nyengir pada Nadia. Kata2 Kakak'a mmang benar. Kalau mmang cewek itu punya pacar ya apa boleh buat kan? Dan kalau diingat2 lagi, cewek itu anak SMA Putri. Slama ini mreka cuma dipisahkan sbuah tembok tinggi, dan tdak prnah brtemu. Mungkin suatu saat nanti Andreas akan mngenalkan diri pada cewek itu, dan mngenal cewek itu mski hanya sbgai teman'a.
''Bsok ikut sama kakak ya?''ajak Nadia
''Kemana?''tanya Andreas
''Adik'a Vicky ulang tahun yg ke-17. Kita diundang sama Vicky,''kata Nadia
''Kok aku juga?''tanya Andreas bingung. ''Aku kan gag akrab2 bgt sama Kak Vicky.''
''Kamu ya nemenin kakak, Yas.. Masa kakak datang sendirian? Tega kamu sama kakak?''kata Nadia kecewa. Yang biasa'a akan sukses mmbuat Andreas luluh.
Benar saja, Andreas cuma mnghela napas dan stuju untuk ikut. Nadia lngsung trsenyum lebar dan mncium kedua pipi adik'a.
''Mandi sana! Kamu bau, ihh!''kata Nadia sebelum pergi mninggalkan kamar Andreas.
Andreas merenggangkan tbuh'a dan mnghela napas panjang. Apa boleh buat. Untuk sementara patah hati'a cukup segitu dulu deh. Ini baru Nadia, kalau sampai Mama'a juga tau, Andreas bakal malu dan malah terus2an mndekam di kamar'a. Jadi ia bangkit dan melangkah ke kamar mandi.

YOU AND I #7
Reena sibuk menyambut tamu2nya yg sudah berdatangan. Dia mondar-mandir ke seluruh penjuru halaman rumah'a yg luas. Ia menyapa teman2nya, para keluarga, dan juga entah siapa lagi undangan yg tak ia kenal, mmastikan mreka smua mrasa nyaman dan mnikmati acara'a.
Sementara itu, Jimmy, Choky, Yogi dan Reyhan scara bergiliran mnguntit'a. Tdak kapok2'a mski sdh dicuekin slama sminggu oleh Reena. Dan Reena sadar ia sdng diawasi, mmbuat'a jengkel stengah mati. Untung Mama mau 'mengusir' mreka dengan pelototan galak stelah Reena merajuk.
Setelah itu Reena bebas. Ia mnymbunyikan seringai senang'a. Ia mngobrol brsama teman2nya dan brpindah stiap bbrapa menit sekali. Ia mncari2 Vicky. Kakak'a itu sdah mngundang pacarnya untuk datang dan Reena sudah tdak sabar ingin brkenalan dengan cewek yg bikin kakak'a tdak enak makan dan tidak enak tidur itu.
Reena mncari2 diantara tamu2 yang datang, mengira2 mana yang mungkin kiranya brnama Nadia. Tapi Vicky tdak tampak dimanapun. Kemana sih kakak'a itu? Malahan Reena bertemu (atau ditemukan?) Yogi.
''Nyari siapa, Ree?''tanya Yogi, adik spupu Reena
''Kmu lihat kak Vicky gag, Yo?''tanya Reena
''Kak Vicky lagi ke depan. Katanya mau nunggu seseorang gitu,''sahut Yogi
''Ohh, aku susul deh!''kata Reena dan hendak meluncur pergi, tapi Yogi keburu menahan'a.
''Ehh, mau kemana?? Acaranya snbtar lgi dimulai! Aku disuruh ngajak kamu ke meja depan,''kata Yogi dan mulai mnyeret Reena pergi. Biarpun tinggi mreka nyaris sama, tapi Yogi jls lbh kuat dari Reena. Dibalik sosok cute'a, Yogi tetaplah cowok sejati!
''Tapi, Yo..''Reena hendak mmbantah tapi Yogi sudah trlanjur mnyeret'a. Bertepatan dengan Vicky yg baru saja muncul brsama Nadia dan adiknya.
Choky mnghampiri Vicky dgn senyum lebar dan mnggoda ke arah Nadia. Mmbuatnya mndapatkan hadiah pelototan maut oleh Vicky.
''Acara'a udah mau mulai tuh!''kata Choky
''Iya, aku udah tau,''sahut Vicky. Kmudian beralih ke Nadia dan Andreas. ''Sorry ya, aku harus gabung sama Reena. Kalian silahkan ambil mnum dan duduk ya,''kata Vicky
''Iya, gag apa kok,''kata Nadia. Disambut anggukan Andreas.
''Betul, aku yang jagain deh,''tawar Choky kalem
''Justru kamu yang aku waspadai,''gerutu Vicky. Kmudian pada Andreas dia brkata. ''Kalau dia macam2,''kata Vicky sambil mnunjuk Choky yg mnyeringai, ''Tonjok aja!''
''Siip!''sahut Andreas, lalu mnyeringai sperti Choky
''Awas kamu,''ancam Vicky kpada Choky sblum pergi.
Tak butuh waktu lama, Choky langsung beraksi. Ia mngulurkan tangan'a pada Nadia. ''Aku Choky, sepupu'a Vicky,''kata Choky dgn lagak Don Juan'a.
''Aku Nadia, dan ini Andreas, adikku,''kata Nadia dan mnyambut tangan Choky
Andreas juga melakukan hal yang sama.
Choky lalu mngajak Nadia mngobrol stelah mngambilkan'a minuman di meja prasmanan. Sementara itu, Andreas mmperhatikan ke skeliling. Jadi ingat, pertemuan pertamanya dengan Cewek itu juga di dalam sbuah pesta. Cewek itu mmakai gaun biru. Tampak mnawan diantara semua tamu yang hadir. Begitu manis. Andreas terhanyut ke dalam pikiran'a sendiri sehingga tdak mnyadari keadaan skeliling'a. Entah berapa lama ia melamun, ketika suara tepuk tangan mnggemuruh, ia trsentak dan spontan ikut bertepuk tangan. Ia mmandang kesekeliling. Tampak'a acara tiup lilin dan potong kue sdh slesai.
Tak lama, Vicky kembali dan mngusir Choky. Tapi tentu saja tdak mudah. Akhir'a ia mngabaikan kberadaan sepupu'a itu. Choky terlalu bebal untuk bisa diperintah!
''Nanti Reena mau ketemu kamu,''kata Vicky pada Nadia. ''Mungkin nanti dia akan nanya macam2, tapi kamu abaikan aja. Dia udah biasa sperti itu,''kata Vicky lagi.
''Nggak apa2 lagi. Aku juga pingin bangt ketemu dia. Pasti aslinya lebih manis,''sahut Nadia
''Lebih dari manis,''sahut Choky bangga. ''Dia saudara yg paling disayang. Aku, Vicky, Jimmy, Reyhan dan Yogi rela melakukan apapun asal dia senang!''kata Choky trkekeh. Kemudian mngedip ke arah Andreas. ''Termasuk mengusir serangga pengganggu. Hati2, Yas,''imbuhnya
''Sperti'a kmungkinan'a kecil,''Nadia meringis
''Oh, udah punya pacar?''tanya Choky, mmbuat kaki'a diinjak oleh Vicky
''Belum. Untuk smntara blm mau nyari dulu,''sahut Andreas. Kmudian dalam hati mnambahkan. Baru patah hati, gimana bisa jatuh cinta??
Vicky tiba2 mengangguk ke satu arah. ''Itu Reena,''katanya.
Nadia sdh melihat ke arah yang Vicky tunjuk. Andreas yg tak trtarik sbenarnya sdh brniat melengos saja. Tapi ia pikir tak ada salah'a melihat. Siapa tau memang manis sperti yg dikatakan kakak2nya. Walau blm tentu Andreas trtarik. Kmudian Andreas melihat'a. Seorang gadis tengah brlari2 kecil ke arah mreka. Andreas mrasa ia salah lihat. Astaga, mungkinkah ia sampai berhalusinasi? Sadar Andreas! Cewek itu gag mungkin disini! Lupain dia!
Akan tetapi, semua penyangkalan Andreas lenyap ketika cewek itu brdiri di hadapan'a. Trsenyum manis, mmpertontonkan lesung pipit'a. Mata sipit'a trlihat berbinar2. Dan rambut panjang'a trgerai indah, di hiasi dengan bunga2 kesil sbagai assesoris.
Oh, Tuhan, apakah Engkau brniat mmpermainkanku..? Batin Andreas tak bisa berkata2 lagi..

YOU AND I #8
Reena mngahmpiri Vicky dan langsung mnggayut di lengan kakak'a itu. Ia juga trsenyum ke arah Nadia. Kdua cewek itu saling brtukar sapa sejenak dan saling memuji. Kmudian ketika Nadia akan mmperkenalkan adik'a, barulah Reena mnyadari kehadiran seorang cowok yg brdiri disisi Nadia. Mata Reena melebar ketika mengenali cowok itu. Begitu juga yang dperlihatkan oleh cowok itu. Tampak'a mreka sama2 kaget. Akhir'a, Dewi Takdir bosan juga mmpermainkan mreka. Dan kini kedua'a dipertemukan. Di suasana yang sama sperti saat pertemuan prtama mreka.
Kdua'a sontak trsentak kaget oleh panggilan Vicky. Reena mnatap kakak'a, kmudian beralih pada Andreas. Senyum manis Reena kmbali trkembang.
''Hai. Aku Reena,''kata Reena dan mngulurkan tangan'a.
Andreas yg juga sudah pulih, balas trsenyum dan mnyambut tangan Reena. ''Aku Andreas,''kata'a.
Andreas brusaha keras mngenyahkan senyum konyol yg nyaris mmenuhi wajah'a. Smntara Reena hrus brusaha keras agar tidak brsorak riang dan puas hnya dengan trsenyum lebar.
Andreas mrasa tak percaya. Rupanya cewek yang slama ini dicarinya adalah adik'a Vicky? Reena yg slalu diceritakan oleh kakak'a?? Astaga, dunia pasti sudah tdak beres! Trnyata slama ini mreka benar2 dekat!
Reena tak bisa berhenti trsenyum. Akhir'a ia bisa brtemu lagi dgn Cowok yg slama ini mmbuat'a penasaran. Reena yakin Andreas juga msih mngingatnya. Karna cowok itu tampak sama kaget'a dengan dirinya.
''Kalian udah saling kenal ya?''tanya Choky curiga, matanya mmicing.
Reena dan Andreas saling pandang. Kmudian Andreas mnyeringai dan Reena pura2 bodoh.
''Ree?''tanya Vicky yg juga penasaran
''Kan tadi baru kenalan? Kak Choky dan Kak Vicky gimana sih?''sahut Reena enteng, mmbuat Andreas mnahan senyum
Kmudian datang Jimmy, Reyhan dan juga Yogi. Senyum Andreas lenyap ketika mngenali Reyhan. Tiba2 ia ingat untuk tdak besar kepala. Itu cowok yg brsama Reena dua minngu lalu.
''Wah, wah, wah, ada apa nih??''kata Jimmy
''Ini pacar'a Kak Vicky. Nama'a Kak Nadia,''kata Reena mmperkenalkan. ''Yang itu adik'a, Andreas,''tambah Reena
Nadia trsenyum ke arah cowok2 itu dan meladeni perkenalan mreka satu demi satu. Sementara Andreas cuma trdiam. Bahkan ditengah2 keriuhan itu, diam2 Andreas mnarik diri. Ia mnyingkir dari lingkaran pertanyaan yg diajukan pda Nadia.
Andreas kaget sewaktu mndengar suara Reena sdh ada di sampingnya. Baru disadari'a Reena mnjejeri langkahnya.
''Kok pergi?''tanya Reena ingin tau
''Nggak ada alasan buatku ada disana,''sahut Andreas
''Maaf ya? Keluargaku mmang berisik!''kata Reena smbil meringis. ''Nggak bisa lihat cewek cantik. Mreka pasti nggak terima kalau kakakku bsa mndapatkan cewek scantik Kak Nadia,''kata Reena lagi
''Cowokmu juga?''Tanya Andreas spontan. Kmudian dia mnyesali pertanyaan'a. Ini sih nama'a harakiri.
''Reena mnelengkan kpalanya tak mngerti. ''Cowokku? Yang mana?''
Kepalang basah, jdi Andreas pun berkata. ''Yang pakai kemeja putih,''katanya.
''Ohh.. Reyhan??''kata Reena sambil mngibaskan tangan'a. ''Dia tuh sepupu aku! Mmang dia suka brtingkah seolah dia itu pacarku. Itu supaya gag ada cowok yg brani deketin aku!''sahut Reena santai. Tdak mnyadari efek dari ucapan'a pda Andreas. Andreas merasa sbuah beban berat trangkat dari bahunya dan semangat'a utuh kembali. Thanks God! Trnyata masih ada kesempatan! Dan Andreas lngsung mnyambar kesempatan itu. Dia tdak mau mnyia2kan kesmpatan yg dberikan oleh Dewi Fortuna padanya. Tidak setelah ia sudah bertemu Reena.
''Reena,''panggil Andreas
''Hmm?''sahut Reena dan mnatap Andreas ingin tau.
''Bsok.. mau gag nonton sama aku?''tanya Andreas. Dengan jantung brdebar keras, Andreas mnunggu jawaban dari Reena. Ketika cewek itu trsenyum, Andreas mrasakan ribuan kupu2 terbang di dalam perut'a.
''Tentu aja. Lagian kita udah kebetulan ketemu sbanyak 3kali. Kupikir...''Reena angkat bahu, tak mnyelesaikan ucapan'a. Sebalik'a ia cuma tersenyum.
Ohlala... Andreas serasa terbang ke langit ketujuh! Rupanya Reena juga mngingat pertemuan2 mereka. Kalau ini memang ksempatan yg dberikan Tuhan padanya, tentu Andreas akan mmanfaatkan'a sbaik mungkin. Bahkan jika itu artinya ia harus mrobohkan dinding protective para sepupu Reena. Yang sekali lihat saja sudah tau pasti akan menghalau sebisa mungkin. Tapi Andreas pasti akan berjuang. Susah payah ia akhir'a bisa bertemu dengan Reena. Stelah perjalan waktu yang begitu panjang dan dipermainkan Dewi takdir, ini saat'a Andreas brjuang mndapatkan hati Reena. Lagipula spertinya Reena juga telah memberinya lampu hijau. Andreas tersenyum mmbayangkan bagaimana kelanjutan hubungan'a dengan Reena nantinya.
Di lain pihak, Reena juga tengah memikirkan hal yg kurang lebih sama. Reena tidak sabar mnunggu hari date'a dengan Andreas. Reena memang mngharapkan inisiatif dari Andreas untuk mngajukan ajakan dating. Dan kalaupun cowok itu tdak mngeluarkan inisiatif, maka Reena yang akan mngajaknya duluan! Reena tau trik yang bisa digunakan untuk meluluhkan hati cowok.
Besar bersama para cowok mmbuat Reena ahli dalam urusan mengambil hati. Lagipula Reena yakin Andreas punya prasaan padanya. Ia sudah tdak mau brmain petak umpet lagi. Sekarang stelah bertemu dan berkenalan dengan Andreas, Reena tdak mau donk percintaan'a kacau lagi. Terlebih slama ada kakak dan para sepupunya yg sangat mngganggu itu. Mengingat sudah banyak cowok yang kabur gara2 melihat para pelindung Reena, Reena tidak mau Andreas juga kabur.
Dan Reena akan pastikan para 'bodyguard'a mnjauh sejauh2nya.
''Ambil makanan yuk!'' ajak Reena. ''Mamaku yang masak lho,'' tambah Reena smbil mnarik tangan Andreas ke arah meja prasmanan.
Andreas mnatap lengan'a yg dtarik oleh Reena, kmudian ia trsenyum. ''Everything do yo want, Reena,''kata Andreas
Keduanya pun menuju meja prasmanan sambil brgandengan tangan. Sama sekali tak menyadari tatapan membunuh dari Vicky, Jimmy, Choky, Reyhan dan Yogi dari kejauhan. Wahh, Nadia cuma bisa mmperhatikan ancang2 perang dunia yg akan pecah itu dengan senyum maklum. Spertinya perjalanan Andreas masih panjang untuk bsa di akui oleh para bodyguard Reena..

 
~*THE END*~